ADVERTISEMENT

Geliat Warga Menepis Stigma Sarkem Jogja dengan Merawat Warisan Lama, Tak Tergiur meski Ditawari Uang Miliaran

Suasana masjid di Gang 2 Sarkem, Jogja. MOJOK.CO

Di balik stigma soal lokalisasi Pasar Kembang (Sarkem) di Pusat Kota Jogja, kawasan ini masih merawat denyut kehidupan sosial dan budaya literasinya. Mulai dari keberadaan masjid, toko buku, hingga rumah lawas bergaya Jawa-Indis milik warga lokal (warlok).

***

Perjalanan tim Mojok menyusuri gang-gang kecil di Sarkem tak terhindar dari tawaran bapak-bapak yang menyewakan penginapannya, baik losmen maupun homestay. Maklum, kawasan tersebut memang menjadi pusat komersial di tengah Kota Jogja, alih-alih lebih dulu dikenal sebagai tempat lokalisasi.

Berdasarkan penelusuran tim Mojok, tidak semua wilayah Sarkem di Jogja dapat dipukul rata dengan stigma tersebut. Sebab nyatanya, suasana gang 1 dan gang 2 yang terletak di kampung Sosrowijayan Wetan jauh dari suasana “neon warna-warni”.

Pengalaman kami pada Minggu (6/9/2026) sore, justru menemukan bangunan-bangunan legendaris yang masih mempertahankan nilai sosial dan budayanya. Mulai dari Masjid Nurul Huda, The Lucky Boomerang Bookshop, hingga rumah lawas milik warlok.

Bangunan masjid yang akhirnya disetujui warga

Suara azan berkumandang dari toa Masjid Nurul Huda yang berlokasi di gang 2 Sarkem, Jogja. Saya dan tim Mojok pun menyempatkan diri untuk salat Maghrib berjemaah sembari mengistirahatkan kaki serta pikiran sejenak.

Di sela-sela kegiatan saya melepas sepatu dan mengambil air wudu, sejumlah wisatawan maupun akamsi mulai datang beriringan. Bukti bahwa masjid itu tak pandang bulu, menerima siapa saja yang mau beribadah ke rumah Allah.

Suasana ramai itulah yang membangkitkan semangat Herry, pengurus Masjid Nurul Huda untuk membangun masjid di gang 2 Sarkem. Sebab dulu, ia merasa prihatin karena kesusahan membangun tempat ibadah di kawasan tersebut.

Seorang anak bermain sepeda di gang-gang Sarkem, Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Dulu kan gang sini terkenalnya sebagai kampung turis. Jadi, banyak bule yang menginap. Nah, dulu pemilik losmen selalu negur kami buat mengecilkan volume toa,” tutur Herry saat saya temui kembali pada Sabtu (12/9/2026) usai menunaikan ibadah salat Maghrib di pelataran Masjid Nurul Huda.

Herry bersama pengurus lain pun tak punya kuasa untuk melawan. Mereka tak sampai hati mematikan roda perekonomian warga. Bagaimana tidak, Herry sering mendapat laporan dari pemilik losmen jika wisatawan merasa terasa terganggu dengan suara azan sehingga losmen di sekitar masjid jadi sepi.

36 tahun, Masjid Nurul Huda menepis stigma Sarkem Jogja

Hidayatullah yang duduk di samping Herry juga ikut menambahkan bahwa Masjid Nurul Huda sudah berdiri selama 36 tahun, tapi bangunannya masih terlihat baru dan kokoh. 

“Masjid ini dibangun pertama kali tahun 1990. Setelah gempa Jogja (2006), masjid direnovasi ulang,” ujarnya.

Sementara Herry berujar, Masjid Nurul Huda dulunya belum bertingkat. Kini, setelah adanya renovasi akibat gempa Jogja, bangunannya jadi lebih lebar. Setidaknya cukup untuk menampung 200 lebih jemaah baik laki-laki maupun perempuan.

