Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Nasib Orang Wedi Kerja di Luar Negeri: Orang Tua di Klaten Malah Dianggap Punya Tuyul

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
16 Februari 2024
A A
Nasib Orang Wedi Kerja di Luar Negeri: Orang Tua di Klaten Malah Dianggap Punya Tuyul MOJOK.CO

Ilustrasi Cerita Orang Kaya Baru di Wedi Klaten yang Dikira Pelihara Tuyul. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Bekerja keraslah sampai kamu dikira punya pesugihan. Kalimat tersebut mengena sekali dengan cerita dari Deva, perempuan kelahiran Wedi, Klaten. Gara-gara kaya mendadak dan sering renovasi rumah, tetangga malah mengira orang tuanya punya tuyul.

***

Iklan

Deva, perempuan 32 tahun ini empat tahun yang lalu mengadu nasib ke Amerika Serikat. Tujuannya cuma satu. Ingin mengangkat derajat keluarganya yang tinggal di sebuah dusun di Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah. 

“Awalnya mau cari beasiswa, tapi kok nggak dapat-dapat, terus cari pekerjaan di sana,” katanya. 

Sebagai bentuk janjinya untuk mengangkat derajat keluarga, Deva rutin menyisihkan sebagian gajinya sebagai pegawai negeri di negara bagian Texas. Semua baik-baik saja, sampai kemudian ibunya mengirim pesan, menceritakan peristiwa yang ia alami di kampung kelahiran Deva di Wedi, Klaten.

“Ibuku cerita, ia beli sayur ke Budhe tukang sayur keliling yang pakai sepeda. Nah, pas penjual itu nerima duit dari ibuku, uang itu dipisah dari uang-uang pembeli lainnya,” cerita Deva pada Mojok, Selasa (12/2/2024). 

Awalnya ibu Deva masih belum merasa ada yang aneh. Namun, penjual sayur itu ternyata bukan hanya memisahkan uang yang ia terima, tapi juga membentuk uang dari ibu Deva menjadi semacam contong. 

Tentu saja, ibunya Deva kaget. “Lhoh budhe kok ngoten to. Kok duitku diconthong ki karepe jenengan pripun, (Loh Budhe, kok seperti itu, uangku kenapa dibuat contong, maunya kamu apa?” kata Deva menirukan omongan ibunya pada penjual sayur. 

Penjual sayur mengira pembelinya pelihara tuyul

Jawaban dari budhe penjual sayur membuat kaget ibu Deva. Tanpa basa-basi, penjual sayur tersebut mengatakan jika ibu Deva memelihara tuyul sebagai pesugihan. 

“Alasannya ibuku kaya mendadak. Nggak ngerti po yo, anaknya itu kerja di Amerika,” kata Deva dengan emot tertawa. 

Deva bercerita, ibunya hampir ribut mendengar omongan langsung dari ibu penjual sayur. “Eallah budhe kulo seprono seprene tumbas nggene jenengan. Kok yo jenengan ngarani kulo ngingu tuyul,”  kata Deva menirukan omongan ibunya. 

Rupanya, ibu penjual sayur tersebut mendengar desas-desus tersebut juga dari tetangganya yang lain. Deva sebenarnya tidak heran kalau tetangga-tetangganya maupun tukang sayur di Wedi, Klaten ngrasani keluarganya punya pesugihan tuyul. 

Ini karena Kabupaten Klaten itu memang terkenal dengan cerita soal pesugihannya. Misalnya saja, Sendang Kucur di Kecamatan Bayat yang nggak jauh dari rumahnya dikenal sebagai tempat mencari tuyul. 

Ilustrasi Cerita Orang Kaya Baru di Wedi Klaten yang Dikira Pelihara Tuyul. (Mojok.co)

Bahkan di Kecamatan Trucuk, juga ada pohon yang masyarakat menganggapnya sebagai kerajaan tuyul sehingga jadi jujugan orang-orang yang mencari pesugihan. Rumahnya juga nggak terlalu jauh dengan sedang yang terkenal dengan bulusnya yang juga lekat dengan mitos mencari pesugihan. 

Iklan

Ia kemudian berpesan ke ibunya untuk jangan pamer. Karena bisa berakit orang-orang pada iri. “Ibu juga senangnya suudzon, kalau ada tetangga kaya mendadak itu karena pesugihan. Sekarang kena karma karena tetangga mengira pelihara tuyul,” kata Deva tertawa. 

Deva bercerita, mungkin bude penjual sayur itu semakin yakin ibunya pelihara tuyul setelah ada mobil baru di rumah. Deva memang mengaku membelikan mobil untuk keluarganya di Wedi, Klaten. Tujuannya karena kedua orang tuanya sudah sepuh, harapannya bisa mempermudah kalau mau bepergian. 

