ADVERTISEMENT

Sisi Kejam Merantau di Jogja bagi Pekerja Muda: Ditipu Agensi hingga Gaji Dicicil yang Bikin Hidup Berantakan

Kejamnya Jogja bagi para pekerja muda yang merantau. MOJOK.CO

Merantau ke Jogja sejak 2019 membuat Dzaky (27) merasa sudah cukup mengenal kota ini. Seperti banyak pekerja muda lainnya, Dzaky kemudian mencari pekerjaan agar bisa melanjutkan hidup di Jogja. Hingga akhirnya kena tipu agensi dan pasrah hidup tanpa kepastian.

***

Baru-baru ini ada sebuah akun Threads yang membuat postingan mengenai modus penipuan sebuah agensi digital marketing di Jogja. Diduga sang owner melarikan diri dan tidak membayarkan gaji belasan karyawannya.

Berkat postingan tersebut saya bertemu dengan Dzaky, kami berbincang mengenai agensi digital marketing tersebut. Konon, Dzaky adalah salah satu mantan karyawan di agensi tersebut. Perjalanan Dzaky dimulai dari tahun 2023 ketika Dzaky lulus kuliah. 

Dzaky akhirnya diterima bekerja di sebuah agensi digital marketing di Jogja. Rekrutmen berlangsung secara langsung. Ia bertemu pemilik agensi di sebuah kafe untuk wawancara. Tidak ada proses yang menurutnya mencurigakan saat itu.

Dzaky baru menyadari ada masalah setelah beberapa bulan bekerja. Gajinya mulai datang secara dicicil. Nominal yang seharusnya ia terima utuh pada awal bulan justru terbagi menjadi beberapa kali pembayaran.

“Gaji katakanlah Rp2 juta, di tanggal 1 gaji dibayar sejuta, sejuta lagi bisa dibayar pertengahan bulan,” kata Dzaky kepada saya, Rabu (23/09/2026).

Masalah yang awalnya terlihat seperti keterlambatan pembayaran berubah menjadi masalah yang berlangsung berbulan-bulan.

Gaji dicicil, hidup pekerja muda ikut berantakan

Menurut Dzaky, pihak pemilik saat itu menjelaskan keterlambatan terjadi karena ada pembayaran dari klien yang belum masuk. Ia mencoba memahami alasan tersebut. Namun, pola itu berlangsung sekitar enam bulan.

Bukan hanya gaji bulanan yang terkena sistem termin. Dzaky mengatakan THR juga ikut dibayarkan secara bertahap. Bagi pekerja yang hidup dari gaji bulanan di Jogja, keterlambatan beberapa hari saja sudah bisa mengganggu kebutuhan sehari-hari. Apalagi jika kondisi itu berlangsung berbulan-bulan.

“Karena sistem termin ini, manage keuanganku jadi berantakan. Bahkan beberapa kali harus ngutang ke teman buat sekadar makan aja,” ujarnya.

Pada bulan keenam, Dzaky memutuskan mengundurkan diri. Ia ingin mencari perusahaan yang menurutnya memiliki kondisi keuangan lebih sehat. Masalahnya, ketika keluar, masih ada gaji Dzaky yang belum dibayarkan. Ia bukan satu-satunya pekerja yang mengalami persoalan tersebut. Menurut Dzaky, sekitar delapan sampai sepuluh orang juga masih memiliki gaji yang belum dibayar.

Setelah resign, gaji justru makin sulit dikejar

Setelah mengundurkan diri, Dzaky dan beberapa mantan rekan kerjanya masih mencoba meminta kepastian kepada pemilik agensi. Namun, janji itu tidak kunjung menjadi bukti pembayaran.

Sekitar setahun kemudian, komunikasi semakin sulit. Dzaky mengatakan kontak mereka akhirnya diblokir. Mereka juga sempat membawa persoalan tersebut ke Disnaker, tetapi Dzaky mengaku belum mendapatkan hasil yang mereka harapkan.

“Setelah aku sama teman-temanku resign, kita tuh di awal-awal selalu nanyain soal gaji ke owner. Awal-awal masih direspons dan dijanjiin secepatnya. Tapi setelah kurang lebih setahun, kontak kita semua diblokir,” katanya.

Masuk lewat aplikasi, berakhir dengan gaji yang tidak lunas

Cerita serupa dialami APW (26), perantau asal Nganjuk, Jawa Timur. Berbeda dengan Dzaky, APW menemukan lowongan agensi tersebut melalui Glints. Ia melamar secara daring dan kemudian mendapat panggilan wawancara.

Prosesnya berlangsung cepat. APW bertemu langsung dengan owner di salah satu kafe di Jogja. Saat itu, wawancara berlangsung di kafe karena kantor agensi masih dalam tahap penataan. Menurut penjelasan yang diterima APW, kantor belum memiliki meja, kursi, dan perlengkapan yang memadai.

APW tidak mempermasalahkan hal tersebut. Ia mengikuti proses seleksi, menunjukkan portofolio, mengerjakan tes desain, lalu mendapat kabar bahwa dirinya diterima. Ia bekerja selama enam bulan, dari November hingga April. Masalah gaji mulai muncul pada Maret.

