Rawa Kalibayem Bantul, Tempat Uji Coba Kapal Selam Pertama Indonesia yang Kini Jadi Idaman Pemancing

Ilustrasi Rawa Kalibayem Bantul, Tempat Uji Coba Kapal Selam Pertama Indonesia yang Kini Jadi Idaman Pemancing. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Sebuah rawa kecil di Kasihan, Bantul ternyata pernah menjadi tempat uji coba kapal selam mini pertama buatan anak bangsa. Kapal selam yang dibuat dengan mesin mobil Fiat ini rencananya untuk menghadang blokade Belanda di tahun 1947.

Mojok menelusuri kisah tempat bersejarah yang sekarang sudah berubah jadi lokasi mancing favorit bapak-bapak itu.

***

Sejak tiba di jalan raya tepi Rawa Kalibayem, saya yakin jika uji coba kapal selam mini dilakukan hari ini pasti gagal. Sebab, rawa ini terlihat begitu dangkal. Gundukan lumpur tampak di berbagai titik. Permukaan airnya pun tidak terlalu luas.

Namun, sejarah mencatat pada 1948 rawa yang terletak di Ngestiharjo, Kasihan, Bantul ini jadi tempat uji coba sebuah kapal selam kecil buatan Indonesia. Kapal selam itu berukuran 7×1 meter dengan bobot mati sebesar lima ton.

Dari jalan raya saya lalu turun ke pematang rawa. Mendekati para pemancing yang tampak begitu antusias. Terik matahari tengah siang tak menyurutkan puluhan pemancing di berbagai penjuru rawa.

Di tengah rawa terlihat gelembung air yang menyembul-nyembul ke permukaan. Salah satu tanda keberadaan banyak ikan. Kabar bahagia bagi para pemancing.

Namun, ada seorang lelaki yang tampak termenung sambil mengamati para pemancing lain yang sedang mengangkat ikan tangkapan. Di sampingnya, tergeletak alat pancing, tapi ia belum tergerak untuk ikut bersama yang lain.

“Masih mau lihat mereka dulu,” sahut Mujiono (60) warga Sonopakis, Ngestiharjo saat saya ajak berbincang.

Menurutnya, sejak 2019 silam pamor Rawa Kalibayem sebagai spot memancing mulai menanjak. Ada banyak jenis ikan yang hidup di perairan ini. Mulai dari nila, mujair, sampai ikan yang kurang disukai pemancing yakni sapu-sapu.

“Sidat juga ada,” cetusnya.

Perkembangan Rawa Kalibayem dari rawa, sawah, hingga jadi tempat memancing favorit

Hampir 24 jam, menurut Muji, Rawa Kalibayem tak pernah sepi dari pemancing. Mereka datang dari berbagai tempat demi bisa mendapat ikan-ikan yang ada di sini.

Dulunya, sempat ada beberapa pihak yang membawa ikan kemari. Mulai dari komunitas pemancing hingga perguruan tinggi pernah terlibat kegiatan penebaran benih ikan. Pada 2020 lalu misalnya, Departemen Perikanan UGM membawa 20 kilogram benih tawes dan karper. Jenis ikan yang sesuai dengan ekosistem rawa ini.

“Nah jadi sekarang ini benihnya sudah beranak-pinak dan bisa dipancing,” ujarnya.

Muji mengaku mulai tinggal di sekitar Rawa Kalibayem sejak tahun 1990-an. Saat ia datang, kondisi lahan ini bukanlah rawa melainkan persawahan.

rawa kalibayem bantul.MOJOK.CO
Rawa Kalibayem Bantul dengan patung semari di tengahnya (Hammam Izzuddin/Mojok.co)

Namun, lahan kembali beralih menjadi rawa pada 2004 akibat sebuah bencana alam. Kala itu terjadi tanah longsor yang menyebabkan sejumlah rumah warga di Kalibayem, Bantul rusak. Selain itu, perubahan permukaan tanah membuat rawa-rawa kembali terbentuk.

Sejak saat itu, perlahan Rawa Kalibayem Bantul mulai terkenal sebagai tempat mancing. Terlebih, sempat dibangun kawasan wisata yang cukup terkonsep di area ini. Meski saat ini, kondisinya kembali tidak terurus.

Saat sempat menjadi tempat wisata, nama Rawa Kalibayem juga hendak dikonsep ulang menjadi Telaga Semar Seto. Menjadi destinasi wisata menarik di Bantul. Namun, sebelum nama itu menjadi familiar di banyak telinga, pengelolaan tempat wisata ini sudah tidak berjalan dengan baik.

“Itu alasan ada patung semar besar di tengah,” ujarnya sambil menunjuk patung tersebut. Di Google Maps, nama rawa ini juga Telaga Semar Seto.

Baca selanjutnya : Situs bersejarah Keraton Yogyakarta yang jadi saksi kapal selam pertama

Dari situs bersejarah sampai jadi tempat latihan militer

Muji mengaku sempat mendengar sejarah soal Rawa Kalibayem yang menjadi tempat uji coba kapal selam pertama buatan Indonesia. Namun, jauh sebelum itu sebenarnya lokasi ini merupakan bagian dari kompleks bersejarah.

