MOJOK.CODukungan Cina ke Palestina tak cuma jargon free Palestine”, meski begitu Israel sangat dibutuhkan sebagai mitra pengembangan teknologi Cina.

Tak ada yang menarik untuk dihebohkan dari dukungan Cina kepada Palestina kalau kita sudi menanggalkan syak wasangka bahwa yang namanya komunis Cina sudah pasti selamanya memusuhi agama—Islam, khususnya.

Oh, tentu, tulisan ini dibuka dengan pernyataan begitu bukan berarti saya hendak menjelma “Pithecanthropus Pekingensis” yang selalu membebek pada apa yang dikatan dan dilakukan pemerintah Cina.

Saya tahu, dan pemerintah Cina pun tak menafikan, bahwa pada masa-masa kalut Revolusi Kebudayaan (1966–1976) mereka telah melakukan vandalisme dan persekusi massal membabi buta terhadap rumah-rumah ibadah dan pemeluk agama di negaranya.

Jangankan agama impor. Kepercayaan yang berasal dari kebijaksanaan filsuf agung negeri sendiri pun diganyang habis-habisan, waktu itu.

Buktinya?

Tak lama sebelum COVID-19 menggila, saya pernah diajak pejabat salah satu provinsi Cina untuk ziarah ke makam Konghucu di Kota Qufu, Shandong bagian barat laut. Di kompleks kelenteng di mana Konghucu dan keturunan-keturunannya itu dikebumikan, sisa-sisa benda kelenteng yang dulu diporak-porandakan Pengawal Merah (hong weibing) yang taklid buta pada Pemikiran Mao Zedong, dimuseumkan pemerintah setempat untuk dijadikan pelecut supaya sejarah kelam itu tidak terulang kembali.

Syukur hingga kini saya belum melihat ada tanda-tanda Cina mau mengulangi kesalahan serupa. Naga-naganya menunjukkan mereka konsisten dengan komitmen “menjadikan sejarah sebagai guru” (qian shi bu wang hou shi zhi shi), seperti istikamahnya mereka mendukung perjuangan rakyat Palestina.

Bayangkan, dari tahun 1960-an sampai sekarang, Cina tak henti-hentinya memberikan dukungan moral dan material kepada Palestina.

Tak percaya?

Israel dan Palestina sendiri yang mengatakannya. Persis seperti FTV kisah cinta segitiga.

Mari saya ceritakan.

Begini, ketika pada awal tahun 1980-an serdadu Israel menggempur pos komando Organisasi Pemberbasan Palestina (PLO) di Lebanon selatan, mereka menemukan bundelan dokumen rahasia.

Dari beragam dokumen yang diperoleh itu, terselip 3 lembar dokumen berbahasa Cina—lengkap dengan terjemahan bahasa Arab—yang berisi tutorial menjinakkan dan merakit bahan peledak, kawat berduri, serta peralatan perang gerilya lainnya.

Usut punya usut, dokumen itu adalah sebagian kecil dari serangkaian bantuan militer yang diberikan Cina kepada para pejuang kemerdekaan Palestina.

Pada tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an, Cina memang intens menyuplai senapan, granat tangan, bubuk mesiu, ranjau, dan persenjataan lain kepada kelompok-kelompok gerilyawan Palestina dan itu diberikan Cina secara cuma-cuma.

Baca juga:  Ngobrol bareng Dahlan Iskan: Bicara Cina, ‘Komunisme Kaki Empat', dan Uighur

Pihak intelijen Israel pernah mengalkulasi, jumlah senjata yang dikirim Cina ke Palestina antara tahun 1965–1979 mencapai 5 juta dolar Amerika kalau diuangkan—atau sekitar 33 juta dolar Amerika (kali Rp15.000) jika dihitung dengan inflasi saat ini.

Awalnya, yang dihibahkan Cina ke Palestina itu adalah senapan-senapan bekas buatan Uni Soviet yang notabene dedengkotnya komunisme.

“Namun, per 1967, orang-orang Palestina sepertinya bertarung menggunakan senjata buatan Cina saja,” tulis Shaina Oppenheimer dalam artikel panjangnya yang dimuat media Israel Haaretz.

Tidak hanya itu, Pemerintah Cina juga mengundang elite-elite PLO ke Cina untuk diberi latihan militer intensif di sana. Buku merah kecil yang berisi petuah-petuah Mao Zedong pun menjadi bacaan ideologis kombatan-kombatan PLO.

Dengan lain kata, dukungan Cina—yang komunis—kepada Palestina tidak hanya sebatas pada jargon “free Palestine” yang cuma dipekikkan saat unjuk rasa atau kampanye.

