ADVERTISEMENT

Ironi Menjadi Maba di Jogja: Dicap Aneh dan Dimanfaatkan Teman karena Dikira Kaya Hanya Karena Berasal dari Jambi

maba di Jogja

Menjadi maba di jogja tentu banyak suka dan dukanya. Suka karena menemui daerah baru, teman baru, juga suasana yang baru. Dukanya adalah dicap aneh karena logat bicara juga ‘dimanfaatkan’ karena dikira kaya hanya karena sawit.

***

Hal itu yang Amel (19) *bukan nama sebenarnya, alami. Mahasiswa baru Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) asal Batanghari, Jambi itu baru pertama kali merantau ke Jogja. Hari-hari pertamanya sebagai maba di Jogja sebenarnya menyenangkan. Namun, di balik kegiatan ospek dan perkenalan dengan teman baru, Amel menemukan persoalan yang tidak pernah ia bayangkan: logat bicaranya menjadi bahan perhatian dan asal daerahnya membuat beberapa teman menganggapnya anak orang kaya.

Amel kemudian menulis pengalaman itu melalui beberapa unggahan di Instagram. Saya menghubunginya setelah membaca catatan tersebut.

Baru merantau, logat Jambi langsung jadi perhatian

Bagi Amel yang asli dari Sumatra, beradaptasi dengan Jogja bukan perkara sekadar mengenal jalan atau mencari tempat makan. Ia juga harus membiasakan diri dengan cara berbicara orang-orang di sekitarnya.

Amel terbiasa berbicara dengan nada yang menurutnya biasa ketika berada di rumah. Namun, ketika membawa kebiasaan itu ke lingkungan kampus, ia merasa teman-temannya melihatnya berbeda.

“Ya kan aku biasanya kek gitu ya kalau di rumah. Kalau di Jogja ini memang perlu adaptasi. Namun karena itu aku dicap aneh, karena suaraku keras dan bahasaku aneh menurut mereka,” ujar Amel kepada saya melalui WhatsApp, Senin (21/9/2026).

Di kelasnya, mayoritas mahasiswa berasal dari Jogja. Beberapa mahasiswa memang datang dari luar daerah, tetapi menurut Amel, mereka kebanyakan berasal dari Jawa Barat atau Jawa Tengah.

Perbedaan logat itu membuat Amel merasa harus lebih berhati-hati ketika berbicara. Bukan karena ia merasa cara bicaranya salah, tetapi karena lingkungan barunya belum terbiasa mendengar aksen seperti yang ia gunakan sehari-hari.

“Kadang aku mikir, ini aku ngomong biasa atau memang kedengarannya keras?” katanya.

Jambi identik dengan sawit, Amel ikut kena imbasnya

Masalah lain muncul ketika teman-temannya mengetahui Amel berasal dari Jambi. Amel bercerita, beberapa teman menghubungkan asal daerahnya dengan perkebunan sawit. Kebetulan, ayah Amel memang bekerja di sektor perkebunan sawit. Namun, bagi Amel, ada perbedaan besar antara bekerja di perkebunan sawit dan memiliki perkebunan sawit.

“Ya memang sih kalau kerjaan ayahku di kebun sawit, tapi kan bukan keluargaku yang punya,” ujar Amel.

Anggapan itu membuat Amel merasa orang-orang di sekitarnya mengira keluarganya memiliki uang lebih banyak daripada kenyataannya.

Kesan tersebut memang tidak sepenuhnya muncul tanpa konteks. Badan Pusat Statistik mencatat sawit sebagai salah satu komoditas paling penting bagi perekonomian Jambi. Pada 2023, luas perkebunan sawit di provinsi tersebut mencapai hampir 1,2 juta hektare dengan produksi lebih dari 2,7 juta ton minyak kelapa sawit.  Tetapi bagi Amel, kedekatan Jambi dengan industri sawit tidak bisa menjadi alasan untuk menganggap semua keluarga asal Jambi kaya.

Data kemiskinan BPS bahkan menunjukkan 6,89 persen penduduk Jambi masih hidup di bawah garis kemiskinan pada September 2025. Karena itu, Amel merasa pengalaman keluarganya tidak bisa disamakan hanya berdasarkan pekerjaan ayahnya.

