MOJOK.COYuliono Singsoot berjalan bersama pantomim, komedi, dan musik humor.

Beberapa tahun lalu saya melihat seorang pengamen menyambangi komunitas jaz Jogja setelah lelah berkeliling mengamen seharian. Malam itu, di antara keriuhan musik jaz yang dibawakan, pengamen ini sendirian memainkan musik yang lebih banyak melucunya daripada bernyanyinya.

Malam itu saya tahu bahwa Yuliono Singsoot adalah nama orang gila tersebut. Dia bernyanyi sambil melawak dengan gitarnya: musik humor, ia menyebutnya. Dendangan tanpa tempo sembari menyelipkan punchline-punchline jenaka di antara liriknya yang semaunya sendiri menyita perhatian (dan tentu saja gelak tawa) saya malam itu. “Kimcil-Kimcil Girl, “Helm SIM STNK”, hingga “Anak Ayam” adalah tiga lagu yang familier di telinga saya. Coba simak salah satu lirik lagu lainnya yang berjudul “Tongsis” berikut.

… Tapi ada kamera yang tidak bisa untuk selfie,

Kamera foto rontgen.

Gimana, sudah ingin melempar pegunungan Himalaya ke mukanya?

Sering bertemu di beberapa kesempatan namun tidak pernah berkenalan, akhirnya saya menyempatkan diri berkunjung ke kedai kopi yang baru dibukanya: Warung Kopi Singsoot. Saya berkunjung sekitar pukul setengah 11 malam, Sabtu malam minggu lalu. Bukan, bukan karena saya tidak ada aktivitas percintaan di malam Minggu. Saya terpaksa cancel semua janji saya malam itu karena peliputan ini. Demi dunia jurnalistik, apa sih yang nggak?

“Saya menyebut diri sebagai aktor komedi. Jadi nggak cuma aktor saja atau cuma komedian aja, tapi saya aktor yang fokus ke komedi sehingga lebih pas kalau disebut aktor komedi,” ujarnya sembari memperhatikan saya yang mulai nyeruput kopi susu buatannya.

Saya manggut-manggut. Malam itu susu dalam kopi Yuliono terlalu kental. Dia mengaku terlalu banyak memasukkan susu.

“Tidak apa-apa mas, saya suka susu kok,” hibur saya sambil nyengir. Yuliono hanya tersenyum tanpa tindak lanjut. Pada titik ini saya yakin dia orang mulia. Laki-laki yang tidak memikirkan susu lain ketika dihadapkan pada kalimat “saya suka susu” pastilah orang mulia.

***

Yuliono adalah raja cameo (saya menolak untuk menggunakan istilah figuran untuk Yuliono). Sejumlah rumah produksi yang memasok drama untuk SCTV dan RCTI sering memakai jasanya untuk peran sepersekian menit. Siapa yang sangka, ternyata untuk menyelipkan gimmick jenaka di film adalah lahan rezeki bagi Yuliono. Biasanya, apabila syuting bertempat di Jogja dan/atau melibatkan seniman Jogja, Yuliono akan mendapatkan panggilan untuk peran komedi.

Di film “Talak Tiga” (2016) misalnya, Yuliono mendapat peran menjadi patung.

“Di film ini, kemampuan saya pantomim patung membuat saya bermain dengan Vino G. Bastian, Laudya Cinthya Bella, dan Reza Rahardian,” cerita Yuliono sembari menirukan adegan pantomim yang ia mainkan kala itu. Mukanya itu loh, kartun banget.

“Mbak Laudya Cinthya Bella itu suka sama saya.”

“Suka gimana, Mas?”

“Iya, kalau saya lagi melawak di lokasi syuting, Mbak Laudya Cinthya Bella itu sering merekam saya sambil tertawa-tawa.”

Saya asumsikan, sampai saat ini pun ketika Laudya Cinthya Bella sedang bersedih, yang perlu ia lakukan hanyalah membuka galeri ponselnya untuk kembali tertawa karena video Yuliono. Akhirnya terkuak alasan di balik kebahagiaan hidup Laudya Cinthya Bella selain kekayaannya. Terima kasih, Yuliono.

