Sebagai negara yang menjunjung tinggi kecepatan dan menjadikan jalan tol sebagai urat nadinya, Indonesia mempunyai banyak sekali warga yang berprofesi sebagai sopir, mulai dari sopir angkot, sopir taksi, sopir mobil pribadi, sopir muatan, sampai sopir instansi pemerintahan.

Nah, dari begitu banyak warga Indonesia yang berprofesi sebagai sopir, ada satu nama yang keberadaannya layak diperhitungkan. Karier kesopirannya tak hanya level Indonesia, melainkan sudah level Asia-Oceania.

Siapakah dia?

Yak, betul. Iqbal Aji Daryono.

Iqbal adalah warga negara Indonesia yang berprofesi sebagai sopir di Perth, salah satu kota berkembang di Austalia barat. Di Perth, ia bekerja sembari menemani istrinya yang sedang menempuh pendidikan S-3.

Bukan tanpa alasan ia bekerja menjadi sopir di sana. Selain karena lajur kendaraannya sama dengan Indonesia (sama-sama kiri), SIM di sana pun bisa menggunakan SIM Internasional. Kepada salah satu tim Mojok Institute, Iqbal bahkan mengatakan bahwa dirinya di Perth masih menggunakan SIM keluaran Polres Bantul.

Iqbal adalah sopir yang bukan sembarang sopir. Ia sopir yang istimewa, sebab di balik setir kemudinya, ia tak melulu melakukan kerja-kerja transportasi, tapi juga melakukan kerja-kerja propaganda dan agitasi. Itu karena selain sebagai sopir, Iqbal juga berprofesi sebagai penulis buku, kolumnis, dan juga sebagai … yak, buzzer politik.

Nah, artikel ini dibikin adalah untuk menghitung berapa jumlah pendapatan Iqbal selama satu bulan sebagai sopir merangkap penulis dan buzzer politik.

Mari kita hitung bersama-sama.

Di Perth, Iqbal bekerja sebagai sopir truk ekspedisi. Di sana, upah Iqbal adalah 20 dolar (Australian dollar/AUD) per jam. Dalam satu hari, ia bekerja selama 8 jam. Jika dihitung dalam satu minggu ia bekerja 5 hari (Sabtu dan Minggu libur), itu artinya ia bekerja selama 40 jam dalam satu minggu, alias 160 jam sebulan.

So, jika dikalikan, dalam satu bulan Iqbal mendapat gaji sebesar 3.200 dolar. Yang jika dikurskan ke dalam rupiah setara dengan Rp32.630.000.

Sekarang mari kita hitung pendapatan Iqbal sebagai penulis buku. Seperti yang kita tahu, Iqbal adalah penulis buku Out of the Truck Box, salah satu buku panduan menyopir truk yang cukup laris di pasaran. Buku ini terbit tahun 2015, tetapi masih terus diburu oleh para pembaca sampai sekarang.

Sebagai penulis buku, Iqbal mendapatkan royalti sebesar 10% dari harga buku. Oke, anggaplah dalam satu bulan buku ini laku 100 eksemplar dan harga buku Iqbal ini 65 ribu. Itu artinya, setiap laku satu buku, ia mendapat royalti 6.500 rupiah. Maka, tinggal kalikan saja 6.500 dengan 100. Hasilnya, Rp650.000.

Sekarang, coba kita ulik pendapatan Iqbal dari profesinya dia sebagai kolumnis. Kita tahu, Iqbal rutin menulis seminggu sekali di salah satu portal berita terbesar di Indonesia, sebut saja Detak.com. Di sana ia punya rubrik sendiri, namanya “Sentilun Iqbal Aji Daryono”. Untuk satu tulisan, Iqbal dibayar satu juta rupiah. Dalam sebulan, Iqbal menulis empat kali, itu artinya dari satu situs berita ini saja Iqbal sudah mengantongi 4 juta rupiah.

Lantas, apakah Iqbal hanya menulis di Detak.com? Ooo, tentu saja tidak. Selain menulis di Detak.com, Iqbal juga menulis di situs-situs lain seperti Mojok dan Voxpop. Untuk satu tulisan, ia dibayar antara 250 sampai 300 ribu. Dalam satu bulan, biasanya ia menulis 3 sampai 4 kali. Itu artinya, dari situs selain Detak, Iqbal mendapatkan pendapatan kurang lebih Rp1,2 juta.

Jadi bisa ditotal, dalam satu bulan pendapatan Iqbal sebagai kolumnis sebesar 5,2 juta.

Nah, sekarang pendapatan Iqbal sebagai buzzer politik. Jumlah pendapatan Iqbal sebagai buzzer politik ini masih simpang siur. Iqbal sendiri ketika ditanya oleh Mojok Institute tentang berapa rate untuk satu kali postingan di akun Facebooknya yang sudah mempunyai puluhan ribu pengikut itu, hanya menjawab, “Ah, nggak banyak, cukup untuk infak saja.”

Namun, menurut informasi dari beberapa intel yang kami terjunkan ke lapangan, didapat fakta bahwa Iqbal mendapatkan Rp200 juta untuk satu postingan bertema agitasi politik. Itu belum termasuk bonus satu unit sepeda gunung jika postingannya viral.

Dalam satu bulan ia biasanya mendapat porsi dua postingan bertema politik di Facebooknya. Jika diasumsikan dari dua postingan tersebut, satu di antaranya viral, Iqbal akan mendapat bonus satu buah sepeda Polygon MTB 26″ Monarch 5.0, yang harganya adalah Rp2.270.000.

Dengan demikian, jika ditotal, jumlah pendapatan Iqbal dari jalur buzzer politik dalam satu bulan adalah sebesar Rp402.270.000.

Oke, sekarang mari kita total seluruh pendapatan Iqbal selama satu bulan sebagai sopir, penulis buku, kolumnis, dan juga buzzer politik.

32.630.000 + 650.000 + 5.200.000 + 402.270.000 = Rp440.750.000

Empat ratus empat puluh juta tujuh ratus lima puluh ribu rupiah.

Cukup besar, bukan? Tentu saja. Jumlah sebesar itu kalau dibelikan garam balok, satu kecamatan asin semua.

Tertarik untuk mengikuti jejak Iqbal Aji Daryono? Kami sarankan jangan. Jika tertarik jadi sopir dan penulis sih silakan, tapi jadi buzzer politik, sebaiknya jangan.

Contohlah Puthut EA, yang walaupun sudah jadi sastrawan besar, tapi tak pernah mau jadi buzzer politik. Ia malah dengan sukarela tanpa dibayar menjadi buzzer bagi penulis-penulis muda potensial seperti Kalis Mardiasih dan Agus Mulyadi.

iqbal aji daryono

No more articles