Analisis Primbon Reshuffle Kabinet Jokowi dari Weton Sandiaga sampai Risma
Analisis Primbon Reshuffle Kabinet Jokowi dari Weton Sandiaga sampai Risma

Analisis Primbon Reshuffle Kabinet Jokowi dari Weton Sandiaga, Yaqut Cholil, sampai Risma

MOJOK.COMenghitung primbon reshuffle kabinet Jokowi. Bagaimana pula dengan weton Sandiaga, Yaqut, Risma dengan Presiden? Cocok nggak?

Setiap manusia punya hasrat terpendam soal primbon. Misal, era sekarang, orang tua berbondong-bondong memilih melahirkan anaknya pada tanggal cantik. Atau tidak hanya soal kelahiran melainkan juga pernikahan.

Beberapa teman yang menikah juga memilih tanggal cantik. Meskipun demikian, ada pula yang menginginkan pernikahan saat hari baik. Untuk menentukannya, dihitung weton-nya masing-masing, baru ketemu hari baik.

Tentang hari baik ternyata berlaku juga pada reshuffle kabinet Jokowi jilid II. Beberapa media daring dan luring telah menurunkan tulisan tentang keputusan Jokowi memilih Rabu, 23 Desember sebagai hari pelantikan.


Dan saya menemukan hal menarik soal pilihan hari pasaran Jokowi saat mengumumkan reshuffle kabinet. Dari rekam jejak yang bisa saya lacak, Jokowi selama melakukan reshuffle kabinet jatuh pada hari Rabu.

Pertama, Rabu Pon, 12 Agustus 2015.

Kedua, Rabu Pon, 27 Juli 2016.

Ketiga, Rabu Pahing, 17 Januari 2018.

 

Dari hal tersebut, ternyata Jokowi lebih sering melakukannya pada Rabu Pon. Lalu, mengapa Jokowi cenderung memilih Rabu Pon? Kemungkinan besar karena hari Rabu Pon adalah hari lahirnya.

Hari lahir adalah hari baik, karena sering dikaitkan dengan sesuatu yang positif. Semangat, gairah, dan energi baik.

Tapi biar lebih wangun, kita perlu komparasikan dengan presiden sebelumnya. Coba lihat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) saja, presiden sebelum Jokowi yang juga menjalani dua periode setelah era Reformasi.

Baca juga:  Menurut Amien Rais, Mendukung Jokowi Itu Menggadaikan Akidah

Eh, ternyata iya. Rekam jejak SBY punya pola yang mirip-mirip kayak Jokowi:

Pertama, 5 Desember 2005: Senin Legi

Pertama, 27 Agustus 2007: Senin Legi

Kedua, 7 Mei 2007: Senin Wage

 

Dari data di atas, SBY lebih sering melakukan reshuffle kabinet pada hari Senin Legi.

Loh kok aneh? SBY kan lahir pada Jumat Kliwon, dan itu berbeda dengan hari ketika beliau melakukan penyempurnaan kabinet, yaitu hari Senin.

Apakah SBY keliru dalam memilih hari? Nggak juga.

Buktinya beliau tetap mulus menjalankan pemerintahan hingga Oktober 2014. Hari Senin sebenarnya baik juga bagi SBY. Sebab, bagi sebagian orang Jawa, tiga hari setelah kelahiran masih menjadi hari untuk memulai sesuatu yang baru. Suci dan bersih.

Sekarang kita balik lagi ke Jokowi. Melacak dan membaca weton dari pengisi 6 pos kementerian hasil dari resuffle kabinet kemarin ini.

Ada Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dan Kementerian Sosial yang jelas urgen. Kemudian, Kementerian Agama, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kementerian Kesehatan, dan Kementerian Perdagangan.

Pertanyaannya: apa mereka cocok dengan Jokowi secara primbon? Mari kita telaah satu per satu.

Sakti Wahyu Trenggono sebagai Menteri KKP.

