Keputusan Rio (20) merantau dari Kediri ke Jogja untuk kuliah sejak 2024 lalu, ternyata membawa beban tersendiri. Beban itu bukan soal urusan dunia perkuliahan, tapi olok-olok di meja tongkrongan. Rio terus-terusan jadi bahan candaan karena berasal dari daerah basis sound horeg yang sering dihujat warganet.
Tiap kali ada video viral kaca rumah pecah, genteng rontok, bahkan joget-joget yang dianggap “kampungan”, teman-temannya di Jogja langsung menyudutkan Rio. Ia dipaksa menanggung malu atas hiburan yang dicap norak oleh kawan-kawan kotanya.
“Ya biasa lah. Dibilang jamet,” ujarnya, Senin (31/8/2026).
Padahal, Rio sendiri bukan penggemar berat sound horeg. Hanya saja, melihat kampungnya terus dihakimi pakai standard kenyamanan kota besar membuat nuraninya terusik. Ada kenyataan hidup dan urusan dapur warga desa yang luput dari pandangan kawan-kawannya.
Minimnya hiburan di desa
Bagi warga kota, mencari hiburan itu sangat mudah. Mereka tinggal pergi ke mal, menonton bioskop, atau datang ke konser musik. Pilihan hiburan melimpah dan tersedia setiap hari.
Kondisi ini sangat berbeda dengan kenyataan di desa. Menurut Rio, pilihan hiburan warganya sangat terbatas.
Mereka biasanya cuma bisa menikmati pasar malam musiman yang datang setahun sekali. Alhasil, kehadiran karnaval sound horeg di jalanan desa otomatis menjadi keriaan besar yang paling ditunggu-tunggu.
“Buat orang desa, termasuk keluargaku sendiri, acara sound horeg itu selalu jadi tontonan utama. Ini hiburan gratis yang bisa dinikmati siapa saja,” cerita Rio.
Menurut Rio, warga desa sudah tak memandang suara bising itu sebagai gangguan suara. Dentuman kuat tersebut justru menjadi panggilan untuk keluar rumah dan bersenang-senang bersama tetangga.
“Kurang lebih karnaval sound horeg itu kayak Cherrypop gitu kalau di sini,” ujarnya sambil tertawa.
Orang desa hobi rakit audio
Tak sampai di situ. Satu hal yang jarang dipahami orang kota adalah kuatnya budaya merakit audio di kalangan anak muda desa.
Sound horeg sering dinilai sekadar ajang adu bising. Padahal, bagi pemuda di kampung Rio, merangkai perangkat audio adalah hobi sekaligus pamer status sosial yang sangat membanggakan.
“Jujur saja ya. Hampir anak muda di desa itu punya rakitan sound sendiri-sendiri. Sudah jadi hobi, termasuk aku juga punya,” akunya.
Banyak anak muda desa menghabiskan waktu luangnya menjadi perakit sound system. Mereka belajar otodidak menyambung kabel amplifier, merancang boks speaker sendiri, sampai mengadu kejernihan suara.
Ia menganalogikan, kalau anak kota sibuk memamerkan misalnya outfit skena, anak muda desa berlomba merakit alat audio paling gahar.
“Di desaku, punya sound mahal dan suaranya menggelegar itu lambang kesuksesan. Makanya, deretan sound horeg raksasa yang disewa saat karnaval itu benar-benar wujud kemewahan bagi orang-orang di desaku,” tegas Rio.
Menurut Rio, getaran bas yang memukul dada sama sekali tidak menakutkan bagi mereka. Sensasi fisik itulah yang paling dicari oleh para penontonnya.
Ada kalanya karnaval sound horeg jadi ladang rezeki dadakan
Rio juga bercerita bahwa karnaval sound horeg juga bisa membuka ladang rezeki dadakan yang sangat besar. Satu acara sound horeg bisa menyedot ribuan penonton dari berbagai desa. Di acara ini, banyak warga yang mendadak panen untung.
Pedagang kaki lima, penjual es teh, tukang sosis bakar, sampai pemuda karang taruna yang menyulap halaman rumah menjadi lahan parkir meraup uang dalam jumlah besar. Pesta semalaman ini mampu menghidupi warga lokal dengan perputaran uang yang sangat cepat dan tunai.
“Apalagi kalau musim tanggapan kayak sekarang ini, itu panen duit. Soalnya kan sistem tanggapan sound horeg itu pindah-pindah,” ujarnya.
Rio mengatakan, bahwa ia dan teman-temannya di kota rela membayar tiket mahal untuk berdesakan di festival musik. Tak sedikit dari mereka yang juga mewajarkan suara bising dari dalam kelab malam.
Namun, di saat warga desa menciptakan versi hiburannya sendiri secara mandiri dan merakyat, cap kampungan justru langsung menempel tanpa ampun.
“Ya aku juga menyayangkan kerusakan-kerusakan dari sound horeg itu. Tapi ya mau diakui apa nggak, itu jadi sedikit cara bagi orang desa mengakses hiburan gratis.”
Penulis: Ahmad Effendi
Editor: Muchamad Aly Reza
BACA JUGA: Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
