Bekerja di tanah asal menjadi salah satu kelebihan, tidak terkecuali untuk gen Z. Tidak perlu mengeluarkan biaya khusus untuk tinggal karena ada rumah orang tua (ortu), tidak perlu memikirkan makan karena masuk tanggungan. Juga, tidak perlu terlalu khawatir soal transportasi. Ada kendaraan yang sudah tersedia, atau orang tua yang bisa mengantarkan sesekali.
Namun, kerja dari kota yang sama dengan yang didiami keluarga melahirkan beban tersendiri. Data juga menunjukkan kerentanan anak yang mengalami gangguan mental tinggal bersama keluarga, dengan gen Z yang memperoleh persentase paling tinggi. Alhasil, pergi memang bukan menjadi solusi, bahkan terkesan melarikan diri, tetapi mampu membantu menjaga kewarasan diri.
Gen Z lebih menyadari kondisi rumah yang kurang baik
Sebagai salah satu dari penghuni sebuah tempat, kesadaran terhadap kondisi tempat tersebut sudah melekat utuh. Setidaknya bagi Salma (24) yang mengakui, rumahnya bukanlah tempat yang nyaman untuk ditinggali terlalu lama.
“Ibuku mengalami masalah kondisi kesehatan, sudah lama. Begitulah, rumah kurang kondusif,” katanya, Kamis (5/2/2025).
Salma menceritakan, kedua orang tuanya masih lengkap. Dia juga berasal dari keluarga yang utuh. Tapi, frasa “utuh” menjadi cukup kompleks apabila diartikan dari sudut pandang Salma. Menurut KBBI, utuh berarti sempurna sebagaimana adanya atau sebagaimana semula (tidak berubah, tidak rusak, tidak berkurang). Lain dengan kamus Salma, baginya makna utuh terpenggal pada “sebagaimana adanya”. Bisa jadi adanya adalah telah berubah, telah rusak, atau berkurang. Toh, begitulah adanya.
Bermula dari kondisi kesehatan ibu yang kian serius, keluarga utuhnya menjadi sebagaimana sebuah keluarga yang berusaha untuk melengkapi peran-peran yang perlahan mulai kosong. Utamanya, bapak mencoba mengambil alih.
“Ketika ibu nggak ada, bapak yang jadi mendominasi di rumah,” kata Salma.
Ada dominasi peran orang tua dalam mengepalai keluarga
Absennya ibu dalam beberapa bagian besarnya membuat bapak menjadi sosok yang lebih berkuasa. Setidaknya, Salma mengatakan, bapak tidak jarang bertitah untuk kehidupannya.
“Kalau bisa, bekerja di rumah aja. Bantu ngurus rumah,” kata Salma.
Di sinilah, dilema Salma mencuat. Dia menyadari kondisi rumah yang kurang baik, bahwa bapak mungkin juga kelelahan dalam berperan ganda. Namun, kondisinya menjadi serbasalah: memilih untuk bekerja (sekaligus mengurus) rumah atau bekerja dengan lebih fokus sendiri di luar kota.
Merantau sedari kuliah, bisa jadi melarikan atau mewaraskan diri
Yang sebenarnya, Salma sudah menyimpan kegelisahannya sejak lama. Dia telah meninggalkan rumah sejak kuliah, meredam bibit-bibit perenungan panjang soal keluarga atau karier yang harus dipikirkan beberapa tahun mendatang.
Begitu saatnya tiba, bekerja di luar Kota Purwokerto yang menjadi daerah asalnya bisa dengan mudah dibenarkan melalui alasan sebab sudah berkuliah di Yogyakarta. Kampus negeri pula. Rasanya, bisa dibayangkan orang awam akan lebih mudah menerima alasan tersebut tanpa mengulik lebih dalam.
Itulah yang meninggalkan Salma pada alasan sebenarnya yang coba disembunyikan, “Karena kondisi rumah nggak ideal. Menjaga kedekatan dengan tetap ada jarak juga menjaga kewarasan,” kata Salma.
Keresahan Salma tidak hanya dialaminya seorang diri. Pertimbangan untuk tidak berada dalam jarak terlalu dekat dengan keluarga pun valid. Data Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022, melalui olahan Harian Kompas, menunjukkan sebanyak 1.719.844 juta orang yang tinggal bersama dalam keluarga utuh mengalami gangguan kesehatan mental. 587.342 orang di antaranya adalah anggota keluarga berstatus anak.
Bagi anak seusia Salma, data dari sumber yang sama bahkan mencatatkan bahwa anak yang mengalami gangguan mental di keluarga utuh paling banyak berasal dari generasi Z kelahiran tahun 1997 hingga 2012 sebesar 40,7 persen. Alhasil, pergi memang bukan menjadi solusi, terkesan melarikan diri, tetapi mampu menjaga kewarasan diri.
Gen Z tidak lantas lari dari tanggung jawab ketika bekerja
Bagaimanapun, Salma menyadari tanggung jawabnya sebagai anak. Sekalipun tidak berada di rumah yang sama dengan keluarganya, Salma mengatakan dirinya mempunyai siasat sendiri untuk terlibat dalam keluarga. Dia mengupayakan tetap hadir.