Adanya Masjid Nurul Huda di gang 2, kata Herry, juga perlahan-lahan menepis stigma soal Sarkem yang terkenal sebagai tempat prostitusi. Lebih dari itu, kontribusi Masjid Nurul Huda bahkan dirasakan oleh warga di luar Sarkem.

Pengurus Masjid Nurul Huda, Herry berbaju merah, sedangkan Hidayatullah berbaju hijau. (sumber: Al Afnan Mahatta/Mojok.co)

“Dulu sempet Mas, di daerah Wonosari lagi kekeringan. Karena saya punya teman yang terdampak di sana, saya bersama pengurus yang lain pun inisiatif untuk mengirim bantuan langsung atas nama Masjid Nurul Huda ini,” kata Herry yang  juga memiliki bisnis agen travel.

Bagi Herry, Masjid Nurul Huda bukan sebatas bangunan fisik, tetapi jadi jembatan bagi pengurus masjid untuk memberikan pertolongan, sekaligus menyediakan tempat transit yang tenteram bagi jiwa-jiwa yang lelah dan ingin mengadu kepada Tuhannya.

“Ya, bersyukur sih, mas, masjid ini bisa hidup lewat aktivitas-aktivitas seperti pengajian rutin, berbagi takjil dan buka bersama gratis, santunan ke anak yatim,” tuturnya.

Jejak literasi yang tersisa di Sarkem Jogja

Usai berbincang cukup lama dan tak ingin mengganggu persiapan salat Isya, saya dan tim Mojok pun pamit untuk melanjutkan perjalanan menyusuri gang-gang kecil di Sarkem, Jogja.

Belum jauh kaki saya melangkah melewati 4 rumah menuju gapura, mata saya tertuju pada sebuah bangunan Balai Serbaguna RK Pancamarga Sosrowijayan Wetan.

Aktivitas Kampung Baca yang sudah berhenti sejak tahun 2019. (sumber: Al Afnan Mahatta/Mojok.co)

Pada jendela kacanya terdapat tempelan kertas bertuliskan: “Kampung Baca Buka Hari Sabtu & Minggu Jam 15.00 WIB sampai 17.30 WIB”. Namun nyatanya, saya sama sekali tak melihat aktivitas warga di ruangan tersebut.

“Balai ini emang sudah lama nggak aktif,” jelas seorang penjaga losmen di depan balai kami berdiri, “yang saya tahu, balai ini digunakan waktu bulan puasa saja,” lanjutnya.

Informasi ini juga divalidasi oleh segerombolan bapak-bapak yang sedang nongkrong di sekitar gang. Menurut salah satu warga, kegiatan kampung baca di sana sudah berhenti sejak tahun 2019. 

Selain karena Covid-19, menurunnya jumlah generasi muda juga membuat kegiatan positif itu jadi terhenti. Yosi yang mengaku sebagai ketua RT berujar suasana Sarkem telah berubah dari masa lalu ke masa kini.

“Dulu sepanjang jalan ini isinya cuma bule yang menginap di losmen atau homestay milik warga. Asik tuh, warga bisa kenalan sama orang Inggris sampai orang Prancis. Jadi, kita bisa saling belajar,” tutur Yosi yang menyapa kehadiran kami saat menyusuri gang 1 Sosrowijayan Sarkem, Jogja.

Gang Sarkem yang bercabang. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Namun, keramaian itu tak berlangsung lama seiring dengan menurunnya wisatawan di Sarkem, Jogja. Terutama saat terjadi Covid-19. Menurut Yosi, banyak warung makan di gang 1 yang akhirnya tutup karena pandemi.

“Jadi sekarang, lebih banyak turis yang pindah ke gang 2 karena masih ada beberapa rumah makan yang bertahan. Nah, kalau gang 3 itu yang banyak ‘mbak-mbaknya’,” ujar Yosi merujuk pada tempat lokalisasi.

