Selama merantau di Surabaya, Anshar (26) lebih akrab dengan lapis kukus ketimbang donat J.CO. Kalau toh bisa menikmati donat, paling donat-donat murah di warung jajanan pasar atau donat-donat kentang pinggir jalan.
Pemuda asal Lamongan, Jawa Timur itu memang bersaku tipis sejak kuliah. Setelah kerja pada 2022 pun dompetnya tidak serta merta menebal. Alhasil, membeli jajan—dengan rasa enak di atas rata-rata lidahnya dan berharga mahal—sekalipun menggiurkan tidak akan pernah masuk dalam list keinginan di kepalanya.
“Kalau lapis kukus kan sering karena terjangkau. Itu pun nggak mesti beli sendiri ya hahaha. Kadang di kos, teman habis ada acara apa, bawa lapis kukus,” ungkap Anshar, Minggu (1/2/2026).
Terlanjur jauh dari kenikmatan mahal
Sebagai orang desa, Anshar mengaku buta dengan merek-merek makanan ternama. Termasuk donat J.CO.
Pada mulanya ia kerap melihat logo J.CO terpampang di area luar pusat perbelanjaan. Beberapa juga ada outlet khususnya.
Tapi, sebagai orang yang lebih suka jajan gorengan dicocol dengan sambal petis khas Madura, mana peduli ia dengan merek tersebut. Apalagi logonya terpampang di pusat perbelanjaan modern, sudah bisa ditebak harganya pasti mahal.
Sementara Anshar sendiri mengaku nyaris tidak pernah jajan di mal, saat banyak temannya dulu sering menghabiskan akhir pekan dengan nonton di bioskop (dalam mal) atau menikmati kuliner di food courtnya.
Pertama kali tahu donat J.CO langsung sinis dan terheran-heran
Rasa penasaran Anshar pada donat J.CO menguat pada awalnya sebenarnya karena kegabutan.
Sebenarnya ia sudah kerap melihat rupa donat tersebut dari unggahan status WA teman-teman perempuan kuliahnya dulu. Namun, ia baru mulai mencari-cari tahu soal donat tersebut justru ketika melihat unggahan status teman kerjanya.
“Waktu itu pas gabut aja. Malam tahun baru (2023), aku nggak ngapa-ngapain di kos, terus lihat story ciwi-ciwi yang lagi makan-makan donat J.CO di kos mereka,” ujar Anshar.
Anshar lalu iseng mengetikkan “donat J.CO” di Instagram. Lalu yang muncul adalah gambaran orang yang tengah melahap tekstur lembut donat yang berbalut dengan krim rasa-rasa tersebut.
Makin scroll ke bawah, tak pelak Anshar kemecer. Ia malah membayang-bayangkan: betapa nikmatnya donat empuk dengan krim cokelat itu. Sayangnya, ia hanya bisa menelan ludah.
“Aku cek-cek lah harganya, ternyata semahal itu untuk ukuranku. Selusin Rp70 ribuan, makin banyak isinya ya jadi ratusan ribu,” ucap Anshar.
“Ya sepengin-penginnya aku, ngapain beli. Orang seperti aku, uang segitu lebih mending buat makan di Warteg. Udah dapat beberapa hari,” sambungnya sinis.
Akhirnya bisa merasakan donat J.CO gratisan
Keputusan pindah kos pada pertengahan 2023 menjadi salah satu keputusan hidup yang akhirnya Anshari syukuri. Faktornya jelas banyak. Misalnya, harga lebih murah dari kos sebelumnya (Rp400 ribu sudah isian dan include WiFi sekaligus iuran sampah, dari sebelumnya Rp550 ribu tapi belum termasuk iuran WiFi dan sampah). Dan ia memiliki lingkungan yang lebih kekeluargaan.
“Di kos itu antarpenghuni kos memang ramah-ramah banget dan suka berbagi. Kan ada dapur umumnya, kalau ada yang lagi masak besar, pasti ngajak makan bareng. Kalau ada yang punya jajan lebih, pasti dibagi. Termasuk ibu kosnya juga, kalau lagi punya makanan, anak kos pasti ketiban,” kata Anshar.
Sampai pada suatu hari Minggu, hari ketika sejumlah penghuni kos lebih banyak menghabiskan waktu di kos (karena libur kuliah atau kerja), ia akhirnya bisa merasakan kenikmatan mahal donat J.CO untuk pertama kalinya.
Di sore yang masih agak terik, Anshar baru saja selesai mencuci baju. Setelahnya, ia duduk-duduk di depan kamr kos sambil menghisap rokok dan scroll-scroll media sosial.
Tetangga kamarnya persis yang baru saja datang dengan pakaian rapi dan wangi tiba-tiba memberi Anshar dua biji donat J.CO. Anshar tahu itu J.CO karena memang saat masuk kamar sembari menenteng plastik, kentara betul warna oranye bertuliskan “J.CO”.
“Katanya tadi habis ada acara dengan orang kantor, lebihnya dibawa pulang. Aku, jujur saja, pas lihat kresek berlogo JCO itu ya sudah berharap bakal dikasih, hehe. Eh beneran dikasih, nggak tahu kenapa aku seneng banget waktu nerima dua donat itu,” kata Anshar.
Tutup pintu kamar, menikmati sambil nangis
Setelah mengucap terima kasih, Anshar langsung bergegas ke kamarnya. Pintu kamar langsung ditutup rapat-rapat.
Bukan apa-apa. Anshar hanya ingin kenorakannya tidak terlihat. Walaupun saat menerima pemberian itu ia sok-sok elegan saja.
Anshar tidak langsung menyantap donat J.CO tersebut. Tapi menatapnya lekat-lekat, mendulit krimnya dengan jari telunjuk, lalu memasukkannya ke lidah. Manis, nikmat.
Dua biji donat J.CO yang ia terima itu berkrim cokelat dan stroberi. Ia mengambil donat berkrim cokelat, mengarahkan ke mulutnya secara pelan, lalu mulai mengunyah.
“Jujur pas kunyahan itu aku merem, sambil geleng-geleng kepala. Ya Allah, ternyata enak banget ya donat mahal ini,” ungkap Anshar.
Bahkan, setelah beberapa gigitan, Anshar menitikkan air mata, menangis. Menangis sedih dan bahagia karena seumur-umur baru kali itu merasakan jajan mahal yang jelas tidak mungkin terbeli dengan uangnya sendiri.
“Terus yang donat kedua, gimana perasaanmu?” Tanya saya.
“Haha, donat itu kuterima selepas Asar. Donat yang stroberi baru kumakan setelah Magrib. Karena aku nggak pengin kenikmatan itu cepat berlalu. Jadi Asar cukup makan satu, nanti kalau sensasi enaknya sudah hilang dari lidah, masih ada satu donat lagi yang bisa kumakan pas Magrib,” jawab Anshar dengan terkekeh.
Hingga saat ini, itu menjadi momen pertama kali dan sementara masih menjadi yang terakhir kali Anshar menikmati donat J.CO. Sampai saat ini masih belum ada gratisan lagi, og.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sisi demi Sisi J.Co dan Dunkin’ Donuts dalam Pertarungan Abadi Donat Fancy atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
