MOJOK.COSadar atau tidak, kita sebenarnya telah menyerahkan separuh usia republik ini ke tangan pemimpi-pemimpin berzodiak Gemini.

Anda terbangun lewat tengah malam, membuka ponsel pintar, lalu meluncur ke grup WA keluarga. Di sana, Om dan Tante sedang membincangkan satu fakta ajaib bahwa Neil Armstrong pernah mendengar suara azan di bulan. Satu hal yang lebih ajaib dari fakta itu sendiri adalah; mereka menyimak dengan penuh keyakinan.

Dengan penuh semangat, Anda mengetik “keluarga guooooooblok!” tapi urung terkirim. Disdukcapil belum menyediakan fitur registrasi ulang untuk pesakitan yang ‘dicoret’ dari daftar kartu keluarga. Dan itu membikin nyali Anda yang semula sekuat baja, kini menjadi ringkih dan melempem seperti selonjong kerupuk disiram kuah Indomie.

Anda beralih ke sosial media lain, dan keadaan sama runyamnya.

Seorang aktivis diculik, sementara aktivis lain menjadi selebgram dan diendorse marketplace berwarna oranye. Seorang pesulap—yang tak punya nyali untuk bersenandung, tetapi cukup kuat menelan selembar silet—diampu jadi juri kontes dangdut, sedangkan pesulap lain berusaha tetap relevan dengan menghidangkan teori konspirasi. Seorang wartawan kompeten dipenjarakan, sementara wartawan impoten menulis berita dengan judul “Wow Inilah 10 Fakta Mengejutkan, Nomor Sekian Bisa Membuat Jantung Anda Aerobik”, dan mereka aman-aman saja karena tidak mengganggu ketertiban umum.

Seorang pejabat membuat kesalahan, dan pejabat lain menirunya dengan cara yang lebih canggih.

Hanya perlu sekali mendusin untuk mafhum bahwa Indonesia memang begini-begini saja—kalau bukan dekaden sama sekali. Tetapi butuh waktu seumur hidup untuk mencari tahu alasan di balik itu semua.

Seumur hidup bukan waktu yang singkat, tapi rasa-rasanya selalu setimpal untuk setiap laku pencarian.

Satu sinetron pernah menunjukkan betapa gigihnya usaha sekelompok orang mencari Tuhan, mereka bertahan selama 13 musim. Dan Tuhan (dengan “T” besar, tentu saja) tak kunjung berhasil dijumpai. Padahal, nyomot 2 SKS mata kuliah Filsafat sudah lebih dari cukup untuk memuaskan nafsu teologis insan-insan yang menamakan dirinya “Para Pencari Tuhan” itu.

Baca juga:  Dear Pak Prabowo, Kucing Memang Teman Terbaik Ketimbang Manusia

Laku mereka mendorong Anda untuk sama tekunnya dalam perkara cari-mencari.

Mencari Tuhan tidak sama dengan mencari kaos kaki yang hilang, sebagaimana mencari tujuh bola naga jelas berbeda dengan mencari nafkah. Semuanya melewati proses yang berlainan, alur yang berkelok, dan mengandung seni masing-masing.

Namun di atas itu semua, mencari muara mandeknya perkembangan suatu bangsa selalu menuntut hal-hal tak terduga di luar dirinya, karena ia berkenaan dengan tuduhan dan—bukan tidak mungkin—akan berujung pada ancaman.

Anda mau membikin postulat bahwa Ideologi Pancasila adalah sumber masalah? Ninuninuww, dengan segera Anda berhadapan dengan tuduhan makar. Menjadikan faham tertentu—apalagi agama—sebagai tersangka? Yha, siap-siap digeledah massa saja, sich~

Mumet sekali, bukan?

Anda membuka kembali lembar catatan semasa sekolah. Selain kutipan “Experience is the best teacher” khas keluaran merk Sinar Dunia, Anda akhirnya menemukan daftar biodata singkat para Presiden—yang mungkin pernah dibebankan sebagai tugas oleh guru sejarah. Tapi bukan itu intinya. Intinya adalah; Gemini!

