Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Sosok

Rahasia Sukses Budidaya Belut Kang Wardi, dari Satu Kolam Kini Punya 200 Kolam di Cangkringan

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
18 Januari 2024
A A
Rahasia Sukses Budidaya Belut Kang Wardi, dari Satu Kolam Kini Punya 200 Kolam di Cangkringan MOJOK.CO

Ilustrasi Rahasia Sukses Budidaya Belut Kang Wardi, dari Satu Kolam Kini Punya 200 Kolam di Cangkringan. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Berbohong ke istri lalu sukses punya 200 kolam

Setiap kali belut-belutnya mati, Kang Wardi mengamati dan menganalisis sebabnya. Ia kemudian memutuskan membeli belut lagi. Kali ini ia membeli bibit belut dari Kalimantan. Untuk mengambil hati istrinya, akhirnya Kang Wardi berbohong. 

“Saya bilang, kalau benih belut itu titipan teman untuk dipelihara. Kalaupun mati nggak papa,” kata Kang Wardi tertawa. 

Ternyata uji cobanya yang ketiga untuk budidaya belut sukses. Belut-belut itu bisa hidup. Kang Wardi kemudian memanen belut-belutnya empat bulan dari sejak ia tebar. “Saat panen istri saya tanya, loh sudah panen kok temannya nggak datang. Alasan saya, teman saya ingin belutnya dikembangkan lagi, jadi hasil panenannya nggak dibagi,” ujar Kang Wardi tertawa.

Saat memanen belut-belut itu, ternyata ia menemukan ada belut-belut kecil di kolam belutnya. Rupanya belut yang ia tebar kawin, bertelur dan menetas tanpa ia sadari. Belut-belut hasil panenan pertama itu kemudian ia kembangkan lagi hingga sekarang sudah ada 200 kolam. 

Ketika mulai memanen belutnya, Kang Wardi sempat khawatir tidak bisa menjual ke pasar. Alasannya belut itu mahal. “Satu kilogram untuk belut konsumsi sekarang harganya Rp80 ribu. Logikanya orang mending beli ayam, atau ikan lain,” kata Kang Wardi. 

Temannya menyarankan untuk menjual lewat media sosial. Kang Wardi lantas menawarkan di Facebook, dan ternyata banyak orang yang tertarik untuk membeli. “Jadi kalau dulu bingung mau jual kemana, sekarang malah bingung buat memenuhi pesanan,” kata Kang Wardi.

Ia akhirnya memutuskan untuk fokus dulu pada pengembangan kolamnya. “Target saya punya 2.500 kolam belut,” kata Kang Wardi.

Bagikan ilmu dengan pelatihan gratis agar harga turun

Gara-gara postingannya di Facebook, orang-orang dari berbagai daerah banyak yang datang ke rumahnya. Mereka ingin belajar untuk budidaya belut. Bahkan kemudian ada instansi dari luar kota yang memintanya untuk menjadi narasumber. “Saya bilang nggak bisa presentasi. Power Point saja saya saat itu nggak tahu,” katanya tertawa. 

Akhirnya dari pengalaman menjadi narasumber itu, Kang Wardi berpikir untuk membuka pelatihan budidaya belut di rumahnya. Namun, uniknya, Kang Wardi tidak meminta bayaran. Ia justru menggratiskan biaya pelatihan. 

“Tujuannya biar semakin banyak orang yang budidaya belut, ketersediaan belut itu masih sedikit di Indonesia. Kalau semakin banyak yang memelihara belut, harga di pasar akan turun. Misalnya jadi 30 ribu per kilogram, nah dari situ kan belut jadi seperti ayam, yang ngonsumsi banyak. Bukan hanya kalangan tertentu saja,” katanya. 

Budidaya belut gratis
Kang Wardi siap memberi pelatihan beternak belut di rumahnya tanpa biaya. Ia ingin harga belut jadi lebih murah sehingga masyarakat bisa membelinya. (Agung P/Mojok.co)

Kang Wardi mengaku saat ini belum fokus menjual belut konsumsi, ia masih mengejar untuk pengambangkan kolam dulu. Bahkan sudah ada dua pihak yang mengaku dari China dan Jepang yang memintanya bekerjasama menyediakan belut konsumsi. “Mereka minta 1 ton per bulan. Saya nggak sanggup, makanya dengan adanya pelatihan gratis ini harapannya makin banyak yang beternak belut,” ujarnya.

Tiga hal agar budidaya belut itu sukses

Dalam pelatihan ia akan membeberkan rahasia bagaimana ia sukses mengembangkan kolam belut dari satu tong sekarang menjadi 200 kolam. Menurutnya, jika sudah tahu tekniknya maka beternak belut bisa jadi sesuatu yang gampang dan murah. 

