MOJOK.COAturan omnibus law yang bisa mempertemukan keinginan negara punya pertumbuhan ekonomi tinggi; keinginan pemilik modal punya pekerja produktif; dan keinginan pekerja punya sistem kerja yang sehat adalah pengurangan jam kerja.

Satu-satunya alasan kenapa omnibus law ditolak dan menghasilkan perlawanan para pekerja adalah aturan yang ada di sana sama, sekali tidak menguntungkan mereka.

Pekerja ini bukannya tidak melihat (((niat baik))) yang diusulkan pemerintah dan pengusaha lho. Mereka mengerti bahwa investasi itu penting, dan akan membuka lapangan pekerjaan, menaikan pertumbuhan ekonomi, dan konon membawa kesejahteraan. Tapi ya mosok sih, untuk mendapatkan itu semua, harus hak-hak dan kenyamanan pekerja yang dikorbankan?

Gini, gini, sepertinya ada satu hal yang terlupakan dari rame-rame obrolan soal omnibus law ini. Apa ituu? Fakta bahwa hubungan antara pekerja dan pemilik modal adalah hubungan yang saling membutuhkan!

Selama ini, kalau ngomongin omnibus law atau isu ketenagakerjaan lainnya, yang jadi sorotan pasti bagaimana pekerja seharusnya melakukan kompromi atas apa yang diinginkan oleh pemilik modal—karena tanpa pemilik modal, mereka akan jadi pengangguran, dan tidak punya kehidupan. Yah, itu benar.

Tapi di saat bersamaan kita melupakan kalau pemilik modal, juga membutuhkan pekerja. Kalau nggak ada pekerja, siapa emang yang mau dieksploitasi kerja untuk ngasih mereka keuntungan???

Pekerja memang dibayar untuk melakukan sesuatu, oleh pemilik modal. Tapi, mereka yang membayar pekerja itu, menjual sesuatu yang pekerja hasilkan dengan harga jauh lebih mahal dibandingkan dengan harga yang mereka keluarkan untuk membayar pekerja. Hasil menjual kembali inilah yang membuat pemilik modal mendapat keuntungan.

Dengan kata lain, sebenarnya pekerja tidak dibayar sesuai dengan apa yang mereka hasilkan. Pemilik modal biasanya membayar mereka “secukupnya”. Pemilik modal sebenarnya bisa saja membayar lebih tinggi, tapi, karena berorientasi kepada keuntungan, mereka tidak melakukannya. Yang ada, pemilik modal sering kali memilih untuk pergi ke tempat di mana mereka bisa membayar pekerja dengan harga yang lebih murah lagi untuk memaksimalkan keuntungan mereka.

Orang yang ngomong kalau pekerja selama ini keenakan karena (((tidak produktif))) tapi tetap dibayar sepertinya tidak memahami konsep ini karena berapa pun hasil yang pekerja keluarkan, perusahaan akan tetap mendapatkan keuntungan karena nilai yang pekerja hasilkan selalu lebih banyak dari apa yang perusahaan keluarkan.

Jadi, stop melihat pekerja sebagai orang yang nggak tahu diuntung. Yang harusnya kita perlakukan seperti itu tuh perusahaan!

Baca juga:  NU dan Muhammadiyah Kompak Dukung Uji Materi UU Cipta Kerja ke MK

Sampai sini jelas ya?

Makanya wajar dong alasan pekerja, sebagai orang yang menghasilkan paling banyak nilai di perusahaan, selalu menginginkan sistem kerja yang lebih baik seperti jam kerja yang sehat dan upah yang adil. Apa ada yang salah soal itu???

Nah, apa yang ditawarkan omnibus law sama sekali tidak seperti ini. Alih-alih sistem kerja yang lebih baik, aturan-aturan di sana malah mengeksploitasi dan memperlakukan pekerja sebagai mesin produksi.

Ngomongnya pengin pekerja produktif, tapi yang mereka lakukan adalah memperpanjang jam kerja, menghapus cuti, menghilangkan safety job, dan hal-hal lain yang sebenarnya fine-fine aja sih kalau yang bekerja itu robot, bukan manusia.

Padahal nih ya, kalau memang tujuan dibikin omnibus law buat meningkatkan produktifitas pekerja, sains sudah banyak memberikan jawaban atas hal-hal apa saja yang harus dilakukan agar pekerja giat bekerja tanpa harus menghilangkan sisi manusia mereka. Mulai dari beliin pekerja Pizza, sampai mengurangi jam kerja mereka!

Loh ini serius! Ini bukan akal-akalan saya yang pengin pekerja males-malesan dan keenakan karena kenyataannya, menurut penelitian terlalu banyak bekerja malah bikin pekerja nggak produktif.

