9   +   10   =  

MOJOK.COZeniusdotnet dan Ruang Guru cukup membantu untuk mengakses materi pelajaran dengan mudah. Tapi, apakah solusi ketertinggalan pendidikan di Indonesia semata lewat belajar online?

Beberapa hari lalu, salah satu aplikasi belajar online; Ruang Guru, menggelar ulang tahunnya yang kelima. Tak tanggung-tanggung, anniversary tersebut disiarkan oleh sepuluh stasiun tivi nasional dengan pemandu dan pengisi acara artis-artis ibukota. Tata panggung dengan lighting yang cetar membahana benar-benar mengimpresi perayaan tersebut supermeriah. Kalah deh perayaan Hari Pendidikan Nasional atau “hari-hari besar” pendidikan lainnya yang digelar oleh Kemdikbud!

Sehari sebelumnya, sang pendahulu; Zeniusdotnet, meluncurkan aplikasi ZeniusApp yang dapat diunduh di playstore yang tersedia di ponsel pintar. Jika sebelumnya Zenius setia pada platform website dengan sajian puluhan ribu video pembelajaran dan pembahasan soal, barangkali terobosan baru ini dimaksudkan agar para penggunanya kian mudah mengakses pembelajaran yang dirancang.

Saya, yang juga mengelola suatu komunitas belajar di Jakarta, menggunakan dua aplikasi ini secara bersamaan. Mula-mula Zenius yang sudah saya gunakan sejak tahun 2014. Belakangan, Ruang Guru di awal tahun 2018 lalu.

Bagi saya yang bergelut di bidang pendidikan, kedua aplikasi ini sangat membantu beberapa tugas seorang pendidik. Baik dalam memberikan penguatan konsep suatu materi, berkolaborasi dalam memberikan dan memecahkan variasi soal latihan untuk menguji ketercapaian konsep tersebut, serta mendorong pendidik menemukan ragam model belajar yang nggak melulu di dalam kelas.

Hari gini gitu, loh! Udah lah ya belajar di sekolah seharian karena sistem full day school. Eh, kok masih ada program pengayaan yang modanya juga pertemuan tatap langsung di kelas!

Selain itu, tentu saja, sebagai salah satu referensi belajar yang dapat digunakan oleh murid dan pendidik secara bersamaan, aplikasi-aplikasi belajar online ini terbilang cukup murah. Paket lengkap per tahun pelajaran cuma dibanderol di kisaran harga yang nggak sampai sejuta.

Harga segitu jika dibandingkan membeli seluruh buku panduan dari jenjang SD sampai SMA—bahkan panduan masuk perguruan tinggi, teramat sangat murah. Apalagi, kalau ingat aplikasi belajar online ini juga bisa digunakan secara keroyokan oleh seluruh warga sekolah.

Pada suatu masa, saya sempat bertanya-tanya. Apakah semua kemudahan dan kemurahan yang ditawarkan aplikasi-aplikasi belajar online ini—apalagi kalau nantinya ditambah dengan kekuatan internet di pelosok negeri yang nggak lagi bapet—akan membuat pepatah macam guru kencing berdiri murid kencing berlari, tinggal sejarah? Saking nggak akan pernah digunakan lagi.

Sekolah-sekolah dan kelas-kelas konvensional dengan segala kelebihan dan kekurangannya, kian lebur dalam bentuk baru. Belajar tak lagi kaku di ruang-ruang yang disekat dengan dinding bata atau bangunan beton. Pembelajaran abad 21 yang dibayangkan bakal seperti apa, barangkali saat ini mulai terwakili oleh kehadiran aplikasi-aplikasi belajar online ini.

Baca juga:  Belajar Ngeles yang Profesional

Dimana setiap murid dapat dengan mudah mengakses materi pelajaran yang dibutuhkan. Mereka pun bisa menentukan sendiri hendak belajar dimana, bersama siapa, dan kapan. Sabeb, meeeen. Jam belajar 06.30 sampai 15.00 mungkin nggak lama lagi tinggal kenangan kayak nasib Metromini dan Kopaja di jalanan Jakarta yang ngos-ngosan menunggu ajal kayak pendahulunya: bemo.

Tapi, masak sih pendidikan abad 21 ini cuma bakal berisi belajar yang onlen-onlen gitu, doang?

Saya kok juga tetap enggan menyederhanakan—kalau nggak bisa dibilang menyangkal, sih—apa yang dikatakan salah satu founder Ruang Guru saat perayaan ulang tahun mereka yang kelima lalu. Soal solusi ketertinggalan pendidikan di Indonesia semata dengan teknologi.

Bukan! Saya nggak bermaksud gabung jadi jamaahnya Evgeny Morozov yang bilang teknologi—khususnya teknologi internet—itu cuma delusi doang. Lantas menafikan peran teknologi dalam sistem pendidikan kita.

Apalagi, banyak hal yang telah dilakukan Ruang Guru dengan basis teknologi yang mereka kuasai. Bayangkan, hanya dalam waktu lima tahun, mereka bisa merangkul 15 juta dari 50 juta pelajar di seluruh Indonesia untuk dapat mengakses aplikasi mereka.

