• 86
    Shares

MOJOK.CO – Apakah serakan kerangka manusia Kiri di bawah tanah Jawa pada masa lalu penting bagi peradaban #2019SayaTetapPancasila? Nah, mari kita tengok Museum Manusia Purba Sangiran di Jawa.

Jika “Jawa adalah koentji”—begitu tesis film Pengkhianatan G30S/PKI (1984)—Sangiran menyebut diri “home land of java man”. Hal itu tertulis verbatim pada guratan prasasti dari patung besar seorang “java man” di halaman Museum Manusia Purba Sangiran, Kalijambe, Sragen, Jawa Tengah.

Dalam perjalanan pulang dari Blora seusai Pramoedya Ananta Toer “diterima” secara resmi pemerintah daerah lewat Festival Cerita dari Blora di pekan kedua September, saya tergoda untuk membuktikan betapa insignifikannya orang Kiri itu dalam tesis Sangiran.

Tesis “ilmiah” ini penting karena September saban tahun golongan ini dan kelompok yang phobia kepada mereka rutin berantem soal nasib kerangka-kerangka di bawah tanah Jawa. Ada atau tak ada proyek pemilu, perkelahian reguler ini selalu terjadi dengan meninggalkan nirfaedah.

Termasuk dalam lingkup kualitas maupun kuantitas. Secara kualitas, apakah serakan kerangka manusia Kiri di bawah tanah Jawa itu itu insignifikan atau signifikan bagi peradaban #SayaPancasila atau #2019SayaTetapPancasila? Sementara itu, secara kuantitas, apakah jumlah kerangka di bawah tanah Jawa itu 10 ribu, 75 ribu, 500 ribu atau 3 juta?

Nah, bagaimana Sangiran melihat problematika kenakalan remaja “the java man” di bawah tanah Jawa bernama “Kiri” itu dalam “moralitas evolusi”?

Inilah enam Tesis Sangiran yang diharapkan memberi faedah:

TESIS 1:

Di akhir Kala Pliosen, 2.4 juta tahun lalu, seperti bagian Jawa lainnya, permukaan Sangiran masih tertutup lautan …. Hingga pergerakan lempeng benua, turunnnya muka laut, dan aktivitas gunung api menjadikan Sangiran daratan sepenuhnya, 800 ribu tahun silam.

Dari tesis pertama Sangiran itu saja saya langsung insyaf, oh, Proyek Kedungombo yang 30-an kilometer jauhnya dari Museum Sangiran sesungguhnya proyek evolusi penuh martabat. Yakni, mengembalikan peradaban Pliosen 2,4 juta tahun di mana Jawa pada mulanya adalah air. Di akhir tahun 80-an, 37 desa dari tujuh kecamatan di tiga kabupaten ditenggelamkan demi proyek ini.

Romo Mangun yang dalam kondisi sakit-sakitan memasuki Kedungombo untuk mengajeni petani dituding melakukan Kristenisasi. Atau, siapa pun yang mbalelo, baik aktivis/akademis atau petani, dituding PKI atau Kiri. Betapa insignifikannya Kiri itu dalam proyek infrastruktur Pliosen itu. Kiri lebih ampuh dipakai sebagai peluru untuk menggertak ketimbang alat memikirkan kehidupan. Kasihan.

 TESIS 2

Indonesia: ladang perburuan Homo erectus terpenting di dunia. Sekitar 75% fosil Homo erectus di dunia ditemukan di Indonesia. Temuan fosil Homo erectus yang cukup banyak di Indonesia itu dapat memberikan gambaran perkembangan beratahap atau evolusi dalam genus Homo erectus itu sendiri, mulai dari yang arkaik, tipik, maupun paling progresif.

Sejarah manusia Jawa dimulai dari galian Trinil oleh seorang dokter asal Belanda, Eugene Dubois. Tentu saja, yang pernah terpapar proyek wajib belajar 9 tahun mengenal proyek legendaris penemuan “Homo erectus” itu dengan embel-embel mirip blurp di poster roman detektif, “penemuan besar dari missing link” dari garis evolusi kekerabatan manusia dengan kera besar, antara Australopithecus dan Sapiens.

