Makanan Jogja, sebagaimana makanan Jawa, rasanya cenderung manis dan kurang berani. Dalam kamus daerah dengan cita rasa yang lebih kaya seperti Sunda, mereka akan menyebutnya kurang “nendang”. Inilah yang menjadi alasan anak rantau asal Bandung tidak sabar untuk mudik Lebaran, karena tersiksa dengan rasa makanan di Jogja yang tidak ada rasanya.
Mudik demi kuliner Sunda
Iqbal (30) adalah anak rantau yang dibicarakan. Hampir satu tahun di Jogja, tetapi Iqbal masih belum terlalu bisa menerima rasa makanan Jawa yang berbeda dibandingkan dengan makanan khas Sunda dari kota asalnya.
Karena itu, momentum mudik menjadi menggembirakan bagi Iqbal. Ia punya kesempatan untuk pulang sekaligus membayarkan rasa hambar dan manis dari makanan Jawa yang belum mampu menandingi cita rasa makanan Sunda.
“Pengin makan makanan Sunda lah istilahnya karena selama di Jogja ini kan makanannya Jawa,” kata Iqbal kepada Mojok, Selasa (10/3/2026).
Alasan Iqbal menyoroti makanan Jawa yang dibandingkan dengan makanan Sunda adalah cita rasa kedua makanannya yang berbeda. Makanan Jawa di Jogja cenderung manis dan tidak sesuai dengan lidahnya sebagai orang Bandung.
Menurutnya, makanan khas Sunda tidak pernah gagal memadupadankan rasa gurih, pedas, asin, dan asam sekaligus dalam satu makanan membuatnya tidak sabar untuk mudik Lebaran ini. Karena itu juga, Iqbal telah merencanakan untuk menghabiskan sebagian waktu mudik Lebaran untuk berburu makanan di Bandung.
“Aku rindu gitu, jadi sekaligus beberapa waktu terakhir sebelum Lebaran nanti tuh mau abisin waktu buat jajan makan makanan yang kaya akan micin,” ujarnya.
Ambil contoh, seblak yang menjadi salah satu makanan khas Sunda paling populer beberapa tahun belakangan ini. Jajanan berbahan dasar kerupuk mentah yang direbus hingga basah ini dimasak dengan bumbu halus kencur atau cikur, bawang putih, dan cabai. Hasilnya bukan main, tekstur kenyal dan kuah gurih pedas bisa dinikmati bersama aroma kencur yang kuat.
@rafaell_1616 Pecinta seblak mana cik karumpul!!! Udah coba seblak nu ieu? 🥰 buatan @Coco baco ♬ Cooking BGM (Japanese style) – ArcTracks
Kira-kira, makanan seperti ini, mustahil untuk Iqbal temukan di Jogja. Maka, mudik Lebaran menjadi solusinya untuk bisa mencicipi rasa otentik makanan khas Sunda kembali.
Muak dengan makanan Jogja yang cenderung manis
Namun demikian, setiap makanan di berbagai tempat punya keunikannya masing-masing. Makanan khas Sunda lekat dengan lalapan, bertekstur dan rasa gurih seperti seblak, mengikuti sejarahnya pada naskah Sunda tinggalan abad ke-16, Sanghyang Siksa Kandang Karesian (1518), yang berbunyi, “Kalingana asak deung atah [sebenarnya hanya mentah dan masak],” merujuk pada lalap yang dikonsumsi mentah dan masak.
Dalam versi yang lebih digemari gen Z, seblak dari kerupuk yang tidak matang-matang amat, tidak kering karena basah, dan dimasak secukupnya. Itulah keunikan makanan khas Sunda.
Lain hal dengan makanan Jawa. Berdasarkan buku Antropologi Kuliner Nusantara, Belanda menerapkan sistem tanam paksa di Pulau Jawa dengan mewajibkan menanam berbagai komoditas, salah satunya tebu. Tanam paksa ini menjadikan Jawa sebagai produsen gula utama di dunia.
Akibatnya bukan hanya masyarakat yang terbiasa mengolah tebu untuk ekspor, tetapi juga menjadikannya sebagai bahan dasar makanan sehari-hari. Jadilah, masyarakat Jawa, termasuk Jogja, lebih akrab dengan makanan manis.
Tidak sabar bertemu makanan dan keluarga saat Lebaran
Karena perbedaan rasa makanan Jawa dan Sunda itu, Iqbal bilang, antusiasmenya sebagai anak rantau untuk mudik Lebaran meningkat. Pasalnya, ini memang kali pertama dirinya mudik sehingga penasaran dengan kesan pulang ke kota asalnya, Bandung.
Namun yang lebih penting, tentu saja mencicipi makanan khas Bandung itu sendiri.
Skala kerinduan Iqbal terhadap makanan khas kota asalnya itu bahkan mencapai angka sembilan dari sepuluh. Alasan utamanya, cita rasa yang tidak bisa ditemukan di makanan Jogja.
“Kalau diurut kalau kangen sih kangen banget ya, dari skala 1 sampai 10, aku beri 9 karena lidah aku kan pengin banget ngerasain yang tadi disebutkan. Rasa gurih, asam, pedas, yang aku nggak temuin di Jogja, jadi itu alasan utamanya,” katanya menjelaskan.
Meski tidak sabar ingin kembali memakan makanan di Bandung saat mudik Lebaran, Iqbal tidak melupakan salah satu alasan utamanya dalam mudik kali ini juga, yakni keluarga. Selain makanan, keluarga juga menjadi tujuan utamanya dalam mudik.
“Alasan utama jelas keluarga karena tidak ketemu selama Ramadan ini. Jadi, ini jadi momentum balik lagi ketemu orang tua, adik, adik ipar, dan ponakan gitu,” ujarnya.
“Sekarang juga ponakan kan liburan di Bandung, bisa banyak waktu di rumah sama dia, setelah itu baru aku ke makanan,” tambah dia.
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Sebagai Warlok, Saya Tidak Sedih karena Tak Bisa Mudik tapi Jengkel Satu Indonesia Pindah ke Jogja atau artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
