Didi Kempot, Agus Mulyadi, dan Asal Mula Julukan ‘The Godfather of Broken Heart’

Bapak Patah Hati Nasional muncul di Google Doodle.

Ilustrasi Didi Kempot, Agus Mulyadi, dan Asal Mula Julukan The Godfather of Broken Heart. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Konon julukan “The Godfather of Broken Heart” yang melekat pada Didi Kempot muncul karena sosok bernama Agus Mulyadi. Ia juga sering dihubung-hubungkan dengan kebangkitan karier penyanyi yang sempat meredup.

Hari ini, tepat tiga tahun lalu, 26 Februari 2020, sang maestro mendapat Lifetime Achievement Billboard Indonesia Music Award 2020. Pemilik nama asli Didik Prasetyo ini mendapat penghargaan karena dedikasinya pada kemajuan musik tradisional tanah air. 

Lifetime achievement tersebut merupakan penghargaan terakhir yang ia dapat. Beberapa bulan setelahnya, tepatnya pada 5 Mei 2020 Didi meninggal dunia di usianya yang ke-53. 

Mojok kemudian berbincang dengan Agus Mulyadi, Kamis sore (23/2/2023) di Akal Buku.  Ia bercerita tentang sosok Didi Kempot dan bagaimana kemudian ia disebut-sebut sebagai pemberi julukan “The Godfather of Broker Heart” pada Lord Didi Kempot.

***

Didi Kempot adalah ‘broken heart’ itu sendiri

Agus Mulyadi yang saya temui sore itu, merupakan sosok yang dianggap punya peran sentral memantik kejayaan kedua sosok penyanyi bernama asli Didi Prasetyo ini pada 2019 silam. Kejayaan yang membuat konser Didi penuh dengan anak muda yang mendaku diri cidro asmoro. 

“Terlalu overated kalau bilang aku yang mencetuskan. Kalau mempopulerkan, ya bolehlah,” ujarnya tersenyum. Agus lantas bercerita bagaimana ia kemudian dikenal sebagai orang yang memberi julukan “The Godfather of Broken Heart” itu. 

Tahun 2019, ia mencuit di akun Twitternya, @AgusMagelangan berupa puja-puji kepada Didi Kempot. Agus merasa pujian itu ia tuangkan pada medium dan momen yang sungguh tepat.

Pada cuitan tersebut, alih-alih memberi julukan tersebut, sebenarnya Agus justru berujar, ”Sebutan Godfather of Brokenheart” sebenarnya ini kurang tepat, sebab Didi Kempot adalah broken heart itu sendiri.”

Cuitan di atas merupakan utas yang awalnya, Agus mengutip sebuah unggahan video oleh akun @trialdinoo. Jarkiyo, sosok yang ada di video tersebut, saat wawancara dengan sejumlah media memvalidasi bahwa Agus lah sang pencetus julukan “The Godfather of Brokenheart.”

“Yo padahal, Jarkiyo ki yo koncoku dewe,” kata Agus terkekeh.

Agus dan Jarkiyo memang teman yang dipertemukan lewat Rumah Blogger Indonesia yang bermarkas di Solo. Bagi Agus, Jarkiyo memang suka menyebut-nyebut namanya kalau bicara urusan Lord Didi.

Beberapa waktu kemudian, saat Jarkiyo dan sejumlah rekannya menginisisiasi Munas Patah Hati Nasional di Solo, secara aklamasi Agus didapuk menjadi Penasihat Sobat Ambyar Nasional. Padahal saat itu Agus tidak bisa hadir lantaran sedang prosesi melamar Kalis Mardiasih, kekasih yang kini telah menjadi istrinya.

Lagu paling berkesan

Sore hari  di halaman rumah, lelaki berjaket di hadapan saya ini spontan dan lancar melantukan tembang  “Tulisan Tangan” lagu Didi Kempot yang mengena di hatinya.  

Langite mendhung ing wanci dalu.. 

Nambahi kangene atiku.”

Ia hafal betul setiap penggal lirik lagu itu. Sebab baginya, “Tulisan Tangan” adalah lagu Didi Kempot paling monumental dalam hidup. Lagu itu mengingatkannya pada suatu masa, ketika dirinya tak bisa pulang kampung saat Lebaran. 

“Didi Kempot itu punya lagu yang dekat dengan kita. Dia menggabungkan dua elemen paling nelangsa dalam hidup manusia, patah hati dan kemiskinan,” ujarnya yakin. Dan ia memang selalu yakin saat membicarakan sosok Didi Kempot.

