Bayang-bayang Harimau dan Penembang yang Hilang di Kaki Gunung Cakrabuana

Bangbayang sekarang sudah tidak sama lagi dengan Bangbayang zaman Aki masih ada.

Misteri harimau di Gunung Cakrabuana MOJOK.CO

Ilustrasi harimau di Gunung Cakrabuana. (Mojok.co/Ega Fansuri)

MOJOK.COAlmarhum kakek saya tinggal di kaki Gunung Cakrabuana. Gunung angker dengan misteri harimau lodaya dan siluman penembang.

Pengalaman mistis “ditemani” harimau yang akan saya ceritakan ini terjadi di sebuah desa di kaki Gunung Cakrabuana, di wilayah Malangbong, Garut, Jawa Barat. Saat itu, saya masih remaja. Namun sebelum itu, perlu saya singgung sedikit, latar belakang sejarah Gunung Cakrabuana yang pada zaman baheula disebut Gunung Cangak.

Gunung, yang oleh masyarakat setempat dikenal sebagai gunung keramat sekaligus angker itu, berada di ketinggian sekitar 1721 mdpl. Gunung Cakrabuana atau Cangak berbatasan langsung dengan lima wilayah kabupaten di kawasan Priangan Timur, yakni Garut, Tasikmalaya, Ciamis, Sumedang, dan Majalengka. Pada zaman kerajaan-kerajaan Hindu, Gunung Cangak merupakan perbatasan antara Kerajaan Pakuan dan Kerajaan Galuh.

Di gunung inilah, Raden Walasungsang, yang kemudian bergelar Pangeran Cakrabuana, bertapa dan memperdalam ilmu kanuragan dan ilmu kebatinan. Oleh sebab itu, Gunung Cangak kemudian disebut Gunung Cakrabuana.

Petilasan Raden Cakrabuana dikenal sebagai Situs Batucakra, berupa goresan tangan Pangeran Cakrabuana di atas sebuah batu besar di puncak gunung. Raden Walangsungsang atau Pangeran Cakrabuana adalah putra penguasa Kerajaan Pajajaran Sri Baduga Maharatu Prabu Siliwangi yang membelot masuk Islam dan berguru kepada Syekh Maulana Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati Cirebon). Pangeran Cakrabuana juga dikenal sebagai pendiri Kesultanan Cirebon.

Dikutip dari www.carubannagari.radarcirebon.com, bukan hanya Raden Walangsungsang yang memiliki petilasan di Gunung Cakrabuana. Ada beberapa leluhur Sunda lainnya, yang makam atau petilasannya dapat ditemukan di gunung ini. Di kaki gunung inilah, “harimau masa silam” itu menemani saya dan keluarga.

Di antaranya, petilasan Ki Cakra atau Sang Hyang Wenang, makam Sanghyang Prabu Wirakancana, makam Eyang Prabu Wisesa, makam Sunan Batara Seda atau Sangkala Wenang, Makam Sunan Sang Malenglarang, petilasan Sang Hyang Ratu Sri Lembuhejo, petilasan Sunan Munding Darak Sangkana, makam Sunan Batara Kalanta, dan makam Sunan Gagak Carambang.

Gunung Cakrabuana, pada masa silam, diduga merupakan persemayaman para pemuka agama Hindu yang ditandai dengan adanya situs Candi Batulawang. Juga tempat memperdalam ilmu-ilmu kanuragan dan spiritual. Pada zamannya, di gunung ini, konon bersemayam seorang pendekar sakti mandraguna dengan julukan Ki Jago. Dialah yang mengajarkan ilmu silat dan ilmu-ilmu kebatinan kepada sejumlah muridnya.

Di zaman revolusi kemerdekaan, Gunung Cakrabuana menjadi jalur lintasan utama pasukan tempur TNI dari Divisi Siliwangi ketika melakukan hijrah dari Jawa Barat ke Yogyakarta pada 1948. Melalui gunung ini pula, Pasukan Siliwangi melakukan long march dari Yogyakarta menuju Jawa Barat pada 1949, dan diadang oleh pasukan pemberontak DI/TII di bawah pimpinan Sekarmadji Maridjan Kartowuwirjo yang bermarkas di puncak Gunung Cakrabuana.

