ADVERTISEMENT

Gen Z Muak dengan Budaya Korporat, Biarlah Dicap Tak Punya “Manner” yang Penting Work-life Balance

Gen Z tak peduli dengan milenial yang mendewakan budaya korporat. MOJOK.CO

Bagi pekerja gen Z, kesuksesan karier tak lagi diukur dari seberapa jago menjilat atasan atau menunjukkan loyalitas dengan kerja lembur. Mereka rela dicap tidak punya manner oleh boomer maupun milenial, asalkan bisa work-life balance meski budaya korporat tetap jalan.

Realita budaya korporat yang membuat fresh graduate kaget

Setelah hampir 2 tahun bekerja, Fira (24) tak lagi kaget dengan budaya korporat. Setelah lulus kuliah dan mendapat kerja sebagai admin di sebuah perusahaan multinasional milik Korea, Fira mengaku masih gelagapan di awal-awal kerja.

Awalnya, pekerjaan yang dia geluti cukup menyenangkan karena dia suka mengembangkan kemampuannya berbahasa Korea. Namun, Fira mengaku cukup kaget dengan budaya korporat, yakni antara Indonesia dengan Korea.

“Atasanku yang Korea cukup strict (kaku) ya sedangkan orang-orang Indonesia ini cukup luwes. Mungkin itu yang membuat aku nggak bisa bertahan lama di sana,” kata Fira kepada Mojok, Rabu (9/9/2026).

Pada akhirnya, Fira memutuskan resign setelah 6 bulan bekerja. Tak lama kemudian, Fira mendapat kerja di salah satu perusahaan multinasional asal Jerman. Fira tak menampik jika keputusannya itu terbilang nekat.

“Sejujurnya aku nggak tahu budaya kerja mereka seperti apa. Apalagi, kemampuan bahasa Jermanku standar,” ujarnya.

Namun, setelah mencicipi dua kali kerja di perusahaan multinasional, Fira menyadari bahwa ada banyak aturan dan cara kerja yang sebenarnya tidak cocok bagi gen Z seperti dirinya, tapi bagi milenial seringkali dianggap wajar.  

“Jadi, ada beberapa hal yang menurut kami gen Z agak hah heh hoh tapi menurut kaum milinea nggak apa-apa. Misalnya, kami nggak perlu cari muka ke atasan, cukup kerja sesuai dengan porsi saja deh,” tutur Fira.

Drama budaya korporat yang mending nggak dipikirin

Selain rekan kerja milenial yang jago menjilat, Fira juga tak cocok dengan rekan kerja yang suka julid. Fira sendiri pernah memutuskan work from home, karena tugas di divisinya cukup fleksibel. Namun, ada saja rekan kantornya yang iri melihat divisi Fira kerja dari rumah.

“Padahal, perusahaannya emang membolehkan gitu loh. 4 hari work from office, 1 hari work from anywhere, dan 2 hari libur. Jadi sering dibilang nggak kerja, nggak punya manner,” ujarnya.

Fira pun memilih tutup telinga dan bekerja dengan nyaman. Yang penting, kata dia, kerjaannya tuntas, tidak ada target yang muluk-muluk, dan tidak ada potongan gaji kalau dia terlambat. Toh, dia tak pernah terlambat dan rutin mengisi presensi dari pukul 09.00 WITA hingga 16.00 WITA. 

“Tapi, ada saja yang iseng waktu aku pulang tenggo dan sudah stay di lobi pada pukul 15.59 WITA. Mereka bilang, ‘wih on time ya’ tapi aku jawab saja, ‘iya disiplin jam kerja’,” tutur Fira yang mulai nyaman dengan budaya korporat.

“Yah, cuekin saja, nanti juga capek sendiri. ⁠Awalnya sih deg-degan cuma lama-lama orang-orang setuju jadi ya sudah berarti emang pemikiran gen Z benar,” lanjutnya.

Gen Z lebih pilih kejar work-life balance

Bagi Fira yang merupakan gen Z, kesuksesan karier kini tidak lagi semata-mata diukur dari jabatan, melainkan work-life balance meskipun berada di budaya korporat.

“Kenapa harus ngaret pulangnya kalau bisa tenggo? Kenapa harus rela nggak dibayar karena lembur? Dan lagi, kenapa harus cari muka ke siapapun?” tuturnya.

Apa yang Fira alami juga menjadi topik yang banyak diperbincangkan warganet di Threads. Salah seorang warganet bernama Dean berujar pernah ribut dengan manajernya, sebab Dean pulang tenggo. Saat ditanya alasannya, Dean justru menjawab santai, “Karena sudah waktunya pulang, Pak.”

Sejak saat itu, Dean dicap sebagai karyawan yang tidak punya manner oleh manajernya yang merupakan milenial. Parahnya, dia sampai disuruh mundur di beberapa projek selang beberapa hari setelah peristiwa itu terjadi. Namun, karena performa Dean masih bagus, dia pun memilih bertahan.

“Dia langsung bawa penggantiku dan yup ternyata temannya sendiri. Sekarang aku masih bertahan, gajiku juga naik. Aku bisa buktikan bahwa dengan balik tenggo pun kualitas kinerjaku bisa bagus dan berkembang,” ujar Dean, gen Z yang sudah satu tahun kerja di perkantoran.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Dilema Kerja di Kantor Toksik: Mental dan Jam Tidur Rusak, Tapi Tak Bisa Resign Gitu Saja atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 9 September 2026 oleh .

Aisyah Amira Wakang

Jurnalis Mojok.co asal Surabaya. Pernah menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya. Menaruh perhatian pada isu pendidikan, sosial, perkotaan, dan kelompok-kelompok marjinal. Di luar rutinitas liputan mengisi waktu dengan berlari dan menjelajah alam.