“Tapi yo mosok, punya tuyul beli mobil. Kalau sampai punya mobil, minimal (pesugihan) buto ijo lah,” kata Deva tertawa. Karena setahunya, orang-orang yang memelihara tuyul itu nggak kaya-kaya banget.

“Tuyul kan tidak bisa menghasilkan uang banyak,” lanjut Deva tertawa.

Di Wedi Klaten, sering renovasi rumah tetangga mengira punya pesugihan kandang bubrah

Bukan hanya mengira memelihara tuyul, beberapa oknum tetangganya juga mengira keluarga Deva punya pesugihan kandang bubrah. 

Tidak seperti pesugihan lain yang pesugihan ini konon tidak mensyaratkan pelakunya untuk memberikan tumbal. Pesugihan kandang bubrah mensyaratkan pelaku pesugihan harus terus merenovasi, membangun, atau menambah bagian rumah miliknya setiap waktu tertentu. Jika keluarga tersebut tidak melakukannya, maka pelaku atau anggota keluarga pelaku akan mengalami celaka.

“Nah, keluargaku itu sering renovasi rumah. Padahal aku kalau kirim uang ke bapak nggak banyak-banyak. Misalnya, 10 juta gitu loh, sama bapakku kemudian untuk renovasi kecil-kecilan,” kata Deva. 

Karena uangnya tidak cukup untuk melakukan renovasi langsung, maka baru ketika ia kembali mengirim uang, renovasi kembali jalan. Sehingga orang melihat jika rumahnya terus menerus melakukan renovasi sehingga ada oknum warga yang menilai keluarganya di Wedi Klaten punya pesugihan kandang bubrah. 

“Sudah sering bapakku sama orang dibilangin, ‘njenengan kok dandan-dandan rumah nggak selesai-selesai. Setahun dandan-dandan omah terus’,” kata Deva. 

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Dokter yang Indigo: Diganggu Hantu Usil hingga Melihat yang Mati karena Pesugihan

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Terakhir diperbarui pada 18 Februari 2024 oleh

Tags: klatenOrang Kaya Barupesugihantuyulwedi
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

KOMSAH: Sejahterakan petani di Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

Tinggalkan Profesi Dokter untuk Jadi Penasihat Kelompok Tani, Optimalkan Anugerah Tanah Klaten yang Subur

20 Juli 2026
Beralih dari profesi dokter ke petani di Klaten dan dirikan KOMSAH. MOJOK.CO
Sosok

Resah Jadi Dokter: Tangani Pasien Petani dengan Keluhan Sama, Pilih Turun ke Sawah demi “Menyembuhkan” Tanah

13 Juli 2026
Jumirah dan suami merupakan pemulung di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Eksplor

“Nrimo ing Pandum” ala Ibu Jumirah: Berteman dengan Belatung dan Diabetes di Tengah 150 Ton Sampah Residu Warga Klaten

12 Juli 2026
Truk sampah di TPA Troketon, Klaten. MOJOK.CO
Bidikan

Mengais Asa di TPA Troketon, Benteng Terakhir Penghidupan Warga Klaten

10 Juli 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Milenial di Job Fair Yogyakarta 2026 cari peluang kerja di luar negeri. MOJOK.CO

Muak dengan Syarat Kerja di Indonesia: Gaji Numpang Lewat hingga Terbatas Usia, Milenial Pilih Cari Kerja ke Luar Negeri

16 Juli 2026
Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa "Mungkin Ada Benarnya" ke Jogja.mojok.co

Menertawakan Polemik Sosial, Arie Kriting Siap Bawa “Mungkin Ada Benarnya” ke Jogja

16 Juli 2026
Ketika Syarat "Sehat Jasmani dan Rohani Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja.MOJOK.CO

Ketika Syarat “Sehat Jasmani dan Rohani” Menjadi Tembok Diskriminasi yang Menjegal Difabel di Bursa Kerja

17 Juli 2026
Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan MOJOK.CO

Daripada Acungkan Senjata di Jalan, Remaja Kreak Semarang Lebih Baik Naik Ring Adu Pukulan

16 Juli 2026
Pom mini warung madura kini jadi solusi di tengah antrean panjang SPBU yang tidak masuk akal MOJOK.CO

Strategi Hindari Antrean SPBU Tak Efektif Lagi, Isi Bensin di Pom Mini Warung Madura Jadi Solusi Asal Tak Pakai Logika Takaran

18 Juli 2026
Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif MOJOK.CO

Sudah Berani Menyapa Teman-temannya, Murid ABK Malah Dianggap Tak Ada meski Berada di Sekolah Inklusif

21 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.