Gunung Cakrabuana terkenal angker

Selain dikenal karena faktor sejarah dan kekeramatannya, Gunung Cakrabuana juga terkenal angker. Salah satu keangkerannya, menurut penduduk setempat, adalah sering munculnya seorang kakek yang tiba-tiba bisa berubah wujud menjadi seekor harimau lodaya (belang). Namun, penampakan itu hanya akan terjadi bila ada orang yang dianggap melanggar larangan atau bertingkah laku kurang sopan di atas gunung. Masyarakat di kaki gunung menjuluki harimau belang tersebut sebagai aden-aden atau maung kajajaden (harimau jadi-jadian) yang konon sewaktu-waktu bisa datang “berkunjung” ke desa-desa di sekitarnya.

Di kaki gunung Cakrabuana yang berada di wilayah Desa Cisitu, Kecamatan Malangbong, Kabupaten Garut, terdapat sebuah perkampungan. Tepatnya di lereng bukit. Namanya Kampung Bangbayang. Perkampungan ini sekarang sudah padat penghuni, dengan rumah-rumah tembok permanen yang dilengkapi antena-antena parabola.

Perkampungan di lereng bukit itu sekarang sudah bisa dimasuki mobil. Padahal dulu, sewaktu saya masih anak-anak hingga memasuki usia remaja, jalan utama yang melintasi Kampung Bangbayang hanya berupa jalan setapak yang menanjak untuk para pejalan kaki. Jumlah rumahnya pun masih dapat dihitung jari, dengan jarak berjauhan dari satu rumah ke rumah lainnya. Selebihnya adalah perkebunan penduduk dengan hutan-hutan kecil di tengahnya.

Pada saat itu, rumah-rumah penduduk umumnya berupa rumah panggung yang terbuat dari kayu dan bilik bambu. Di kampung inilah kakek dan nenek saya, yang saya panggil Aki dan Nini, membesarkan anak-anaknya, termasuk ibu saya. Kakek saya adalah seorang lebe, atau ‘penghulu desa’, yang biasa menikahkan penduduk setempat. Oleh sebab itu, masyarakat desa memanggilnya dengan julukan Aki Lebe atau Aki Eje. Seorang kakek yang “mengenalkan” saya kepada hariamu itu.

Saya termasuk cucu yang sangat akrab dengan Aki. Setiap libur panjang sekolah, sudah bisa dipastikan saya menginap di rumah Aki. Mengikutinya berkebun di siang hari dan menemaninya beribadah di tajug (mushala kecil) di depan rumahnya, pada malam hari.

Selepas salat Isya, Aki biasanya berzikir dengan sangat khusyuk hingga sekitar pukul sembilan malam. Sedangkan saya, biasanya tertidur di belakang Aki, dan baru dibangunkan beliau setelah selesai berzikir untuk mengajak saya pulang ke rumah.

Di rumah, Nini sudah siap dengan hidangan berupa kulub sampeu (singkong rebus) atau kulub hui (ubi rebus), serta teh panas. Lalu di bawah penerangan lampu petromak (saat itu listrik belum masuk ke daerah ini) Aki bercerita tentang segala hal, mulai dari masalah pertanian hingga masalah agama.

Saya paling suka mendengarkan cerita Aki tentang karamah Syekh Abdul Qadir Jaelani, seorang Waliyullah dari Baghdad, atau tentang petuah-petuah Imam Al-Ghazali dalam Kitab Minhajul Abidin dan Ihya Ulumuddin. Aki, hakikatnya adalah seorang sufi.

Aki yang sakti dan jejak harimau

Aki maneh teh jelema sakti. Baheula jaman keur ngora, Aki teh guru maenpo nu dipikasieun ku gorombolan DI,” kata Ibu.

(Kakek kamu itu orang sakti. Dulu sewaktu masih muda, Aki adalah seorang guru silat yang ditakuti oleh gerombolan DI).

Mengenai kesaktian Aki, saya percaya seratus persen karena pernah menyaksikannya sendiri. Suatu hari, Ibu dan Nini menggodok santan kelapa di dalam penggorengan berukuran besar untuk diproses menjadi minyak kelapa.

Proses menggodok santan kelapa hingga menjadi minyak membutuhkan waktu yang cukup lama. Santan harus benar-benar dididihkan di atas hawu (tungku) dengan api yang sangat membara dari setumpukan kayu bakar.

