Memaknai Cinta dalam Selinting Tembakau

Festival Tembako Indonesia #1 hadir di Taru Martani Yogyakarta. Festival ini jadi ajang mengenalkan tembakau dan budaya tingwe di Indonesia.

***

Kultur merokok Indonesia bisa ditarik sejarahnya dari era pendudukan Portugis. Kata tembakau sendiri menurut Ong Hok Ham dan Amen Budiman merujuk pada kata tabaco atau tumbaco yang berasal dari bahasa Portugis. Dulu, cara konsumsinya sendiri  erat dengan strata sosial. Masyarakat kelas atas mengonsumsi melalui pipa cangklong maupun cerutu. Sedangkan lapisan masyarakat lain mengenal sigaret dan tingwe.

Tingwe alias linting dewe adalah cara konsumsi rokok yang mirip dengan sigaret alias rokok pabrikan. Bedanya, tingwe mengharuskan penikmatnya melinting sendiri tembakau dengan kertas rokok atau papir. Tingwe lebih akrab dengan masyarakat ekonomi menengah kebawah karena lebih murah daripada rokok pabrikan.

Namun seturut perjalanannya, tingwe memiliki tempat istimewa di masyarakat. Dengan inovasi seperti tembakau rasa dan filter menthol, tingwe kini diterima sebagai gaya hidup. Naiknya “kelas” tingwe ini melahirkan festival yang berfokus pada apresiasi terhadap budaya konsumsi tembakau Nusantara: Festival Tembako Indonesia.

Festival tembakau pertama

Festival Tembako Indonesia diselenggarakan Asosiasi Retail Tembakau Jogja Nasional (Arjuna) dan Dini Mediapro. Mengambil nuansa Februari sebagai bulan cinta, festival ini mengusung tema “Cinta dan Udud Bikin Bahagia”. Taufik Ridwan, selaku ketua pelaksana dan direktur Dini Mediapro, mengatakan bahwa festival ini ingin memperkenalkan tingwe sebagai bagian dari budaya dan gaya hidup masyarakat Indonesia.

Acara yang berlangsung dari tanggal 22 sampai 24 Februari 2022 ini diselenggarakan di halaman depan PD. Taru Martani. Tempat yang sesuai bagi perhelatan tembakau. Pasalnya, Taru Martani sendiri adalah perusahaan cerutu dan tembakau yang telah berdiri sejak tahun 1918.

Festival Tembako Indonesia melibatkan 16 brand tembakau dan papir. Dari veteran seperti Taru Martani, sampai produsen tembakau rasa Rubby Bacco dan brand papir Royo. Brand ini membuka booth untuk memperkenalkan produk sekaligus bazaar tembakau di sisi timur halaman Taru Martani. Panggung hiburan yang terus dimeriahkan musisi tak henti memeriahkan suasana.

Festival Tembako Indonesia mojok.co
Pembukaan Festival Tembako Indonesia #1. (Prabu Yudianto/Mojok.co)

Di sisi barat juga diadakan berbagai acara. Dari gala dinner sampai pemberian penghargaan terhadap tokoh yang berjasa dalam industri tembakau. Sedangkan di sisi selatan terdapat pameran lukisan yang bertema tembakau.

Sejak hari pertama, pengunjung beramai-ramai datang ke lokasi festival. Selain menikmati sajian dari kafe Taru Martani, para pengunjung juga memadati area bazaar. Tidak hanya untuk berbelanja kebutuhan tingwe, namun juga mencicipi tembakau gratis yang disediakan di setiap booth.

Acara ini dibuka dengan cara yang unik. Bukan dengan potong pita ataupun pelepasan balon seperti acara pada umumnya, Festival Tembako Indonesia dibuka dengan penyulutan rokok panitia oleh perwakilan pemerintah Yogyakarta. Gubernur DIY Sri Sultan HB X ikut memberikan sambutan sebagai bentuk dukungan terhadap festival ini.

Tidak hanya bazaar dan panggung hiburan, Festival Tembako Indonesia juga memberikan penghargaan terhadap tokoh yang berjasa pada industri tembakau Indonesia: Dr Oei Hong Djien, Djuweri (APTI Sleman), Sukro Nurhajanto (Gapoktan Tembakau Bantul), dan juga Bupati Bantul, Purworejo, Klaten, dan Temanggung.

Tembakau Indonesia unjuk gigi

Albertoes Papiek adalah salah satu seniman yang hadir dalam pameran di Festival Tembakau Indonesia. Pria gondrong yang akrab disapa Papiek ini memandang bahwa tembakau dan dunia seni adalah sesuatu yang tak terpisahkan. Bersama kopi, tembakau dipandang sebagai penunjang dalam melahirkan karya seni.

Bagi Papiek, tembakau linting adalah sarana termurah dalam menikmati nikotin. Tingwe sendiri dipandang lebih dari sekadar rokok. “Ada sentuhan seni di sana ketika kita melinting,” ujar Papiek.

Papiek mengapresiasi festival ini sebagai bentuk show off tembakau Indonesia. Baginya, Indonesia adalah surganya rokok terutama kretek. Banyak bangsa lain yang iri dengan Indonesia karena tidak mampu menghasilkan tembakau yang berkualitas. Di sisi lain, Papiek juga memandang bahwa tingwe bisa digunakan untuk merintis usaha bagi kaum muda. “Tingwe adalah alternatif yang terjangkau serta bisa mengawali wirausaha,” ujar Papiek.

Pada hari kedua Festival Tembako Indonesia, sejak pagi berbagai acara hiburan telah meramaikan suasana. Saya sendiri segera menuju booth Taru Martani untuk belanja cerutu. Meskipun memiliki tema besar tentang tingwe, booth Taru Martani tetap menyediakan cerutu sebagai produk andalan mereka yang telah bertahan selama 100 tahun terakhir.

