Muktamar Ke-35 NU: Membuka Paket dari Istana

Muktamar Ke-35 NU: membuka paket Istana berisi Rais 'Aam dan Ketua Umum PBNU MOJOK.CO

Dua hari sebelum tim berangkat ke Jombang, kami sudah dikabari salah satu narasumber penting kami dari Surabaya: Paket Istana yang akan menang.

Tentu saja sebagai jurnalis, kami tidak serta-merta menelan informasi itu. Minimal, kami berangkat ke Muktamar Ke-35 NU itu dengan kepala yang tidak dipenuhi prasangka. Termasuk, jika betul seperti yang dikabarkan kepada kami, bagaimana proses kemenangan tersebut diraih? Hal lain, apakah semudah itu Istana menggolkan pasangan calonnya?

Sekian pertanyaan itulah yang membawa kami pada narasumber kami yang lain. Salah satu perwakilan Mojok diajak bertemu 6 mata untuk mendapatkan penjelasan dari narasumber yang lebih otoritatif dan dilakukan dengan wawancara langsung. Dengan catatan, wawancara tersebut hanya boleh dibuka ketika Muktamar sudah usai, saat Rais ‘Aam dan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU sudah terpilih.

Setidaknya, narasumber kami membuka dengan menjawab pertanyaan kami: Bagaimana caranya?

Caranya adalah dengan “mengunci” keputusan penting: AHWA yang akan memilih Rais ‘Aam. Setelah itu, Rais ‘Aam terpilih yang akan menentukan siapa Ketua Umum PBNU.

Tapi dari situ timbul pertanyaan, keputusan seperti agak berisiko, mengingat para muktamirin datang untuk memberikan suara mereka. Muktamar akan kehilangan legitimasinya jika perwakilan cabang (PCNU) dan wilayah (PWNU) tidak punya suara.

Di sinilah ada istilah “hibrid”. Kurang-lebih begini penjelasannya. Para perwakilan cabang dan wilayah seluruh Indonesia sudah mengisi formulir yang berisi nama-nama para calon anggota AHWA. Dari sana akan muncul 9 nama terbanyak yang akan masuk dalam anggota AHWA. Artinya, muktamirin jelas merasa sudah memilih.

Demikian juga dalam hal pemilihan calon ketua umum. Semua cabang dan wilayah juga akan memilih daftar nama caketum. Tapi nanti yang akan menyodorkan daftar nama adalah AHWA kepada Rais ‘Aam terpilih. Rais ‘Aam terpilih inilah yang akan memilih satu di antara sekian nama caketum yang disodorkan untuk dipilih satu nama: menjadi Ketua Tanfidziyah (Ketua Umum) PBNU.

Skenario itu terlihat rumit. Misalnya, bagaimana bisa nama para caloh AHWA itu bisa “dikuasai” dan “disetir”? Bukankah mereka dipilih berdasarkan suara terbanyak? Selain itu, apakah nama-nama tersebut akan manut begitu saja?

Jawabannya terdengar simpel: yang dipastikan masuk AHWA dari Istana hanya 6 orang. Selebihnya dilepas begitu saja. Karena dengan menguasai 6 suara maka akan memenangi suara di AHWA, termasuk jika musyawarah macet. Itu artinya menang dengan cara voting.

Skenario para timses caketum PBNU untuk menumbangkan paket Istana

Tapi atmosfer yang terjadi di lapangan tidak semudah itu. Skenario itu terdengar indah tapi realitas muktamar bisa berbeda.

Hal itu makin terasa ketika kami menjumpai satu demi satu para tim sukses masing-masing. Pertama, banyak yang tidak percaya kalau skenario AHWA yang begitu dominan bisa lolos dengan mudah. Kedua, pasti akan terjadi “perlawanan” dari muktamirin. Responsnya beragam. Dari mulai yang lembut bilang, “Ini bukan tradisi baik. Masak apa-apa kok serba ‘Siapa yang direstui istana?’, seolah-olah NU bisa mudah disetir…”

Sampai pernyataan yang keras: “Di Jombang, paket Istana kita buat tumbang.”

Semua calon punya strategi masing-masing. Salah satu timses Gus Yahya misalnya, menyatakan dengan tegas, “Kami sudah persiapkan semua. Nanti akan terjadi dua putaran, dan di putaran kedua, Gus Yahya yang akan menang.”

Itu hal yang masuk akal. Karena Gus Yahya sudah mengantongi 150-an suara. Bisa dipastikan dia akan maju di putaran kedua kendati tidak sebagai calon dengan suara terbanyak. Di putaran kedua inilah, suara dari calon-calon yang kalah akan menumpuk ke Gus Yahya.

Selain itu, ada hal lain yang menjadi pertimbangan timses para caketum: mereka semua yakin kalau Istana hanya akan menyegel Rais ‘Aam. Bukan ketua umum.

Wajar dengan gambaran tersebut, baik timses Rais ‘Aam maupun caketum PBNU, punya keyakinan tinggi bisa menghadang paket dari Istana. Apalagi di antara timses sudah saling bertemu. Kesamaan perasaan dan pikiran seperti itulah yang membuat mereka bersemangat. “Kami akan tempur habis-habisan,” adalah kalimat yang sering mereka ucapkan.

