Pilihan Hidup Para Penambang Belerang di Kawah Ijen Banyuwangi

Demi menghidupi keluarga membuat mereka bertarung dengan risiko kesehatan.

Penambang belerang membawa hasil tambang menggunakan troli

Kawah Ijen tak melulu soal kaldera yang menawan, tak hanya tentang blue fire yang memesona, juga bukan semata sebagai salah satu ikon wisata kebanggaan Banyuwangi. Di balik semua itu, Kawah Ijen menyimpan cerita perjuangan para penambang belerang yang menantang risiko demi menghidupi keluarganya di rumah.

***

Pukul 09.00 WIB pada Senin, (7/03/2022), angin berembus cukup kencang di area Kawah Ijen. Membuat asap dari kawah menyebar ke arah jalur menuju puncak Gunung Ijen; spot foto yang paling diincar oleh para wisatawan.

Satu per satu wisatawan—yang tak lebih dari 10 orang—memutuskan untuk turun. Tak tahan dengan asap kawah yang membuat napas terasa sesak karena kandungan karbon dioksida dan hidrogen sulfida di dalamnya.

Sementara wisatawan lain menyisir jalur untuk turun, sisa saya dan pacar saya yang memutuskan berhenti sejanak di area para penambang belerang.

“Sarapan, Mas?” Seorang penambang, Ahmad (40), menawari saya sambil menyodorkan bekal yang baru ia keluarkan dari tas lusuhnya. Saya mengangguk dan mengucapkan terima kasih banyak. Lantas memohon izin untuk duduk di sebelahnya.

“Saya tadi berangkat dari bawah jam empat (pagi). Nanti kalau sudah dapat banyak (belerang), langsung turun,” ucap Pak Ahmad saat saya tanya kapan kiranya ia akan turun.

Dan beruntung sekali bagi saya. Di sela-sela waktu istirahatnya itu, Pak Ahmad dengan senang hati membagikan cerita mengenai pilihan hidupnya menjadi penambang belerang. Pekerjaan yang sudah ia jalani sejak ia masih berusia 22 tahun.

Tak ada pilihan yang lebih baik dari menjadi penambang belerang

Kepada saya Pak Ahmad bercerita sudah bekerja sejak lulus dari bangku Sekolah Dasar. Ia bekerja serabutan sana-sini. Berbagai pekerjaan telah ia jajal. Mulai dari kuli, berkebun, dan apapun asal menghasilkan uang pasti ia kerjakan. Sampai akhirnya, di uisa 22 tahun, ia diajak temannya untuk mencoba menjadi penambang belerang di Kawah Ijen.

Ia menerima ajakan tersebut karena iming-iming bakal mendapat uang yang lebih banyak dibanding dari yang bisa ia dapat dari pekerjaan-pekerjaan sebelumnya.

Jika dibandingkan dengan pekerjaan-pekerjaan sebelumnya, menurut Pak Ahmad, menjadi penambang jelas lebih berat. Pasalnya, tiap hari ia harus manarik troli sambil menggendong peralatan tambang, menempuh ketinggian kira-kira 2.386 Mdpl. Lalu setelah berjibaku dengan medan terjal dan asap beracun, ia akan turun dengan membawa beban hingga 3 kuintal belerang untuk ia tukar dengan rupiah.

“Sehari bisa dua sampai tiga kuintal. Itu setara dengan lima pikulan bolak-balik naik-turun kawah,” jelas Pak Ahmad sambil mengganyam perbekalannya.

“Itu nanti akan dikirim ke perusahaan di daerah Tamansari sini, Mas. Dari dua atau tiga kuintal itu bisa dapat uang antara Rp250.000 sampai Rp300.000 lah. Sekilonya itu Rp1.250,” sambungnya.

Sebagai informasi, untuk mendapatkan belerang, para penambang harus turun ke kawah dengan membawa dua keranjang rotan. Dalam sekali angkut, para penambang bisa memikul antara 40kg hingga 80kg belerang dalam dua keranjang rotan tersebut. Setidaknya demikianlah yang dijelaskan Pak Ahmad kepada saya.