Makanya harap maklum kalau Yasser Arafat pernah menyatakan dengan penuh sentimentil bahwa dari sekian ikhwan yang mendukung Palestina, “Cina berada di garda terdepan,” dan dukungan Cina itu telah memberi “pengaruh paling besar” terhadap revolusi berikut keteguhan hati PLO dalam perjuangan melawan Zionis beserta antek-anteknya.

Sila baca pernyataan negarawan Palestina itu di pagina 22 Peking Review nomor 42 yang diterbitkan pada 16 Oktober 1970 silam.

Pengakuan Yasser Arafat tersebut bukan tanpa alasan. Pakar hubungan Cina dengan Timur Tengah, Lillian Craig Harris, membenarkan dalam penelitiannya yang dipublikasikan Journal of Palestine Studies, “Tanpa bantuan [Cina] itu, PLO tidak akan menjadi organisasi politik sekuat hari ini.”

Tak heran bila Presiden Palestina Mahmoud Abbas ketika bertelepon dengan Presiden Cina Xi Jinping pada 22 Juli kemarin, lagi-lagi menegaskan bahwa, “Cina adalah kawan Palestina yang paling dapat dipercaya.”

Tapi, Cina juga menghadapi dilema. Soalnya, di satu sisi Israel selaku musuh bebuyutan Palestina penting sekali bagi Cina—terutama dari segi ekonomi dan teknologinya. Dan di sinilah kisah cinta segitiga itu terjadi.

Di sisi lain, di tengah kian sengitnya rivalitas Cina versus Amerika di mana Israel kemungkinan besar akan lebih memihak Paman Sam ketimbang Mbah Mao, Cina jelas butuh dukungan negara-negara Arab dengan mendukung kemerdekaan Palestina.

Baca juga:  Kuliah di Cina, Fathan Putra Tifatul Sembiring: ‘Bokap Gue Itu Paling Dikit anti-Cina-nya'

Itulah mengapa Cina tampak mencintai Israel dan Palestina dalam waktu yang sama.

Bung dan nona sekalian pasti tahu; Cina membuka lebar-lebar pintu Kota Shanghai sebagai penampungan ratusan ribu pengungsi Yahudi yang menghindari genosida Holokaus selama Perang Dunia II. Kenangan manis ini pula yang menjadi perekat hubungan Israel dan Cina di kemudian hari.

Kelak, para pengungsi Yahudi itu juga mempunyai sumbangsih yang amat besar terhadap perekonomian Shanghai yang tak lain adalah pusat finansial Cina.

Kalau bung dan nona ke Shanghai, khususnya dekat tower daerah The Bund yang jadi maskot ketajiran Shanghai itu, dongakkan kepala lalu pandangilah bangunan megah di pojok utara yang atapnya berwarna hijau berbentuk piramida itu.

Ya, itu bangunan Peace Hotel, salah satu hotel ternama di dunia, yang dibangun taipan Yahudi. Di sekitar situ juga berdiri Sinar Mas Plaza, gedung yang tak kalah megah milik keluarga konglomerat Tionghoa-Indonesia, Eka Tjipta.

Sehabis itu, karena jaraknya tak begitu jauh, bung dan nona bisa jalan-jalan ke Shanghai Exhibition Centre yang dibangun oleh Silas Aaron Hardoon untuk istrinya.

Tahu siapa itu Silas Aaron Hardoon?

Dialah taipan Yahudi yang mendanai, menerjemahkan, sekaligus menerbitkan 30 juz Al-Qur’an dalam bahasa Cina pertama kali.

Cina sekarang sudah bisa memetik buah dari hubungan baik yang dijalinnya dengan Israel dan Palestina. Saya tak tahu apakah Gus Dur mendapat inspirasi dari Cina atau bukan. Tapi yang pasti, dulu Gus Dur pernah mencanangkan Indonesia harus membuka hubungan diplomatik dengan Israel agar kemerdekaan Palestina lebih mudah Indonesia perjuangkan.

Sayangnya gagasan Gus Dur itu menuai banyak penolakan.

Kenapa?

Mungkin kita mesti setuju pada pendapat Gus Dur ketika diwawancarai Micha Odenheimer, jurnalis Haaretz, ini:

“Saya pikir ada kesalahan persepsi bahwa Islam bertentangan dengan Israel. Ini semua karena propaganda Arab. Kita harus membedakan antara Arab dan Islam.”

Barangkali bung dan nona mau mencoba mengganti kata “Israel” pada pendapat Gus Dur itu dengan kata “Cina”? Tapi siap-siap, jahannam is waiting for you, Brada!

BACA JUGA Melawan Setan Hingga Ke Yerusalem: Tentang Palestina Dan Israel atau tulisan Novi Basuki lainnya.