Muktamar di Dalam Sekam

Sumber Mojok menyebut Gus Kikin dan Miftachul Akhyar pasangan yang direstui Istana. Tapi konstelasi di Muktamar ke-35 NU berubah cepat MOJOK.CO

Di antara kemeriahan Muktamar ke-35 NU yang dihelat di Jombang, tersimpan pertanyaan di dada hampir semua muktamirin: Siapa nanti yang akan menjadi ketua Rais ‘Aam dan siapa yang akan menjadi ketua Tanfidziyah PBNU? Pada hari rangkaian menuju puncak Muktamar, Jumat, 28 Agustus 2026, tim Mojok mengulik informasi dari sejumlah pihak dalam pusaran langsung Muktamar untuk membaca kemungkinan yang akan terjadi.

***

Jombang benar-benar menggelar pesta istimewa. Kemacetan terjadi hampir di sepanjang jalan. Banyak pelat mobil dari luar kota, terutama dari Jakarta dan Surabaya.

Kami tiba di sebuah rumah yang dari luar tampak sempit, namun begitu masuk ternyata jembar. Sebagaimana khas kaum nahdliyin, begitu uluk salam dari kami disambut tuan rumah, kami langsung dipersilakan makan. Menu-menu sudah terhampar di meja. Salah satu menu yang terhampar, ada gulai kikil kesukaan almarhum Gus Dur.

Perbincangan dan perjalanan setelah makan itulah yang kemudian memberi kami gambaran perihal situasi di dalam tubuh salah satu ormas terbesar di Indonesia itu saat ini.

Konstelasi di Muktamar ke-35 NU cepat berubah

Sang Tuan Rumah adalah kunci kami untuk bukan hanya memasuki pusat hajatan Muktamar ke-35 NU, tapi juga menelusuri pelan-pelan tentang apa yang sebetulnya terjadi di balik ratusan ribu kaum sarungan yang datang dari Aceh sampai Papua, tumpah ruah di Tambakberas, Jombang.

Tentu saja ada banyak hal penting dalam rentetan jadwal dan berbagai titik. Di rest area jalan tol misalnya, kami bertemu dengan tim dari penerbit Bentang Pustaka yang akan meluncurkan buku teranyar dari KH. Nadirsyah Hosein. Contoh lain adalah Gus Romzi Ahmad. Beliau datang bukan hanya untuk mengisi beberapa acara, tapi juga membuat coaching clinic futsal. Puluhan kegiatan menarik lainnya pun digelar, termasuk bahtsul masail yang menyasar persoalan-persoalan kontemporer: dari penggunaan bitcoin, penggunaan chip otak (Neuralink/Brain-Computer Interface), hingga RUU Perampasan Aset.

Tapi misi kami datang ke Jombang bukan hanya sekadar menikmati petualangan intelektual dan spiritual. Sebagaimana kebanyakan peserta yang datang, kami juga penasaran untuk menyuruk lebih dalam lagi: Siapa sesungguhnya yang akan menjadi pasangan pemimpin ormas Islam terbesar se-Indonesia selama 5 tahun ke depan?

Untuk mengetahui itu jelas tidak mudah. Setiap kami bertanya kepada para perwakilan cabang NU, jawaban mereka semua nyaris seragam dan mengambang. Kalau tidak ‘ikut yang menang’, ya hanya dijawab dengan ‘situasi masih dinamis’. Jawaban seperti itulah yang membuat kami akhirnya memutuskan untuk masuk ke ‘dapur’ panitia lokal. Hal yang tentu tidak mudah. Selain kami harus diantar oleh seorang Gus yang disegani, kami juga menunggu para kiai ini pulang ke rumah masing-masing.

Tim Mojok setidaknya menemui 2 tokoh penting panitia lokal. Tapi alih-alih beliau berdua memberi jawaban yang lebih jelas, malah membuat kami makin pening. Seolah mereka juga tidak tahu apa yang akan terjadi keesokan harinya.

Kiai pertama menjawab, “Saya tidak tahu, Mas. Semua baru akan jelas besok malam.” Besok malam yang dimaksud adalah hari Sabtu tanggal 29 Agustus 2026.

