Minggu lalu, saya mengunjungi dua rumah makan padang di Jogja dalam satu waktu. Hasilnya, hampir sama, tapi berbeda. Namun, rumah makan padang yang kedua nyaris keluar sebagai juara kalau saja rendang sebagai hidangan khas Minang yang disajikan tidak perlu dimodifikasi terlalu mirip seperti kuliner Jawa.
Rendang, kuliner khas Minang yang mendunia
Rendang selalu menjadi menu andalan yang wajib dicicipi saat bertandang ke rumah makan Padang. Ini disebabkan olahan daging sapi ini telah dikenal sebagai kuliner khas Ranah Minang, Sumatra Barat.
Melansir dari Indonesia Kaya, rendang berasal dari bahasa Minang yang berarti randang, merujuk pada teknik memasak lambat yang disebut marandang. Kata marandang memiliki arti mengolah dan mengaduk masakan dalam waktu lama dengan api kecil di atas kayu bakar sehingga hasil masakan menjadi kering.
Meski mudah ditemui dalam kehidupan sehari-hari, kuliner yang diyakini telah dikenal sejak tahun 1550 M ini menduduki hierarki tertinggi di antara kuliner khas Minang lainnya. Ia dijuluki sebagai kepalo samba (induk makanan) dalam tradisi Minang. Rendang biasa dihidangkan bersama gulai, sayur rebung, ikan goreng, dan sayur nangka.
Tak heran, rendang menjadi salah satu lauk yang tidak ketinggalan harus disertakan dalam sepiring nasi padang. Sebab, kelezatannya telah berhasil menghipnotis meja makan internasional dengan menduduki peringkat pertama World’s 50 Most Delicious Foods versi CNN International.
Ekspektasi memakan rendang yang kaya rempah
Mengutip dari Rendang: The Treasure of Minangkabau yang dipublikasikan di Journal of Ethnic Foods, Nurmufida dkk. menyebutkan rendang sebagai hidangan tradisional Sumatra Barat dengan banyak rempah, bumbu, dan bahan yang beragam, termasuk daging sapi dan santan.
Rendang dimasak selama 6 sampai 7 jam dengan bumbu dan herba mulai dari bawang putih, bawang bombay, cabai merah, kunyit, jahe, lada, serai, lengkuas, adas bintang, daun jeruk purut, daun salam, daun kunyit, asam, dan asam kandis.
Maka dari itu, terang saja siapapun yang mencicipi rendang akan mengharapkan cita rasa autentik yang kaya rempah dan perpaduan gurih, pedas, sampai dengan asin di lidahnya. Tak terkecuali, saya.
Sayangnya, saat mencicipi hidangan rendang di salah satu rumah makan Padang di Jogja. Ekspektasi saya dikecewakan. Rasanya didominasi manis.
“Manis,” dan saya langsung meminta dua teman yang duduk di hadapan saat itu untuk mencicipinya. “Manis,” kata mereka bereaksi sama.
Rasa rendang di Jogja naasnya malah manis
Salah seorang teman yang ikut mencicipi, Maria (22), memperjelas rasa rendang kali itu, “Manis dia.”
Meski Maria sudah terbiasa dengan makanan manis, mengingat dirinya berdarah Jawa, tepatnya Jawa Tengah, Maria mengaku kecewa dengan rasa rendang yang tidak autentik. Tidak juga seperti bayangannya akan rasa kuliner rendang yang sering dinikmatinya.
“Jujur, cukup kecewa karena biasanya pun asin,” kata dia.
Menurut Maria, meskipun di luar Tanah Minang, seperti Jogja yang cenderung lekat dengan makanan manis, rasa kuliner khas Minang ini tidak seharusnya dimodifikasi sedemikian rupa hanya untuk memuaskan palet rasa pembeli. Justru, untuk memperkenalkan kuliner Minang, kepalo samba ini harus mempertahankan orisionalitasnya.
“Maksudnya, bumbu kuahnya itu kayak kurang. Ya, meskipun manis juga, tidak seperti rendang yang di pikiran aku dan yang biasa dijual,” tambahnya menerangkan.
Sebagai seseorang yang menyukai makanan pedas dan gurih, Maria tidak menemukan rasa pedas sedikit pun dari rendang yang dihidangkan. Dalam bayangannya mengetahui rendang khas Minang kaya rempah, Maria mengharapkan setidaknya ada sedikit rasa menggigit karena rendang juga dimasak dengan cabai.
“Tidak ada pedasnya juga kurasa,” ujarnya.
Adaptasi kuliner Jawa
Rasa manis yang lebih mendominasi kiranya muncul karena adaptasi kuliner rendang di luar Sumatra Barat. Jika rendang tradisional di rumah makan Padang yang benar-benar di Padang terkenal dengan rasa pedas dan rempah yang kuat, di luar daerah kekuasaannya kuliner ini dimodifikasi agar lebih sesuai dengan selera lokal.
Misalnya, di daerah Jawa, rendang yang kami cicipi kaya akan rasa manis selayaknya kuliner Jawa dibandingkan rasa lain. Sebab, bumbu yang digunakan ditambahkan gula merah yang membuat rasa manisnya lebih menonjol.
Menurut Guru Besar Ilmu Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta, masyarakat yang paling dekat dengan lingkungan kraton (Solo dan Jogja) lebih menyukai rasa manis.
“Dari ketiga kelompok [masyarakat Jawa] ini, masyarakat yang dekat dengan lingkungan keratonlah yang dikenal paling menyukai rasa manis,” katanya, seperti dikutip dari Antara, Senin (16/3/2026).
Dalam filosofi budaya kraton, rasa manis dianggap sebagai simbol kenikmatan, keharmonisan, dan kebahagiaan, sehingga makanan manis selalu menjadi sajian utama dalam berbagai acara adat dan tradisi masyarakat Jawa. Juga, kehidupan sehari-hari.
Namun sebenarnya, sekalipun berada di wilayah Jawa, Jogja, ada harapan untuk menemukan kuliner rendang khas Minang di rumah makan Padang yang autentik (tidak manis).
Penulis: Shofiatunnisa Azizah
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Alasan Orang Sunda Ingin Mudik Bukan Hanya Keluarga, tapi Tak Tahan Siksaan Makanan Jogja yang Rasanya “Hambar” dan artikel liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