Suasana booth di Festival Tembako Indonesia #1. (Prabu Yudianto/Mojok.co)

Yudhistira Yasadiwirya selaku staf marketing Taru Martani bercerita banyak tentang event ini. Menurutnya, Festival Tembako Indonesia adalah ajang bagi tembakau Indonesia tampil dalam skala dunia. Festival ini juga mengingatkan kaum muda bahwa tingwe adalah bagian dari budaya nenek moyang. “Kalau boleh saya bilang, nenek moyang kita bukan hanya pelaut. Tapi juga pelinting,” ujar Yudhis sambil tertawa.

Ia juga menambahkan bahwa Taru Martani ikut menjaga budaya ini dengan produk-produknya. Salah satunya dengan produk andalan mereka yakni Violin. Namun seiring berjalannya waktu, Taru Martani juga menerbitkan seri Virgin yang memiliki pilihan rasa apel, kopi, dan vanilla.

“Kami ingin memfasilitasi berbagai penikmat tembakau. Dari pilihan jenis yang agak hangat sampai lebih segar, semua demi menyesuaikan kondisi geografis Indonesia,” ujar Yudhis. ia juga menjelaskan bahwa dalam melahirkan berbagai inovasi ini, Taru Martani tetap menjaga kualitas tembakau tetap premium.

Yudhis berharap agar tembakau dan Taru Martani lebih dikenal melalui festival ini. “Apalagi Taru Martani adalah bagian dari sejarah Indonesia. Selama 100 tahun dan tiga kali berpindah tangan Taru Martani terus memanjakan masyarakat dengan produk tembakau premium,” katanya.

Daun yang menghidupi

Bicara tentang Taru Martani, nama tersebut mempunyai arti “daun yang menghidupi”. Nama ini pemberian dari Sri Sultan HB IX dan ingin terus dihidupi oleh Taru Martani. Salah satunya dengan menjadi tuan rumah Festival Tembakau Indonesia. “Kalau saya bicara tentang Taru Martani, bisa jadi skripsi nanti,” ujar Yudhis sambil terkekeh.

Taufik Ridwan selaku ketua pelaksana menjelaskan tentang latar belakang lahirnya festival ini. ARJUNA sebagai pemrakarsa festival ini mewadahi 143 anak-anak muda penjual tembakau. Saat berdiskusi dengan ARJUNA, Taufik memandang perlunya ada event berskala nasional.

“Saya menemukan keunikan dari ARJUNA. Mereka ingin bersaing dengan ‘godzilla’ industri tembakau Indonesia. Teman-teman juga ingin memperkenalkan alternatif rokok yang lebih sehat dan punya banyak pilihan rasa,” ujar Taufik. Para produsen tembakau ini menambahkan rasa berbagai jenis buah yang selama ini subur di Indonesia. “Bahkan ada yang punya lebih dari 100 pilihan rasa buah,” imbuh Taufik.

Melalui festival ini, Taufik berharap agar para pedagang tembakau tetap semangat menjual tembakau. Untuk menumbuhkan semangat ini, Taufik mengangkat tema cinta dalam festival ini. “Dengan cinta dan udud, orang akan bahagia. Dan dengan bahagia, orang akan bisa hidup lebih baik,” ucap Taufik.

Lapak brand tembakau yang hadir di Festival Tembako Indonesia. (Prabu Yudianto/Mojok.co)

Soal isu antitembakau yang selama ini bergulir, Taufik lebih mengutamakan nasib pedagang tembakau. “Kami mengadakan festival ini demi menyelamatkan para pedagang. Kalau ada yang kontra, tidak apa-apa,” ujarnya. Ia juga membeberkan bahwa dirinya bukan perokok. “Saya tetap mengadakan event ini atas dasar cinta. Cinta pada budaya kita dan pada para pedagang tembakau,” tegasnya.

Menariknya, festival ini menyediakan berbagai produk tembakau gratis bagi pengunjung. Tujuannya agar pengunjung bisa mengenal lebih dalam tentang tembakau Indonesia. Saya sendiri langsung melirik cerutu gratisnya. “Jika mau tembakau gratis, datang ke festival ini,” ujar Taufik.

Hadirnya perhelatan ini turut didukung oleh pemerintah. Taufik sendiri juga ditemui gubernur DIY dan kepala dinas terkait sebagai bentuk dukungan. Antusiasme pemerintah juga ditunjukkan dari ajakan untuk mengadakan festival serupa di berbagai daerah. “Beberapa kepala daerah dan kepala dinas menawari saya untuk mengadakan event serupa di daerah mereka,” ujar Taufik.

Terlepas dari dukungan ini, Taufik tetap menjaga peraturan dan etika dalam merokok. Festival ini hanya boleh dikunjungi oleh orang yang sudah berusia 18 tahun ke atas, dan menekankan untuk merokok dengan santun. “Jangan sampai dari acara ini malah ada berita orang merokok sambil naik motor,” guraunya.

Selain etika merokok, Taufik juga menekankan  protokol kesehatan yang tegas saat festival berlangsung. Taufik memproyeksikan Festival Tembakau Indonesia akan menjadi kegiatan rutin di Yogyakarta. Tidak hanya untuk melanggengkan budaya tingwe, namun juga mendukung pariwisata daerah. “Sampai jumpa di 13 sampai 16 Juli 2023 di Festival Tembako Indonesia kedua,” ujar Taufik bersemangat.

Reporter: Prabu Yudianto
Editor: Purnawan Setyo Adi

BACA JUGA Dulunya Kawasan Menyeramkan, Sejarah Pindahnya Pasar Kembang ke Kotabaru dan liputan menarik lainnya di Susul.

 

Exit mobile version