MOJOK.COKetika pelaku perekam polwan mandi itu hanya dihukum lari, objektifikasi perempuan terus terjadi, bercandaan bagi link masih bertebaran, perempuan tidak akan pernah bisa merasa aman.

Pagi ini saya membaca berita mengenai seorang (((oknum))) polisi diberitakan dihukum berlari mengelilingi Mapolda Sumatra Utara setelah ketahuan merekam polwan yang sedang mandi.

Hal pertama yang saya lakukan setelah selesai membaca adalah mencoba mencari tahu “berapa luas Mapolda Sumut”. Apakah lari mengelilingi mapolda bisa bikin orang sampai setengah sekarat? Saya bingung karena hukuman lari untuk kejahatan serius seperti itu terdengar gila.

Mungkin banyak yang menganggap merekam perempuan mandi atau pelecehan seksual lain cuma bentuk keisengan semata dan bukannya kejahatan serius. Buktinya, alih-alih nyacati pelaku, banyak orang di kolom komentar berita ini bisa-bisanya masih bercanda meminta link rekaman video polwan mandi ini.

Bercanda matamu, cok!

Apa kalian yang minta link itu mikir bahwa si polwan bisa menderita psikis, sosial, dan ekonomi akibat perbuatan goblok yang kalian bilang iseng itu?

Bayangkan bagaimana mereka harus menanggung rasa malu seumur hidupnya, memikirkan bagaimana tubuh mereka dikonsumsi orang lain begitu saja. Belum lagi mereka harus menghadapi risiko dikeluarkan dari pekerjaan, hingga dianggap menjadi beban dan aib keluarga….

Gimana kalau itu polwan itu teman atau keluarga kalian? Masih bisa kalian anggap ini hanya perbuatan iseng dan bahan bercandaan saja?

***

Seorang teman pernah bercerita tentang penelusurannya terhadap jaringan penyebar foto dan video perempuan yang diambil melalui kamera tersembunyi (spy cam) yang tentu saja diambil tanpa sepengetahuan korbannya.

Penelusuran ini berawal ketika ia menemukan sebuah akun Twitter penyebar foto dan video hasil spycam, seperti foto dan video orang mandi, yang punya ribuan retweet dan like.

Melihat betapa jahat dan menjijikkannya akun ini, dia kemudian menandai akun polres yang berwenang dan akun kejahatan siber polri di postingan Twitter akun tersebut.

Hasilnya: Dia diblok.

Tapi karena penasaran dari mana akun ini dapat video-video tersebut, dia membuat akun lagi, lalu mengamati interaksi yang terjadi di sana.

Baca juga:  Presiden Bolivia Evo Morales Mundur setelah Polisi dan Tentara Ikut Demo

Kata teman saya, akun ini masih aktif sampai sekarang, hanya sering berganti nama, tapi mereka selalu menggunakan tagar yang sama sehingga cukup mudah ditelusuri lagi.

Teman saya lanjut bercerita bahwa suatu ketika dia berhasil menemukan orang di balik akun penyebar video hasil spycam tersebut. Dia lalu mencoba bertanya banyak hal hingga akhirnya dia diberi tahu bahwa akun ini adalah satu dari banyak akun lain yang memang mengoleksi gambar dan video perempuan, khususnya dari hasil spycam. Si pemilik akun bilang kalau dia dapat gambar dan video itu dari skema jual beli atau dengan melakukan barter.

Singkat cerita, teman saya ini diarahkan ke sebuah forum melalui sebuah alamat IP. Kata dia, forum yang dia akses itu adalah forum yang cukup eksklusif karena hanya sedikit orang yang bisa datang ke sana. Selain hanya bisa diakses dengan alamat IP tertentu, syarat lain untuk menunjukan komitmenmu di forum itu ialah dengan menunjukan pindaian KTP dan menyumbang video atau foto terlebih dahulu.

Forum itu sudah dibuat sejak 2011. Foto dan video yang ada di sana selalu rutin di-back up di penyimpanan awan dengan folder spesifik dan diberi keterangan nama-nama korban.

Di forum itu, ternyata bukan hanya ada foto dan video hasil dari spycam. Video revenge porn juga tersedia. Lalu, ada juga thread “jual beli” dan bagaimana cara berbagi foto dan video biar nggak bisa dilacak, dan jika ketahuan, datanya bisa langsung dihapus.

Orang-orang di forum ini pintar sekali mengumpulkan data dan menyembunyikannya. Yang paling mengerikan, mereka nyaris tidak akan tersentuh hukum karena pemilik forum tahu siapa saja yang mengakses forum ini (dengan adanya kewajiban nunjukin KTP tadi) sehingga ketika ada yang mencoba melaporkan forum ini ke pihak berwajib (dalam bahasa mereka: “PK” atau pahlawan kesiangan), mereka akan cepat ketahuan dan akan dengan mudah “dibereskan”.

Baca juga:  Cara Polisi Menangani Kasus "Grup WA Anak STM" Bikin Saya Makin Geram

Kata teman saya, di forum itu ada algojonya.

Apa hal semenyeramkan ini masih bisa dianggap sepele dan bisa dijadikan bahan bercanda? Saya kira hal yang sering dilupakan dari kejahatan “merekam” adalah semua orang bisa menjadi korban, atau malah tanpa kita sadari–sebagaimana korban-korban Reynhard Sinaga, kita pernah menjadi korban.

Tempat-tempat yang kita kira aman seperti di lingkungan kerja, ternyata menyimpan banyak sekali bahaya. Apalagi di tempat-tempat umum yang strategis seperti ruang ganti, kamar mandi, dan toilet. Spycam bisa ada di mana-mana tanpa sepengetahuan kita. Perempuan akhirnya lagi-lagi jadi kelompok yang paling dirugikan.

Padahal, sekali saja video itu terunggah ke internet, kita tidak punya kontrol untuk menghentikan video itu diunggah lagi, lagi, dan lagi. Hingga akhirnya, video itu tersebar ke mana-mana. Dan untuk menghapus video yang sudah kadung tersebar itu, dibutuhkan banyak sekali uang untuk melakukannya.

Sementara itu, jangankan untuk minta kompensasi, minta perlindungan untuk korban saja udah susah. Dan kalau mau kasusnya diusut, kita harus lapor dulu baru bisa diproses. Dan proses pelaporan, tentu saja sangat melelahkan dan berpotensi membuat kasus ini diketahui banyak orang yang lagi-lagi akan merugikan korban.

Jadi, berhentilah melihat kasus ini sebagai kasus yang sederhana. Ini jelas kejahatan serius dan harus ditindak secara serius juga. Coba lihat Korea Selatan, mereka sampai punya satgas sendiri yang bertugas untuk mengusut kejahatan seksual digital. Satgas ini bekerja untuk melakukan operasi dan razia kamera tersembunyi dan cermin dua arah di tempat publik yang strategis, sampai melakukan proses hukum bagi pelaku yang terbukti melakukan kejahatan.

Tapi ya rasanya masih sangat jauh untuk berharap bisa dilindungi seperti itu. Selama pelaku hanya dihukum lari, objektifikasi perempuan terus terjadi, bercandaan bagi link masih bertebaran, perempuan tidak akan pernah bisa merasa aman.

BACA JUGA Surat Terbuka untuk Agni dan Korban Kekerasan Seksual Lainnya yang Angkat Bicara atau artikel lainnya di POJOKAN.