Salah satunya, diwujudkan melalui kepulangan secara rutin ke rumah. Setidaknya dua kali dalam sebulan, Salma akan mengunjungi rumah pada akhir pekan, dan ini sudah berlangsung sejak dirinya kuliah.
Orang-orang biasa menyebutnya dengan istilah nglaju untuk pulang pergi dari rumah ke tempat tujuan, tapi, mendengarkan cerita pulang pergi pada akhir pekan rasanya perlu dihargai sama. Bayangkan, menempuh setidaknya dua jam perjalanan dan mengeluarkan sedikitnya Rp70 ribu untuk tiket kereta satu kali perjalanan bukan sesuatu yang bisa dipandang remeh. Salma harus menyisihkan Rp280 dalam sebulan, empat hari dari delapan libur yang dimiliki, dan waktu istirahat yang bisa diperolehnya sebelum kembali pada rutinitas.
“Karena sudah bekerja, sesekali aku juga bantu untuk membeli kebutuhan. Aku kirim ke rumah, aku juga keep in touch dengan keluarga,” kata Salma.
Berada di persimpangan keinginan pulang, bakti, dan karier
Meski sudah berusaha semampunya, tidak lantas menghilangkan beban moral dari pundak Salma. Usahanya berkontribusi secara finansial dan membagikan waktu istirahat masih belum terasa cukup, sesekali terlintas pikiran untuk benar-benar kembali ke rumah dan mengikuti kata orang tuanya.
“Kalau menyeimbangkan pikiran dan perasaan, aku sering kepikiran, apa kerja di rumah aja? Kayak kata Bapak?” katanya.
Namun, di sisi lain, pertanyaan itu berbenturan dengan pertanyaan lain, “Kalau begitu, apa aku harus menjadi ibu aja? Atau menjadi apa yang aku mau?” pungkas Salma.
Bukan hanya dirinya, perempuan kelahiran 2001, Resti (24), mengamini berkurangnya beban yang didapatkan apabila merantau tanpa mengelak kenyamanan rumah yang mungkin saja mengubah keputusannya untuk bekerja di luar kota. Perempuan yang meninggalkan Sidoarjo untuk bekerja di Mojokerto itu juga menuturkan keinginannya untuk bekerja di rumah apabila memungkinkan.
“Sebenarnya kalau rumah aman, nyaman, dan tenang mah enak di rumah ya. Ngapain kita merantau? Tapi, ya,” kata Resti, Kamis (5/2/25).
Resti menyadari posisinya sebagai seorang anak. Menurutnya, adalah tugasnya untuk patuh kepada orang tua sebagai bentuk bakti. Namun, nilai yang harus dibayarkan dengan mentalitasnya sendiri itu seakan memberatkan langkah Resti untuk mewujudkannya, dan mengedepankan karier.
Tinggal di rumah bisa jadi tambahan beban pengeluaran gen Z
Bukan hanya soal karier, Resti mengakui bahwa tinggal di rumah tidak selamanya gratis. Bahkan, tinggal di rumah mengharuskan Resti untuk mengorbankan dirinya sendiri. Dalam posisi ini, rumah menjadi prioritas sehingga menomorduakan diri.
Padahal, Resti menilai, untuk dapat berkembang, dibutuhkan waktu untuk diri sendiri. Harus ada ruang khusus yang sayangnya tidak bisa diberikan apabila tinggal bersama orang tua di rumah.
“Kita seorang anak ya, harus bertanggung jawab dan harus menurut patuh ke orang tua. Tapi ya, ada hal lainya kita juga butuh, butuh untuk menyederhanakan pikiran dan butuh untuk memberikan waktu ke diri sendiri agar kita bisa fokus kepada apa yang kita tuju,” akunya.
Setelah itu, hal-hal lain akan ikut terseret dalam pusaran masalah yang menambahkan beban tersendiri. Bagi Resti, penghasilannya bahkan tidak dapat dikatakan sebagai pendapatannya. Pemasukan Resti secara otomatis juga menjadi milik orang tua yang menuntutnya untuk berkontribusi dalam finansial.
“Orang tua pasti menuntut banyak, makanya kita harus pulang. Tapi, orang tua kan selalu minta uang, jadinya kayak nggak pernah ngerti. Mereka cuma nyariin aku kalau butuh uang. Itu juga yang membuatku kesal,” katanya.
Mendengarkan ini, bisa dibayangkan bahwa Resti merasa demikian karena bebannya berlipat ganda. Ada tuntutan kerja, tuntutan sebagai anak, serta “bank berjalan” bagi orang tuanya. Jadilah, solusi akhir yang paling sederhana setidaknya adalah melarikan diri dari rumah dengan bekerja di luar kota.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA Duka Setelah Merantau: Ketika Rumah Menjadi Tempat yang Asing untuk Pulang atau liputan Mojok lainnya di rubrik liputan