Di tengah kesibukan Ibu dan Nini di dapur berlantai tanah yang tidak begitu luas, tiba-tiba muncul adik saya yang saat itu masih berusia sekitar lima tahun. Dia menghampiri tungku, lalu terpeleset karena menginjak pangkal kayu bakar.

Adik saya langsung terjerembab dengan kedua tangan masuk ke dalam penggorengan berisi minyak kelapa yang sedang mendidih. Tentu saja adik saya menjerit dan menangis sangat keras. Ibu saya panik.

Aki, yang saat itu sudah berusia sekitar 70 tahun, dengan sikapnya yang sangat tenang, meraih adik saya, memeluk, lalu mendudukkannya di pangkuan. Sambil bersila, dia meniup secara perlahan kedua tangan adik saya dengan mulut komat-kamit. Entah apa yang dibacanya.

Adik saya berhenti menangis, dan ajaibnya, tidak ada bekas sedikit pun di tangan adik saya. Seakan tidak pernah “digodok” di dalam minyak kelapa yang mendidih.

Keajaiban lainnya terjadi ketika saya ikut Aki ke kebun. Waktu itu, saya masih kelas empat SD. Aki mengajak saya mengambil buah nangka yang sudah matang. Ketika Aki sedang memanjat pohon nangka yang cukup tinggi, saya menunggu di bawah pohon sambil menebas-nebaskan sabit yang biasanya digunakan untuk membabat rumput dan ilalang. Aki sempat memperingatkan saya agar tidak memainkan sabit, tapi saya pura-pura tidak mendengarnya.

Tidak lama berselang, saat Aki sudah mulai turun dari pohon sambil mengepit buah nangka yang cukup besar pada salah satu tangannya, sabit tiba-tiba terlepas dari tangan saya. Bagian sabit yang tajam menghujam kaki saya.

Kaki saya terluka dengan sobekan yang cukup lebar dan darah mengalir cukup deras. Saya hanya bisa menangis kesakitan. Tetapi Aki, dengan ketenangannya yang luar biasa, menutup bagian luka yang menganga di kaki saya dengan telapak tangannya.

Lagi-lagi, dengan mulut komat-kamit, Aki mengusap-usap kaki saya. Dan, anehnya, luka di kaki saya menghilang tanpa bekas.

Itulah kesaktian Aki yang pernah saya saksikan sendiri. Tetapi di samping itu, ada sebuah misteri yang selalu menjadi tanda tanya hingga sekarang. Misteri si belang, harimau yang setia menemani kami.

Cukup sering, ketika mengobrol dengan Aki di malam hari, saya kerap mendengar seolah-olah ada tangan-tangan kasar menggaruk-garuk bilik bambu rumah Aki di bagian luar dan baru berhenti setelah Nini mengucapkan kata-kata bernada mengusir “sesuatu” yang menggaruk-garuk bilik itu.

Saya tanya ke Nini, “Saha eta teh Ni? (Siapa itu Ni?)”

Jawaban Nini selalu sama. “Eta si belang. Hayang nempo incu Nini cenah (Itu si belang, ingin menjenguk cucu Nini katanya).”

Fenomena ini pernah saya tanyakan kepada Ibu. Kata Ibu, yang suka menggaruk-garuk bilik itu adalah harimau belang peliharaan Aki, warisan dari orang tuanya. Jumlahnya ada dua ekor.

Kedatangan harimau itu bukan untuk mengganggu, melainkan melindungi anak dan cucu Aki. Sewaktu keterangan Ibu ini saya klarifikasi ke Aki, beliau hanya menjawab, “Ulah nyaritakeun nu kararitu atuh. Ngaji we sing saregep. (Jangan menceritakan hal-hal seperti itu. Mengaji saja yang tekun).”

Namun diam-diam, di pagi hari setelah kejadian seperti itu, Nini suka mengajak saya keliling rumah. Lalu menunjukkan bekas-bekas telapak kaki hewan berkaki empat dan berkuku tajam, yang terlalu besar untuk ukuran telapak seekor anjing, apalagi kucing.

Tuh, tapak si belang nu tadi peuting datang kadieu. Karunya, manehna teh rada pinced. (Tuh bekas telapak kaki si belang yang tadi malam datang ke sini. Kasihan, kakinya agak pincang),” kata Nini.