Sadar atau tidak, kita menyerahkan separuh usia republik ke tangan Gemini.

Lepas dari Belanda kemudian lolos dari Jepun, dengan penuh tegangan dan sedikit drama, tetapi ujung-ujungnya ikhlas diatur Gemini?

Belum ada peribahasa yang cocok untuk kasus ini. Lepas dari mulut harimau masuk ke dalam mulut buaya bahkan terdengar kurang memadai. Sebab Presiden Gemini adalah kalkulasi antara harimau, buaya, biawak, dan haiwan-haiwan menyeramkan lainnya.

Trump, yang setiap kali menggerakkan poni bisa membikin hati gerah, adalah seorang Presiden Gemini tulen dan Anda tahu bagaimana ia bekerja. Kalau bukan bikin ketawa, ya bikin kesel, iya tho?

Fyi aja, sepanjang sejarah Amerika, Pak Jambul adalah orang ketiga dari fraksi Gemini yang terpilih sebagai Presiden.

Trump membawa nama Gemini naik ke peringkat lebih tinggi ketimbang sekutunya Aries dan Virgo yang masing-masing diwakili oleh dua orang; Thomas Jefferson dan John Tyler, juga William Howard Taft dan Lyndon B. Johnson.

Baca juga:  Surat Terbuka untuk Buzzer Jokowi

Presiden terbaik Amerika lahir dari zodiak Aquarius. Merekalah yang turut mendominasi mencokol lima perwakilan, dengan raihan sebelas kali menang pemilu. William Henry Harrison, Franklin D. Roosevelt, Abraham Lincoln, William McKinley, dan Ronald Reagan.

Gokilnya, kecuali Reagen, mereka mati kala asyik-masyuk menjabat. Dua karena penyakit, dua lainnya korban kasus pembunuhan. Reagen sebetulnya sempat dibedil juga, tetapi untungnya dia selamat. Semesta selalu punya teka-teki, My luf~

Singkat kata, Amerika bisa begitu adidaya dan tampil keren hingga sekarang—bisa jadi—karena mereka memberi porsi yang minim pada Presiden Gemini. Itu sungguh terbalik beribu-ribu derajat dengan apa yang kita alami.

Soekarno, Soeharto, dan Jokowi termasuk dalam kelompok Presiden dengan durasi jabatan yang panjang, dan sialnya mereka Gemini.

Anda bisa menghitung berapa durasinya. Presiden Gemini yang paling lama dan punya pengaruh terhadap perkembangan Indonesia. Pesaing mereka hanya SBY, Sang Virgo jempolan yang doyan curcol di Twitter. Yaudah, sih, namanya juga virgo.

Sebetulnya, ada banyak profesi yang bisa ditekuni oleh Gemini dan Presiden bukanlah salah satunya.

Mereka bisa menjadi seniman andal—karena punya modal emosional yang memadai—atau menjadi pemuka agama atau menjadi pemain sepakbola atau jualan skinker. Pokoknya apa saja, kecuali Presiden.

Anda kira, pendekatan modal zodiak adalah satu-satunya analisis yang hadir tanpa celah dan cela? Tentu saja tidaaak. Sebab, mau ngomongin negara dan presiden dengan cara akademik dan ilmiah bisa kena semprot plus teror, seperti yang dialami oleh kawan-kawan di UGM tempo hari.

Kesimpulannya, kalau mau bahas secara akademik dianggap keliru dan bisa dianggap makar, apalagi bahas zodiak presiden, itu juga semakin nggak boleh karena bisa dianggap simbahnya makar.

Kalau begitu, izinkan saya kasih solusi: yaudasi bilang aja dari awal kalau jadi pejabat di negeri nggak boleh dikomentari dari segala macam aspek… pakai nuduh dikit-dikit mokar-makar-mokar-makar lagi.

BACA JUGA Meramal Hubungan Rangga dan Cinta AADC Berdasarkan Zodiak atau tulisan soal ZODIAK lainnya.