Potret penambang belerang di kawan ijen banyuwangi
Ahmad (40), salah satu penambang belerang di Kawah Ijen Banyuwangi. (Muchamad Aly Reza/Mojok.co)

Pada masa tiga tahun terakhir ini, Pak Ahmad sendiri sebenarnya pernah memutuskan berhenti menambang. Alasananya tentu bisa ditebak. Iya, Pak Ahmad merasa bahwa pekerjaan menjadi penambang belerang di Kawah Ijen sangatlah berat. Itulah kenapa ia kembali mencoba peruntungan dengan bekerja serabutan.

Namun, setelah ia timbang-timbang, ternyata hasilnya tidak mencukupi untuk kehidupan sehari-hari. Alhasil, ia pun memilih kembali menggunakan pundaknya memikul belerang dan menarik trolinya kembali hingga saat ini.

“Karena kerja serabutan itu kan nggak menentu, Mas. Kadang ada, kadang nggak. Kalu di sini (menambang) kan jelas, setiap hari pasti ada. Hasilnya nyata,” ungkap Pak Ahmad.

“Kalau berkebun juga hasilnya nggak seberapa. Jadinya nggak cukup buat sehari-hari. Ya walaupun berat dan risikonya besar, nggak apa-apa saya nambang lagi saja,” tambah bapak dua anak itu.

Alasan lain yang membuat Pak Ahmad lebih nyaman bekerja menjadi penambang belerang adalah karena ia tidak terikat dengan waktu dan perintah dari mandor. Ia bisa berangkat dan istirahat sewaktu-waktu tanpa ada yang mengatur.

Kepada saya, pria asli Banyuwangi itu mengaku akan terus menambang. Selagi kakinya masih mampu diajak naik-turun Gunung Ijen tiap hari; sepanjang pundaknya masih kuat untuk memikul puluhan kilogram belerang; dan selama ia masih diberi umur panjang, ia tidak memiliki opsi kapan kiranya akan berhenti dari pekerjaan tersebut.

“Anak saya masih harus menamatkan sekolahnya, Mas. Yang besar kelas dua SMK, yang satunya kelas satu SMK. Ya semua ini demi keluarga,” ujarnya sembari tersenyum.

Mimpi seorang bapak untuk anak-anaknya

Di sudut lain, Yanto (32), mempersilakan saya untuk duduk di dekatnya yang saat itu tengah sibuk mengikat karung berisi belerang yang sudah ia pecah menjadi bongkahan-bongkahan kecil. Pukul 09.45 WIB, Pak Yanto sudah bersiap untuk membawa hasil tambangnya hari itu.

“Ini semua kira-kira ya 200kg lah, Mas. Sudah cukup, tinggal dibawa turun,” ucap Pak Yanto dengan suara yang agak dikeraskan. Angin di area penambangan berhembus kencang sekali. Sementara asap kawah sudah semakin mengepul, Ditambah dengan kabut yang membuat pemandangan sekitar agak sedikit terutup. Dari kejauhan, samar-samar Pak Ahmad kembali memikul keranjang rotannya, berlalu menuruni kawah.

Sudah sejak tahun 2012 Pak Yanto menjadi penambang belerang di Kawah Ijen. Dan selama itu pula, belum terbesit sama sekali dalam benaknya untuk beralih profesi.

Pak Yanto menuturkan, sama halnya dengan Pak Ahmad, mulanya Pak Yanto juga bekerja serabutan. Ia pernah bekerja cukup lama sebagai kuli dan buruh tebang pohon. Hingga suatu ketika ia menerima ajakan salah seorang temannya untuk menjadi penambang belerang.

Yanto (32), salah satu penambang belerang. (Muchamad Aly Reza/Mojok.co)

Pada saat itu ia masih sedikit ragu dengan kekuatan fisiknya. Apakah ia akan kuat atau tidak menjalani pekerjaan tersebut. Namun, akhirnya toh ia coba juga mengikuti temannya untuk menjadi penambang belerang. Pekerjaan yang akhirnya masih ia geluti sampai saat ini.

“Awal-awal badan ini sakit semua, Mas. Hari pertama nambang abis itu istirahat tiga hari. Tapi karena hasilnya lebih nyata dan lebih jelas daripada nguli, akhirnya saya pilih nambang saja,” bebernya.

“Hari pertama itu cuma kuat satu pikul, Mas. Ya kira-kira 40kg lah. Tapi sekarang, karena sudah lebih kuat, akhirnya tiap hari bisa bawa turun 200kg,” akunya.