Tertarik dengan pengalamannya di dunia akting hasil belajar di Teater Gandrik sejak 2009, saya mencoba mengulik lebih dalam soal pengalamannya di dunia adu peran.

“Saya pernah itu main FTV ‘Pahala Terindah’ (2011) bersama Pak Slamet Rahardjo, saya jadi orang yang mau pinjem utang buat usaha. Cameo juga.” Ia kembali memeragakan aktingnya kala itu, saya tergelitik sambil melirik kopi saya yang tinggal setengahnya.

“Pahala Terindah” menyabet 8 Piala Vidya (Oscar-nya FTV Indonesia) di tahun itu, dengan Slamet Rahardjo keluar sebagai Pemeran Utama Pria Terbaik.

“Dari Pak Slamet Rahardjo itu, saya diajari kalau akting adalah seni menjadi diri sendiri yang sedang memainkan orang lain. Jadi, harus tetap jadi diri sendirinya juga.”

Selain aktor kawakan di atas, Surya Saputra dan Dwi Sasono pun pernah beruntung karena beradu peran dengan Yuliono. Belajar langsung dengan Almarhum Andy Peppo, Den Baguse Ngarso, serta Butet Kertaradjasa, Yuliono menjelma menjadi aktor komedi menjanjikan.

“Dulu yang lucu, saya sempet iseng main ke tempat syutingnya Almarhum Andy Peppo di Malioboro, e ternyata pemeran tukang becaknya nggak dateng, akhirnya saya disuruh menggantikan.”

“Wah, film apa itu, Mas?”

“Judulnya ‘Wakil Rakyat: Komedi Satire Yogyakarta’, di situ saya adu akting langsung dengan Mas Butet dan Den Baguse Ngarso. Tapi nggak jadi tayang, Mas, nggak dapet izin. Dinilai terlalu menyindir pemerintah.”

Saya tanya Yuliono soal penghasilannya dari dunia akting. Yuliono menekankan bahwa ia enggan memikirkan perihal nominal. Satu kali syuting Yuliono bisa dibayar 250 ribu per hari untuk FTV dan 350 ribu per hari untuk layar lebar.

“Masih kalah, Mas, sama orang Jakarta, tapi nggak apa-apa, saya sabar. Kita yang penting karya dulu, soal bisnis itu nanti. Kalau ngejar bisnis nanti sisi keaktorannya jadi dangkal.”

Harus dicermati, Yuliono mengawali karir cameo komedi legendarisnya justru dari bermain pantomim. Kakak keduanya mengajarinya dasar-dasar pantomim dan lakon komedi sejak SMP. Ketika hijrah ke Jogja tahun 2003, Yuliono langsung berguru kepada Ende Reza, seniman pantomim senior, untuk mengembangkan dasar-dasar pantomim yang sudah dia kuasai.

“Dulu saya sering banget ikutan lomba-lomba pantomim di Jogjakarta,” kenangnya.

“Loh memangnya ada, Mas, lomba-lomba pantomim gitu?” tanya saya, polos.

“Wah ada dong, Mas, contohnya Sagan Act Street. Ada kategori ‘Mime in Street’. Tapi saya kalah terus awalnya, sudah ikut berkali-kali padahal.”

“Awalnya aja tho? Berarti pernah menang?”

“Iya, akhirnya lama-lama gitu saya dapet juara.”

“Juara satu, Mas?”

“Juara favorit.”

Tawa kami meledak. Sialan.

***

Setelah mendarat di Jogja di 2003, Yuliono berkenalan dengan satu lagi cabang pekerjaan yang membuatnya bisa jalan-jalan keliling Indonesia: musik humor. Awal kariernya dimulai dari seseorang bernama Bendot.

“Pokoknya kalau di Jogja, saya harus menemui Bendot. Itu pesan kakak dan teman-teman saya sebelum saya hijrah.”

Persis seperti pesan yang disampaikan perguruan kepada pendekar-pendekar yang ingin meninggalkan kampungnya.

“Mas Bendot ini seniman jalanan. Dia yang mengajari saya bermain gitar. Saya ikut dia ngamen dengan anak jalanan yang lain. Saya numpang tinggal juga di rumah salah satu pengamen jalanan itu, namanya Agus.”

