Getol Kuliah Peternakan Sejak Sarjana hingga S3 di Luar Negeri, Kini Bantu Para Gembala di Kupang Jadi Kaya 

ilustrasi - belajar peternakan mulai dari nol dan bantu gembala sapi jadi kaya. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Seorang ahli peternakan dari Politeknik Pertanian Negeri (Poltani), Kupang, Cardial Leo Penu mendapat dana sebesar Rp350 juta dari LPDP untuk melakukan penelitian langsung bersama masyarakat. Dana itu kemudian dipakai bersama para peternak sapi di Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) untuk mengembangkan pakan ternak.

***

Kupang terkenal sebagai salah satu produsen sapi potong utama di Indonesia. Setiap tahunnya, daerah tersebut berhasil memasok sapi sebanyak 50 hingga 80 ribu sapi untuk dikirim ke Jawa, Kalimantan, Sulawesi, dan lainnya. Artinya, Kupang mampu menyumbang 10 persen dari total produksi sapi dalam negeri.

Namun, angka-angka tersebut sebenarnya telah mengalami penurunan drastis dalam satu dekade terakhir. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 mencatat NTT hanya memiliki 593.636 ekor sapi. Padahal, tahun 2016 lalu, mereka mampu memiliki sapi potong sebanyak 984.508 ekor. 

Akibatnya, penurunan jumlah ternak yang dikirim keluar NTT untuk memenuhi kebutuhan daging nasional tidak dapat dihindari. Sementara Indonesia juga masih melakukan impor sapi sebanyak dua juta ekor hingga 2029 mendatang.

Cardial Leo Penu, seorang ahli peternakan dari Poltani menyebut penurunan produksi sapi di NTT bisa terjadi karena banyak faktor. Mulai dari iklim yang memengaruhi pakan ternak, alih fungsi lahan, hingga kebijakan tata niaga yang ada.  

Belum lagi, lebih dari 90 persen sapi berasal dari peternak lokal berskala kecil. Alhasil, sejumlah faktor cara pemeliharaan termasuk sumber pakan menjadi bergantung 100 persen pada kondisi alam, minim alternatif dan inovasi.

“Sapi-sapi Bali yang dipelihara di peternakan rakyat hanya bertambah sekitar 0,4 kilogram per hari,” ujar ahli Fisiologi dan Nutrisi Ternak, Cardial dikutip dari laman resmi LPDP. 

Dengan pertumbuhan seperti itu, peternak biasanya membutuhkan delapan hingga 12 bulan sebelum sapi siap dijual. Tentu bagi keluarga peternak kecil, waktu selama itu menyebabkan perputaran ekonomi menjadi sangat lambat. Hal inilah yang mendorong Cardial bersama timnya melakukan inovasi dengan mengikuti program Berdikari dari LPDP.

Pakai dana LPDP untuk kembangkan pakan sapi

“Inovasi kami adalah membuat Pakan Konsentrat Kaya Pati, sumber energi berbasis putak,” ujar ahli peternakan, Cardial yang sekaligus kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politani Kupang.

Pertengahan tahun 2025, Cardial bersama timnya dari Politani mengunjungi Desa Merbaun. Desa itu terkenal sebagai salah satu pusat penggemukan sapi di Kabupaten Kupang. Umumnya, satu kepala keluarga mampu mengurus (rata-rata) empat hingga lima ekor sapi.

Cardial Leo Penu. MOJOK.CO
Cardial Leo Penu saat di tempat pengolahan Pakan Konsentrat Kaya Pati hasil risetnya di Poltani Kupang. (Sumber: LPDP)

Tiba di sana, Cardial dan timnya tidak serta-merta melakukan penelitian, tapi berkenalan langsung dengan para peternak yang sebelumnya masih menggunakan cara tradisional. Salah satunya, Okto Amnifu yang merupakan ketua kelompok tani ternak Nekmates di Desa Merbaun. 

Okto yang sudah merawat sapi sejak tahun 2004–mewarisi keahlian orang tuanya berujar, selama bertahun-tahun masyarakat di sana memberikan pakan hijauan terutama daun lamtoro yang tumbuh subur di daerahnya.

Namun, sejak adanya inovasi pakan konsentrat berbasis putak dari peneliti, para peternak semakin untung. Pada periode pertama saja, mereka mampu menjual sapi dengan keuntungan yang meningkat.

“Pendapatan peternak bisa mencapai sekitar Rp2,3 juta per tiga bulan untuk satu ekor sapi,” ucapnya.

Padahal dulu, para peternak harus menunggu hampir setahun untuk menjual sapinya. Dengan memberikan pakan konsentrat berbahan dasar putak pada sapi, penggemukan jadi jauh lebih cepat. 

Hasil belajar peternakan dari S1 hingga ke LN

Cardial sendiri merupakan lulusan Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana yang kini menjadi dosen di Poltani sejak 2006. Ketertarikannya pada nutrisi ternak terus ia dalami hingga jenjang pascasarjana di Australia. 

Ia meraih gelar magister bidang Animal Science dari James Cook University pada 2013 melalui beasiswa John Allwright Fellowship dari Australian Centre for International Agricultural Research (ACIAR), sebelum kemudian menyelesaikan doktoralnya di University of Queensland pada 2023. 

Selama hampir dua dekade mengajar dan meneliti, fokus Cardial konsisten pada upaya mencari sumber pakan yang efisien dan sesuai dengan kondisi lokal dengan iklim yang kering. Lewat program Berdikari yang digagas Direktorat Pendidikan Tinggi Vokasi Sains dan Teknologi (Diktisaintek) dan didanai oleh LPDP, Cardial dan timnya mampu memberikan kontribusi khususnya bagi para peternak sapi di Kupang.

“Ini adalah pendanaan yang paling besar yang pernah kami dapat. Kami dapat Rp350 juta, dan ini membuka ruang bagi kami untuk bisa melakukan penelitian langsung on-farm di masyarakat, bukan lagi di lab,” ujar Cardial.

Pendanaan tersebut memungkinkan keterlibatan lebih banyak ternak, lebih banyak mitra, dan skala penelitian yang sebelumnya belum pernah dilakukan oleh timnya.

“Kalau tidak ada pendanaan ini maka hasil yang kita dapat ini mungkin tidak akan kita dapat. Tanpa LPDP tentu capaian ini masih akan sangat jauh, bahkan mungkin tidak akan pernah kami capai,” lanjutnya. 

Cardial memastikan penelitiannya akan terus berlanjut mengingat masih banyak persoalan lain yang perlu dijawab, termasuk bagaimana mengurangi penyusutan bobot sapi selama proses pengiriman antarpulau sehingga bobotnya tetap optimal dan nilai ekonomi tidak menyusut drastis.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Sukses Tuntaskan S1 Peternakan di UGM, Saya Pilih Abdikan Diri “Mengurus” Sapi di Papua dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version