Kejadian serupa berulang kembali saat saya sudah SMA. Waktu itu, saya tinggal di Jakarta bersama salah seorang kakak dan keluarganya yang membiayai pendidikan saya sejak SMP hingga kuliah.

Sementara itu, Ibu masih tinggal bersama adik bungsu saya di Desa Cilengkrang, di wilayah Kecamatan Wado, Kabupaten Sumedang. Letak Desa Cilengkrang persis bersebelahan dengan Desa Cisitu, tempat Aki berkiprah. Jarak dari Cisitu ke Cilengkrang hanya sekitar delapan kilometer, jika menempuh bebukitan yang disebut Pasir Cipeuteuy.

Pertemuan terakhir dengan Aki

Saat itu libur panjang kenaikan kelas. Seperti hari-hari libur panjang sebelumnya, libur panjang kali ini pun saya gunakan untuk bersilaturahmi ke Aki dan Nini, serta berkangen-kangenan dengan Ibu dan adik saya. Sekalian nanti pulangnya saya akan membawa adik saya ke Sumedang, untuk melanjutkan sekolah atas biaya kakak saya yang tinggal di kota ini. Adik saya baru saja lulus SD.

Untuk menuju rumah Aki dan Nini di Kampung Bangbayang, saya biasanya naik bus antarkota jurusan Jakarta-Banjar-Ciamis via Malangbong dari Terminal Cililitan. Turun di Malangbong, perjalanan dilanjutkan  naik delman hingga Desa Cisitu, lalu berhenti di dekat Jembatan Cikadawung. Dari situ, saya berjalan kaki menelusuri jalan setapak yang menanjak, hingga sampai di rumah Aki.

Maghrib sudah hampir tiba.

Aki dan Nini menyambut saya dengan sukacita serta tatapan penuh kerinduan. Maklum, sudah hampir setahun saya tidak mengunjungi mereka. Setelah berbincang sejenak, Aki mengajak saya ke tajug, guna menunaikan salat Maghrib berjemaah hingga salat Isya. Menjelang salat Isya, seperti biasa, Aki melafalkan zikir. Saya pun ikut berzikir.

Namun selepas salat Isya dan salat sunah rawatib, Aki yang biasanya melanjutkan zikirnya hingga sekitar pukul sembilan malam, kali itu langsung mengajak saya pulang ke rumah. Tampaknya Aki tidak mau menyia-nyiakan waktu untuk berkangen-kangenan dengan cucu kesayangannya. Saya juga demikian.

Di rumah, sambil menikmati hidangan yang disediakan Nini, kami mengobrol ngalor-ngidul hingga malam semakin larut. Tiba-tiba, seperti yang sering saya dengar bertahun-tahun sebelumnya, ada bunyi garukan yang cukup nyaring di bilik rumah.

Enya, aya incu ti Jakarta kakara datang sareupna. Geus gede ayeuna mah. Geus jadi jajaka (Iya, ada cucu dari Jakarta yang baru datang petang tadi. Sekarang sudah besar. Sudah jadi jejaka),” ujar Nini dengan volume suara agak tinggi, seakan ditujukan kepada seseorang atau sesuatu di luar rumah. Garukan di bilik rumah pun berhenti. Saya tidak mau bertanya lagi tentang “harimau” yang diajak Nini bicara.

Esoknya, ba’da salat Subuh dan zikir pagi bersama Aki di tajug, saya buru-buru memeriksa halaman belakang rumah. Dan, lagi-lagi, di tanah bencah di bawah bilik rumah yang semalam terdengar bunyi garukan, tampak ada beberapa telapak kaki hewan berkuku tajam, yang memanjang menuju hutan.

Hari itu saya seharusnya langsung berangkat menuju Cilengkrang untuk menemui Ibu dan adik saya. Namun entah kenapa, saya merasa sangat berat meninggalkan Aki. Saya ingin lebih lama lagi bercengkerama dengan beliau.

Sepanjang siang, saya menyibukkan diri dengan memancing ikan mas di balong (empang) Aki, sementara beliau khusyuk menunaikan salat Dhuha hingga Zuhur. Hasil pancingan saya lumayan banyak yang kemudian saya serahkan kepada Nini, yang berjanji akan membuatkan pais lauk emas (pepes ikan mas) untuk dibawa ke rumah Ibu.