“Paket Istana” tidak merujuk ke Prabowo

Namun kenyataannya, pelan tapi pasti, skenario Istana memang berjalan kendati tidak mulus amat. Ruang sidang dipenuhi interupsi dan manuver. Di luar forum Muktamar pun terjadi berbagai gerilya serta siasat.

Ketika AHWA diputuskan yang akan memilih Rais ‘Aam, semua masih semangat. Ketika ada keputusan Rais ‘Aam yang akan memilih ketua umum, tensi lansung melompat lebih tinggi.

Kami perlu merumuskan istilah “paket dari Istana”: Presiden Prabowo bilang dalam pidato pembukaan Muktamar Ke-35 NU bahwa dirinya tidak akan ikut-ikutan. Hal itu ditafsirkan menjadi dua hal: Presiden memang tidak akan cawe-cawe betul dalam Muktamar kali ini. Tapi ada juga tafsir lain, memang Presiden tidak mau cawe-cawe, tapi bagaimana dengan orang-orang dekat Presiden?

Banyak timses dan muktamirin yang percaya kalau Presiden Prabowo bisa dipegang omongannya. Prabowo memang dikenal dekat dengan para tokoh NU. Karena itu, tidak campur tangannya adalah sebuah hal yang bisa dengan mudah dipahami. Tapi siapa yang bisa mengendalikan orang-orang dekat Prabowo untuk tidak membuat manuver politik, dengan berbagai pertimbangan?

Kasak-kusuk seperti itu makin menguat ketika ada rumor kalau orang-orang yang merasa dekat dengan Prabowo tidak satu suara. Terutama dalam hal siapa calon Ketua Umum PBNU. Jadi jika ada istilah “paket dari Istana” dalam konteks Muktamar Ke-35 NU, hampir semua narasumber kami menyatakan dengan yakin: istilah itu bukan merujuk pada Presiden Prabowo.

Duet Gus Ipul-Nusron Wahid: licin sekaligus gesit

Begitu nama-nama AHWA terpilih, dan Gus Yusuf Chudori tersingkir dari peta pertarungan, kelompok Cak Imin langsung meleyot. Salah satu tokoh pentingnya bahkan sudah langsung meninggalkan Surabaya, dan tidak lagi mau memasuki Jombang. Dia hanya memberi komentar kepada kami lewat pesan WA: Bolak-balik Gus Ipul dan Nusron Wahid yang bikin kegaduhan ini.

Tentu, kalimat seperti itu bisa saja dipahami sebagai ekspresi yang jagoannya kalah. Tapi juga bisa jadi memang begitulah persepsi di kalangan tertentu.

Gus Ipul dan Nusron Wahid memang dikenal dengan keterampilan mereka untuk memenangkan seseorang dalam berbagai pertarungan di Muktamar. Duet Gus Ipul dan Nusron pula yang pernah membuat Gus Yahya terpilih pada Muktamar Ke-34 NU di Lampung pada 2021 silam. Mereka adalah petarung lapangan yang licin sekaligus gesit.

Tapi banyak yang sudah meragukan kemampuan mereka. Karena mereka akan berhadapan dengan kubu yang juga sudah matang, seperti kubu Gus Yahya, kubu Cak Imin, dan lain-lain. Ini pertarungan yang tidak mudah.

Muktamar Ke-35 NU antiklimaks

Antiklimaks itu benar-bebar terjadi saat akhirnya diumumkan KH. Miftachul Akhyar yang diumumkan sebagai Rais ‘Aam. Kubu Gus Yahya pun satu persatu meninggalkan ruang Muktamar. “Sudah jelas siapa yang jadi ketum.”

Posisi Rais ‘Aam memang sekarang berbeda dari sebelumnya. Menggenggam kekuatan organisasi yang lebih kuat.

Namun saat diumumkan bahwa KH. Miftachul Akhyar terpilih sebagai Rais ‘Aam, terlihat tak ada euforia di ruangan. Hanya ada beberapa puluh orang yang bertepuk tangan. Walaupun menurut kubu KH. Miftachul punya versi lain, itu karena peserta sudah capek. Tapi memang ada benarnya juga. Karena setelah kami cek ke beberapa muktamirin pendukung KH. Miftachul menyatakan, “Maklum, peserta sudah lelah.”

Lalu kemudian diumumkanlah bahwa Gus Kikin yang menjadi Ketua Umum PBNU periode 2026-2031. Maka jelas sudah, paket Istana telah terbuka dan bisa dilihat dengan kasat oleh publik.

Namun, apapun jalannya, bagaimanapun riuh dan kerasnya perdebatan, pada akhirnya semua harus menerima kenyataan pahit: kubu Istana yang menang, dan yang lain kalah. Sebagian dari muktamirin dan timses memang terlihat kecewa. Itu hal yang wajar. Namanya juga kalah, apalagi kalah dari pihak yang mereka anggap dekat dengan kekuasaan.

BACA JUGA: Muktamar di Dalam Sekam atau tulisan Puthut EA lainnya di rubrik Kepala Suku

Terakhir diperbarui pada 31 Agustus 2026 oleh

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.