ADVERTISEMENT

Dinamika 31 Tahun Buka Toko Buku Impor di Sebuah Gang di Kota Jogja dengan Pembeli WNA

Suka Duka 31 Tahun Berjualan Buku Impor di Sarkem, Sudah Biasa Hadapi Bule Marah-marah sampai Nyolong Barang.MOJOK.CO

Ada toko buku di Jogja yang masih berdiri meski kawasannya tidak lagi menjadi rute wisatawan. Namanya The Lucky Boomerang Bookshop. Lokasinya berada di Gang 1 Sosrowijayan.

Dahulu, gang yang dekat Jalan Malioboro, Jogja, itu menjadi rute yang sering dilewati para turis. Oleh karenanya, roda ekonomi terus berputar. Apapun yang dibutuhkan wisatawan tersedia, mulai dari sewa penginapan, restoran, hingga toko buku.

Sayangnya, pandemi mengakibatkan banyak restoran gulung tikar. Ketiadaan para penjual makanan menjadi awal mula sepinya area tersebut.

”Karena restoran tidak ada, mereka [turis] kesulitan makan. Jadi sudah kurang menarik. Tapi kalau turis asing yang beli buku di sini masih ada,” kata Wina (59), pemilik The Lucky Boomerang Bookshop, yang ditemui Mojok di lapaknya, Minggu (6/9/2026).

The Lucky Boomerang Bookshop di Jalan Pasar Kembang, Sosrowijayan, Kota Jogja. MOJOK.CO
Papan nama toko buku The Lucky Boomerang terpajang di etalase. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

The Lucky Boomerang Bookshop lahir dan besar berkat kerja sama antara Wina dan adiknya. Perempuan 59 tahun ini bercerita bahwa adiknya hobi membaca, terkhusus buku dari luar negeri, sementara dirinya senang bercengkrama dan bertemu orang baru. 

Alhasil, keduanya pun memutuskan untuk menciptakan toko buku.

Buku-buku yang dijual di sini merupakan koleksi pribadi adiknya yang kini tinggal di Australia. Sehingga, ongkos kirim dari Australia ke Yogyakarta pun menjadi penentu harga setiap buku yang dijual di sini. 

Berbincang dengan pengunjung. MOJOK.CO
Wina berujar suka berbincang dengan pengunjung. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Dahulu, sempat bekerja sama dengan toko buku Periplus

Wina bercerita, The Lucky Boomerang Bookshop saat ini tidak bekerja sama dengan penerbit atau toko buku mana pun. Selama berdiri 31 tahun, toko buku itu hanya pernah bekerja sama dengan satu toko buku impor, yakni Periplus.

The Lucky Boomerang Bookshop menjalin kerja sama dengan Perplus sejak tahun 1995 hingga 2010. Perubahan kebijakan menjadi alasan berhentinya jalinan kerja sama antara kedua belah pihak.

”Terus ganti managernya, mereka maunya eksklusif gak mau supply ke toko buku kecil,” tutur Wina.

The Lucky Boomerang. MOJOK.CO
Toko buku bekas The Lucky Boomerang di Gang 1 Sosrowijayan, Kota Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Semasa bekerja sama, The Lucky Boomerang Bookshop menyumbang jumlah penjualan yang besar. Kala itu, Gang I Pasar Kembang yang merupakan destinasi turis menjadi salah satu alasan suksesnya kerja sama tersebut.

”Padahal di sini dulu, termasuk sepuluh besar yang terlaris untuk memasok Periplus,” kenangnya.

Menghadapi calon pembeli WNA yang marah-marah

Selama menjaga toko buku, Wina memiliki banyak pengalaman tak terlupakan ketika menghadapi pembeli. Salah satu yang ia ingat adalah ketika seorang Warga Negara Asing (WNA) marah-marah padanya.

”Belum lama ada WNA marah-marah juga,” ujar Wina.

Kata Wina, WNA tersebut marah sebab baginya harga yang Wina beri termasuk mahal. Menurut turis tersebut, buku-buku yang Wina jual seharusnya dapat diberi harga yang lebih murah.

”Saya bilang ini bukan cetakan Indonesia. Ini saya harus mendatangkan dari luar,” jelas Wina.

Pelanggan Toko The Lucky Boomerang Bookshop. MOJOK.CO
Emi (tengah) bersama teman-temannya usai membeli buku. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Turis tersebut tetap tidak mau tahu. Baginya, harga buku yang diberikan oleh Wina tetaplah terlalu mahal.

”Saya bilang, coba kamu cek di Kantor Pos berapa ongkos kirim dari sana ke sini,” tambahnya.

Turis tersebut tetap tidak menerima penjelasan Wina. Ia tetap meluapkan amarah secara terus-menerus.

”Gak mungkin ada wisatawan yang mau ke sini kalau bukumu mahal,” ujar Wina meniru apa yang dikatakan oleh turis dari Prancis tersebut.

Tapi ada juga pembeli bule yang murah hatinya

Kepahitan itu tak berangsur lama. Beberapa jam kemudian, Wina didatangi pembeli dari WNA yang menurutnya cukup baik hati, seorang pemuda asal Belanda. WNA itu, menurut cerita Wina, membeli banyak hal dari tokonya. Mulai dari buku-buku, hingga kerajinan tangan. 

Buku dan kerajinan tangan yang dibeli itu menjadi oleh-oleh yang akan ia beri ke sanak saudaranya di Belanda. ”Dia bisa sedikit bahasa Indonesia, cerita panjang lebar,” kenang Wina.

Pengunjung sedang melihat koleksi buku. MOJOK.CO
Pengunjung lokal sedang melihat-lihat buku. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Ada turis asing yang mencuri di toko buku

Sebagai pedagang, Wina pun memiliki pengalaman yang tidak lepas dari kasus pencurian. Kisahnya bermula dari kehadiran seorang gadis yang juga merupakan WNA.

Mulanya, ada dua orang gadis yang masuk ke toko. Salah satu di antara mereka membeli dua buku. Saat akan proses membayar, Wina menggunakan kalkulator untuk menghitung biaya. 

Ketika akan mengambil bungkus, tiba-tiba HP-nya lenyap. “HP yang saya taruh di bangku gak ada. Terus karena saya agak teriak, ya, habis itu dia langsung memberi HP milik saya,” tutur Wina.

Ketika Wina berteriak, gadis itu langsung mengeluarkan HP milik Wina dari tasnya. Alibi yang dipakai oleh gadis WNA itu adalah dia mengira HP milik Wina sebagai miliknya.

Mulanya, Wina tak mau berburuk sangka. Hingga ketika kedua gadis itu pergi, ia memeriksa ada kerajinan tangan yang hilang. Dari sana, Wina semakin yakin bahwa gadis tersebut memang bermaksud mencuri HP-nya.

Kejadian itu memberi pelajaran berharga bagi Wina. Bahwa tidak ada yang perlu didewakan dari seorang turis asing. Mereka sama seperti manusia pada umumnya. Ada yang baik, ada yang mudah marah, bahkan ada yang tidak segan mencuri di negara orang.

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Jurnalistik Mojok.co periode Agustus-November 2026

Penulis: Feninda Rahmadiah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: The Lucky Boomerang 1995: Surga Buku Impor yang Bergaya Vintage di Tengah Sarkem Jogja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Feninda Rahmadiah

Feninda Rahmadiah. Mahasiswa magang departemen liputan di Mojok.co. Sedang menempuh pendidikan akhir Sastra Indonesia di UNY. Mengambil konsentrasi linguistik dan sedang mempelajari jurnalisme. Tertarik dengan isu perempuan.