Ortu Miskin Dihina Saudara Kaya saat Ingin Kuliahkan Anak, Meski Kuliah di PTN Ecek-ecek Malah Punya Karier Terhormat ketimbang Anak Saudara

Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran MOJOK.CO

Ilustrasi - Bapak-ibu dihina saudara sendiri karena ingin kuliahkan anak di PTN, tapi beri pembuktian. Meski anak jadi mahasiswa di PTN ecek-ecek tapi jadi sarjana pekerja kantoran. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Keinginan kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN) sempat jadi hinaan bagi saudara sendiri. Hanya karena ekonomi yang dianggap tak mendukung dan hidup sebagai orang desa biasa, maka mimpi menjadi mahasiswa sampai sarjana hanyalah impian kosong belaka.

***

Sampai saat ini, Latufa (26) masih mengingat persis detail kejadian malam itu, di sebuah rumah mewah—yang di halamannya terparkir dua mobil dan tiga motor—milik saudara laki-lakinya: Anak dari pamannya. Ia masih mengingat, kalimat perkalimat bernada merendahkan yang keluar dari keluarga saudaranya itu.

Di pertengahan kelas 3 SMA pada 2016, Latufa mulai mantap untuk melanjutkan kuliah di PTN. Apalagi orang tuanya juga mendukung.

Di antara keluarga Latufa, memang hanya keluarga saudaranya yang saat itu dibilang mapan. Anak dari pamannya itu saat itu aktif-aktifnya bergiat di partai politik. Sementara istrinya adalah seorang guru berstatus PNS. Keluarga mereka bergelimang uang dan barang-barang mewah. Jalan karier mereka itu konon karena ijazah PTN yang mereka miliki.

“Sebenarnya rumah kami nggak satu desa. Mereka tinggal di pusat kecamatan. Nah, suatu hari, aku dan ibuku ketemu pamanku itu. Dia paman dari bapak (kakaknya bapak), cuma katanya paman sambung. Mereka beda ibu. Pas tahu aku pengin kuliah, paman menyarankan agar aku main ke rumah anaknya, konsultasi soal pilihan PTN dan jurusan. Biar nanti lulus bisa punya karier bagus,” ucap Latufa membagi cerita kepada Mojok, Rabu (7/1/2025) malam.

Latufa merasa yang mendukungnya semakin banyak saja. Tidak hanya dari orang tua sendiri. Mengikuti saran sang paman, pada sautu malam, bertamulah ia ke rumah saudaranya yang mewah itu.

Ingin kuliah di sebuah PTN terkenal, langsung direndahkan

Malam itu, setelah basa-basi yang canggung dan dingin, juga setelah menyeruput cokelat sachet hangat buatan ART di rumah saudaranya, percakapan itu terjadi:

“Kamu mau kuliah Psikologi di PTN (A)?” Tanya saudara laki-lakinya dengan nada meremehkan. Latufa mengangguk.

“Mau jadi Psikolog? Emang kerjaannya jelas? Iya kalau kamu suatu saat nanti ada di Jakarta, baru bisa itu jadi Psikolog. Kalau kuliah itu Ekonomi atau Akuntansi saja, perempuan kayak kamu cocoknya di situ. Prospek kerjanya juga lebih bagus,” sambung saudara laki-lakinya itu.

Latufa mulai merasa, sepertinya konsultasi malam itu akan berlangsung amat tidak menyenangkan. Apalagi setelah istri si saudara laki-laki Latufa menyahut.

“Ya jangan jauh-jauh ngomongin prospek kerja dulu. Biaya ke PTN (A) itu juga nggak murah. Emang mampu?” Begitu kalimat yang keluar dari istri saudara laki-lakinya, dengan raut wajah seperti tidak suka dengan kehadiran Latufa. Kalimat yang membuat Latufa langsung “makdeg!”. Tidak mengira kalau jawabannya bakal semenyakitkan itu.

Bapak dan ibu dihina karena lulusan SD dan hidup seadanya

Sesi selanjutnya, istri saudara laki-laki Latufa lebih banyak bicara. Hanya karena Latufa “salah meminta saran”.

“Kalau ada saran, Mas, Mbak, kuliah di PTN dan jurusan yang biayanya bisa bapakku jangkau?,” begitu kata Latufa. Ucapan yang langsung disambut tawa merendahkan dari istri saudara laki-lakinya.

Kata istri saudaranya itu, harusnya Latufa dan orang tuanya ngaca. Sudah tahu kondisi ekonomi tidak mendukung. Orang tua hanya lulusan SD. Bapak kuli serabutan, ibu hanya IRT biasa, kok berani-beraninya punya mimpi kuliah di PTN. Tidak realistis.