Tak terasa hari pun berganti malam. Ba’da salat Maghrib, Aki berujar perlahan, dengan bahasa Sunda halus.

Cu, ulah lami teuing atuh di dieuna. Hawatos Ibu sareng Den Alit tos ngantosan. Jig geura miang ka Cilengkrang (Cu, jangan terlalu lama di sininya. Kasihan Ibu dan Den Alit sudah menunggu).”

Cu adalah singkatan dari incu (cucu). Seperti itulah Aki dan Nini memanggil cucu-cucunya, dan Den Alit adalah nama panggilan adik saya yang juga sangat disayangi kedua eyang ini. Terus terang saya enggan untuk berangkat ke rumah Ibu malam itu. Selain karena masih ingin menikmati kebersamaan dengan Aki, saya juga merasa takut.

Betapa tidak. Untuk menuju Cilengkrang saya harus menyeberangi Sungai Cikadawung, lalu berjalan kaki menelusuri jalan setapak, menembus bukit yang disebut Pasir Cipeuteuy. Melintasi hutan-hutan kecil dan deretan ilalang yang cukup lebat. Melewati beberapa pohon beringin dan pohon kiara yang rimbun menyeramkan, serta melewati beberapa kuburan keramat, belum lagi bayangan kemunculan harimau lodaya yang legendaris itu.

Dan, yang paling saya takutkan, saya juga harus melewati daerah yang terkenal angker, namanya Legok Gadog. Banyak orang, termasuk Ibu dan salah seorang bibi saya, mengaku pernah melihat penampakan siluman yang cukup seram di daerah itu ketika mereka melintas di sana malam hari.

Sebenarnya ada jalan raya beraspal yang menghubungkan Desa Cisitu dengan Desa Cilengkrang. Namun, jarak tempuhnya lebih jauh lagi karena melingkari bukit. Selain akan sangat melelahkan, juga lebih menyeramkan jika harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Saat itu belum ada angkot, apalagi ojek di Jalan Lintas Malangbong-Wado. Delman hanya beroperasi di siang hari, antara Malangbong-Cisitu. Bus antarkota pun belum ada yang melintasi daerah tersebut.

Di siang hari, saya masih bisa menumpang truk pengangkut singkong dan kayu. Namun, di malam hari, jarang sekali ada kendaraan yang lewat, kecuali kendaraan pribadi. Jadi, satu-satunya jalan yang “lebih mudah” untuk ditempuh adalah menyeberangi bukit atau Pasir Cipeuteuy.

Ketakutan ini saya sampaikan kepada Aki, sambil berharap beliau akan mengizinkan saya untuk berangkat besok siang. Tapi apa kata Aki?

“Sieun? Sieun ku naon? Sieun ku jurig? Sieun mah ngan ka Gusti Allah. Baca we ayat kursi, falaq binnas jeung sholawat kanggo Kangjeng Nabi sapanjang jalan. Insya Allah ditangtayungan ku Gusti. (Takut? Takut apa? Takut hantu? Takut itu hanya kepada Gusti Allah. Baca saja ayat kursi, falaq binnas dan sholawat untuk Kanjeng Nabi sepanjang jalan. Insya Allah bakal dilindungi Gusti).”

Saya tidak berani membantah lagi. Saya lalu berpamitan dan sungkem kepada Aki dan Nini. Aki memeluk saya sangat erat.

“Jig atuh Cu. Diduakeun ku Aki Sing cageur, bageur tur pinter. Ulah hilap ngaos nya. (Berangkatlah Cu. Aki mendoakan kamu supaya sehat, selalu berbuat baik dan pintar. Jangan lupa mengaji ya),” ucap Aki dengan mata berkaca-kaca.

Tidak seperti biasanya, saya merasa sangat sedih meninggalkan Aki.  Ternyata itu pertemuan terakhir saya dengan beliau.

Burung gagak dan alunan tembang

Malam itu bulan purnama bercahaya sangat terang. Malam tanggal 14 bulan Mulud (Rabiul Awwal). Langit bersih. Tak ada kabut. Senter besar yang saya bawa hanya sesekali saya gunakan. Selebihnya saya mengandalkan cahaya bulan.