Sementara kiai kedua yang kami temui, juga menjawab dengan jawaban yang tak kalah bikin kening kami mengernyit. “Konstelasi berubah sangat cepat. Semua tahapan besok sulit diduga.”

Jawaban seperti itu membuat kami akhirnya menyelam lebih dalam lagi. Hal itu membuat kami meluncur ke daerah Tebu Ireng, di rumah salah satu kandidat yang dianggap terkuat memenangi pertarungan sebagai Ketua Tanfidziyah PBNU atau biasa dikenal sebagai Ketua Umum PBNU. Beliau adalah KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin), Pengasuh Pondok Pesantren Tebuireng ke-8.

Gus Kikin direstui Istana, KH. Miftachul Akhyar sulit diterima kiai sepuh

Kediaman Gus Kikin masih ramai saat tim Mojok tiba. Para tamu masih tampak datang dan pergi. Mustahil rasanya kami bisa memasuki rumah yang ramai itu, dan misalnya bisa, kecil harapan bagi kami untuk mendapatkan informasi yang memadai.

Tapi kami beruntung, salah satu orang penting Gus Kikin bisa kami temui. Dia tampak berhati-hati menjawab saat kami bertanya soal kemungkinan kemenangan Gus Kikin. “Masih fifty-fifty…” ujarnya irit bicara.

Dari informasi yang berhasil kami kumpulkan, Gus Kikin ini tokoh yang ‘direstui’ oleh Istana. Beliau dipasangkan dengan KH. Miftachul Akhyar, yang masih menyandang sebagai Rais ‘Aam PBNU. Namun sumber lain kami memberi pandangan yang berbeda. KH. Miftachul Akhyar ini sulit diterima oleh banyak kiai sepuh, terutama dalam soal otoritas keilmuan beliau. Ada banyak kiai yang dianggap mumpuni dibanding beliau secara keilmuan.

Setelah sowan dari kediaman Gus Kikin, tubuh kami sebenarnya sudah mulai lelah. Namun, seorang Gus yang akhirnya bisa kami hubungi, meminta kami datang ke sebuah rumah tempat berkumpulnya para gus. Lewat tengah malam, kendaraan kami melaju pelan menuju tempat yang dimaksud.

Ajang kiai sepuh menentukan pilihan, sementara para gus unjuk kemampuan berpolitik

Banyak orang bilang, Muktamar NU bukan hanya ajang kiai sepuh dalam menentukan pilihan, tapi juga ajang para gus untuk unjuk kemampuan berpolitik, berdiplomasi, dan menguji kapasitas mereka dalam memenangkan calon masing-masing. Dan memang begitulah situasi yang Mojok dapati saat berpindah dari satu kediaman ke kediaman untuk mengumpulkan informasi.

Rumah yang kami tuju masih terlihat sepi. Dengan sopan beberapa orang bersarung yang tampak meriung di halaman mempersilakan kami untuk masuk ke ruang tengah.

Rokok yang kami isap belum habis ketika rombongan pertama gus berdatangan. Kami pun ngobrol basa-basi sebentar sebelum masuk ke tema inti.

Salah satu gus membenarkan bahwa KH. Miftachul Akhyar dan Gus Kikin adalah pasangan yang didukung oleh istana. Namun, ada perbedaan pendapat di antara mereka. Ada yang bilang kalau sebetulnya Istana mendukung KH. Miftachul Akhyar saja sebagai Rais ‘Aam. Kalau Ketum PBNU, belum jelas dukungan Istana merujuk pada siapa.

Istana yang dimaksud tentu saja adalah Presiden Prabowo. Hal itu bisa dibaca dari kengototan Gus Ipul mendorong agar KH. Miftachul Akhyar yang menjabat Rais ‘Aam. Masalahnya adalah para gus ini menyatakan kalau KH. Miftachul Akhyar jadi Rais ‘Aam PBNU, dan Gus Kikin menjadi Ketum PBNU, potensi konflik bisa terulang lagi: konflik antara Rais ‘Aam dengan Ketua Tanfidziyah. Publik tentu masih ingat konflik antara KH. Miftachul Akhyar dengan Gus Yahya Cholil Staquf. Jika ini terjadi, tentu bakal merugikan warga nahdliyin.

