Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Ragam

Sebuah Etalase Kaca Berisi Nasi Gratis yang Menyambung Hidup Orang-orang Jogja yang Kelaparan di Jalan Kaliurang

Agung Purwandono oleh Agung Purwandono
7 Februari 2024
A A
Sebuah Etalase Kaca Berisi Nasi Gratis yang Menyambung Hidup Orang-orang Jogja yang Kelaparan di Jalan Kaliurang MOJOK.CO

Ilustrasi Sebuah Etalase Kaca Berisi Nasi Gratis yang Menyambung Hidup Orang-orang Jogja yang Kelaparan di Jalan Kaliurang. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Alasan warung makan sisihkan nasi, sayur, dan lauk untuk yang kelaparan

Saya lantas makan siang di Warung Mba Arie. Ia membenarkan setiap hari ia mengirim nasi bungkus yang berisi nasi, sayur, dan lauk. “Sebelum warung tutup biasanya saya lihat. Kalau ada yang belum habis, saya bungkus terus saya bawa kesana. Eman-eman kalau nggak ada yang makan,” kata Arie. 

Kadang bahkan menurut Arie, belum nasi bungkus itu sampai di etalase kaca, sudah ada ojol yang nyegat. “Mungkin karena sudah lapar, takut nggak kebagian di sana,” katanya. 

Iklan

Selain rutin mengisi nasi bungkus di etalase kaca, Mba Arie juga setiap Jumat pagi antara jam 6 sampai jam 7 pagi memberikan pecel gratis bagi yang makan di warungnya. “Kalau hari Jumat di etalase kaca kami ngasih sore karena pagi sampai siang biasanya sudah banyak yang ngasih. Jadi biasanya buat orang yang pulang kerja atau mahasiswa, tapi ojol memang paling banyak,” kata Arie.  

Salah seorang driver ojol yang tidak mau menyebutkan namanya mengatakan, Pojok Nasi Gratis setahunya ada di beberapa tempat. Namun, memang tidak ada pengelolanya secara khusus.

Mba Arie di depan warungnya, setiap sore ia mengirimkan nasi bungkus di etalase kaca Pojok Nasi Gratis. (Agung P/Mojok.co)

Saya menemukan akun Instagram di salah satu tulisan yang ada di etalase kaca. Akun Instagram @makan_bareng.id itu terlihat sudah tidak aktif sejak tahun 2022. Namun, dari postingannya memang akun ini yang mengelola etalase kaca Pojok Nasi Gratis. 

Berawal dari ide seorang mahasiswa Filsafat UGM

Saya kemudian terhubung dengan Ganiswara Afif Charisma (27) yang menginisiasi Pojok Nasi Gratis ini. Ganis sendiri merupakan alumni Jurusan Filsafat UGM yang kini merintis menjadi entrepreneur dengan membuka usaha kerajinan kulit “Charisma”, usaha video dan fotografi “Harumasa”, serta bekerja membantu di sebuah lembaga training consultant. 

Menurut Ganis, etalase itu ia buat di tahun 2021. Saat itu efek pandemi masih sangat terasa. Di Jogja banyak gerakan orang-orang yang membagi nasi secara langsung ke orang-orang yang terlihat membutuhkan seperti tukang becak, petugas parkir dan lainnya. 

“Saya kepikiran, bisa jadi orang-orang yang berseragam seperti pekerja itu juga tidak punya uang untuk makan. Jadi saya berpikir untuk buat ruang aman, orang bisa mengisi makanan, tapi juga bisa mengambil,” katanya, Rabu (7/2/2024).

Ia lantas membuka crowdfunding dengan teman-temannya. Hasilnya ia buat menjadi etalase kaca. “Kami pilih di Jalan Kaliurang karena dulu nggak banyak program bagi nasi di tempat ini. Kami dulu membagi nasi juga biasanya di daerah selatan atau pinggiran,” kata Ganis.

Awalnya, Ganis dan kawan-kawan menggalang donasi. Namun, kemudian ia melihat masyarakat bisa mandiri, berjalan tanpa dipandu. Sesuai rencana mereka, masyarakat tergerak mengisi sendiri.
“Masih ada donatur yang menyumbang ke kami. Biasanya kami meminta Ibu Tini untuk membuat masakan sesuai dengan pesanan donatur, kemudian makanan itu kami letakan di etalase,” kata Ganis. 