Untuk mengusir rasa takut yang tak kunjung berkurang, berulang-ulang saya membaca ayat kursi, falaq binnas, dan salawat sesuai anjuran Aki. Setibanya di atas bukit Cipeuteuy, saya berhenti sejenak untuk menikmati keindahan Gunung Cakrabuana yang terasa begitu dekat. Gunung Cakrabuana di bawah cahaya bulan, semakin terasa memancarkan aura mistisnya.

Saya terus berjalan dan berjalan melewati deretan ilalang yang cukup lebat. Tiba-tiba saya mendengar bunyi duk duk duk… setiap kali saya melangkah.

Bunyi itu berhenti ketika saya berhenti. Saya coba lagi melangkah, bunyi duk duk duk terdengar semakin nyaring. Begitu seterusnya.

Saya tidak berani menengok ke belakang. Setelah saya dengarkan dengan seksama, bunyi duk duk duk itu sepertinya berasal dari ransel carrier yang saya sandang di punggung.

Dari bayangan yang dipantulkan cahaya bulan, saya merasa melihat bayang-bayang seekor burung besar sedang hinggap di atas carrier. Pantas saja carrier terasa semakin berat.

Dengan gerak cepat sambil berteriak, saya jatuhkan carrier. Tidak peduli bahwa di dalam carrier ada pepes ikan mas bikinan Nini yang mungkin hancur berantakan.

Tampak seekor burung gagak hitam besar yang tadinya hinggap di atas carrier, terbang meninggalkan saya, lalu menghilang. Saya pun disergap rasa takut yang luar biasa. Apalagi begitu ingat cerita Ibu bahwa kehadiran burung gagak di malam hari, yang oleh masyarakat setempat disebut hingkik, adalah pertanda hadirnya bangsa lelembut di dekat kita. Imajinasi siluman dan harimau jadi-jadian sudah terbentuk di dalam kepala saya.

Rasanya saya ingin segera balik kanan, kembali ke ke rumah Aki di Kampung Bangbayang. Namun sama saja. Kembali ke rumah Aki berarti harus kembali melewati deretan hutan-hutan kecil, pepohonan beringin dan menyeberangi Sungai Cikadawung yang sama-sama menyeramkan.

TIdak ada pilihan lain, kecuali melanjutkan perjalanan.

Sementara itu, beberapa meter lagi saya akan melewati Legok Gadog yang terkenal angker.

Legok Gadok sebenarnya hanyalah sebuah leuwi (lubuk) atau kubangan besar yang biasa digunakan penduduk sekitar untuk memandikan kerbau di siang hari. Letaknya hanya beberapa meter dari samping jalan setapak.

Namun di malam hari, kubangan yang dikelilingi rerumpunan bambu itu konon biasa digunakan babi-babi hutan untuk berendam. Tetapi yang paling menyeramkan adalah cerita-cerita tentang penampakan sesosok manusia berbentuk aneh, yang konon suka menyapa para pejalan kaki di malam hari.

Lamun maneh ngaliwat ka dinya, terus aya nu nyalukan, ulah diwaro nya (Kalau kamu lewat di daerah itu, terus ada yang memanggil kamu, jangan ditanggapi ya),” kata bibi saya. Dulu.

Pelan-pelan saya mengayunkan langkah demi langkah sambil menatap ke arah kubangan. Benar saja. Saya melihat ada seseorang tengah berkubang. Kepalanya yang botak memantulkan cahaya bulan. Rasanya mustahil ada manusia normal berkubang di situ, apalagi malam hari.

Tanpa pikir panjang, saya berlari sekencang-kencangnya sambil berteriak-teriak melewati Legok Gadog. Lupa bahwa saya bukan anak-anak lagi. Setelah cukup jauh meninggalkan tempat menyeramkan itu saya berhenti dengan napas ngos-ngosan.

Den Ageung, nembe sumping ti kota? (Den Ageung, baru datang dari kota?).”

Sekonyong-konyong, ada suara ramah menyapa saya. Suara itu berasal dari sesosok laki-laki setengah baya berpeci hitam dengan sarung diselendangkan.

Dia mengenakan celana pangsi dan baju hitam dengan golok menggantung di pinggangnya, serta memanggul sebuah cangkul. Jaraknya mungkin sekitar 10 meter dari tempat saya berdiri. Namun wajahnya tidak begitu jelas, karena cahaya bulan menyorotinya dari belakang. Saya agak lega karena bukan harimau atau siluman yang muncul. Setidaknya, itu dugaan saya….