Gelombang kedua para gus datang. Mereka dari kubu pendukung Gus Salam (Pengasuh Pondok Pesantren Mamba’ul Ma’arif, Denanyar, Jombang, KH. Abdussalam Shohib). Namun banyak di antara mereka memang setuju, kalau Gus Kikin bertarung dengan Gus Yahya maka bisa jadi Gus Salam yang menang. Salah seorang gus menunjukkan kepada Mojok sebuah video dari ponselnya. Di situ tampak Gus Salam sedang sowan dengan KH. Nurul Huda Djazuli, seorang ulama kharismatik dari Pondok Pesantren Ploso, Kediri, dengan diiringi para kiai dan gus.

“Kalau terjadi dua putaran, maka Gus Salam yang akan menang,” ujar salah satu gus yang menyatakan kalau dia memang pendukung dan ‘operator’ lapangan Gus Salam.

Seorang gus lain yang merupakah tim inti Gus Yahya menambahi, “Yang jelas, malam ini sampai nanti pagi, semua pasukan Gus Yahya dan Gus Salam akan bergerilya membobol pendukung Gus Kikin.” Kalimatnya tampak begitu meyakinkan.

Tapi apa yang diucapkan disetujui oleh belasan orang gus yang sedang berkumpul di sana. Tapi ada dua gus yang menggelengkan kepala. Mereka dari kubu Gus Kikin. “Sulit mengalahkan Gus Kikin, karena beliau sudah mengunci solid 304 suara.”

Anehnya, mendengar hal itu, baik kubu pendukung Gus Yahya maupun Gus Salam, tak ada yang membantah. Mereka memang tahu hal itu, tapi mereka juga punya keyakinan bisa ‘membobol’ pasukan Gus Kikin. “Kalau di NU, sebatang rokok belum habis, situasi bisa berubah.”

Kalau Muktamar NU tidak panas, ya tidak seru…

Hari hampir Subuh. Satu per satu para gus mulai berkemas. Ada yang harus terus mereka perjuangkan. Pertarungan diperkirakan bakal keras sampai tengah malam. Sebagian lagi yakin akan selesai sebelum Subuh. Sebagian lagi meyakini baru akan selesai pada tanggal 30 pagi.

Mereka tampaknya siap untuk beradu nafas dan kemampuan sampai panjang. Mereka harus segera pergi, beristirahat sebentar, hingga kemudian siap bertarung lagi baik di dalam forum maupun di luar forum.

Kami pun saling berpamitan. Dari segala hal yang kami tangkap dari mulai bakda Magrib sampai menjelang Subuh, rasanya hanya ada dua kesimpulan: Pertama, semua pihak masih yakin akan menang. Kedua, tanggal 29 Agustus adalah hari yang panas secara politik di Muktamar, dan bisa berlanjut sampai tanggal 30 pagi.

Usai berpamitan, kami masuk ke dalam mobil dalam keadaan letih. Kendaraan kami menuju Nganjuk. Kok bisa? Ya, karena kami tidak berhasil mendapatkan penginapan di Jombang, karena nyaris semua penginapan sudah penuh dipesan oleh nahdliyin dari berbagai daerah.

Tapi kami punya keyakinan, sepertinya Muktamar ke-35 NU ini bakal memanas, hanya saja bakal berakhir dengan baik. Semua akan mencapai titik kompromi. Setidaknya itulah harapan kami. Seperti kata seorang panitia lokal, “Kalau Muktamar NU tidak panas ya enggak seru…”

BACA JUGA: Gus Yahya: NU Tidak Punya Jalan Lain Selain Kerja Sama dengan Pemerintah jika Ingin Hadirkan Manfaat Nyata atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2026 oleh

Puthut EA

Kepala Suku Mojok. Anak kesayangan Tuhan.

Exit mobile version