Di bandara itu, ciuman perpisahan dilayangkan. Hanya itu? Tidak. Satu buku bersampul cokelat diberikan Rangga pada Cinta. Isinya adalah puisi, sekaligus janji.

“…aku pasti akan kembali dalam satu purnama.”

Tapi janji tinggallah janji. Memang cuma merpati yang tak pernah ingkar janji. Rangga mengingkari janjinya sendiri dan baru kembali ke Jakarta setelah 12 tahun. Selama kurun waktu itu, ia bahkan sama sekali tak pernah menghubungi Cinta. Pancene cah bajingan.

Rangga mungkin tak tahu kalau Cinta terus menanti. Iya, Cinta memang luar biasa.

Mewakili Mojok Institute, saya berhasil mencuri waktu Cinta sebentar untuk ngobrol tentang masa penantiannya itu, juga tentang lagu-lagu yang didengarkan Cinta selama masa penantian itu.

Berbicara soal musik, saya yakin Cinta adalah tipikal pendengar musik kekinian. Apa lagu yang sedang tren, pasti ia ikuti dan dengarkan. Seperti kala ia dan teman-temannya pergi ke konser Pas Band feat Tere. Kala itu Pas Band dan Tere sedang dalam puncak popularitasnya setelah merilis lagu duet berjudul Kesepian Kita. Kehadiran Cinta dalam konser itu semakin menegaskan kalau Cinta adalah penikmat musik kekinian.

Tapi sejak bertemu dengan Rangga, Cinta mau menggali musik-musik masa lampau yang tak lekang dimakan zaman. Ini adalah pengaruh baik dari Rangga. Jadi dia tak sekedar nyipok Cinta terus minggat.

Ini dia nukilan wawancara antara saya dan Cinta. Beberapa kalimat Cinta menggunakan bahasa Jawa. Karena usut punya usut, ternyata bapaknya Cinta berasal dari kecamatan Pandak, Bantul, Yogyakarta. Dan ibunya Cinta dari Playen, Gunung Kidul Yogyakarta. Tak heran, Cinta fasih berbahasa Jawa.

Selamat sore Mbak Cinta. Sehat?

Alhamdulillah, sehat.

Gimana kabarnya Rangga?

Mbuh. Minggat maneh nang New York. Apa semua cowok gitu ya, Mas? Suka ngasih harapan palsu?

Ah ya gak cuma cowok aja. Mbak Cinta juga sering ngasih harapan palsu. Teman saya, namanya Puthut EA, sampe delusional dan masang poster Mbak Cinta di dinding kamarnya.

Wah, dia pasti jomblo ya?

Dulu sih iya. Sekarang udah nikah, sudah punya anak. Sik to Mbak, ini kok malah nggosip? Aku wawancara ini mau tanya soal lagu selama masa penantian Mbak Cinta je.

Lha iyo, kowe cerigis sih, Mas. Soal lagu ya? Saya sih emang suka musik. Zaman dulu masih ada bar Parc, saya sering nonton band-band macam Pestol Air atau Waiting Room di sana. Waktu Puppen bikin last show, saya juga datang lho. Setelah Parc bubar, saya sering nonton band di Jaya Pub.

Afu koe, Mbak. Malah curhat. Terus ada lagu soundtrack selagi nunggu Rangga ngasih kabar?

Lambemu, Mas. Ada sih. Saya sih secara khusus mengingat betul 6 lagu yang jadi pengiring saya menunggu Rangga selama 6 tahun.

Lho kok cuma 6 tahun?

Lha iya to. Nunggu cinta itu boleh saja. Tapi jangan lama-lama. Cinta itu juga harus logis to, Mas. Penantian juga ada batasnya. Kalau menanti terus ya itu bukan cinta namanya, tapi pekok.

Wasu. Trus apa aja lagunya? (Dari sinilah Cinta mulai nyerocos tanpa bisa dihentikan)

***

TAHUN PERTAMA

Saya waktu itu lagi jatuh cinta sama album ketiga Jikustik, Sepanjang Musim. Lagu mereka enak je. Lagu yang punya kesan kuat ya lagu Untuk Dikenang. Beberapa potongan liriknya mengingatkan kalau Rangga sedang ada di kota besar, di negara yang sama sekali asing baginya.

Ingat aku, bila kau terasing

Dalam gelap, keramaian kota

Waktu itu rindu saya masih bergejolak. Maklum, masih awal-awal ditinggal. Saya juga lagi lenjeh, ingin diinget terus. Padahal ya Rangga itu gak pernah hubungin saya. Kampret emang.

TAHUN KEDUA

Sebenarnya ini saya sudah mulai agak sebel sama Rangga itu. Lha ilang dua tahun, gak ada kabar. Katanya mau datang ke Indonesia lagi, tapi mana? Nah di tahun ini, saya jadi ingat album Sheila on 7, 07 Des. Rasanya laguSeberapa Pantas itu kok gue banget ya? Lagu ini hadir pas saya nanya sama diri sendiri: penantian ini wajar gak sih? Apakah sepadan menunggu Rangga?

Seberapa pantaskah kau untuk ku tunggu?

Cukup indahkah dirimu untuk selalu kunantikan?

Sebenarnya di tahun ini saya sudah merasa agak bimbang. (Ciyeee bimbang, bahasaku gaul ya cah?) Saya takut kehilangan Rangga, tapi sekaligus mulai belajar untuk mengikhlaskannya. Ya walaupun tahun itu saya masih membuka hati untuk dia.

