Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Lipsus
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Kilas

Lorjhu’, Parenduan, dan Gelombang Musik Rock Bahasa Lokal

Purnawan Setyo Adi oleh Purnawan Setyo Adi
2 September 2023
A A
Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

MOJOK.CO – Lorjhu populer dengan musik rock berbahasa madura. Band ini menerabas sekat-sekat bermusik dengan karya musik yang kental dengan budaya daerah. 

Mojok berkesempatan berbincang dengan Badrus Zeman. Pentolan band rock Lorjhu yang semua liriknya berbahasa Madura.

Obrolan ini direkam dalam sesi Putcast Live on Stage di Cherrypop Festival 2023. Bincang-bincang antara Badrus, Nuran Wibisono yang kita kenal sebagai jurnalis musik, dan Kepala Suku Mojok Puthut EA terjadi beberapa menit setelah Lorjhu memainkan musiknya di Stage Mojok Nanaba.

“Jadi aku kan orang Parenduan dan di situ yang namanya kesenian itu ‘basah’ lah,” ucap Badrus mengawali perbincangan.

Yak, Parenduan adalah sebuah desa di kecamatan Sumenep, Madura. Badrus hendak menjelaskan bahwa akar berkeseniannya berasal dari daerahnya ia lahir.

Parenduan memiliki banyak kisah untuk Badrus. Tempat ia lahir, pesantren, dan mengeksplorasi beragam seni sebelum akhirnya ia melanjutkan pendidikan di Jurusan Film Institut Kesenian Jakarta (IKJ).

“Jadi parenduan itu adalah salah satu desa di Sumenep. Akar katanya saja sudah ketahuan kalau itu pasti akan ada banyak seniman karena kalau nggak salah asal katanya ‘rindu’ ya,” ucap Puthut EA merespon apa yang Badrus lontarkan soal Parenduan.

“Orang kalau mau belajar sejarah seni itu kan soal ‘istirahat dan merenung’. Sebenarnya sejarah orang yang punya waktu luang dan beristirahat dari aktivitas. Jadi dari situ saja kebayang kalau di situ muncul banyak orang yang suka seni,” imbuh Puthut.

“Kumpulannya orang yang punya pemikiran hahaha,” canda Badrus.

Fase bermusik Badrus Zeman ‘Lorjhu’

Badrus yang memainkan peran sebagai penuli lagu, vokalis, dan gitaris untuk Lorjhu menjelaskan bahwa ia mengalami beberapa fase sebelum akhirnya mulai ngeband.

Fase awal bermusik telah ia mulai sejak duduk di bangku SD. Ia bercerita sejak berseragam merah putih Badrus doyan banget banget bikin lagu.

“Bikin lagunya tanpa pakai alat musik. jadi aku tulis lirik terus aku nyanyikan saja gitu karena alasannya adalah biar beda sama teman-temanku,” ungkapnya.

Fase selanjutnya adalah saat Badrus duduk di sekolah Tsanawiyah atau setara SMP. Ia mulai membuat grup musik dengan seorang temanya. Tak main-main, Badrus membuat grup eksperimental yang memainkan musik hanya dengan menggunakan gentong air.

“Ya tapi dulu kan masih mikirnya keren. Sampai bikin koreo-nya gimana caranya ya biar keren gitu aja hehehe,” ucap Badrus

Iklan

Tahap bermusik Badrus selanjutnya adalah fase ngeband saat bersekolah di Madrasah Aliyah atau setara SMA. Di fase ini ia menjajal membentuk sebuah band. Namun, ia lagi-lagi ingi tampil beda dengan band yang ada di sekitarnya.

“Studio di Parenduan itu cuma ada satu dan kalau kita latihan pasti ditonton,” tegas Badrus.

“Nah gimana caranya kita nggak diceng-cengin sama temen-temen. Ya nggak boleh bawa lagu orang. Bikin lagu dari sejak awal. Lagunya bahasa Madura,” paparnya lagi bercerita mengenai asal-muasal ia membuat lagu berlirik bahasa Madura.

Musik dengan lirik bahasa daerah

Lorjhu yang karyanya kental dengan nuansa Madura nyatanya berhasil memikat pendengar musik di Indonesia. Liriknya yang berbahasa Madura tak menerobos sekat-sekat bermusik.

Karyanya banyak diputar di platform digital hingga Youtube. Bahkan Band asal Sumenep ini kini jadi langganan festival musik di tanah air.

Nuran Wibisono punya jawaban kenapa band ini bisa meraih telinga pendengar musik di Indonesia. Ia membeberkan fakta bahwa kini mesin pencarian teratas di platform musik itu justru musik berbahasa daerah.

“Sejak beberapa tahun terakhir itu ada fenomena hyperlokal. Jadi orang-orang di era global ini malah justru memberi perhatian lebih kepada sesuatu yang lokal,” kata Nuran.