Bukan, bukan Agus yang itu.

Dari sepak terjangnya di jalanan, musik humor datang padanya ketika mendengarkan band-band humor legendaris seperti Sri Redjeki, Produk Gagal, dan Sastromoeni. Musik ini menarik perhatiannya dan kemudian membuatnya menggabungkan kemampuan bermain gitar yang didapatnya dari jalanan dengan kemampuan komedi yang diajarkan kakaknya.

“Saya ingin mengurangi humor yang mengandung SARA dan saru (cabul).”

Yuliono tidak pernah membayangkan bahwa musik humor yang ia mainkan akan membawanya begitu jauh. Bahkan, selain akhirnya ia bisa sepanggung dengan Sri Redjeki, band yang membuatnya tertarik dengan musik humor, ia juga pernah berduet dengan Almarhum Sujud Kendang, salah satu seniman idolanya.

“Itulah keanugerahan Tuhan ya… Almarhum itu low profile banget. Saya bilang ke beliau, saya ngefans dan mau duet bareng. Dia mau.”

Yuliono menaruh hormat yang sangat besar kepada seniman-seniman seniornya. Banyak ilmu yang diajarkan oleh senior dan dipegang teguh dalam kesehariannya. Salah satunya adalah ilmu cing. Saya tidak tahu apa artinya dan dia juga tidak bisa menjelaskannya secara harfiah.

“Dulu ketika pentas, saya pernah telat sampai di venue, kabarnya sampai ke seniman-seniman yang lain. Terus para seniman bilang kalau saya ngisin-ngisini (malu-maluin). Nah, itu berarti saya lagi di-cing, ilmu cing itu kayak gitu. Dari situ saya nggak pernah telat lagi, kalau hujan pokoknya kostum saya bungkus plastik biar bisa berangkat.”

Yuliono termasuk orang yang kelewat rajin mengikuti ajang pencarian bakat. Mulai dari Indonesian Idol, The Voice, Indonesia’s Got Talent, SUCI (Stand Up Comedy Indonesia), hingga API (Audisi Pelawak TPI). Hanya Pildacil yang belum pernah dicobanya karena kebetulan dia sudah berusia 31 tahun.

Tertarik membahas mengenai pengalamannya di Indonesian Idol, saya bertanya soal pertemuannya dengan Raisa kala audisi. Saat itu Raisa menjadi juri bersama Ahmad Dhani dan Indra Lesmana. Raut muka Yuliono mendadak serius.

“Dia (Raisa) itu inner beauty-nya kelihatan. Udah cantik dari sananya sih, tapi inner beauty-nya itu kelihatan kalau dia orang baik. Kan kelihatan kalau dari inner beauty sebenarnya seseorang itu baik atau jahat.”

“Dia wanita yang unik, Mas. Polos lah gitu.”

Luar biasa, pertemuan 15 menit sudah membuatnya tahu banyak tentang Raisa.

“Saya kalah sama Hamish Daud e,” tutup Yuliono penuh luka. Lihat, bagaimana 15 menit bersama Raisa bisa membuat Anda terikat secara emosional dengan penyanyi wanita tersebut. Berbahaya sekali.

“Singsoot itu artinya apa, Mas?” Saya coba alihkan topik pembicaraan dari Raisa.

Fiuuuwww fiuuuwww, dia langsung bersiul. Senyumannya kembali muncul.

Singsot itu bahasa Jawa dari siul. Biar orang kalau nanya, ‘Yuliono seng ndi?’, ‘Kuwi loh Yuliono seng singsot-singkot kae.’”

“Saya bisa main lagu Mozart juga dari siul ini.” Komposisi gigi di dalam mulut Yuliono memang sangat mendukung untuk bunyi siul yang nyaring. Apabila Anda pernah menonton Yuliono, pasti Anda tahu maksud saya

Yuliono lantas memainkan lagu klasik “Für Elise” dengan siulnya. Saya bertepuk tangan dengan takjub. Meskipun “Für Elise” milik Beethoven, saya tidak mau membahasnya sekarang karena kami masih dalam masa berkabung akibat topik kalahnya Yuliono dari Hamish Daud tadi.

