Pernah Diusir dari Kelas saat SMA Gara-gara Sulit Mendengar dan Susah Nulis, Nikita Kini Bisa Jadi Sarjana dari UGM dan Ingin Lanjut S2

Ilustrasi wisuda UGM (Mojok.co)

Sosok perempuan kuat tergambar dalam diri Nikita Nur Hijrianti. Ia punya keterbatasan mendengar dan mengidap cerebral palsy, namun tekad kuat berhasil mengantarnya jadi sarjana setelah melangsungkan wisuda UGM.

***

Beberapa kali datang ke prosesi wisuda UGM, saya menyaksikan banyak kisah haru dan perjuangan. Baik dari orang tua, pendamping, hingga para mahasiswa dengan keterbatasan yang punya tekad kuat jadi sarjana.

Kali ini, kisah itu datang dari perempuan asal Nginggil, Bendo, Sukodono, Sragen yang baru lulus dari Program Studi D4 Pembangunan Ekonomi Kewilayahan. Meski kuliah yang masih berkaitan erat dengan ilmu ekonomi, ia pernah punya pengalaman pahit dikeluarkan dari kelas ujian pada mata pelajaran itu saat SMA.

Peristiwa itu terjadi pada saat Nikita duduk di kelas 2 SMA. Saat itu, sedang ada ujian harian kelas ekonomi. Guru pengampu kebetulan tidak tahu bahwa ia punya keterbatasan dengar dan cerebral palsy.

Nikita bercerita bahwa guru yang tak tahu kondisinya itu lantas mengusirnya dari ruang ujian. Alasannya, karena Nikita tak bisa mendengar instruksi dan menulis secara cepat seperti teman-teman lainnya.

“Sempat saya benci mata pelajaran ekonomi. Namun seiring setelah kuliah, saya menjadi suka ekonomi. Terima kasih untuk Kak Jesita Mapres FEB angkatan 2016 telah membuat saya sadar bahwa ilmu ekonomi ini amat luar biasa,” ungkap perempuan yang wisuda pada Rabu (22/5/2024) lalu dikutip dari laman resmi UGM.

Lahir dengan keterbatasan hingga sempat banyak diejek teman

Sejak lahir, Nikita sudah menyandang minor cerebral palsy. Kondisi yang membuat tumbuh kembangnya sempat terganggu. Ia baru bisa berjalan normal pada usia dua tahun.

sosok nikita penyandang disabilitas yang wisuda ugm.MOJOK.CO
Sosok Nikita (Dok. Humas UGM)

Pada saat duduk di bangku SD, ia mengalami sakit yang kemudian membuat pendengarannya terganggu. Namun, ia tak putus asa. Orang tuanya juga memberikan dukungan penuh dalam pendidikan. Perempuan ini selalu belajar di sekolah umum. Namun, tentu perjalanannya bukan tanpa kendala.

“Kendalanya saya didiskriminasi, dan sama teman pernah diejek juga. Karena tidak bisa berolahraga, saya selalu ada tugas tambahan untuk pelajaran olahraga. Untuk teori itu saya bisa, dan sempat masuk SMA favorit yaitu SMA 1 Sragen selama setahun. Tetapi kemudian pindah karena tidak betah dengan perlakuan teman dan guru,” kenangnya bersedih.

Lika-liku saat menempuh studi itu tidak jadi penghalang buatnya. Ia berhasil masuk UGM. Selama kuliah, ia mengandalkan metode membaca gerak bibir untuk memahami penjelasan selama kuliah.

Aktif selama kuliah di UGM

Ia pun merasa bersyukur karena selama perkulihan para dosen memperlakukannya dengan baik. Para dosen memberi jalan untuk memudahkan mengikuti perkuliahan, terutama terkait dengan listening dalam praktikum bahasa inggris dan tugas-tugas presentasi.

“Para dosen baik, dan memaklumi tulisan tangan saya buruk karena tidak bisa menulis rapi,” akunya.

Selama kuliah, ia juga aktif di UKM Difabel. Selain itu, juga terlibat dalam berbagai kegiatan mahasiswa termasuk KKN. Menariknya, saat KKN, Nikita dipercaya menjadi koordinator.

“Para dosen di kampus sebenarnya juga mengajak saya terlibat kegiatan asistensi, seperti akreditasi prodi dan penelitian, dan saya sangat bersyukur dengan banyak aktif di berbagai kegiatan, saya pun berkesempatan mendapat Beasiswa Pertamina Sobat Bumi pada tahun 2019,” terangnya.

Nikita akhirnya bisa lulus dengan IPK 3,37. Namun, impiannya tidak berhenti di wisuda UGM. Ia ingin bisa melajutkan studi hingga S2 dengan mengejar beasiswa LPDP.

Kisah haru sepanjang wisuda UGM

Perjuangan Nikita, tentu membuat bangga bapak dan ibunya. Bapaknya, Suripto, merupakan seorang guru. Sementara ibunya bekerja sebagai tenaga kesehatan.

“Sebagai orang tua tentu merasa terharu, bangga melihat Nikita bisa menyelesaikan studi di UGM. Walaupun dengan keterbatasan yang dimiliki masih bisa berkompetensi dalam meraih cita cita. Semoga ini bisa menginspirasi untuk kedua adiknya, Hanifah dan Hanif,” ujar Suripto.

Dalam rangkaian wisuda, termasuk wisuda UGM, banyak kisah haru yang kerap saya dapati. Bahkan, kesan mendalam bukan hanya dirasakan oleh wisudawan maupun orang tua. Sopir yang jadi pengantar rombongan juga turut merasakan aura bahagianya.

Sugito (46) misalnya, seorang sopir asal Purbalingga yang saya temui saat wisuda UGM Rabu (21/2/2024) lalu bercerita perjalanannya menuju UGM terasa berkesan. a berangkat sekitar jam 3 pagi dari Purbalingga. Menurutnya, setiap mengantar orang tua menuju wisuda UGM pasti mendapat banyak cerita.

“Pokoknya kalau ke UGM pasti orang tua bangga. Apalagi, yang saya antar ini anaknya beasiswa penuh sejak awal kuliah. Hidupnya prihatin,” terangnya.

Menurutnya, rata-rata orang tua yang datang dari jauh rela menyewa mobil memang bukan dari kalangan berada. Mereka rela nabung, merogoh kocek agak mendalam tanpa ragu demi wisuda anaknya.

Kisah Gito, jadi sekilas cuplikan betapa berartinya wisuda bagi sebagian orang tua. Kebahagiaan tak bisa disembunyikan. Sepanjang perjalanan penuh cerita.

Penulis: Hammam Izzuddin

Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Para Sopir Saksi Perjuangan Orang Tua Nabung Sewa Mobil Demi Hadir Wisuda UGM, Anaknya Kuliah Berkat Beasiswa

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News

Exit mobile version