Series “Trio Bintang Lima”: Saat Arwah Eyang Turun Tangan Ingatkan Gen Z yang Lupa Soal Tata Krama Orang Jogja

ilustrasi - Series Trio Bintang Lima karya Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Series berjudul “Trio Bintang Lima” bakal segera tayang di YouTube resmi Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. Ceritanya mengangkat soal empan papan yang merupakan nilai hidup orang Jogja. Baik wisatawan maupun perantau yang hendak tinggal di Jogja sudah sewajarnya menerapkan nilai tersebut dalam kesehariannya. Termasuk warga Jogja, khususnya anak muda yang dinilai lupa dengan nilai luhur mereka.

Sinopsis series “Trio Bintang Lima”

Series “Trio Bintang Lima” menceritakan sebuah homestay sederhana di Jogja yang nyaris bangkrut usai pemiliknya meninggal. Homestay yang tadinya selalu mendapat peringkat bintang lima itu, kini dikelola oleh anak muda bernama Kevin (diperankan oleh Kevin Abani) yang merupakan cucu dari pemilik tersebut.

Kevin sebetulnya sudah lama merantau ke Jakarta. Namun, setelah Eyangnya (Dyah Mulani) meninggal, ia memutuskan balik ke Jogja untuk meneruskan bisnis homestay milik Eyangnya itu bersama dua orang kawannya, yakni Indah (Elissa Knapp) dan Obi (Yakobus Rixon Sangur).

Indah merupakan teman kecil Kevin yang juga dekat dengan almarhum Eyang. Sementara, Obi adalah orang berdarah Papua yang sudah lama bekerja di homestay itu sebagai petugas kebersihan.

Konpers Trio Bintang Lima. MOJOK.CO
Dari kiri, Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Yetti Martanti, Produser Siska Raharja, Sutradara Lanang Gigih dalam pemutaran perdana series Trio Bintang Lima. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Bersama keduanya, Kevin mengupayakan agar homestay milik Eyangnya itu tetap berjalan bahkan kalau bisa lebih ramai dibanding biasanya. Ia pun tak segan melakukan diskon besar-besaran dan menyewa seorang influencer terkenal untuk mempromosikan homestay-nya. 

Sayangnya, upaya Kevin untuk mempertahankan peringkat homestay itu tak berjalan mulus. Sampai kemudian ia sadar, ada sebuah rahasia yang biasa dilakukan oleh Eyangnya sehingga homestay-nya ramai.

Rahasia itu terungkap secara tak sengaja saat Obi tersengat listrik dan kerasukan arwah eyang Kevin. Saat itulah Eyangnya memberitahu kalau Kevin tak boleh melupakan nilai empan papan yang dipelajarinya selama ini sebagai warga Jogja.

Nilai empan papan yang mulai dilupakan warga Jogja

Series “Trio Bintang Lima” menggambarkan nilai empan papan dengan penuh jenaka sehingga tidak terkesan menggurui penonton. Nilai tersebut mengajarkan masyarakat agar mampu menempatkan diri secara tepat sesuai situasi, kondisi, tempat, dan waktu.

Nilai empan papan sendiri meliputi kemampuan membaca tanda zaman, empati sosial, penyesuaian diri dengan norma atau tata krama, menjaga keseimbangan artinya tahu batas kewajaran dalam bersikap, serta kebijaksanaan dalam bertindak agar tidak berlebihan.

Kepala Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Yetti Martanti sekaligus penanggung jawab series menjelaskan, nilai empan papan dalam series dapat dilihat dari perubahan sikap Kevin yang tadinya cuek, menjadi lebih perhatian dan ramah kepada pelanggan homestay.

Para pemain series “Trio Bintang Lima”. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Nilai keramahtamahan Jawa yang diangkat dalam series ini, kata Yetti, bukan sekadar praktik keseharian, melainkan bagian dari etika hidup masyarakat Yogyakarta yang bersumber dari filosofi aruh (menyambut dengan ramah), gupuh (sigap menyambut), lungguh (mempersilakan duduk), dan suguh (menyuguhkan hidangan).

“Nilai-nilai itu adalah jati diri Jogja. Melalui film, pesan kebudayaan dapat menjangkau generasi muda dengan bahasa zamannya tanpa kehilangan makna dasarnya,” kata Yetti dalam acara pemutaran perdana series Trio Bintang Lima di Ruang Science Theater Taman Pintar Yogyakarta, Kamis (22/1/2026).

Tontonan edukasi yang menghibur dan penuh nilai

Tak hanya sebagai pengingat tentang nilai empan papan khas masyarakat Jogja, series “Trio Bintang Lima” juga mengungkap alasan kenapa Jogja begitu dicintai oleh pendatang. Salah satunya karena keramahtamahan orang Jogja yang terbuka dengan budaya luar.

“Simbolnya bisa dilihat langsung dari pemilihan tokoh bernama Obi yang merupakan orang Papua. Bahwa Jogja juga berisi masyarakat yang plural. Lalu, homestay menjadi titik temu banyaknya perbedaan budaya,” jelas Siska Raharja selaku produser series Trio Bintang Lima.

Simbol-simbol penuh makna itu kemudian dibalut dengan genre drama komedi melalui arwah Eyang Putri yang hadir kembali merasuki tubuh Obi. Melalui pendekatan tersebut, nilai empan papan, unggah-ungguh, dan sikap hidup masyarakat Yogyakarta bisa disampaikan secara ringan, membumi, dan dekat dengan keseharian.

Poster “Trio Bintang Lima”. (Sumber: Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta)

“Kami memilih format komedi karena sifatnya adaptif dan bisa dinikmati oleh berbagai usia. Cerita disampaikan dengan cara yang dekat, ringan, dan tidak menggurui,” ujar Sutradara sekaligus penulis series Trio Bintang Lima, Lanang Gigih.

“Dalam budaya Jawa, orang yang telah meninggal sering kali tetap ‘hadir’ melalui wejangan, kebiasaan, dan rasa yang diwariskan. Masuknya arwah Eyang ke tubuh Obi adalah metafora bahwa nilai-nilai lama hidup kembali melalui generasi yang mau mendengarkan,” timpal Siska.

Siska juga menjelaskan bahwa format series dipilih untuk memberi ruang bagi perkembangan karakter secara lebih organik dan berlapis. Di mana, ada 8 episode dengan durasi sekitar 8 menit yang akan segera tayang di YouTube.

Melalui series Trio Bintang Lima, Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta berharap masyarakat, khususnya generasi muda, dapat memandang kebudayaan sebagai sesuatu yang hidup, relevan, dan dapat terus dirawat tanpa kehilangan akar nilai.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Film “Sore: Istri dari Masa Depan” Memberi Penyesalan, Harapan Semu, dan Dendam pada Kehidupan Rumah Tangga di Masa Lalu atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version