MOJOK.CO – Bagi orang tua para anak yang berlaga untuk Garuda Pertiwi di final Caffino Srikandi Merdeka Cup 2026, hasil tak terlalu penting untuk mereka. Berlaga di final sudahlah satu kebanggaan, yang akan dikenang untuk waktu yang begitu lama. Aris, Nia, Haripin, dan Diana, berbagi cerita tentang kebanggaan melihat anaknya berlaga membawa lambang Garuda di dada.
***
Masih 5 jam sebelum final, tapi tribun Supersoccer Arena sudah begitu penuh. Pertandingan perebutan juara ketiga antara Jordan vs Malaysia dipenuhi penonton yang sorak sorai tiap pemain melakukan pergerakan menuju sepertiga akhir lapangan. antusiasme dan volume penonton sama rata untuk kedua tim. Ketika Jordan mencetak gol yang berakhir dianulir, kehebohan dan sorak kekecewaan rata terdengar.
Ketika Malaysia menyerang dan mengkonversi serangan mereka menjadi gol, riuh sama rata. Bedanya, mereka meneriakkan yel-yel “UPIN IPIN” beberapa kali. Ya, Malaysia menegaskan dominasi SEA di turnamen ini. Apa pun hasil final nanti, juara 1-2-3 dipegang oleh tim dari Asia Tenggara.
Dukungan penonton di tribun untuk kedua tim yang berlaga di perebutan juara ketiga memang heboh, tapi saat final, kehebohan tersebut jadi terlihat amat sepele. Sebab, di final, tuan rumah, Garuda Pertiwi, akan menantang hegemoni Thailand di dunia sepak bola Asia Tenggara.
Selain karena tuan rumah, ada faktor yang lebih kuat ketimbang tuan rumah, status unggulan, atau sistem terbaik, yaitu, dukungan dan doa orang tua, yang tak terputus dan terbatas waktu.
Nomor 10 yang jadi pembicaraan
Nafeeza Ayasha Nori (15) jadi pembicaraan selama gelaran menuju final. Absennya pemain nomor 10 tersebut di semifinal jadi perhatian khusus dari banyak pihak. Coach Timo (52) sendiri berkata bahwa absennya Nafe bikin ia harus mencari solusi dadakan dalam match.
“Kalau tadi Anda perhatikan, Anya (16 tahun) main di sayap, Anya main di tengah, Anya main di striker, mencari solusi untuk kebolongan yang ada karena Nafe cedera,” ujar Coach Timo.
Nafe memang salah satu pemain dengan kualitas yang mumpuni di Garuda Pertiwi. Ia salah satu pemain U-16 dengan jam terbang yang tinggi. Bermain di Portugal dan Filipina jadi contoh bahwa pengalaman menghadapi pemain dengan skill yang lebih baik, serta pressure yang beragam membuatnya jadi salah satu pemain kunci di Garuda Pertiwi.
Ketika namanya muncul dalam starting line-up, kekhawatiran akhirnya menguap dengan sendirinya. Tapi ada satu pertanyaan yang menarik: bagaimana orang tua Nafe mendukungnya dalam perjalanannya mengarungi dunia sepak bola?
Marseille roulette
Mojok berkesempatan mewawancarai orang tua Nafeeza Ayasha Nori, yang duduk di tribun khusus orang tua pemain. Aris (43), Nia (40), dan adiknya Nafe datang kompak mengenakan seragam timnas bernomor 10, sesuai dengan nomor punggung Nafe. Mereka sudah datang saat tribun masih relatif sepi, sembari melihat para punggawa Garuda Pertiwi dan Thailand melakukan pemanasan di lapangan.
“Semuanya diserahin ke PSSI, pelatih. Cuman sebagai orang tua kita bantu doa saja lah. Sama support dari jauh lah dan mengingatkan, kayak Fe, istirahatnya, terus kan makannya dikurangin, kayak dia suka roti kan, kurangin,” pungkas Aris dan Nia.
Sebagai salah satu pemain yang punya pengalaman paling banyak, seperti bermain di Portugal dan Filipina, serta meraih best player di Swedia dan Denmark, orang tua Nafe sudah tau bahwa tinggal memberikan motivasi dan mengingatkan Nafe untuk selalu konsisten dalam berusaha.

Nafeeza Ayasha Nori pun masuk starting line-up Garuda Pertiwi. Ia tidak terlihat seperti pemain yang barusan cedera dan harus absen. Bahkan ia sempat melakukan Marseille roulette, mengecoh Thiritat Samrong (15), penyerang Thailand, dan bikin Thiritat harus menarik Nafe hingga jatuh.
Di sisi lain, ada Anya Gabriella Chandra (16), pemain yang sempat dijadikan Coach Timo untuk mengisi lubang yang ditinggalkan Nafe. Orang tuanya ada di sana, ikut menyaksikan anaknya menyisir sisi kiri pertahanan Thailand.