Setidaknya menurut Kang Wardi ada tiga hal untuk sukses budidaya belut yaitu dalam pembuatan media kolam, pemilihan bibit, dan pemberian pakan yang pas. 

Media tanam yang baik menurut Kang Wardi punya unsur lumpur, jerami, dan cacahan batang pisang, dengan komposisi yang tepat. Selain itu penting untuk terlebih dulu media tersebut difermentasi hingga menghasilkan pakan alami untuk belut. 

Iklan

Selanjutnya adalah memilih benih belut yang bagus. “Analisis saya kenapa waktu ketiga kalinya saya berhasil karena bibitnya pakai belut rawa, yang mungkin belum terkontaminasi zat kimia seperti yang ada di sawah,” katanya. Agar tidak terjadi kanibal, penting untuk mengamati belut di kolam dan menyediakan makanan tambahan.

Banyak yang bilang juga kalau salah satu kendala dari beternak belut adalah waktu panennya yang lama. Namun, Kang Wardi meyakinkan, soal waktu panen sebenarnya sesuai dengan keinginan peternak. Tergantung apakah ingin panen dalam bentuk kecil, sedang atau besar. Untuk dijadikan peyek, belut goreng, atau sambal belut.

“Kalau soal waktu panen itu sebenarnya bisa kapan saja. Mau masih kecil dipanen itu bisa untuk peyek. Hitung-hitungannya itu, saya nebar benih yang besarnya seperti rokok dalam empat bulan beratnya naik empat kali lipat,” kata Kang Wardi.

Oh ya soal apakah istrinya masih marah, tentu saja sekarang tidak lagi. Bahkan sangat mendukung. Di lokasi kolam belutnya yang sekarang, bahkan istrinya membuka warung. Sehingga ketika ada tamu yang berkunjung bisa langsung mencicipi menu serba belut yang istrinya masak.

“Saya baru cerita ke istri saya kalau sebenarnya saya itu bohong saat bilang ada teman yang titip bibit belut. Itu juga saya belum lama ngakunya,” kata Kang Wardi tertawa.

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Nikmatnya Sambal Belut Kang Shobirin Bantul, Ada Menu Rahasia untuk Para Lelaki

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 19 Januari 2024 oleh

Tags: belutbudidaya belutcangkringanpelatihan gratispilihan redaksi
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Karnaval sound horeg getarkan Jawa Timur tiap Agustusan. Dosa jariah di balik gengsi antardesa, dalih selawatan, hingga perputaran ekonomi di bawah MOJOK.CO
Sehari-hari

Jatim Bergetar Tiap Agustusan: Dosa Jariah Sound Horeg di Balik Gengsi Antardesa hingga Selawatan Sambil Berjoget Seksi

3 Agustus 2026
Hal-hal yang bisa ditemukan di warung madura tapi tidak dimiliki di Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih MOJOK.CO
Catatan

Hal-hal yang Bisa Ditemukan di Warung Madura tapi Tidak Ada di Koperasi Desa (Kopdes), Cukup “Berlainan” jika Disandingkan

28 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Berkaca dari Kasus Yurizal, Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya punya empati MOJOK.CO

Berkaca dari Kasus Yurizal: Kita Sibuk Mengajari Anak Menjadi Pintar sampai Lupa Mengajarinya Berempati

7 Agustus 2026
Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP MOJOK.CO

Selamat Jalan Nasirun: Kisah di Balik Sang Maestro Nggak Mau Punya HP

1 Agustus 2026
Mie Gacoan, desa. MOJOK.CO

Mie Gacoan Oleh-Oleh Wajib Saat Pulang Kampung: Tak Peduli Sudah Dingin dan Keras, Tetap Dinikmati demi Gengsi dan Validasi

5 Agustus 2026
Saat cerita/sambat ke teman berujung adu nasib dengan kalimat maut "Kamu masih mending". Meresponsnya dengan pura-pura tolol ternyata menyenangkan MOJOK.CO

Niat Cerita ke Teman Berujung Adu Nasib: Pura-pura Tolol saat Teman Bilang “Kamu Masih Mending” Ternyata Menyenangkan

6 Agustus 2026
belanja di MR DIY. MOJOK.CO

Celingak-celinguk di MR DIY sambil Dengarkan Jingle yang Candu, Rasanya Damai Sekalipun Tidak Beli Apa-apa

5 Agustus 2026
KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas MOJOK.CO

KAFEIN Gelar Workshop Kritik Film di DIY, Sasar Pelajar hingga Komunitas

3 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.