Konten di aplikasi mereka pun nggak tanggung-tanggung. Konten tersebut dibuat seserius mungkin untuk bisa dijadikan tempat belajar ala milineal dan generasi kini lainnya. Mulai dari video pembelajaran berisi penjelasan materi dari guru-guru terbaik yang kece-kece. Belum lagi kemasan materi dalam bentuk animasi yang sulit bikin penggunanya bosan belajar. Beserta ratusan ribu soal yang menantang untuk diselesaikan dengan feedback cepat nan akurat.

Pendahulunya, Zenius.net, meski fitur-fitur belajarnya tak sementereng yang dirancang Ruang Guru, pun telah lebih dulu mengemas materi pembelajaran melalui video yang menampilkan penjelasan berbasis suara-suara renyah para mentor dan tutornya. Membikin siapa pun yang mendengarkannya ingin terus belajar. Apalagi kalau udah dengar suaranya Kak Wilo sama Bang Sabda. Eh? Kok, lah ya?

Nah, barangkali di sinilah tantangannya. Fitur-fitur belajar yang disediakan di aplikasi-aplikasi belajar online yang ada saat ini perlu punya “ruh” sehingga ia tak hanya sebatas fitur keren yang mentereng. Ruh yang saya maksud barangkali berwujud relasi pendidik dengan muridnya.

Bagaimanapun, proses pembelajaran baik di dalam jaringan maupun di luar jaringan selalu melibatkan dua pihak manusia yang disebut murid dan guru. Dua pihak ini saling berinteraksi menjalin sebuah relasi yang saling mempengaruhi. Selain daya lainnya yang mendukung suksesnya suatu proses pembelajaran, barangkali relasi adalah salah satu elemen yang cuma bisa dilakukan oleh manusia.

Baca juga:  Dear Pejuang Bahasa Inggris, Bentengilah Dirimu dari Serbuan Grammar Mistakes

Bayangkan deh, kalau di masa mendatang relasi murid dan guru cuma kayak Theo dan Samantha di film Her. Pedih kan, kalau hanya bisa mencintai OS dan bukan sosok yang nyata ada. Ah, yang beginian bagian jones-jones deh yang lebih paham. Hehe.

Simpulan ini saya dapat dari sebagian besar murid saya. Apa yang dilakukan Ruang Guru dengan rupa-rupa layanan yang mengisi konten aplikasinya sangat membantu penggunanya—termasuk murid-murid saya—untuk mempelajari materi pembelajaran dengan mengasyikkan. Kampanye yang masif lewat buzzer-buzzer yang mempromosikan produk mereka telah membangun ekosistem belajar online dengan kualitas mumpuni yang lebih semarak pada sistem pendidikan di kita.

Namun, relasi kuat antara tutor dengan murid yang dikembangkan oleh Zenius.net membuat sebagian besar murid saya merasakan bahwa mereka bisa lebih menyelami semua materi yang disajikan dengan lebih menyenangkan. Coba ya, sebagian besar murid yang mengakses pelajaran di Zenius.net secara kontinyu selalu mendadak memimpikan Kak Wilo bisa jadi pacarnya, atau mereka mendadak perlu sakit hati pas Sabda akhirnya menikah dengan selebtwit sekelas Citta Cania. Segitunya.

(((Segitunya)))

Iya, segitunya! Sampai saya sendiri dibuat iri. Lah, ya saya yang bertahun-tahun bareng mereka di kelas dianggap apa? Eh.

Akhirnya, saya tidak hendak membandingkan dua produk yang membidik strategi berbeda. Toh, hal yang saya ungkapkan di atas sangat subjektif. Karena barangkali, sebagian besar murid saya yang sebenarnya ngarep Iqbaal eks Coboy Junior bisa jadi guru di Ruang Guru itu, lebih cenderung membutuhkan hubungan yang menyenangkan dalam proses belajar supaya lebih greget paham konsep materi yang dipelajari.

Apa yang ditunjukkan oleh Ruang Guru dan Zenius.net justru membangun kesadaran saya sebagai pendidik tentang makna pendidikan abad 21 yang nggak sekadar belajar yang onlen-onlen gitu.

Benar, pertumbuhan teknologi yang pesat punya potensi besar untuk mendorong pembelajaran yang bukan sekadar bermanfaat tapi inovatif bahkan canggih bagi murid. Namun, relasi guru dan murid yang bermakna, melalui pola komunikasi yang cair tanpa rasa sungkan apalagi takut. Serta melepas sekat-sekat kaku yang membatasi kreativitas guru dan murid, hingga timbul respek antar keduanya yang membikin kenyamanan dalam belajar bersama. Iya, senyaman kamu sama gebetan itu loh. Eaaa~~~

Eh, nggak lupa mau ngucapin selamat ulang tahun kelima buat Ruang Guru. Pibesdei juga buat Zenius.net yang ke-12 tahun. Makasih banyak udah ikut ngeramein dengan upaya-upaya dan langkah-langkah kece buat pendidikan Indonesia yang (semoga) lebih baik terus. Luph you!



Tirto.ID
Loading...

No more articles