Jokowi kayaknya harus mengganti slogannya soal kerja, kerja, kerja, tipes karena menurut penelitian, slogan itu sangat buruk untuk ekonomi.

Pekerja yang terlalu banyak bekerja itu yaaa rentan mengalami banyak masalah kesehatan mulai dari serangan jantung, diabetes, tipes, sampai depresi. Juga rentan mengalami kecelakaan dalam kerja.

Lagian, manusia itu emang nggak didesain sama Tuhan untuk bisa bekerja dalam jangka waktu yang lama kok. Setidaknya hanya 6 jam dalam sehari manusia bisa fokus dan produktif melakukan pekerjaannya.

Dengan jam kerja yang lebih sedikit, pekerja jadi tidak akan stress, lebih sehat, tidur lebih banyak, dan lebih bahagia. Dengan begitu, pemilik modal tidak perlu lagi mengeluarkan ongkos untuk membayar biaya sakit pekerja, dan kerugian karena cuti-cuti yang mereka lakukan.

Kebahagiaan pekerja di tempat kerja juga akan membuat pemilik modal tidak perlu khawatir pekerjanya ikut demo atau mogok kerja karena, apa coba yang mau didemoin kalau pekerjanya merasa bahagia?

Menurut penelitian, yang membuat pekerja super stress dan bahkan depresi karena pekerjaannya adalah mereka nggak punya hal lain yang bisa dilakukan selain bekerja, tapi mereka juga nggak menemukan makna dan tidak merasa terisi jiwanya ketika melakukan pekerjaan mereka.

Jadinya, mereka datang bekerja dengan hampa, dan nggak pengin benar-benar melakukan sesuatu yang lebih untuk perusahaan karena, ya buat apa?

Baca juga:  3 Kebaikan dalam Satu Tahun Kepemimpinan Jokowi dan Ma’ruf Amin

Lagian siapa coba yang ngerasa bekerja itu bermakna ketika kamu jadi seorang buruh pabrik yang menghabiskan 8 jam waktumu dari senin-sabtu melakukan hal yang sama, memasang kancing untuk ribuan pakaian yang bahkan tidak sanggup kamu beli.

Terus ngapain juga perusahaan berharap kamu berdedikasi untuk pekerjaanmu ketika kamu tahu kalau perusahaan hanya menganggap kamu sebagai mesin produksi yang bisa digantikan begitu saja ketika kamu tidak lagi dibutuhkan?

Bekerja terlalu banyak juga terbukti mengalineasi seseorang dan membuat dia terputus dari masyarakat sehingga kehilangan nilai sebagai bagian dari komunitas. Hal ini juga membuat pekerja merasa tidak punya nilai guna padahal sebenarnya mereka tahu bahwa mereka bisa melakukan sesuatu untuk masyarakat kalau saja pekerjaan mereka tidak membuat mereka harus terus bekerja.

Kalau kita mau kondisi kerja yang lebih baik, kita yang harus memaksa perusahaan untuk mengikuti aturan dan main dengan baik juga. Buat mereka tidak hanya terfokus pada keuntungan.

Apa ini bisa dilakukan? LHO JELAS SANGAT BISA. Masih ada kesempatan buat omnibus law memperbaiki draftnya.

Bikin perusahaan mempekerjakan pekerja 6 jam saja dalam sehari. Kalau perusahaan pengin 2x lebih produktif, dia bisa membuat sistem kerja shift 2x yang artinya tentu saja perusahaan jadi harus membuka lapangan pekerjaan lebih banyak lagi. Dengan itu, lapangan pekerjaan bisa naik 2x lipat juga. Dan itu bagus untuk ekonomi karena dengan lebih banyak yang bekerja, lebih banyak orang yang punya uang, konsumsi dalam negeri juga bisa terdorong dengan hal ini.

Kalau omnibus law yang sekarang cuma memicu investasi, kalau kita revisi dengan pengurangan jam kerja dan penambahan shift, kita juga akan menaikan konsumsi. Artinya??? Pertumbuhan ekonomi negara juga naik! Betul, karena rumus GDP itu: konsumsi + investasi + pengeluaran pemerintah + (ekspor-impor).

WOW WOW WOW. Sungguh perhitungan matematika yang sangat sederhana sebenarnya.

Tapi yah, seperti yang sering saya katakan. Sesuatu yang terdengar terlalu gampang, terlalu sederhana, terlalu bagus, adalah sesuatu yang harus dicurigai karena too good to be true.

Kenyataannya, di mana-mana pemilik modal sebagai kelompok yang punya kapabilitas untuk melakukan itu semua, hanya pengin bikin sistem yang bekerja untuk keinginan mereka saja…

BACA JUGA Belum Ada Omnibus Law Saja Sudah Ada Pabrik Jahat Seperti AICE atau artikel lain soal PEKERJA.