[MOJOK.CO] “Memelesat dari Surabaya ke Madiun dengan bis Sugeng Rahayu.”

Polisine ndi sik mau?” (Polisi yang tadi ke mana?)

Ngiri, bablas.” (Belok kiri, lanjut.)

“Yakin?”

Iyo.”

Gagal berhenti, bis kami lanjut lagi. Lampu APILL yang menyala merah nanar dan berdiri tegak kedinginan di persimpangan pertama keluar dari Terminal Purabaya itu saya bayangkan sangat kecewa. Sugeng Rahayu membuatnya merana, dicueki begitu saja.

Pedal gas belum tandas, tapi kecepatan bis ini jelas di atas rata-rata kendaraan lain, menjelang sepertiga malam itu. Buktinya, sembilan menit kemudian, bis sudah melintasi jembatan layang Trosobo tanpa satu pun kendaraan menyalipnya. Pada 02.19, tahu-tahu kami sudah mau masuk jalan lingkar Krian; 16 menit dari Surabaya.

Jalan raya masih ramai. Mobil, truk, bis, sepeda motor, masih saja berseliweran. Pada mau ke mana mereka ya? Barangkali masih ada beberapa anak muda yang pulang pagi karena ingin menghabiskan sisa malamnya di luar rumah. Dan mungkin saja satu di antara mereka adalah pembunuh, sementara yang lainnya ada seorang waliyullah. Berhati-hatilah di jalan!

Sopir-kondektur-kernet, trio pemain jangkar, duduk di depan bersejajar, mengawal kami dalam perjalanan. Melalui cahaya lampu utama yang memantul-mantul pada papan tengara jalan atau kaca belakang mobil, saya menyadari jikalau “Mas Sugeng” 7579 ini memainkan lampu dim/jauh secara terus-terusan. Atau, jangan-jangan lampu itu memang tidak dikendalikan oleh tangan sang sopir, melainkan oleh modul piranti elektrik yang bekerja secara otomatis laksana lampu blitz, sehingga setiap ada mobil di depan, sensornya langsung berfungsi; mengedip-ngedipkannya. Dan itu artinya determinasi. Apa pun yang ada di depannya, harus didahului.

Sebetulnya, Sugeng Rahayu ini tidaklah banter-banter amat, namun “mosak-masik”-nya itu yang menyulap aura kabin jadi ngeri-ngeri sedap. Berjalan dengan kecepatan 110—115 km/jam itu bakal terasa melayang kalau kamu naik Avanza, tapi akan “b aja” saat kamu naik bis. Apa pasal?

Di antaranya adalah ukuran dan bobot kendaraan yang menjadi penyebabnya. Bis jadul cuma 8 ton-an saja bobotnya, pendek pula sasisnya. Hanya jenis (sebagian) patas yang punya bobot di atas 10 ton. Bis zaman sekarang lebih anteng karena umumnya berat kosongnya saja sudah mendekati atau bahkan lebih dari 15 ton. Demikian analisis saya setelah menimbang beberapa jenis berat kosong kendaraan yang pernah saya intip pada informasi KIR-nya.

Setiap kali ada penumpang yang naik, mereka langsung nyosor ke tengah. Heranlah saya sebab kursi terdepan kosong melompong, tak seorang pun di sana. Ataukah sebetulnya ada makhluk-makhluk tak kasat mata di situ yang hanya menampakkan diri pada orang-orang yang gamang pada kecepatan tinggi? Lucu juga sih melihat kondisi macam itu: penumpang bersebaran di belakang tapi tak satu pun mau duduk di baris bangku terdepan.

Sopir bis ini terbilang muda, 10—12-lah dengan Rio Haryanto. Adapun kelakuannya dalam mengemudi bergaya sopir-sopir “Sumber”: suka nempel-nempel dulu, lalu goyang kanan, lalu nyalip.

Saya sudah tuwuk dengan yang beginian. Masak dari pertengahan ‘90-an mau gini-gini melulu? Sejak zaman masih bernama Maju Mapan, ganti nama jadi Sumber Kencono dan kini jadi Sugeng Rahayu dan Sumber Selamat, sejak plat-nya masih kepala P, lalu ganti L, dan kini W, saya sudah kenal mereka. Perasaan, dulu-dulunya tidak begitu kok.

02:48, Mojoagung. Koh Hari Wijaya belum tidur. Ia masih membalas SMS saya beberapa waktu lalu. Akan tetapi, dia tidak tahu kalau bis yang saya tumpangi ini melintas di depan rumahnya pada saat itu.