Buat lelaki yang tumbuh dan besar di Magelang ini, adalah hal yang tak lazim, apabila tidak familiar dengan lagu-lagu maestro campur sari asal Solo. Nyaris setiap hari ia terpapar dengan beragam lagunya. Di radio, di hajatan, sampai di konser-konser perayaan HUT daerah sampai partai politik.

Ia mengaku bukan orang yang begitu mengidolakan Didi Kempot sejak lama. Tapi dunialah yang membuatnya mengenal dan kemudian menikmati. Sebab baginya, lagu-lagu itu sangatlah patut untuk dicintai.

Alasan mengapa Didi Kempot jadi melegenda

Buat Agus Mulyadi, parameter seorang musisi atau grup musik pantas menyandang gelar legendaris amatlah sederhana. Saat ada radio yang membuat program khusus untuk memutar lagu-lagu mereka, maka musisi itu pantas jadi legenda.

“Di Magelang ada program radio Dikempongi (Didi Kempot Wahah Wengi). Di Jogja ada Dot ID (Didi Kempot Idolaku),” kenangnya.

Begitulah, mulai dari radio, konser HUT partai, sampai akhirnya, pada suatu waktu di 2014, tanpa sengaja Agus Mulyadi bertemu dengan sosok kelahiran 1966 itu di sebuah hotel. Agus sedang menghadiri acara temu bloger Asia Tenggara. Sedangkan Didi, berada di hotel itu bukan karena mengisi acara.

Jebul dekne bar karaoke. Begitu papasan di dekat pintu. Langsung saja aku ajak foto. Sebuah momen yang kapan lagi bisa terjadi,” kenangnya bungah. 

Begitulah sepenggal kedekatan emosional, seorang mantan redaktur Mojok.co yang kondang itu dengan mendiang Bapak Patah Hati Nasional. Selanjutnya tak pernah ada pertemuan atau tukar sapa. Agus tetaplah Agus, penikmat tembang-tembang “Sewu Kuto” sampai “Lingso Tresno”.

Ketika kejayaan kedua Didi Kempot tiba

Agus menunjukkan beberapa kaos tanda cintanya pada sang maestro. Ada kaos bertuliskan “Konser Ambyar” sampai kaos lengan panjang dengan sablon Paspampot yang merupakan akronim dari pasukan pengamanan Didi Kempot.

“Kalau kaos ini aku dapat dari konsernya Gus Nabil. Saat itu ada guyonan kalau Pakdhe perlu penjagaan, jadinya dibuat kaos seperti ini,” terangnya sambil menjembreng kaos itu.

Agus Mulyadi dengan kaos Paspampotnya. MOJOK.CO
Agus Mulyadi dengan kaos Paspampotnya. (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Usai utas puja-pujinya viral dengan jutaan tayangan viral di Twitter, sosok Didi Kempot muncul lagi ke permukaan dunia hiburan di Indonesia. Itu merupakan gelombang pertama naiknya pamor Didi di tahun 2019. Selepas itu, Ghofar Hilman menyusul datang ke Solo untuk mewawancarai putra seniman Ranto Edi Gudel dalam program Ngobam di kanal YouTube miliknya.

Gelombang kejayaan kedua pun tiba dan berlangsung lama. Jadwal Didi menjadi begitu padat. Sejalan dengan naiknya tarif manggung yang ia dapat. 

Namun, kejayaan kedua yang Didi dapat tentu bukanlah hasil viral semalam. Ia sudah melewati jalan panjang. Konsistensi berkarya di jalan yang terjal. Ia mengawali karir sebagai pengamen di Stasiun Balapan. Sosok pengamen yang konon membuat penumpang sampai menantikan kedatangannya.

Konsistensi dan produktivitas Pakdhe Didi memang tak perlu diragukan lagi. Ia adalah salah satu pencipta lagu paling produktif di Indonesia. Ratusan lagu ia buat, sampai konon ia sendiri lupa lirik bahkan judul beberapa di antaranya.

Lirik lagu yang dekat dengan patah hati dan kemelaratan

Agus pun sebenarnya sudah mengira kalau cuitan yang ia buat akan ramai. “Ya kalau tak pikir-pikir, yo apik sih tweetku,” selorohnya tertawa.

Tapi buat Agus, cuitan itu tak akan mendapatkan respons sebesar itu tanpa rekam jejak Pakdhe Didi yang telah terukir panjang. Orang-orang telah mengakui kebesaran Didi, maka momentum itu hanyalah perkara waktu.

Di antara banyak kekaguman yang ia miliki, Agus punya kesan mendalam tentang cara Didi menggubah lirik. Lagu-lagu yang ia buat begitu dekat dengan patah hati dan kemelaratan.