Sepintas, tidak ada yang aneh dengan orang itu. Kostum dan properti yang digunakannya adalah kostum dan properti yang lazim dipakai penduduk setempat, yang rata-rata berprofesi sebagai petani. Juga tidak aneh bertemu dengan orang seperti itu di malam hari, karena terkadang mereka membetulkan saluran air yang mengairi sawah mereka.

Terlebih lagi, panggilan Den Ageung biasanya hanya digunakan oleh orang-orang yang benar-benar mengenal saya sejak kecil. Orang ini mengingatkan saya pada Mang Mahri, seorang petani tetangga Ibu, yang sering meminta saya membacakan cerita dongeng dari buku-buku bacaan berbahasa Sunda, karena beliau tidak bisa membaca. Saya pun merasa lega berjumpa dengan orang yang mengenal saya di tengah hutan.

Sumuhun Mang. Nembe mulih ti kebon atanapi ti sawah? (Betul Mang. Baru pulang dari kebun atau dari sawah?),” tanya saya.

Ti gunung, Den. Kawengian (Dari gunung Den. Kemalaman),” jawabnya.

Oh, pantas saja dia pulang kemalaman, pikir saya. Rupanya si emang ini adalah petani yang biasa bercocok tanam di kaki Gunung Cakrabuana.

Sok atuh tipayun, Den. Ku emang direncangan tipengker (Silakan berjalan di depan, Den. Emang temani dari belakang),” ujarnya lagi.

Mangga Mang,” sahut saya, seraya melanjutkan perjalanan bersama si emang yang berjalan beberapa meter di belakang saya.

Rupanya si emang gemar melantunkan tembang. Dengan suara yang lumayan enak didengar, dia menembangkan wawacan atau guguritan dalam berbagai pupuh.

Guguritan adalah tembang Sunda klasik. Di Jawa Tengah disebut macapatanPupuh adalah jenis-jenis irama tembang, seperti Sinom, Kinanti, Asmaranda, Dandanggula, Magatruh, dan Maskumambang. Ragam irama tembang ini konon merupakan gubahan para tokoh Wali Songo, yang digunakan sebagai salah satu sarana dakwah.

Saya cukup mengenal jenis-jenis pupuh tembang ini, karena almarhum Bapak saya adalah seorang penulis wawacan. Dan, salah seorang uwa saya yang saya sebut uwa istri (kakak sepupu Ibu) adalah seorang sinden cianjuran.

Sewaktu saya masih kecil, beliau sering menembangkan guguritan dengan irama cianjuran di rumah kami di Sumedang, atas permintaan bapak.

Perjalanan kami cukup menyenangkan dan terasa hangat dengan lantunan tembang si emang. Beberapa lirik lagunya masih ada yang saya hapal, di antaranya tembang berjudul Eling-eling Mangka Eling dalam pupuh asmarandana.

Eling-eling mangka eling
Rumingkang di bumi alam
Darma wawayangan bae
Raga taya pangawasa
Lamun kasasar lampah
Nafsu nu matak kaduhung
Badan anu katempuhan

Terjemahan bebasnya kira-kira seperti ini:

“Ingatlah dan selalu ingat bahwa hidup di alam semesta ini tak lebih dari sekadar menjadi wayang yang digerakkan Sang Dalang. Kita tidak memiliki kuasa apapun. Jika kita salah langkah, kita akan menyesal selamanya, dan badan kitalah yang akan menanggung siksanya.”

Tembang guguritan atau wawacan umumnya memang berisi petuah. Sama seperti tembang macapatan.

Tanpa terasa, kami sudah melewati kawasan hutan dan ilalang, pertanda perkampungan sudah semakin dekat. Kawasan huma dan kebun ketela yang tampaknya baru ditanami, menghampar di kiri dan kanan jalan. Panorama indah di sekitarnya tidak lagi terhalang deretan alang-alang. Dari kejauhan bahkan sudah terlihat beberapa rumah dengan penerangan petromak atau lampu cempor. Si emang sudah berhenti menembang.

Den, emang dugi kadieu. Mangga lajengkeun (Den, emang sampai di sini saja. Silakan lanjutkan),” ujarnya.