Baca juga:  Menggantikan Rio Haryanto dan Sederet Karier Lain untuk Sopir Sumber Kencono

Tujuh menit berikutnya, 02:55, bis ambil kiri, jalur baru, jalur asing. Saya kira sopir akan menggelandang para penumpang supaya salat malam dulu di Pondok Pesantren Darul Ulum Peterongan. Sugeng Rahayu masuk jalan kecil. Eh, ketika sampai treteg, sopir ambil kanan, menyusuri jalan kecil ke arah barat, jalan yang bersisian dengan rel kereta api, di antara ladang tebu yang manis dan kepahitannya ada pada kegelapan malam dan cerobong pabrik.

Saya tahu, ujung jalan ini adalah Jalan Gatot Subroto, namun saya tidak tahu, mengapa kami dibawa melewati jalan tersebut. Apakah ia semacam jalan kenangan bagi Pak Sopir? Ataukah ia sopir baru yang tidak beriman kepada apa pun sesembahan selain GPS? Ataukah ada suatu “aral mistis” di sekitar Jombang Lama sehingga ia harus melakukan rute gerilya?

Kernet teriak-teriak “Ja Solo, Ja Solo” di depan stasiun Jombang. Suaranya memantul, dikembalikan oleh kekosongan. Lanjut terus ke barat, sopir menginjak gas dalam-dalam. Jalannya satu arah, sepi pula. Bukannya takut, saya malah tidur pulas. Mata terbuka bertepatan ketika bis masuk Terminal Anjuk Ladang pada menit 35 setelah pukul 3.

Di sana, bis kami “nyurung” SR 7576. Apakah tadi ada peristiwa penting di antara Jombang-Nganjuk? Ia terlepas dari catatan. Bagaimana mungkin orang tidur bisa mencatat? Jam parkir sangat pendek disebabkan oleh interval keberangkatan yang sangat rapat. Kami satu atap di garasi, saingan berat di jalanan.

Sekeluarnya bis dari terminal, saya baru sadar, ada seorang perempuan pirang duduk di belakang sopir, sendirian Ya, hanya satu orang itu saja yang ada di sana, sedangkan yang lain tetap ajek di belakang. Apakah perempuan ini kontestan Fear Factor yang salah daftar atau semacam kontrol dari perusahaan otobis yang sedang menyamar?

Bis masuk jembatan timbang. Tentu saja ketemunya sama truk-truk berat. Awalnya saya heran, namun akhirnya mengerti. Semua kru turun dan mencari tukang kompresor. Saya ikut-ikutan. Mau moto, kok malu sebab awak ini sudah tua. Rupanya saluran pembuangan AC ada yang mampat, butuh semburan dari kompresor berkekuatan tinggi.

Dalam hidup keseharian, pemandangan semacam ini kerap terjadi. Ibarat orang awam politik dalam melihat realitas kekinian, suka gagap dan mudah membuat kesimpulan. Ibarat ia melihat dari jauh, itu pun kali pertama, maka ia akan beranggapan, “Ternyata bis juga ditimbang ya! Saya kira cuma bayi aja yang ditimbang di Posyandu, juga rongsokan yang ditimbang di pasar loakan.”

Orang yang berwawasan tidak akan gegabah. Dia punya banyak pertimbangan: “Mungkin sopir mengantuk dan ia mencari tempat untuk istirahat; mungkin sopir sedang nyambangi istri simpanannya; dan mungkin-mungkin lainnya.”

Sementara pakar akan membuat analisis terlebih dulu: “Bis pasti sedang bermasalah. Sopir berasumsi bahwa hanya di tempat seperti jembatan timbang itulah masalah dapat diatasi, seperti masalah pada tekanan angin (ban), filter udara, yang mana di situ pasti ada banyak bengkel kompresor besar yang buka. Kalau cari sambil jalan tentu tidak efektif dan buang waktu”.

Banyak awam politik yang karena punya kesempatan bicara apa pun secara bebas di media sosial lalu suka-suka membuat analisis persoalan dari satu sudut pandang saja, itu pun masih pula dibumbui caci-maki. Cara ini mirip dengan anggapan pertama tadi (kasus bis masuk jembatan timbang). Jika kamu adalah orangnya, maka itu bukanlah cara menunjukkan kepedulian, kamu itu sebenarnya malah pamer kekonyolan. Yang pantas dilakukan oleh awam adalah diam. Bicaralah hanya yang kamu paham.