“Untuk gaji bulan Maret sebenarnya sudah dibayarkan sebagian, tetapi belum lunas,” kata APW.

Persoalan itu berlanjut hingga April. Ketika APW masih bekerja, ia kemudian mendapat informasi dari mantan karyawan bahwa persoalan gaji di agensi tersebut ternyata bukan hal baru. Menurut keterangan yang diterima APW, sekitar sepuluh mantan pekerja juga pernah mengalami gaji yang belum dibayarkan atau belum selesai. Informasi itu membuat APW mulai melihat pengalaman kerjanya dengan perspektif berbeda.

Agensi di Jogja tutup, gaji dibayarkan termin

APW juga mengatakan owner pernah bercerita kepadanya bahwa agensi tersebut bukan pertama kali berdiri. Menurut cerita yang ia dengar langsung dari owner, sebelumnya sudah pernah ada agensi yang dibuka, kemudian tutup, lalu dibuka kembali. Siklus buka-tutup tersebut, kata APW, sudah terjadi beberapa kali.

Pada Mei, owner akhirnya menyampaikan bahwa agensi akan kembali ditutup. Namun, APW dan pekerja lain saat itu mendapat informasi bahwa mereka masih bisa bekerja secara freelance apabila ada proyek. Sementara itu, persoalan gaji yang belum lunas akan diselesaikan secara bertahap atau termin. Masalahnya, termin kembali menjadi kata yang familiar bagi APW.

Kali ini bukan hanya soal kapan gaji masuk, tetapi apakah komunikasi dengan orang yang berjanji membayar masih bisa dilakukan. APW mengaku sudah berkali-kali menghubungi owner untuk menanyakan gajinya. Pada awalnya masih ada komunikasi. Setelah itu, pesan-pesannya tidak lagi mendapat balasan. Sampai sekarang, ia masih menunggu kepastian.

Mudah mencari lowongan kerja bukan jaminan aman untuk pekerja muda

Cerita Dzaky dan APW menunjukkan satu hal yang sering luput dari pekerja muda: mendapatkan pekerjaan dan mendapatkan kepastian atas hak sebagai pekerja merupakan dua persoalan berbeda.

Dzaky benar-benar bekerja selama enam bulan sebelum memilih resign. APW bahkan menemukan lowongan tersebut melalui platform pencarian kerja dan melewati proses seleksi dengan portofolio serta tes desain. Keduanya tetap berakhir dengan persoalan gaji.

Kasus semacam ini muncul di tengah kewaspadaan terhadap penipuan lowongan kerja di Jogja. Polresta Yogyakarta pada Juli 2026 mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap berbagai modus penipuan daring, termasuk lowongan kerja palsu.

Kasus Dzaky dan APW memang berbeda dari lowongan kerja palsu. Mereka benar-benar bekerja di agensi tersebut. Namun, pengalaman keduanya memperlihatkan bahwa pencari kerja juga perlu memeriksa lebih jauh perusahaan yang membuka lowongan.

Kantor sederhana bukan berarti perusahaan bermasalah. Wawancara di kafe juga bukan bukti sebuah perusahaan tidak profesional. Tetapi bagi APW, pengalaman tersebut membuatnya belajar untuk tidak lagi sekadar percaya pada proses rekrutmen. Ia kini tahu bahwa portofolio, interview, dan surat penerimaan kerja belum cukup untuk mengetahui bagaimana sebuah perusahaan mengelola pekerjanya.

Tetap merantau di Jogja, tapi tidak lagi sekadar percaya

Kini Dzaky sudah menemukan pekerjaan baru. Ia memilih perusahaan yang menurutnya memiliki kondisi keuangan lebih jelas. Dua bulan gaji dari pekerjaan sebelumnya masih belum dibayarkan. Jika ditotal, nilainya sekitar Rp5 juta.

“Lumayan sebenarnya buat menyambung hidup,” katanya.

APW juga masih menunggu pembayaran gajinya yang belum lunas. Ia masih menghubungi owner meski pesan-pesannya kini tidak lagi mendapat balasan. Di sisi lain, APW melihat owner masih aktif di Instagram. Ia bahkan melihat beberapa aktivitas owner sebagai pembicara dalam seminar di kampus dan tempat lain.

Bagi APW, hal tersebut tentu menimbulkan pertanyaan sendiri tentang gaji yang belum selesai. Namun, ia memilih tidak membuat kesimpulan lebih jauh. Ia hanya ingin haknya diselesaikan.

Pengalaman ini membuat Dzaky dan APW sama-sama lebih berhati-hati ketika mencari pekerjaan. Mereka tetap menjadi pekerja muda yang merantau di Jogja. Mereka tidak pulang ke kota asal hanya karena pernah mengalami masalah di tempat kerja. Yang berubah adalah cara mereka mencari pekerjaan. Dzaky sekarang tidak mau lagi menerima pekerjaan hanya bermodal percaya.

“Daripada kena tipu lagi,” ujarnya.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Ironi Kerja di Jepang: Banting Tulang Hingga 5 Kali Lebaran Tak Pulang, tapi Setelah Sukses Hasilnya Tak Bisa Dinikmati atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 23 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.

Exit mobile version