Serentak saya membalikkan badan untuk mengucapkan terima kasih karena sudah ditemani. Tetapi si emang yang pintar menembang itu sudah tidak terlihat lagi. Seakan hilang ditelan bumi.

Saya baru menyadari bahwa yang menemani saya dengan haleuang (senandung) itu sebenarnya bukan manusia, tapi kemungkinan bangsa lelembut, penghuni Gunung Cakrabuana. Dia hadir dengan maksud baik, melindungi saya dari sesuatu yang mungkin berniat jahat. Saya teringat cerita Nini soal harimau yang melindungi keluarga kami.

Hatur nuhun, Mang (Terima kasih, Mang),” ucap saya perlahan dengan tubuh merinding.

Setelah itu, untuk kedua kalinya saya lari pontang-panting hingga tiba di jalan utama Desa Cilengkrang. Kali ini saya tidak berteriak karena khawatir akan mengejutkan penduduk.

Sesampainya di rumah Ibu, pengalaman tadi saya ungkapkan selengkap-lengkapnya. Kata Ibu, besok siang saja kita bahas supaya lebih leluasa, karena malam sudah larut. Saat itu sebenarnya baru sekitar pukul sembilan. Tetapi untuk penduduk desa, pukul sembilan itu sudah tergolong larut.

Esoknya, Ibu bercerita bahwa beliau juga pernah mengalami hal serupa, ketika melakukan perjalanan malam hari dari Cilengkrang menuju Wado. Ada yang mengajaknya mengobrol sepanjang jalan sambil mengikuti beliau dari belakang, dan menghilang di Desa Cikareo.

Ibu menduga bahwa “orang itu” adalah suruhan Aki untuk mengawal Ibu. Tentu saja bukan manusia, melainkan makhluk gaib yang menampakkan diri menyerupai manusia.

Apakah dia harimau yang setia menemani kami? Ibu terdiam beberapa saat lalu menuliskan sesuatu di atas kertas dan menyerahkannya kepada saya.

Ternyata itu adalah lirik-lirik kidung berbahasa Sunda Buhun (Sunda Kuno) dan Ibu pun mengajarkan irama lagunya. Ibu berpesan agar kidung tersebut jangan disenandungkan di sembarang tempat, kecuali pada saat  terancam bahaya.

Kidung itu adalah kidung untuk mengundang si belang yang akan menampakkan diri dalam wujud harimau lodaya kepada orang yang berniat jahat. Tapi kita sendiri tidak bisa melihatnya. Hanya sekali saya sempat menyenandungkan kidung tersebut, dan saya tidak akan pernah mengulanginya lagi, karena “kehadirannya” nyaris mencelakakan orang lain.

Epilog

Tokoh-tokoh yang saya sebutkan dalam cerita ini sudah lama berpulang ke Rahmatullah. Aki, Nini, Ibu, dan beberapa anak Aki lainnya, dimakamkan di tempat yang sama, yakni di Kampung Bangbayang, di kaki Gunung Cakrabuana.

Bangbayang sekarang sudah tidak sama lagi dengan Bangbayang zaman Aki masih ada. Bangbayang sekarang adalah Bangbayang yang hiruk-pikuk, bukan Bangbayang yang hening seperti dulu. Tetapi kenangan bersama Aki, Nini dan Ibu, tidak akan pernah hilang dari ingatan.

Berbagai pengalaman mistis yang saya alami di kaki Gunung Cakrabuana tatkala saya masih remaja dan Aki masih ada, semakin menyadarkan saya bahwa di atas bumi ini bukan hanya ada manusia dan hewan yang kasat mata. Tetapi ada pula entitas-entitas atau makhluk-makhluk Allah lainnya dari berbagai dimensi, yang sesekali bersinggungan dengan manusia. Seperti juga dengan sesama manusia, dengan entitas-entitas gaib itu kita harus saling menghargai.

Dulu, lamat-lamat, saya mendengar suara garukan kuku harimau yang sukses membangkitkan rasa kangen kepada Aki dan Nini.

BACA JUGA Horor Apartemen Tertua di Jogja yang Menghilang dari Ingatan dan kisah misteri lainnya di rubrik MALAM JUMAT.

Penulis: Billy Soemawisastra

Editor: Yamadipati Seno

Exit mobile version