Tak Cukup Satu Gaji, Gen Z Rela “Side Hustle” dan Kehilangan Kehidupan demi Rasa Aman dan Puas Punya Pekerjaan Sesuai Keinginan

Gen Z rela sise hustle

Ilustrasi - Gen Z rela sise hustle (Mojok.co/Ega Fansuri)

Side hustle atau bekerja sampingan semakin marak, bahkan seakan-akan telah menjadi bagian dari gaya hidup pekerja saat ini. Tak terkecuali, gen Z yang mulai memasuki dunia kerja. 

Tekanan ekonomi, pasar kerja yang tidak stabil, sampai alasan paling personal seperti keinginan mengeksplorasi minat membuat gen Z melakoni lebih dari satu pekerjaan dalam satu waktu.

Aashna Doshi (23) adalah contohnya. Pekerja profesional di bidang IT ini tidak cukup dengan satu pekerjaan yang sudah dimilikinya di perusahaan bergengsi, Google di Amerika Serikat. Ia masih menekuni dua pekerjaan sekaligus, tanpa meninggalkan pekerjaan utamanya.

Side hustle membuat gen Z bisa lebih bebas

Selain pekerjaan utama di perusahaan teknologi ternama tersebut, Doshi juga menjadi konten kreator di media sosial. Ia merekam podcast dan konten lainnya, mengenai bekerja di bidang teknologi dan kehidupan di kota yang konon tidak pernah tidur, New York.

Tak jarang, Doshi melakukan ketiganya sekaligus dalam satu hari.

Akibatnya Doshi tidak bisa melepaskan dirinya dari monitor untuk memantau kondisi kesehatan mentalnya. Ia harus memastikan diri tidak kelelahan selagi menjalankan tiga pekerjaan, agar dapat menuntaskan ketiga pekerjaannya dalam satu waktu.

“Dengan cara ini aku nggak akan kelelahan dan bisa lebih konsisten dengan podcast dan pembuatan konten,” kata dia, dilansir dari The Guardian, Senin (30/3/2026).

Menurutnya, kebiasaan melakukan side hustle ini secara tidak langsung membentuk sebuah kebiasaan yang membantu Doshi mengekspresikan diri sebagai pekerja di bidang teknologi. Ia tidak mengenal batasan dalam tampil di media sosial, ataupun berbagai platform yang diinginkannya.

Hanya karena dirinya adalah seorang pekerja teknologi, kata Doshi, bukan berarti sisi lain dirinya harus ditutupi.

“Dari side hustle aku bisa memberi wadah diriku untuk kreatif dan mengekspresikan diri tanpa batasan,” katanya. “Ini mungkin hal paling besar yang pernah kulakukan, dalam menampilkan diri sebagai individu yang berambisi, punya kemampuan dan passion, lawan dari Aashna si pengembang perangkat lunak di Google.”

Side hustle yang membantu Doshi untuk lebih dapat jujur kepada dirinya juga dimiliki lebih dari setengah mayoritas gen Z lainnya di AS. Penelitian Haris Poll mengatakan 57 persen gen Z memiliki side hustle.

Mereka ditemukan tidak hanya mencurahkan seluruh usahanya dalam satu karier, tetapi juga menjalankan dua pekerjaan sekaligus. Pekerjaan utama digunakan sebagai landasan finansial, sedang ambisi dan minat pekerjaan difasilitasi melalui pekerjaan lainnya, seperti yang dilakukan Doshi.

Bekerja sampingan memberi tujuan dan alasan bertahan hidup 

Sen Ho (25) yang bekerja di toko alat tulis juga mempunyai pekerjaan sampingan seperti Doshi. Sen Ho membuat ilustrasi digital di waktu luangnya.

Hal ini, kata Sen Ho, lahir dari kebiasaannya mengamati generasi di atasnya, orang tua, yang banyak mencurahkan waktu dan tenaga untuk pekerjaan. Karena itu, dia merasa perlu mengejar sesuatu yang membuatnya merasa puas, apabila tidak bisa dari pekerjaan utamanya.

“Dari mengamati orang tua yang mencurahkan segalanya untuk pekerjaan, generasi kami menyadari perlunya mengejar sesuatu yang kami cintai dan merasa puas,” kata dia.

“Kalau aku tidak menjalankan side hustle, aku akan kehilangan arah dalam hidup. Inilah yang membuat aku terus bertahan,” tambahnya.

