Culture Shock Mahasiswa Kalimantan di Jawa: “Dipaksa” Srawung, Berakhir Tidak Keluar Kos dan Pindah Kontrakan karena Tak Nyaman

Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja

Ilustrasi - Culture shock mahasiswa Kalimantan dengan budaya guyub Jawa di Jogja (Mojok.co/Ega Fansuri)

Banyak mahasiswa Kalimantan yang mengalami culture shock ketika merantau di Jawa, padahal mereka tak terbiasa bersosialisasi dan punya kesibukan masing-masing. Akibatnya, ada yang menahan diri untuk keluar kos-kosan sampai pindah dari kontrakan demi kenyamanan dan terhindar dari kewajiban guyub.

***

Budaya setiap tempat di Indonesia itu berbeda-beda. Namun, siapa sangka, budaya di Kalimantan dan Jawa akan berbeda 180 derajat. Lalu, diputar lagi. Hal ini tidak disadari oleh kebanyakan mahasiswa yang pergi merantau meninggalkan asalnya, termasuk saya dan beberapa perantau Kalimantan lainnya untuk berkuliah di Jogja.

Dalam bayangan, embel-embel Jogja sebagai “Kota Pelajar” mungkin memberikan keringanan dalam menyesuaikan diri dengan budaya Jawa yang kontras dengan Kalimantan. Nyatanya, tidak juga. 

Bisa jadi, sebab Jogja masih bagian dari Jawa.

Namun itu juga yang membuat saya mempunyai pengalaman ekstrem saat baru menjadi mahasiswa di Jogja. Demi tidak menyapa ibu kos (bukan sebenarnya, tetapi yang bertugas untuk sesekali datang bebersih) saya memilih menahan lapar dari pagi sampai pukul 16.00 sore.

Bukan tanpa alasan, masalahnya adalah ibu kos ini sudah terlalu sering mengunjungi kos dalam satu pekan. Kali itu adalah ketiga, padahal katanya hanya akan memeriksa sesekali saja dengan maksimal dua kali seminggu. Belum lagi, menyapanya berarti bersedia duduk setidaknya setengah jam untuk mendengarkan beliau bercerita.

Budaya berbaur di Jawa yang mengejutkan mahasiswa perantau Kalimantan

Setelah mengalami itu, barulah saya mengetahui bahwa ada perbedaan budaya Jawa yang jauh sekali dengan budaya di tempat asal saya, Kalimantan. 

Namanya, budaya srawung. Artinya, kegiatan berkumpul, bersosialisasi, dan berinteraksi antarsesama untuk mempererat silaturahmi, gotong royong, dan berbagi rasa. 

Dibandingkan dengan budaya di Kalimantan, kami jelas tidak punya yang seperti ini. Atau setidaknya, itulah yang saya ketahui sebagai seseorang yang lebih banyak menikmati waktunya sendiri. Tidak perlu merisaukan keharusan bersosialisasi—atau sekadar menyapa—kalau merasa tidak ingin.

Lain hal dengan di Jogja, budaya Jawa yang kental mengharuskan adaptasi. Hal inilah yang menyebabkan Lili (23) juga mengalami pengalaman yang sama. 

Di kos yang seharusnya menjadi ruang nyaman dan tenang, Lili merasa terganggu dengan keakraban yang sering ditemuinya. Alasannya, jalinan keakraban ini dilakukan hampir setiap hari dengan intensitas yang juga sering, serta suara yang lantang dalam bercakap-cakap “akrab” itu.

Alhasil, Lili sering mengurungkan niatnya untuk keluar dari kos. Ia merasa kurang nyaman untuk menyapa tetangga sekitar kos yang sedang berkegiatan atau menemui ibu kos yang mengobrol ria dengan tetangga, lalu mau tidak mau harus bergabung. 

Karena itu, dia menahan diri melakukan aktivitas di luar ruangan, sampai membuang sampah sekalipun.

“Di kos juga, tetangga ibu kos kan kalau sore sering keluar, menyapu, atau cuman duduk-duduk di pinggir jalan itu bikin aku nggak mau keluar sekadar buang sampah,” katanya, Kamis (26/2/2026).