Tak mau jual rumah warisan meski ditawar miliaran

Jauh sebelum kedatangan turis, Kampung Sosrowijayan Wetan dulunya merupakan hunian bagi para bangsawan keturunan keraton dan abdi dalem pada era 70-an. Kini, Sarkem telah berubah menjadi pusat komersial yang menawarkan deretan penginapan.

Di antara warga yang mengubah rumahnya jadi losmen atau homestay, Yosi tetap memilih mempertahankan rumah warisan kakek buyutnya sebagai pusat kumpul keluarga besar, terutama saat Lebaran.

“Rumah ini warisan keluarga. Saya dikasih amanat buyut untuk jangan disewakan apalagi dijual,” tegasnya.

Rumah lawas bergaya Jawa-Indis milik Yosi dan keluarganya. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Yosi berujar empat bangunan di samping rumahnya yang bergaya Jawa-Indis itu juga merupakan warisan keluarga. Saking luas dan nyentriknya, rumah tersebut sempat ditawar oleh agen-agen properti. Namun, Yosi dan keluarganya tetap keukeuh untuk tidak menjual.

“Sering rumah keluarga kami ditawar orang, apalagi jarang kan ada halaman luas seperti ini di tengah kota, tapi saya tolak. Bahkan ada yang menawar 3-4 miliar pun saya tolak,” ujar Yosi.

Upaya warga menyelamatkan wajah Sarkem Jogja

Tak jauh dari rumah Yosi, kami menemukan sebuah toko buku bergaya vintage. Namanya, The Lucky Boomerang Bookshop. Wina, pemilik gerai tersebut berujar usia tokonya sudah mencapai lebih dari tiga dekade atau lima tahun lebih muda dari Masjid Nurul Huda di gang 2 Sosrowijayan Sarkem.

Uniknya, Wina mengaku tidak terlalu suka membaca buku. Buku-buku orisinal berbahasa Belanda, Jerman, Prancis, Spanyol, Italia, hingga Jepang itu merupakan koleksi adiknya yang memang hobi membaca buku berbahasa asing.

Toko buku bekas The Lucky Boomerang di Gang 1 Sarkem Jogja. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Cerita tentang pengalaman Wina dalam mengelola The Lucky Boomerang Bookshop di tengah stigma Sarkem dapat kalian baca di sini: Dinamika 31 Tahun Buka Toko Buku Impor di Sebuah Gang di Kota Jogja dengan Pembeli WNA

Bertahannya toko buku lawas itu menjadi bukti adanya napas literasi di Sarkem, meski aktivitas Kampung Baca telah terhenti. Tak hanya itu, keberadaan masjid dan rumah tua yang sudah puluhan tahun berdiri menjadi bagian dari upaya warga lokal menepis stigma kelam Sarkem. 

Pada akhirnya, geliat kebaikan dan keramahan dari warga Sarkem akan selalu terbuka lebar, tak peduli sekeras apa pun penilaian buruk tentangnya.

Tulisan ini diproduksi oleh mahasiswa program Sekolah Vokasi Jurnalistik Mojok.co periode Agustus-November 2026

Penulis: Al Afnan Mahatta

Editor: Aisyah Amira Wakang

BACA JUGA: Kisah TK yang Berdiri di Tengah Sarkem Jogja, Anak-anak Belajar Saat Bilik-bilik Prostitusi “Tertidur” atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 16 September 2026 oleh .

Al Afnan Mahatta

Al Afnan Mahatta. Mahasiswa magang departemen liputan Mojok.co asal Batang. Sedang menempuh pendidikan di S1 Ilmu Komunikasi Universitas Tidar (Untidar) Magelang. Menaruh perhatian pada isu sosial, alam, dan dinamika sepak bola nasional. Di luar rutinitas liputan, saya mengisi waktu dengan menjelajah ke tempat-tempat baru yang unik.

Exit mobile version