“Lagu-lagu asmara atau patah hati yang ia nyanyikan hampir selalu mengambil fragmen percintaan yang melibatkan insan-insan melarat yang tak Sentosa,” tulis Agus dalam sebuah artikel di Mojok.

Didi misalnya, punya banyak lagu tentang terminal, stasiun, hingga pelabuhan. Tapi tak punya satu koleksi ciptaan satu lagu pun tentang bandara. 

Pada sebuah kesempatan wawancara langsung bersama Mojok, Didi mengungkapkan kalau bandara itu simbol kemampuan finansial. Perpisahan di bandara, besar kemungkinan akal bertemu lagi karena punya uang. 

“Tapi nek pisahe neng stasiun, pelabuhan, opo meneh terminal, mesti nggrantes, soale le ketemu meneh mesti bakal suwe. Kuwi yo hurung karuan iso ketemu sebab hurung mesti nduwe sangu kanggo bali,” kata Didi Kempot saat diwawancari Mojok yang kebetulan pewawancaranya Agus Mulyadi.

Sosok sederhana The Godfather of Broken Heart

Konser-konser sang maestro lantas berubah. Dulu, Kempoters mayoritas datang dari kalangan berumur. Namun gelombang baru yang muncul membuat konsernya penuh anak-anak muda yang ingin njogeti kesedihannya. Buat Agus, salah satu momen “gong” terjadi saat Pakdhe Didi masuk line up Sychronize Festival 2019.

Didi Kempot juga sosok yang sederhana. Kesaksian mereka yang pernah berjumpa langsung, bahkan tak menyangka, seorang yang begitu besar di layar kaca, tampak begitu bersahaja di depan mereka. Kesederhanaan dan jalan perjuangan hidup di jalanan menempa kepribadian Didi untuk tetap membumi.

Kejayaan kedua sempat Didi rasakan, sampai akhirnya, ia kembali ke pangkuan Yang Maha Kuasa pada 5 Mei 2020. Saat itu sosok yang membuat banyak orang merayakan kesedihan menjadi sumber tangisan.

Pada kejayaan keduanya, Didi sempat mendapat sebuah pengharagaan bergengsi berupa lifetime achievement pada Billboard Indonesia Music Award 2020. Didi mendapatkan itu atas dedikasinya pada musik tradisional.

Itulah penghargaan terakhir yang ia dapat sebelum akhirnya ia mangkat pada usia 53. Usianya yang mungkin masih tergolong muda. Tapi bagi seniman sepertinya, ketika jasad sudah tak ada bumi, karyanya melantun abadi.

Mengenang Didi Kempot dalam Google Doodle

Google Indonesia pada 26 Februari 2022 mencoba mengajak kita semua untuk kembali mengingat kembali jasa Didi Kempot untuk musik tanah air. Google merilis Google Doodle dengan ikon sang maestro. Pemilihan momentumnya bertepatan dengan hari saat Didi mendapat penghargaan terakhir dalam hidupnya.

Communications Manager Google Indonesia, Felliciana Wienathan mengungkapkan ini adalah langkah Google untuk mengingatkan masyarakat dengan hari sang legenda mendapat salah satu penghargaan musik paling bergengsi di Indonesia.

“Kita harus bangkitkan lagi semangat Pak Didi Kempot. Lifetime achievement award itu bukan suatu hal yang mudah didapat. Itu menunjukkan semangat beliau dalam dunia yang ia tekuni,” terangnya Felliciana.

Ia menerangkan, untuk menentukan ikon di Google Doodle, Google mencoba mencari figur atau entitas yang bisa merepresentasikan kultur dan budaya secara tepat. Sekaligus sesuai dengan etos dan prinsip Google yang ingin mengangkat nilai universalitas.

Sebelum Lord Didi, Google Doodle juga pernah menjadikan legenda penyanyi dangdut Indonesia, Ellya Khadam. Selain itu, Google berkomitmen untuk mendukung kemajuan musik, salah satunya lewat platform YouTube.

YouTube menjadi platform yang banyak melahirkan musisi-musisi baru di Indonesia. Termasuk di antaranya menjadi panggung bagi sejumlah penyanyi dangdut dan campursari. Tak akan ada yang bisa menyamai sosok Didi Kempot, tapi barangkali akan lahir-lahir bintang baru yang meneruskan semangat dan konsistensinya.

Reporter: Hammam Izzuddin
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Wawancara Didi Kempot, Penyanyi yang Seharusnya Jadi Ikon Kementerian Perhubungan dan tulisan tentang Didi Kempot lainnya di Mojok.co.

Exit mobile version