Baca juga:  Peserta Acara “Doa untuk Keselamatan Bangsa” di Monas Tak Bersemangat Nonton Film G30S/PKI

Sebagaimana riwayat si Erectus yang merupakan missing link, seperti itu pula hikayat tulang-belulang si Kiri di bawah tanah Jawa. Dari masa ke masa, ia bukan hanya menjadi missing link dalam sejarah sosial politik Republik, tapi juga makhluk yang disesalkan menjadi seorang Sapiens. Oleh kelompok phobia yang tak sudi kerangka si Sapiens Kiri ini eksis, mereka dipaksa hidup kembali untuk mandi junub dan kemudian dikutuk untuk balik jadi nutfah lagi.

Merujuk pada tesis kedua Sangiran itu, proses memaksa si Sapiens yang disesali karena sangat tidak insignifikan dalam pembakuan Pancasila sebagai asas idiil negara bangsa itulah kita mendapatkan banyak pola yang dilakukan secara konsekuen dan berulang-ulang. Mulai dari pelarangan buku, penggerebekan diskusi, nobar, persekusi festival, sweeping, hingga bikin banyak janji penegakan HAM ini dan itu.

Jika Erectus membikin missing link menjadi terang, Sapiens Kiri membikin yang gelap makin gelap hingga akhirnya Sapiens Kiri itu insignifikan di semua lapangan kehidupan.

TESIS 3

Pada tahun 1970-an, masih banyak matarantai yang belum ditemukan dan hubungan kekerabatan antara manusia dengan kera tampak jauh. Namun, tahun 1990-an, fosil-fosil yang mengisi matarantai yang hilang lebih banyak ditemukan dan ternyata kekerabatan manusia dengan kera tampak semakin mendekat.

Jelas dan tak ragu lagi: ada kunyuk dalam jejak manusia. Bersandar pada tesis ketiga Sangiran itu, kita bisa memahami mengapa Abdurrahman “Gus Dur” Wahid dengan polos menyebut si Mayor Jenderal Kunyuk yang menjadi pengobar pembunuhan di Ambon tahun 1999. Lahirnya sebutan “Jenderal Kunyuk” itu bermula dari Pak Mayor Jenderal Kivlan Zein yang tersinggung atas inisial yang disebar Gus Dur, yakni “Mayjen K”. Berniat melakukan tabayun, Gus Dur pun memperjelas inisial K itu sebagai si Kunyuk.

Menurut KBBI, ku.nyuk adalah (1) kera kecil; monyet dan (2) orang bodoh (tidak tahu adat). Merujuk pada pengertian Gus Dur, kunyuk itu, ya, si pembikin onar, penyebar rasa takut dan waswas. Dan, pembikin onar dan penyebar waswas paling profesional tentu saja bukan begal atau preman, petani yang keras kepala mempertahankan haknya, melainkan yang punya seragam dan senjata.

Jadi, tesis “kekerabatan manusia dengan kera tampak semakin mendekat”, dalam konteks ini, menemukan kebenarannya yang HQQ.

TESIS 4:

Kapan Homo erectus mulai tinggal di Jawa. Ada ahli yang berpendapat sejak 1,8 juta tahun lalu. Namun, lebih banyak ahli yang berpendapat Homo erectus mulai menghuni Pulau Jawa sekitar 1 juta tahun lalu.

Betapa signifikannya si Erectus dalam peradaban kita, tapi betapa malangnya nasib si Sapiens Kiri dalam sejarah kita. Bersandar pada ilmu Paleontropologi, bahkan pendaratan pertama si Erectus di Jawa bisa diketahui. Persebarannya di Nusantara pun bisa dideteksi; dari Jawa hingga Flores.