“Scene music Indonesia sewindu terakhir gitu ya selain Lorjhu itu ada Theory of Discoustic dari Makassar. Dia pakai bahasa Bugis dan itu albumnya dipuji di mana-mana itu bagus banget. Nah Lorjhu ini salah satu gelombang baru band yang memakai bahasa lokal dan menceritakan tentang kultur dan kebajikan lokal dan itu sangat menarik.

Lebih jauh lagi, Nuran berpendapat bahwa ternyata di dunia yang serba global, dengan bahasa yang asing ternyata musik itu tetap bisa menerabas sekat-sekat itu. Ia lantas mencontohkan lagu-lagu Didi Kempot dan Manthous yang karyanya abadi.

Pendapat Nuran ini lantas diamini oleh Badrus. Ia tak menyangka bahwa lagu yang ia tulis bisa menjangkau audience yang sangat luas. Bahkan ada beberapa pesan masuk di akun media sosialnya memberi testimoni tentang lagu Lorjhu.

“Aku nggak habis pikir waktu itu ada pekerja dari Madura di Malaysia tiba-tiba DM aku. Dia bilang terima kasih udah bikin lagu ‘Toron’, oh ternyata mereka suka karena lagu itu memang tentang pulang kampung,” kata Badrus.

“Jadi ya Lorjhu itu kan tema-temanya kan memang dari pengalamanku saat kecil dan peristiwa yang aku temuin di saat sekarang,” pungkas Badrus.

Lihat obrolan selengkapnya pada video di atas.

Penulis: Purnawan Setyo Adi
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Madura Pride: Kala Band Sumenep Lorjhu’ Memikat Pendengar Musik

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 10 Januari 2024 oleh

Tags: cherrypop 2023cherrypop festivallorjhuMaduraPutcast
Purnawan Setyo Adi

Purnawan Setyo Adi

Redaktur Liputan Mojok.co

Artikel Terkait

Cerita Mafatihatul Maghfirah: Mahasiswi Madura kuliah di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dengan jualan risol hingga lulus tanpa skripsi MOJOK.CO
Sekolahan

Mahasiswi Madura Kuliah di Jakarta: Jualan Risol demi Biaya Kuliah, Bisa Mandiri Finansial hingga Lulus Terbaik Tanpa Skripsi

24 Mei 2026
Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan
Video

Kalis Mardiasih: Parenting di Negara Gagal, Nasib Anak Jadi Taruhan

11 April 2026
Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik
Video

Prof. Al Makin: Persia, Islam, dan Warisan Intelektual yang Terancam Konflik

6 April 2026
Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut MOJOK.CO
Esai

Mencintai Musik Underground di Madura: Merayakan Distorsi di Tengah Kepungan Dangdut dan Tagihan Shopee PayLater

3 April 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Proyek pengelolaan sampah menjadi listrik (PSEL) Semarang Raya dilirik dunia MOJOK.CO

Proyek Sampah Jadi Listrik (PSEL) Semarang Raya Dilirik Dunia, Jadi Solusi Masa Depan Kota

5 Juni 2026
Usai lulus SMA jadi fotografer di Kota Lama Surabaya. MOJOK.CO

Jadi Fotografer Lepas di Kota Lama Surabaya usai Lulus SMA, Gaji Tak Seberapa asal Bisa Menabung untuk Masa Depan yang Lebih Cerah

4 Juni 2026
Peserta nyentrik gowes ke Klaten untuk ikut KLIC Fest 2026. MOJOK.CO

“Onthelis” dari Nusantara Rela Gowes Berhari-hari dengan Sepeda Tua Guna Misi Kebudayaan yang Memukau Para Bule

3 Juni 2026
Salah paham terhadap paket intimate wedding di wedding organizer (WO) MOJOK.CO

Salah Paham pada Paket Intimate Wedding di WO: Dikira Tekan Biaya padahal Bisa Tetap Mahal, Karena Intimate dan Biaya Itu Dua Hal Berbeda

4 Juni 2026
Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara MOJOK.CO

Katanya Sekolah Itu Tiket VIP Hidup Mapan, Ternyata Jadi Ibu Rumah Tangga yang Bikin Goyah Negara

5 Juni 2026
Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

Fun Football, Cara Pria Dewasa untuk Tetap Waras dan Punya Alasan untuk Hidup Lebih Lama

2 Juni 2026

Video Terbaru

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026
Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

Smarai, Konten Organik dan Cara Promosi Band tanpa Panik Ngejar Viral

21 Mei 2026
Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

Mbah Tejo: Gen Z Mungkin Lembek, tapi Tantangan Hidup Mereka Jauh Lebih Berat

17 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Mendalam
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2025 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.