14.900 kilometer untuk Garuda Pertiwi
Haripin (48) dan Diana (48) duduk di tribun orang tua pemain di bagian atas, mendapat view yang lebih luas agar bisa menyaksikan Anya Gabriella Chandra yang diplot oleh Coach Timo untuk menjaga kelebaran, serta sesekali menusuk pertahanan, agar ada ruang untuk kawannya overlap di sisi kanan pertahanan lawan. Anya adalah salah satu pemain yang punya menit bermain terbanyak di skuat Garuda Pertiwi dengan 390 menit total waktu bermain menuju final.
Berlaganya Anya di final adalah kebanggaan terbesar bagi Haripin dan Chandra. Mekihat anaknya mengenakan jersey Tim Nasional Indonesia sudah memberikan mereka kebanggaan tak terkira. Tak mengagetkan jika mereka rela mengorbankan waktu dan dedikasi mereka untuk mendukung Anya.
“Pengorbanannya waktu, kita harus dedikasi untuk support untuk Anya. Untuk latihan, harus diantar latihan, harus disupport kalau mau main games itu tiap hari harus latihan,” ucap Diana.
“Pagi, latihan jam 6-7, terus pulang sekolah, latihan lagi. Jadi satu minggu kita 20 jam lah di jalanan,” tambah Haripin.
Orang tua Anya harus merelakan anaknya berpisah selama 3 minggu, untuk turnamen ini. Haripin berdomisili di San Diego, Amerika Serikat. Jadi perkara dedikasi, perkara dukungan, tentu mereka sudah membuktikannya dengan berada di Supersoccer Arena, Kudus, yang berjarak 14.900 kilometer jauhnya dari San Diego.
Berlaga di final tentu memberikan ekspektasi tersendiri bagi semua yang terlibat. Penonton ingin melihat tim yang didukung menang. Pelatih ingin pemainnya berlaga secara maksimal. Lalu, bagaimana dengan orang tua pemain? Bagaimana jika kalah?
Apa pun hasil yang Garuda Pertiwi raih, mereka bangga
“Jadi, anak jangan dilatih untuk terus menang. Kalah, menang, cedera, jadi cadangan, itu harus bisa dilewati. Karena itu sebagai pembentukan mental dan karakter.”
Aris dan Nia, orang tua Nafeeza Ayasha Nori menjawab dengan tegas bahwa jika anaknya kalah, tidak akan kecewa. Kekalahan harus bisa dilewati, karena ini penting untuk jadi pembentukan karakter ke depannya.
Hal serupa juga diutarakan oleh Haripin dan Diana, orang tua Anya Gabriella Chandra, kalah pun tak masalah.
“Saya sudah bangga, bangga sekali. Anak saya duduk di sana saja sudah bangga, apalagi main,” ucap Haripin. Diana menambahkan, “Yang saya lihat, Anya sejak 3 minggu saja, dari sejak kita drop di TC sampai hari ini, dia sudah berkembang jauh. Jadi kita nggak ekspektasi semua harus menang, yang paling menonjol, apa pun. Kita maunya dia main jadi supportive, dan Tim Indonesia (meraih hasil) yang terbaik.”
Bagaimana 10 tahun ke depan?
Sebagai penutup, tim dari Mojok menanyakan apakah mereka bisa melihat anaknya berlaga di Piala Dunia Putri sepuluh tahun ke depan. Aris dan Nia, orang tua Nafeeza Ayasha Nori, menjawab inshaallah bisa. Nia menambahkan, “Sebelumnya anaknya juga sudah main di Eropa untuk kelompok usia, ya mudah-mudahan di 10 tahun kemudian, inshaallah, mudah-mudahan.”
Haripin dan Diana, orang tua Anya Gabriella Chandra menjawab secara kompak, aamiin. Haripin menambahkan, “Saya juga bangga, cuman terakhirnya terserah anaknya. Kita sebagai orang tua kita support, kalau Anya mau nerusin, kita support.”
***
Usaha Anya dan Nafe malam itu belum sesuai dengan keinginan. Garuda Pertiwi harus mengakui keunggulan Thailand, yang sudah 3 dekade memahat pemainnya dengan latihan, pembinaan yang sistematis, serta sejarah yang panjang. Tapi perlu diingat, malam itu, Thailand dibuat frustrasi hingga harus melakukan 19 kali fouls, dan hanya meraih 49 persen ball possessions. Tidak ada yang bisa meragukan, bahwa beberapa tahun ke depan, Anya dan Nafe bisa jadi pilar yang membuat dominasi Thailand di ASEAN runtuh, dan menjadi penguasa baru.
Malam itu, “Tanah Airku” bergemuruh, dinyanyikan oleh para pendukung yang memadati tribun Supersoccer Arena. Hasil mungkin sedikit pahit, tapi bagi Aris, Nia, Haripin, dan Diana, melihat seribu lebih manusia menyanyikan “Tanah Airku” untuk anak-anaknya bisa jadi momen paling membanggakan dalam hidup mereka, dan akan terngiang selama, 10, 20, tahun ke depan.
Srikandi Merdeka Cup 2026 merupakan turnamen sepak bola putri kelompok usia U-16 yang digagas Bakti Olahraga Djarum Foundation. Edisi tahun ini diikuti Timnas Putri U-16 Indonesia, Thailand, Malaysia, Singapore, Hong Kong, Saudi Arabia, dan Jordan.