Selain menambang, sesekali Pak Yanto juga turut mengambil job sebagai ojek troli bagi wisatawan.

Jadi, di jalur pendakian menuju Kawah Ijen, ada warga lokal yang memanfaatkan trolinya untuk mengangkut wisatawan. Troli untuk angkut belerang dipasangi jok (tempat duduk). Para wisatawan yang capek jalan kaki bisa menggunakan jasa ojek troli tersebut untuk mencapai puncak atau untuk turun ke pos masuk. Per satu troli biasanya akan dibawa oleh tiga sampai empat orang. Tergantung berat penumpangnya.

Jika tiga orang, maka dua orang akan bertugas menarik dari depan, sementara satu sisanya akan mendorong dari belakang.

“Biasanya kalau ada yang butuh tenaga bantuan, ya saya ikut ngangkut tamu (wisatawan). Tapi kalau sepi kayak gini ya balik nambang lagi,” terang Pak Yanto.

Seturut keterangan Pak Yanto, secara umum warga lokal memang terbagi ke dalam dua kelompok. Ada yang fokus menambang, ada juga yang fokus ojek troli. Pak Yanto sendiri termasuk dalam kelompok yang pertama. Artinya, prioritas utamanya memang menambang belerang. Ojek troli hanya sambilan saja jika kebetulan pengunjung Kawah Ijen sedang ramai.

Begitu pun bagi ojek troli. Jika wisatawan sedang sepi, maka tidak sedikit dari mereka yang akan membongkar trolinya untuk mengangkut belerang.

“Ojek troli itu sekali angkut bisa Rp500.000 sampai Rp800.000 untuk wisatawan lokal. Bisa Rp1.000.000-an kalau wisatawan luar (mancanegara),” bebernya.

“Tapi bagi saya pribadi lebih enak nambang. Karena kalau ojek troli itu kan nggak mesti dapat juga. Istilahnya kita masih menunggu rezeki. Kayak misalnya sekarang ini kan sepi, Mas. Kalau nambang kan tiap hari ada,” imbuhnya. Alasan yang kurang lebih sama seperti yang dituturkan oleh Pak Ahmad sebelumnya mengenai alasannya sama sekali tidak nyambi ngojek troli.

Ojek troli yang banyak menganggur karena sepinya wisatawan di Gunung Ijen. (Muchamad Aly Reza/Mojok.co)

Di antara riuh angin yang berhembus, terlihat mata Pak Yanto mulai berkaca-kaca. Beberapa saat sebelum saya berpamitan turun, Pak Yanto mengungkapkan mimpinya untuk kedua anaknya yang masih kecil.

Jauh di lubuk hatinya, ia menyimpan harapan besar agar suatu saat ia bisa mengantarkan anak-anaknya hingga mengenyam pendidikan tinggi. Ia mendambakan kehidupan yang jauh lebih baik bagi anak-anaknya kelak.

“Semoga bisa nyekolahin sampai kuliah lah, Mas. Minimal nggak kerja di sini (jadi penambang). Biar bapaknya saja yang kerja berat begini,” tuturnya yang membuat saya nyaris menumpahkan air mata. Teringat bapak saya yang bertahun-tahun merantau di negara tetangga; Malaysia. Duh.

Tak gentar dengan asap beracun dan setan gunung

Dalam perjalanan turun, saya dan pacar saya sepakat berhenti di warung yang terletak tidak jauh dari Pos IV. Sekadar menyelonjorkan kaki sembari menikmati mie instan dan beberapa potong gorengan.

Di sela-sela obrolan ringan kami, Saprudin (50) duduk di kursi seberang kami. Usai melemparkan beberapa pertanyaan basa-basi, pria ramah itu lantas menceritakan sebagian kisah hidupnya. Bahkan tanpa kami minta sebelumnya. Sepertinya Pak Saprudin memang sosok yang suka bercerita.

Prioritas Pak Saprudin sebenarnya adalah sebagai ojek troli. Hanya saja, karena Kawah Ijen sedang sepi selama masa pandemi ini, ia pun bergabung bersama kawan-kawan penambang untuk mencukupi keluarganya di rumah.

“Saya itu asli Lombok, Mas. Terus kerja di Kalimantan, dapat istri orang Kalimantan, eh sekarang malah terlempar di sini (Banyuwangi),” tuturnya yang diselingi dengan tawa.