Ingin bukan hanya etalase, tapi juga kulkas berisi sayuran gratis

Ibu Tini ini adalah orang yang Ganis percaya untuk memasak makanan ketika ada donatur. Selain Ibu Tini, Ganis juga menyerahkan pengawasan etalase ke Mas Asro, seorang tukang servis jam tak jauh dari tempat etalase nasi gratis. Mas Asro ini juga yang bertugas meletakan nasi gratis jika ada permintaan dari donatur.

“Melihat bahwa etalase ini berguna untuk membantu orang lain tentu senang. Hati saya senang ketika melihat orang-orang bisa mengisi, bisa muncul kesadaran diri dari masyarakat. Memang tujuan awalnya seperti itu,” kata Ganis. 

Ia sebenarnya ingin makin banyak etalase. Bahkan bayangannya bukan hanya etalase, tapi juga kulkas, yang berisi sayuran atau bahan makanan. “Jadi tidak akan ada bahan makanan yang terbuang, sayur yang tidak termasak. Orang butuh tinggal ngambil. Orang yang punya kemampuan lebih bisa menyisihkan sedikit, yang kekurangan tidak akan khawatir,” kata Ganis. 

 

Iklan

Penulis: Agung Purwandono
Editor: Hammam Izzuddin

BACA JUGA Nestapa di Kota Pendidikan, Merekam Kisah Mahasiswa Kelaparan yang Berharap Sebungkus Nasi

Cek berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

 

Halaman 2 dari 2
Prev12

Terakhir diperbarui pada 7 Februari 2024 oleh

Tags: jalan kaliurangkelaparannasi gratisojolpilihan redaksi
Agung Purwandono

Agung Purwandono

Jurnalis dengan pengalaman lebih dari dua dekade yang menekuni penulisan feature dan jurnalisme naratif. Punya ketertarikan pada kisah-kisah manusia yang jarang mendapat sorotan.

Artikel Terkait

ngaji al-qur'an.MOJOK.CO
Kabar

Promosi Miras Pakai Hafalan Al-Qur’an: Diklaim Lecehkan Agama, Berpotensi Mengulang Blunder Hollywings 

11 Agustus 2026
Apem ya qowiyyu: kue apem khas Jatinom Klaten berusia 400 tahun. Bukan sekadar warisan kuliner tradisional tapi simbol kesalehan sosial MOJOK.CO
Eksplor

Apem Ya Qowiyyu: Kue Khas Jatinom Klaten Berusia 400 Tahun, Bukan Semata Warisan Kuliner tapi Kesalehan Sosial

10 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO
Catatan

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
Tangan-tanga pembuat apem ya qowiyyu: alasan kue tradisional khas Jatinom, Klaten, tak lekang waktu MOJOK.CO
Eksplor

Tangan-tangan Pembuat Apem Ya Qowiyyu: Alasan Kue Tradisional Jatinom Klaten Tak Lekang Waktu

4 Agustus 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X bertemu dengan tim KKP membahas program budi daya ikan tematik. (Sumber: Humas Pemda DIY)

64 Lokasi di Kalurahan DIY Kecipratan Jatah Program Budi Daya Ikan Tematik dari KKP

5 Agustus 2026
Pengamen di Jalan Malioboro Jogja kayak orang malak MOJOK.CO

Saya Jauh Lebih Rispek ke Pengamen Lampu Merah di Jogja daripada Pengamen Malioboro karena Dua Alasan

6 Agustus 2026
El Nino.MOJOK.CO

Ancaman El Nino Kuat Intai Indonesia, Waspada Kekeringan Ekstrem dan Kebakaran Hutan

11 Agustus 2026
Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan MOJOK.CO

Natalius Pigai Menyarankan Buku Karangan Orang Barat, Baiklah Saya Pilihkan

10 Agustus 2026
Alumnus Peternakan UMM Kerja Jadi Manager di Australia. MOJOK.CO

Dulu Kuliah Tanpa Punya Laptop, Alumnus UMM Ini Buktikan Bisa Kerja di Australia sebagai Manajer Peternakan

11 Agustus 2026
Wali Kota Surakarta, Respati Ardi, pastikan jaga Lokananta Bloc sebagai kawasan ramah anak MOJOK.CO

Wali Kota Surakarta Pastikan Jaga Lokananta Bloc sebagai Kawasan Ramah Anak dan Ruang Kreatif Anak Muda

9 Agustus 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.