Tidak biasa dengan keakraban yang menjadi keharusan

Lili juga menceritakan pengalaman temannya yang tidak membaur dengan tetangga sekitarnya. Katanya, temannya tidak pernah hadir dalam acara arisan RT kediamannya.

Bisa jadi, karena satu dan lain hal. Bisa jadi juga, karena usianya yang masih muda seumuran Lili. Jadi, pikirnya, tidak apa-apa untuk tidak ikut kegiatan arisan kompleks yang lumrahnya diasosiasikan dengan orang-orang yang berusia di atasnya.

Namun, itu adalah pemikiran Lili sebagai mahasiswa yang berasal dari Kalimantan. Menurut budaya Jawa, di Jogja, lain cerita.

Ceritanya di sini adalah temannya tersebut berakhir dimusuhi satu rukun tetangga.

“Sama ada temanku punya cerita, dia dimusuhin 1 RT karena nggak pernah hadir dalam arisan RT,” katanya.

“Arisan aja?” tambah Lili keheranan.

Terpaksa pindah karena dimusuhi tetangga yang menganggap tidak “rukun”

Cerita Nawalre (25) lebih tragis lagi. Ia sampai harus pindah dari rumah kontrakan karena dianggap tidak ikut guyub, artinya tidak “rukun” oleh tetangga.

Saat itu, Nawalre memilih satu kontrakan di daerah Mlati, Sleman, Jogja, karena harganya yang terbilang murah, meskipun harus masuk gang dan berada di antara rumah-rumah yang saling berdempetan satu sama lain.

“Aku ngontrak dia murah karena rumahnya masuk gang dan ada di antara semua rumah. Jadi, benar-benar di tengah-tengah jalan, kanan kiri depan belakang ada rumah, dan rumahku nggak berpagar,” katanya.

Namun hal semacam itu, umum bagi rumah yang berada dalam gang. Oleh karena itu, Nawalre tidak risau pada awalnya.

Perasaan yang berubah seiring Nawalre berdiam lama di rumah kontrakannya. Sebab, ada faktor tambahan yang mengusiknya secara perlahan, yaitu tetangga sekitar yang memaksanya untuk guyub.

Baginya, ia bukan orang yang terlalu menyukai kegiatan guyub. Karena itulah, Nawalre tidak terlalu mengikuti paguyuban yang ada di kompleksnya. Namun karena itu juga, dia menerima perlakuan tidak baik dari orang-orang di sekelilingnya.

“Aku orangnya kan gak mau guyubguyub banget kalau gak ada perlu,” kata Nawalre.

“Alhasil mereka tuh kayak ngegosipin aku, terus dijahili mulu kayak meteran listrik dimatiin sama mereka karena emang nggak berpagar dan deket banget sama rumah lain,” bebernya.

Bukan hanya itu, buntut dari kejahilan tetangga yang mencapnya itu juga berlanjut pada dirinya yang diacuhkan. Padahal, Nawalre mengaku sudah mencoba untuk bersiap baik.

“Titiknya ada tuh satu ibu-ibu yang kalau kusapa, dia buang muka,” katanya.

Kejadian ini menjadi puncak dari kekesalannya. Pada akhirnya, ia memilih ke lingkungan yang lebih privat dan tenang agar menghindari kewajiban melebur untuk bisa dianggap baik.

Padahal, makna “rukun” sebagai baik yang dipahami Nawalre tidak jauh berbeda. Menurutnya, sikap tidak mengganggu dan ramah adalah bagian dari itu. Namun pada beberapa kesempatan ketika sedang mempunyai kesibukan dan keinginan sendiri, memang memenuhi undangan bersosialisasi menjadi kesulitan tersendiri.

“Akhirnya, aku capek dan memutuskan pindah ke rumah yang berpagar dan punya privasi gede,” katanya.

“Padahal, aku berusaha jadi orang diam biar mereka nggak terganggu. Tapi selama ini aku salah, diam di Jawa artinya nggak rukun,” tutupnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Maunya Motor Matic, tapi Terpaksa Pakai Supra buat Kuliah di Fakultas “Elite” di UGM demi Menyenangkan Ayah dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version