Baca juga:  Sebagaimana Tidak Semua Nama Inggris itu Modern, Nama Arab Juga Belum Tentu Islami

Paleoantropologi adalah ilmu yang mengkaji manusia purba dengan membandingkan fosil-fosil manusia agar dapat diketahui proses evolusi dan adaptasi manusia terhadap lingkungannya. Lebih keren lagi, ilmu genetika datang membantu.

Kolaborasi paleoantropologi dan ilmu genetika disebut antropologi-biologi. Bila paleoantropologi lebih banyak berurusan dengan fosil, genetika fokus mengurus ciri-ciri penentu keturunan. Sudah sejauh itu. Lha, kerangka si Sapiens Kiri di bawah tanah Jawa yang usianya baru hitungan puluhan tahun sudah menyumbang ilmu apa dan seharum apa nama para pencetusnya?

Si Erectus saat sering dibawa-bawa perupa Raden Saleh ke Eropa, eh, si Raden dapat privelese namanya disebut manis di Museum Sangiran, bersanding dengan nama Eugene Dubois, Franz Weidenreich, A.R. Wallace, dan F.W. Junghuhn.

Sebaliknya, mereka yang mempersoalkan kerangka Sapiens Kiri yang bertebaran di bawah tanah Jawa, paling-paling dapat cap—pinjam kata-kata Jenderal Purnawirawan Gatot Nurmantyo—kalau bukan mereka, siapa lagi. PKI! Sungguh, insignifikan.

TESIS 5:

Homo sapiens terbagi dua: si pemusnah dan sang pencipta yang arif. Siapa kita?

Tesis Sangiran itu Anda baca sambil sesekali mata Anda tertumbuk pada kerangka manusia sempurna yang terbaring dalam galian dengan pencahayaan yang samar. Secara verbatim, Sangiran menuliskan betapa suatu saat nanti si Sapiens ini bakal punah oleh si Sapiens jua.

Sejarah menunjukkan, ambisi dan ketamakan manusia yang tak terkendali akan menghancurkan sesama manusia lewat perang dan monopoli sumberdaya alam. Menurut tesis ini, lingkungan alam hutan tropis yang menjadi paru-paru dunia habis dieksplorasi tak tergantikan. Polusi udara tercipta hanya untuk ekonomis semata. Minyak bumi dan batubara hampir habis ditambang industri yang menguntungkan sebagian orang saja. Semua itu menjadi ancaman nyata bagi manusia. Kepunahan itu ada di depan mata!

Jelas, yang menjadi ancaman itu, sebagaimana dipesankan Sangiran, adalah Sapiens yang bermodal besar dan serakahnya naujubilah yang di-acc para politisi dan dijaga serdadu kunyuk! Merekalah musuh nyata Pancasila, lain bukan. Sangiran mengajak berpikir sebagaimana layaknya anugerah otak Sapiens, bukannya malah seperti lingkar otak “sederhana” si Erectus.

TESIS 6:

Manusia modern adalah spesies yang langka kalau bukan satu-satunya. Hanya manusia yang dapat berbahasa, menciptakan teknologi, berkarya seni, memiliki ilmu pengetahuan, dan belajar dari masa lampau.

Jika Multatuli bertesis tugas manusia menjadi manusia, Sangiran berpendapat menjadi manusia berarti harus terus belajar, kreatif, dan tidak mengulangi kesalahan yang sama. Tesis itu tertera di ruang pamer dua.

Jadi, nobar boleh di akhir September hingga sehari sebelum kiamat kelak. Namun, jika ingin variasi, saya rekomendasikan pakansilah ke Museum Sangiran untuk melihat lebih dekat sekunyuk apa kamu dan sepurba apa pikiranmu kalau tidak mau berpikir adil dengan selalu boikot nonbar The Look of Silence dan The Art of Killing.

Berpakansilah banyak-banyak untuk mencegah terlalu banyak kesalahan masa lalu yang diulang dan tak pernah mau diakui. Ketahuilah, Sangiran nggak suka lihat manusia begituan. Nggak suka.

  • 86
    Shares


Loading...



No more articles