Beliau lahir pada Sabtu Pon. Jelas nggak cocok sama Jokowi. Secara primbon, beliau egonya besar. Padahal—sekali lagi—hanya ada visi-misi presiden lho.

Jadi Pak Sakti… tolong hati-hati. Egonya ditekan ya. Sampean boleh aja merasa sakti begitu dipilih jadi menteri, tapi selalu ingat dengan pepatah lama… bahwa di atas langit selalu ada Pak Luhut.

Baca juga:  Lima Tips Mengalahkan Jokowi saat Pemilihan Presiden 2019

Berikutnya ada Tri Rismaharini sebagai Menteri Sosial.


Beliau lahir pada Senin Kliwon. Waaa kalau ini wetonnya jelas cocok dengan Jokowi. Secara primbon, beliau adalah orang yang mampu mengabdi kepada siapa saja. Sesuai pula dengan rekam jejaknya saat menjadi Walikota Surabaya.

Sudah begitu, cocok pula di segala lini dengan Jokowi. Sama-sama dari PDIP-nya, sama-sama pernah jadi walikota, kalau lagi berdua bisa ngobrol ngalor-ngidul pakai bahasa Jawa.

Oke, lanjut ke reshuffle kabinet selanjutnya. Ada Yaqut Cholil Qoumas sebagai Menteri Agama.

Beliau lahir pada Sabtu Pon. Hm, oke. Kalau boleh jujur, wetonnya Gus Yaqut nggak cocok dengan Jokowi. Secara primbon, egonya besar. Mirip menteri KKP.

Akan tetapi, Menteri Agama kan udah kayak jadi jatahnya NU, bukan tentara. Kalau tentara sih lebih cocok jadi Menteri Investasi aja, eh, Menteri Pertahanan maksudnya.

Lanjut, ada nama Sandiaga Uno sebagai Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif.

Beliau lahir pada Sabtu Pahing. Ini tricky dengan Jokowi. Sebab, Sandiaga suka dengan tantangan, terutama tantangan-tantangan sulit yang kayaknya nggak kesampaian.

Dikasih tantangan jadi Wagub DKI, sanggup. Dikasih tantangan jadi cawapres, juga sanggup. Sanggup aja lho ya ini, nggak kudu berhasil 100 persen lho.

Berikutnya ada Budi Gunadi Sadikin sebagai Menteri Kesehatan.

Beliau lahir pada Selasa Pahing. Ini juga tricky dengan Jokowi. Bukan latar belakang dunia kesehatan, tapi secara primbon, beliau suka menolong. Ya, apa pun bisa terjadi, sih. Yang oposisi saja bisa dirangkul, lha ini cuma beda latar belakang bukan dari kedokteran.

Baca juga:  6 Pesan Absurd dari Mereka yang Penasaran Pengen Kuliah di Luar Negeri

Lagian, apa sih guna latar belakang kalau kemampuan manajemennya ambyar? Pada level posisi menteri mah, kemampuan manajemen lebih punya peran dong ketimbang peran profesional. Toh nggak semua pelatih bola itu dulunya pemain bola juga kok.

Terakhir, ada nama M. Luthfi sebagai Menteri Perdagangan.

Beliau lahir pada Sabtu Legi. Dari semua penunjukkan menteri, beliau lah yang paling sesuai dengan kriteria Jokowi. Secara primbon, cepat, tanggap, dan penuh kreativitas. Periode baik bagi perdagangan Jokowi dalam beberapa tahun ke depan.

Itu tadi beberapa analisis atau otak-atik gathuk secara primbon dan weton reshuffle kabinet Jokowi dari saya. Ingat, ini bisa dipercaya, boleh juga tidak. Meski begitu, saya berani jamin tingkat analisis saya ini adalah 100 persen benar.

Suwombong aja dulu, kalau ternyata salah ya minta maaf aja nanti. Tinggal bilang khilaf atau bilang kalau selama ini saya sudah dijebak.

BACA JUGA Watak Mojok Berdasarkan Weton dan tulisan Moddie Alvianto Wicaksono lainnya.