Rawa Kalibayem merupakan situs bersejarah yang konon sudah ada sejak era Sri Sultan HB I. Tak jauh dari lokasi ini terdapat Pesanggrahan Ambarbinangun yang dibangun pada era Sri Sultan HB VI. Pembangunan Pesanggrahan Ambarbinangun selesai pada 1855.

Air dari Rawa Kalibayem pernah digunakan untuk mengairi kolam di pesanggrahan tersebut. Sampai kemudian pada era Sri Sultan HB VII, Rawa Kalibayem tidak dijadikan sumber air kolam itu lagi.

Selanjutnya, pada era Sri Sultan HB IX kawasan sekitar Pesanggrahan Ambarbinangun sempat menjadi pusat latihan pasukan Kaibodan dan Seinedan. Sehingga aktivitas prajurit binaan Jepang itu tak jauh dari Rawa Kalibayem.

Barulah, pascakemerdekaan, Rawa Kalibayem jadi salah satu lokasi penting dalam sejarah militer Indonesia. Jika menilik kondisinya sekarang, mungkin terlihat mustahil sebuah kapal selam berbobot lima ton melakukan uji coba di sini.

“Tapi dulu ada yang cerita kalau dalamnya bisa sampai 20 meter,” kata Muji.

Kapal selam dari truk Fiat untuk mengatasi blokade laut Belanda

Kementerian Pertahanan di awal kemerdekaan ingin punya senjata khusus di lautan yang setidaknya bisa menghadang kapal laut Belanda. Maka, mereka memesan “senjata khusus” pada pabrik senjata yang ada di Yogyakarta.

Mereka memesan sebuah kapal selam mini yang setidaknya bisa untuk menampung satu orang awak sebagai pengendalinya. Lantas seseorang bernama Djodoe Ginagan kemudian menjadi sosok yang mendapat kepercayaan untuk membangun dan melakukan uji coba kapal selam mini pertama di Indonesia.

Djodoe Ginagan, sosok kelahiran Sibolga yang pernah mengenyam pendidikan teknik di Belanda adalah sosok yang menjadi aktor dari uji coba kapal selam pertama Indonesia di Rawa Kalibayem. Ginagan dibantu oleh seorang pegawai perencanaan kapal bernama M Susilo dalam merancang desain kapal tersebut.

Desain rampung pada 1947 dan proses pengerjaan berlangsung di sebuah pabrik besi bernama Watson di Yogyakarta. Modal untuk membuat kapal sela mini memakan biaya 5000 ORI.

Melansir Historia, kapal selam ini punya torpedo sepanjang lima meter. Torpedo warisan Jepang di lapangan Terbang Maguwo yang sebenarnya bukan untuk kapal. Mesinnya juga berasal dari truk mobil Fiat 5 PK.

Kapal selam mini pertama buatan Indonesia disita militer Belanda. (Arsip Nasional Belanda/Historia)

Urgensi pembuatan kapal selam ini berangkat dari upaya mengatasi blokade laut Belanda yang mengganggu armada Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI). Mohammad Hatta yang pada 1948 menjabat Perdana Menteri mengirim  Surat keputusan Nomor A 527/1948 tanggal 23 Juni 1948 kepada Ginagan.

Intinya, perintah untuk segera mengirim kapal selama bermesin mobil Fiat itu kepada KSAL setelah selesai uji coba.

Kapal selam yang gagal berlayar di laut

Ginagan memimpin langsung proses uji coba di Rawa Kalibayem. Ia menjadi awak yang menyelam dengan kapal selam mini di keruhnya air rawa tersebut.

Pada proses uji coba, kapal selam itu berhasil mengapung sekaligus menyelam. Namun, sempat ada insiden ketika torpedo diluncurkan. Torpedo itu justru menyeret kapalnya lantaran tidak bisa lepas dari pengikat.

Uji coba itu menunjukkan kapal selam dengan mesin dari mobil Fiat itu masih perlu penyempurnaan. Sayang, tak lama setelah itu Belanda berhasil menduduki Jogja. Kapal selam itu pun disita oleh serdadu militer Belanda sebelum akhirnya bisa menyelam di lautan dalam.

Pihak Belanda sampai terheran-heran setengah mengejek dengan proyek pembuatan kapal selam mini bermesin truk Fiat tersebut. Mereka menyebut, Indonesia tengah mencoba membuat kapal selam mini dari bahan drum bekas.

Kendati begitu, Rawa Kalibayem tetap tercatat sebagai lokasi bersejarah bagi perkembangan TNI AL. Perancangnya, Ginagan pun masih berdinas di ALRI sampai akhirnya pensiun pada 1961.

Kisah itu sudah terlampaui lebih dari setengah abad lalu. Kini, Rawa Kalibayem menjadi tempat para pemancing mencari kebahagiaan dari ikan-ikan yang hidup di dalamnya.

Penulis : Hammam Izzuddin
Editor  : Agung Purwandono

BACA JUGA Alun-alun Utara vs Alun-alun Selatan, Warga Jogja Ungkap Mana yang Lebih Berkesan Sebelum Perubahan Terjadi

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Exit mobile version