Pak Saprudin dulunya adalah pekerja serabutan, sama halnya dengan Pak Ahmad dan Pak Yanto. Mungkin juga seperti umumnya para penambang belerang di Kawah Ijen. Ia berpindah dari satu pulau ke pulau lain. Lalu Banyuwangi menjadi pilihan bagi ia dan istrinya untuk menetap.

Pilihan, yang, bahkan ia sendiri masih bingung bagaimana bisa ia yang asli Lombok menikah dengan orang Kalimantan dan malah menetap di Banyuwangi. Sayangnya, ia lupa kapan persisnya ia mulai berlabuh dan menetap di kabupaten di ujung Jawa Timurw;lp itu.

Yang bisa ia ingat adalah awal-awal ketika ia menjadi penambang belerang di Kawah Ijen. Ia sempat mengeluhkan betapa beratnya menjalani pekerjaan tersebut. Di samping beban berat belerang, medan terjal dan berjibaku di antara asap beracun, pengalaman-pengalam horor pun pernah ia alami di masa awal ia menjajaki dunia penambangan.

“Ini organ dalam saya sebetulnya sudah agak terganggu karena terlalu sering menghirup asap kawah. Tapi kalau fisik luar masih kuat, ya saya tetap kerja,” tuturnya.

“Pernah waktu ambil belerangnya malam, ada troli itu kayak ada yang dorong, jalan sendiri, Mas, trolinya. Terus dengar suara-suara (setan) itu juga sering,” tambahnya.

Saprudin (50), salah sau penambang. (Muchamad Aly Reza/Mojok.co)

Tapi seiring berjalannya waktu, Pak Saprudin mengaku sudah terbiasa. Baginya, rintangan terberat jika mengambil belerang di malam hari adalah angin yang berhembus kencang dan dingin. Karena kebetulan Pak Saprudin termasuk salah satu penambang yang sering bermalam di area penambangan.

Jika wisatawan sedang ramai, Pak Saprudin tentu akan lebih memilih mengambil ojek troli. Sebab, bagi dirinya sendiri, hasil dari ojek troli juga lumayan. Meski tidak bisa dimungkiri kalau ojek troli, secara fisik, dirasakannya lebih berat dari menambang belerang.

“Karena ojek troli itu kan harus cepat, Mas. Kalau naik dorongnya harus cepat agar penumpang ini cepat sampai. Napas harus kuat. Kalau turun, tangan dan kaki harus kuat juga buat ngerem,” jelasnya ditingkahi asap rokok yang mengepul dari mulutnya.

Gejolak spiritual di masa Ramadan

Merasa waktu istirahat kami sudah cukup, saya dan pacar saya berniat untuk langsung turun. Mengingat, hari sudah semakin siang. Sementara kami ada agenda lain yang harus dikejar.

Namun, baru saja saya selesai mengikat tali sepatu, Pak Saprudin kembali nyeletuk; masih ingin bercerita. Maka saya putuskan untuk kembali mendengarkannya.

“Tiap masuk bulan puasa seperti ini ada gejolak di hati saya, Mas,” ujarnya sambil menatap jauh ke arah jalur pendakian.

Ia mengungkapkan, sebenarnya tiap bulan Ramadan ia ingin istirahat penuh di rumah. Mengisi har-hari di bulan suci itu untuk beribadah. Tapi jika begitu, konsekuensinya ia tidak bisa membeli jatah buka dan sahur untuk keluarganya. Lebih-lebih untuk tabungan di hari Lebaran.

Sedangkan jika ia berangkat menambang, kemungkinan untuk batal puasa di tengah jalan bakal lebih sering lantaran beratnya kerja tersebut. Meski ia juga tak menyangkal kalau ada juga penambang yang tetap kuat puasa meski harus naik-turun gunung.

“Puasa itu ibadah, kerja demi keluarga katanya kan juga ibadah. Kalau kasusnya kayak saya gini, bagaimana, Mas?” Pertanyaan yang membuat saya dan pacar saya hanya bisa saling tatap.

Reporter: Muchamad Aly Reza

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Es Goreng Pak Gatot, Berbagi Tawa dan Doa untuk Muda Mudi Jogja dan liputan menarik lainnya di Susul.

 

Exit mobile version