“Uang bapakmu nggak akan cukup. Wong kerja saja nggak tentu. Ibumu juga nggak mungkin pegang uang, wong hari-hari cuma di rumah dan sawah. Kecuali kalau kamu dapat beasiswa. Tapi kamu cukup pintar nggak buat dapat beasiswa?,” ujar istri saudara laki-laki Latufa ketus.

Di momen itu, Latufa langsung menunduk dalam. Ia susah payah menahan tangis. Dalam hatinya: Silakan kalau mau menghina mimpi-mimpiku, tapi tolong jangan hina orang tuaku.

Apa salah bapak dan ibuku?

Pertemuan malam itu tak berlangsung lama. Karena takut air matanya tumpah, ia memutuskan untuk pamit. Di sepanjang jalan menuju rumah, Latufa menangis sejadi-jadinya di atas motor.

Di rumah, bapak dan ibu Latufa sebenarnya kaget ketika melihat mata Latufa sembab. Tapi Latufa tak mungkin menceritakan apa yang ia alami di rumah mewah itu. Ia hanya bilang kalau ia kelilipan di jalan. Tidak bawa helm soalnya.

“Terus dapat solusi apa dari saudaramu?” Tanya bapak Latufa.

“Banyak, Pak.” Jawab Latufa.

“Ya sudah. Semoga nanti bisa jadi mahasiswa dan sarjana ya, Mbak,” timpal sang bapak dengan senyum tulus, sebelum Latufa pamit masuk kamar untuk tidur lebih awal.

Di kamar, air mata Latufa tumpah makin deras. Apa salah  bapak dan ibuku sampai digitukan oleh saudara sendiri, oleh orang yang dulu katanya sering digendong bapak sewaktu kecil? Apakah aku memang jangan kuliah saja, daripada membebani bapak karena pekerjaannya yang tak menentu? Suara-suara itu menyerbu batin Latufa.

Kuliah di PTN tak terkenal dengan UKT murah, dihina tapi tetap terus jalan

Singkat cerita, Latufa kuliah di sebuah PTN yang namanya tidak terlalu terkenal di Jawa Timur. Tak masalah, yang penting UKT-nya murah. Karena sebelumnya upayanya untuk mendapat beasiswa juga tidak berhasil.

Selama kuliah di PTN tersebut, Latufa masih sesekali bertemu dengan saudara laki-lakinya dan istrinya yang ketus dan sombong itu. Terutama saat lebaran.

Tidak satu pertemuan pun yang berlangsung tanpa hinaan. Karena Latufa akhirnya menjadi mahasiswa di sebuah PTN ecek-ecek. Jurusan Psikologi pula—sebagai jurusan yang tidak direkomendasikan saudara laki-lakinya.

Tapi, entah kenapa, Latufa tak mau mengambil hati terlalu dalam. Tersinggung, pasti. Tapi ia memilih untuk fokus. Ia bertekad untuk memberi pembuktian.

Merasa lebih terhormat: Jadi sarjana pekerja kantoran

Latufa lulus empat tahun persis. Ia kemudian bekerja di Jawa Timur. Jadi pekerja kantoran pula, sebagai HRD. Kariernya berjenjang. Dari kerja di kantor biasa dengan gaji tanggung, lalu dua kali pindah di kantor yang lebih besar, dengan upah lebih layak pula.

Ia merasa lebih terhormat. Sebab, dengan segala hinaan yang pernah ia dan orang tuanya sebelumnya dapat, kini ia nyatanya bisa hidup cukup. Gajinya masih bisa ia nikmati sendiri dan dibagi untuk orang tuanya di rumah.

“Saudaraku itu punya dua anak. Laki-laki dan perempuan. Kuliah dua tahun setelahku. Mereka kuliah di PTS karena seleksi PTN saja nggak tembus,” ucap Latufa.

“Kalau sekarang mereka sudah lulus. Yang laki-laki awalnya mau dimasuk-masukin si bapak ke parpol. Tapi bapaknya saja kariernya terancam di situ. Kalau yang cewek, setahuku malah nggak mau dipaksa berkarier dulu. Udah kecantol laki-laki, maunya dinikahkan,” sambung Latufa.

Sampai saat ini, Latufa sesekali masih bertemu mereka. Terutama saat lebaran. Tapi ia tak mau menyapa duluan atau berbincang akrab dengan mereka. Hatinya masih dendam, tapi juga puas karena kalau ditanya, ia bisa menjawab dengan penuh percaya diri soal kariernya.

Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi

BACA JUGA: Sarjana Akuntansi Nekat Pilih Jualan Penyetan di Tengah Keluarga PNS, Direndahkan karena Tak Berseragam, Nggak Tahu Aja Hidupnya Lebih Makmur atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version