Ketika stigma “anak orang kaya” masuk ke tugas kelompok

Anggapan soal kondisi ekonomi itu kemudian terasa lebih nyata ketika Amel mengerjakan tugas bersama teman-temannya. Ia beberapa kali mendapat permintaan untuk membeli camilan atau mencetak tugas kelompok. Awalnya Amel tidak mempermasalahkannya. Namun, persoalan muncul ketika teman-temannya tidak mengganti uang yang sudah ia keluarkan.

“Kalau kerja kelompok sering diminta yang beli camilan, katanya diganti ternyata enggak,” kata Amel.

Ia juga sering mendapat tugas mencetak pekerjaan kelompok.

“Kalau ada tugas kelompok yang print pasti aku yang disuruh ngeprint karena katanya aku orang kaya,” lanjutnya.

Bagi Amel, persoalannya bukan sekadar nominal uang untuk membeli makanan atau mencetak tugas. Ia merasa teman-temannya mengambil keputusan berdasarkan anggapan tentang kondisi keluarganya, bukan berdasarkan kesepakatan kelompok.

Saya kemudian bertanya kepadanya, apakah ia pernah langsung menolak permintaan tersebut.

“Kadang aku kepikiran buat tolak, tapi ya tetap kepikiran ‘sih. Takutnya nanti dikira baru kenal sudah dianggap pelit,” jawabnya.

Pengalaman itu pula yang kemudian ia tumpahkan melalui Instagram Story. Ia ingin bercerita tentang hal yang menurutnya mengganggu selama menjalani hari-hari pertama sebagai mahasiswa baru.

Maba di Jogja juga datang dari keluarga biasa

Amel datang ke Jogja untuk kuliah, bukan membawa label sebagai anak orang kaya. Ia juga masih belajar mengatur kehidupan sebagai mahasiswa baru. Baginya, merantau membuat banyak hal harus ia pelajari sendiri, termasuk menyesuaikan diri dengan lingkungan sosial yang baru.

UNY sendiri menerima ribuan mahasiswa baru pada 2026. Untuk jalur SNBT saja, UNY menerima 2.497 mahasiswa dari 60.063 peserta yang memilih kampus tersebut. Pada Agustus 2026, UNY menyambut total 18.850 mahasiswa baru dari berbagai jalur penerimaan.

Artinya, mahasiswa baru yang datang ke Jogja membawa latar belakang yang beragam. Ada yang berasal dari keluarga berada, ada pula yang harus menghitung pengeluaran harian dengan cermat. Amel berharap teman-temannya tidak menjadikan daerah asal sebagai jalan pintas untuk menilai kemampuan ekonomi seseorang.

“Enggak semua orang Jambi kaya,” katanya.

Belajar menjadi orang Jambi di tengah Jogja

Beberapa hari pertama kuliah membuat Amel belajar bahwa merantau bukan cuma soal meninggalkan rumah. Ia juga membawa kebiasaan, bahasa, aksen, dan identitas daerah yang selama ini terasa biasa saja ketika berada di kampung halaman.

Di Jogja, semua itu menjadi sesuatu yang berbeda. Ia masih harus membiasakan diri dengan lingkungan kampus. Teman-temannya juga masih belajar mengenal dirinya. Karena itu, Amel berharap perbedaan tersebut tidak berhenti pada pelabelan.

“Aku cuma pengin dianggap biasa saja. Aku orang Jambi, bukan berarti otomatis kaya,” ujarnya.

Kini Amel masih menjalani masa-masa awal sebagai maba di Jogja. Ia belum tahu berapa lama proses adaptasi itu akan berlangsung. Namun, satu hal sudah ia rasakan: merantau membuat seseorang tidak hanya belajar tentang tempat baru, tetapi juga belajar bagaimana orang lain memandang identitas yang ia bawa dari rumah.

Bagi Amel, logat Jambi mungkin terdengar asing bagi sebagian teman barunya. Pekerjaan ayahnya di perkebunan sawit mungkin juga membuat mereka membayangkan kondisi ekonomi keluarganya. Tetapi baginya, dua hal itu tidak seharusnya menjadi alasan untuk menganggap dirinya aneh atau menjadikannya tempat bergantung ketika tugas kelompok membutuhkan uang.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Ortu Belikan Laptop demi Anak Jadi Mahasiswa Baru di Kampus Negeri, Malah “Dibuang” karena Murahan dan Termakan Gengsi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 22 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Pemuda asli Gamping, Sleman. Menulis isu sosial, pendidikan, dan kehidupan urban.

Exit mobile version