Berbekal musik humor ini, Yuliono bertemu Djaduk Ferianto, Syaharani, Ayu Dewi, Alit Jabang Bayi, Anang Batas, Indro Warkop, Ernest Prakasa, Dodit Mulyanto, hingga Luna Maya. Yuliono juga sudah menyambangi Tegal, Madiun, hingga Kediri untuk mementaskan musiknya.

“Dari Maret sampai September ini, saya sudah dikontrak Bank Jaya untuk roadshow ke 11 kota, Mas. Termasuk Malang dan Kotabumi, Lampung.”

“Kok bisa sih, Mas, dapat kesempatan seperti itu? Apa rahasianya?”

“Prinsip saya sih dari awal karier sebagai seniman, kita harus mau disegani.”

“Loh, kok langsung minta disegani, Mas?” Arogan sekali.

“Iya, Mas. Disegani. Jadi tetep mau (pentas) kalau dibayar nasi (sega, kata Jawa) aja.” Dia tertawa.

Tawa saya meledak. Meskipun telat 10 detik dari Yuliono yang sudah keburu tertawa.

Soal tarif, Yuliono mengaku mematok harga 2,3 sampai 3 juta untuk sekali tampil. Tapi, nominal tersebut hanya berlaku untuk ranah profesional. Maksudnya gimana tuh?

“Kalau kampung saya atau panti asuhan yang ngundang, saya bisa main tanpa dibayar. Kasihan kalau mau ngundang saya, kalau nggak ada uang, mau dapat dari mana?” Hal itu juga berlaku kepada acara komunitas kecil atau mahasiswa.

“Pokoknya kalau ngundang aku kalau ada duit bilang, kalau nggak ada duit tapi mau ngundang aku, yo bilang. Jadi jujur gitu.”

“Tapi, lain lagi kalau yang ngundang senior yang berjasa seperti Romo Shindu, Den Baguse Ngarso, atau (Almarhum) Mas Gareng Rakasiwi. Nah, kalau sama mereka ini saya nggak mau ngomongin uang, malu saya. Wes piro wae, Mas. Saya siap.”

***

Ketika saya iseng mengalihkan pertanyaan ke kehidupan asmara seorang Yuliono, dia mendadak antusias menceritakan rencana pernikahannya.

“Saya nanti akan menyewa mobil Mini Cooper di hari pernikahan saya. Kemudian mobil itu saya hias dengan tulisan ‘just married’.”

Saya menyimak serius.

Dia melanjutkan, “terus di bawahnya saya kasih klontang-klontang biar rame.” Klontang-klontang itu merujuk ke kaleng dan segala macam benda yang bisa menimbulkan suara berisik.

“Tulisan Yuliono dan Intan gitu,” sambungnya.

“Oh, berarti sudah ada pacar ya, Mas?”

“Belum. Hehe.”

Suampah!

“Saya sudah pacaran dua kali. Sampai sekarang mereka masih sayang sama saya. Tidak bisa melupakan gitulah. Kayak rumah makan itu lho, Mas, ibaratnya, kalau ‘pelayanan’-nya bagus, pelanggan pasti akan kembali lagi. Hehe.”

Hm, bolehlah.

“Lah terus kenapa putus, Mas?” tanya saya heran.

“Beda pemikiran, Mas,” jawabnya serius. Saya tertegun diam, kemudian pikiran saya menyalahkan mayoritas pemikiran masyarakat awam yang menganggap seniman bukanlah pekerjaan yang menghidupi dan bergengsi. Keputusan seseorang untuk menjadi pasangan hidup seorang seniman jalanan sering dipertanyakan.

Tiba-tiba Yuliono menambahkan,

”Beda pemikirannya: saya mikirin dia, dia mikirin yang lain.”

Bajingaaan!

Itu menjadi makian terakhir saya. Saya lihat jam dinding: hampir pukul satu dini hari, kopi susu saya sudah habis. Terlalu betah saya di sini. Saya harus pulang, meskipun saya tidak mau.

Loading...



No more articles