Baca juga:  Bom Surabaya, Meledak di Gereja Katolik Ngagel, GKI Diponegoro, dan GPPS Arjuno

Selesai!

Bis jalan lagi, dipacu lagi. Perempuan tadi akhirnya turun di daerah Bagor. Sebelum turun, ia menyalami sembari mencium tangan Mas Sopir, membisikkan beberapa kata dan dibalas dengan semacam “Hati-hati, Nduk” atau sejenisnya.

Begitu ia turun, bis bergerak lagi, tapi agak pelan. Sopir mendongakkan kepala, mengintip spion tengah dan spion kanan, seolah-olah ia dihantui rasa waswas dan kepikiran, bagaimana nasib si Nduk tadi. Tidak penting bagi saya untuk menebak-nebak, siapakah perempuan itu. Tak ada teka-teki silang yang harus saya isi di Minggu pagi. Saya ingat pesan guru: “Jika jantungmu penuh dengan dzikir, maka tak ada lagi waktu bagimu untuk berburuk sangka pada yang lain.”

Wis, aman, kok! Iso nyeberang dewe, hahaha,” sambar si kernet menghibur sopir. Sudah aman, bisa menyeberang sendiri kok, katanya.

Mesin kembali menderu. “Mobat-mabit” berlangsung lagi. Kali ini, kami mengejar Mira 7207 yang barusan nyalip saat kami berhenti. Kurang tepat antagonis-protagonis di sini karena perjalanan ini bukanlah cerita pendek yang para figurannya dibuat-buat sedemikian rupa dan plotnya direka-reka agar pembaca tak dapat menduga. Ini kisah nyata perihal cinta segitiga antara Eka dan Mira dengan Mas Sugeng sebagai orang ketiga. Tokoh-tokoh ini pun padu, menyatu di lintasan yang sama, sebagaimana malam dan gelapnya, sebagaimana api dan panasnya. Akan tetapi, mereka semua punya musuh bersama, yaitu membawa bangku-bangku kosong dan tiba terlambat dengan ancaman “putar kepala”.

Hutan Saradan gelap gulita. Hantu-hantu seolah ngapurancang di tepi jalan. Dan pada setiap tikungan, di setiap ruas jalan, malaikat maut bersedekap, menyaksikan semua makhluk bernyawa yang asyik menjalani hidup namun melupakan ajalnya.

Mira berjalan zig-zag. Sugeng meladeni. Mira melesat. Sugeng membuntuti. Tunggal kyōshi bernama “Hino”, tunggal dojo bernama “AK”: susah menyalip, mustahil pula diasapi. Kesaktian hanya ada pada kemudi dan tuas percepatan. Sisanya adalah panggilan nasib, lambaian calon penumpang untuk menambah pundi-pundi perbekalan.

Di dalam kabin bis yang dingin saya justru gamang oleh rasa takut. Keinginan untuk segera bisa menunaikan ibadah haji sementara saya tangguhkan dulu hingga beberapa menit ke depan, digantikan keinginan segera sampai ke Caruban dalam keadaan selamat. Saya lebih banyak menunduk daripada melihat ke muka. Kejar-kejaran ini bagai konten dewasa dan saya merasa belum akil balig untuk menontonnya. Bukankah kejahatan dan maksiat sering kali diawali oleh melihat yang bukan-bukan?

Ini angkutan umum, membawa penumpang, bukan mengangkut hanya seorang driver di dalam kokpit atau hanya seorang rider di atas sadel. Yang dibawa di sini adalah nyawa rombongan.

Lanjut terus, keduanya melewati Patas Eka 7535 begitu saja. Ia seolah pemeran figuran yang kemunculannya hanya beberapa detik saja dalam tayangan.

Tepat pukul 04.18, kami mencapai Caruban, berbarengan dengan kumandang salawat tarhim menjelang azan. Saya menyeberang jalan, menuju Masjid Gede Al-Arifiyah. Mira sudah menjauh, Sugeng menyusulnya. Mereka hendak menuntaskan perjalanan, saya hendak bersujud untuk menyempurnakan kehambaan. Mereka bergerak cepat sebelum jalan raya menjadi sesak, dipadati orang-orang yang menyibukkan hari Minggu-nya untuk liburan dan pacaran. Saya justru bergerak lambat demi menikmati waktu jaga, sebelum pelupuk mata terhalang penyesalan.

Komentar
Kirim Artikel
No more articles