Mungkin kini kau telah menghilang tanpa jejak

mengubur semua indah kenangan.

Tapi aku selalu menunggumu di sini

Bila saja kau berubah pikiran

TAHUN KETIGA

Rangga iki cen cah bajingan kok, Bung. Lha aku disuruh nunggu sampe kapan? Tahun ketiga lho ini. Saya sudah mulai mati rasa. Kangen sudah jarang-jarang. Ya meski kadang kalau rindu, tiba-tiba kepikiran kabarnya Rangga. Lagi apa ya dia di New York? Kalau inget masa itu, saya langsung inget lagu “Kirim Aku Bunga” dari album Piss milik band legendaris Slank. Tak puter terus, sampai kasetnya mendhem.

Melatiku, apa kabar kamu di sana?

Ku harap engkau selalu tertawa

Melatiku, tenang-tenang saja di sana.

Pedamkan pedih dan sibukkan diri nikmati hari

Untungnya temen-temenku banyak, Mas. Kami masih sering ngumpul sepulang kuliah, atau pas akhir pekan. Jadi saya sering lupa soal Rangga. Jadi ada semacam pikiran, ya udah sih. Biar Rangga ngejar mimpinya, aku ngejarmimpiku. Saya bakal baik-baik saja kok sendirian. Tapi ya piye mas, masih ada secercah harapan nunggu kabar dari dia.

Melatiku, aku pun seperti biasanya

Bersama teman-teman wujudkan mimpi di sini

Melatiku, aku baik saja sendiri

Sibukkan diri dan selalu menanti kau kembali

TAHUN KEEMPAT

Ini tahun dimana saya sudah mulai mati rasa. Sudah mulai meyakini kalau saya ndak bakal kangen sama Rangga, sedikit pun. Kadang saya gregetan, Rangga ini habis nyipok saya kok lantas main minggat gitu aja. Sangunya cuma buku buluk pula. Kalau inget momen di bandara itu, saya masih suka deg-degan gemes gitu, Mas.

Lha ndilalah saya suka ndengerin lagunya John Waite yang Missing You. Tau John Waite, gak? Wah ndak gaul kalau gak tau. Dia itu mantan vokalisnya Bad English yang terus solo karir.

Everytime I think of you, I always catch my breath.

And I’m still standing here, and you’re miles away.

And I’m wonderin’ why you left.

Tapi toh lama-lama saya sadar, mungkin saya kalah jika harus dibandingkan dengan puisi. Atau jika dibandingkan dengan kehidupan barunya Rangga di New York sana. Ya udah, akhirnya saya berani ngomong ke diri saya sendiri: saya sudah gak kangen sama Rangga. Titik!

In your world I have no meaning,

Though I’m trying hard to understand.

And it’s my heart that’s breaking down this long distance line tonight.

I ain’t missing you at all since you’ve been gone away.

TAHUN KELIMA

Di pertengahan tahun, bukunya Rangga tiba-tiba saya temukan lagi waktu mau pindah dari rumah ke kos. Saya sudah lulus kuliah dan kerja di advertising agency. Ngerti ora kuwi artine opo? Ojo manthuk-manthuk ae.

Pas baca puisinya Rangga di halaman belakang buku itu, mendadak saya keinget Rangga. Saya curhat lah ke teman-teman kayak biasanya. Eh saya malah dimarahin.

“Udah dong, Cinta! Rangga udah lima tahun gak ngasih kabar, dan lo masih ngarep? Lo harus mulai hidup baru!”

Mendadak saya inget lagu klasik di era 80-an, era abang saya. Lagu dari The Quireboys, judulnya I Don’t Love You Anymore. Lagu itu masuk banget sama kondisiku waktu itu.

So I went and seen my friend’s

I tried to turn to them for help

And all that any of them said

You gotta look out for yourself

 

I don’t love you anymore…

TAHUN KEENAM

Dari sini akhirnya saya memutuskan untuk berhenti bimbang, Mas. Sudah cukup enam tahun menanti. Saya memutuskan itu kala sedang berada di mobil, bareng gebetan saya waktu itu, Agus Mulyadi. Dia penulis. Ganteng. Bukunya sudah diterbitkan dan sering masuk TV. Anaknya baik dan sederhana. Yang pasti gak suka PHP kayak Rangga. Ya walaupun akhirnya gak jadian, karena menurut dia saya kurang cantik.

Lha kok ndilalah ada lagunya Kantata Takwa yang judulnya “Air Mata” diputer di radio waktu itu. Saat itulah, entah kenapa saya tiba-tiba inget Rangga, dan sama sekali tak ada getaran yang tersisa. Saat itu saya berpikir, mungkin saya memang harus berhenti berharap dan kembali ke kehidupan saya semula.

Saya yakin Rangga pasti mengerti. Biarlah rindu sisa-sisa romansa remaja cukup dikenang saja. Tak perlu dijadikan belenggu masa sekarang.

Bagaimanapun aku harus kembali

Walau berat aku rasa kau mengerti

Simpanlah rindumu jadikan telaga

Agar tak usai mimpi panjang ini

Air mata nyatanya

Jadi gitu, Mas..

***

 Lha jangan mewek, Mbak.

Aku butuh dipeluk, Mas. Aku tuna asmara je. Mbok sampeyan peluk aku…

Lho ya dengan senang hati, to. Sini, Mbak…

No more articles