Selaras dengan Sen Ho yang merasa bahwa side hustle telah menjadi bagian hidupnya yang tidak bisa dilepaskan, bahkan alasannya untuk bertahan hidup, Survei Haris Poll menemukan bahwa generasi muda tidak lagi menganggap penting pekerjaan kantoran.

Bekerja dari jam 9 pagi hingga jam 5 sore dinilai bukan lagi cara mencapai kesuksesan finansial, justru side hustle dan investasi adalah cara tersebut.

Generasi pekerja muda, di AS misal, juga memprioritaskan nilai-nilai yang berbeda dari sebelumnya. Mereka lebih mengutamakan fleksibilitas dan tujuan yang tidak mungkin dapat ditawarkan pekerjaan korporat konvensional.

Presiden bisnis perbankan Citizens Bank, Mark Valentino, mengatakan, gen Z berpikir perlu membangun portofolio karier. Dalam hal ini, pekerjaan yang dicatatkan tidak hanya satu, tetapi juga yang memberikan mereka kepuasan.

“Gen Z berpikir dalam portofolio karier bukan cuma satu jalur, tapi banyak hal berbeda yang memberi mereka kepuasan,” kata Mark.

“Mereka melihat orang tua yang berjuang dan menyimpulkan kalau mereka lebih memilih keeseimbangan. Mereka nggak percaya bisa mencapai kesuksesan finansial sama seperti generasi sebelumnya, jadi memfokuskan kembali tujuannya,” katanya menambahkan.

Di tengah pasar kerja tidak stabil, gen Z merasa aman side hustle

Di satu sisi, pasar kerja telah mengalami perubahan. Kondisi ekonomi juga semakin tidak stabil. Kepala ekonom di Glassdoor, Daniel Zhao, mengatakan gen Z tengah bertarung dengan kondisi ini.

“Semua cara tradisional untuk sukses, seperti kuliah dan bekerja kantoran, nggak lagi terbukti. Sekarang, mereka [gen Z] dihadapkan dengan utang dan pasar kerja yang sulit,” katanya.

Sedang dalam bidang pekerjaan Doshi, industri teknologi menunjukkan kondisi yang rentan terhadap PHK dalam beberapa tahun terakhir karena pengaruh akal imitasi (AI). Lebih dari 150 ribu pekerjaan dipangkas di 550 perusahaan di AS tahun lalu.

Bagi Doshi, side hustle adalah pengamannya dari krisis pekerjaan yang bukan tidak mungkin menghampirinya. “Pasar kerja hancur,” katanya.

“Kamu mungkin bekerja hari ini, tapi besok dipecat. Side hustle memberi rasa aman dan kendali dalam kondisi ekonomi yang tidak stabil. Rasanya lebih aman daripada hanya bergantung pada satu pemberi kerja,” jelas Doshi.

Konsekuensi tidak punya kehidupan selain pekerjaan

Namun sebagaimana pekerjaan selalu punya tuntutan, tuntutan terhadap lebih dari satu pekerjaan yang dimiliki berlipat ganda. Pekerja side hustle, seperti Doshi dan Sen Ho, tidak mempunyai banyak waktu luang. Artinya, mereka sulit mempunyai kehidupan di luar pekerjaan.

Sebab, setelah pekerjaan utama mereka selesai, pekerjaan sampingan harus langsung dimulai. Bahkan, keduanya bisa jadi dilakukan dalam satu waktu.

“Dalam arti tertentu, aku nggak pernah lepas dari pekerjaan,” kata Sen Ho.

Sen Ho mengakui, melakukan beberapa pekerjaan sekaligus melelahkan. Namun pada akhirnya, ia merasa tetap harus melakukannya. Satu untuk bertahan hidup, dalam artian memenuhi kebutuhan, sedangkan yang lainnya untuk memberikan alasan untuk hidup.

“Memang melelahkan, aku akui, tapi pada akhirnya aku harus melakukan apa yang kulakukan. Aku sangat suka menggambar sehingga nggak bisa membayangkan nggak melakukannya, selelah apa pun,” tukasnya.

Penulis: Shofiatunnisa Azizah

Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Soft Saving, Jalan Pintas Gen Z Ingin Menabung Ala Kadarnya tapi Masih Prioritaskan Penuhi Gaya Hidup Usia Muda dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version