“Mundur satu langkah adalah sebuah bentuk pengkhianatan! Salam Pergerakan!”. Jargon—yang kerap diteriakkan dengan suara lantang—itu selalu bisa membakar dada para mahasiswa kader Persatuan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII). Sebuah organisasi mahasiswa ekstra (ormek) yang cukup eksis di sejumlah kampus.
Jargon itu tak sekadar teriakan nyaring belaka. Tapi sebuah komitmen “hidup-mati” untuk setia pada pergerakan. Sekali PMII, selamanya biru-kuning harus tetap menyala di dada. Sekali mengikuti baiat, maka harus total berkhidmat.
Jika niat mundur di tengah jalan, memutuskan menarik diri dari pergerakan, maka ia bukan benar-benar akan dicap sebagai “pengkhianat”. Begitu yang dialami oleh Rajih (26) Rafiq (28), bukan nama asli, saat sama-sama memutuskan keluar dari ormek yang lahir dari Rahim Nahdlatul Ulama (NU) itu.
Terpapar PMII sejak maba dan angan-angan menjadi aktivis cum intelektual Islam
Rajih dan Rafiq berasal dari kampus yang sama, sebuah universitas Islam di Jawa Timur. Sejak masa orientasi mahasiswa baru, senior-senior berjas biru laut tampil mendominasi.
Mereka amat gencar berorasi bahkan menggalang gerakan maba untuk mendemo rektorat kampus. Pada 2017 itu, tuntutannya adalah tidak imbangnya antara biaya kuliah dengan fasilitas yang kampus berikan.
Sejak hari itu, Rajih dan Rafiq sangat tertarik dengan ormek yang kemudian mereka tahu bernama PMII itu (Mungkin juga karena sejak awal mereka tahunya hanya ormek itu yang lebih sering “nampang” di hadapan maba).
Apalagi setelah mereka membaca-baca sejarah perjalanan PMII. Itu membuat mereka semakin mantap untuk berkiprah di PMII selama kuliah.
“Kalau aku kan akhirnya tanya-tanya senior. Dari mereka aku dapat insight, ini wadah yang membentuk banyak aktivis sangar. Kritis, berani, dan lebih-lebih ormek ini mengusung perjuangan untuk berkontribusi di pihak sipil. Makanya mereka kerap turun aksi mengkritik kebijakan yang merugikan rakyat,” ucap Rajih, Minggu (11/1/2026).
“Kalau aku lebih terinspirasi sosok Mahbub (Mahbub Djunaidi), kolomnis bernas di masanya. Jadi lewat PMII, aku berharapnya bisa menuangkan pikiran-pikiranku dalam kajian intelektual keislaman,” sementara begitu kata Rafiq.
Sibuk kaderisasi tapi tak mencerminkan intelektual dan keislaman
Satu tahun bergabung, Rajih dan Rafiq justru mulai merasa tak nyaman bergabung di PMII. Ada beberapa alasan:
Para senior ormek tersebut lebih sibuk kaderisasi: Memperbanyak kuantitas (jumlah rekrutan). Sayangnya, banyaknya kuantitas—dalam kasus PMII yang mereka ikuti—tidak diimbangi dengan kualitas para kader.
“Memang sering kajian, tapi itu sekadar ajang untuk saling omong besar. Lebih banyak ngopi-ngopi dan rapat sampai larut malam. Sok-sok berfilsafat. Sok-sok menjunjung Mahbub Djunaidi, tapi baca dan menulis bukan menjadi habit. Jadi filsuf di tongkrongan, tapi di kelas kosong,” kata Rajih.
Ia mulai tak kerasan dengan ormek tersebut karena justru menulari cara pikir yang menurutnya tidak tepat. Misalnya, para senior dan banyak kader lebih sibuk di organisasi—sesimpel ngopi sampai subuh—karena anggapan jejaring lebih penting ketimbang mata kuliah di kelas.
Itu dicerminkan pula dari banyaknya senior yang jarang masuk kelas, mengulang mata kuliah, molor skripsi hingga semester 14, bahkan ada yang sampai DO karena lewat semester.
“Kalau aku lebih ke tidak mencerminkan “mahasiswa Islam”. Ngopa-ngopi ngomongin aswaja dan tuhan, tapi salat dan puasa Ramadan nggak pernah,” ucap Rafiq.
Muak dengan arogansi PMII dalam politik kampus
Politik memang kotor. Namun, Rajih dan Rafiq tidak membayangkan kalau praktik kotor tersebut sudah terpampang jelas di kampus. Dan sudah sekotor itu, tak tertolong.
PMII begitu obsesif untuk meletakkan kuasa di kampus, di atas ormek-ormek lain. Merebut kuasa di banyak lini.
Bahkan, PMII di kampus Rajih dan Rafiq sampai terang-terangan membungkam partisipasi ormek lain. Saling bentrok pun sering terjadi tiap menjelang pemilihan raya (Pemira) untuk Senat atau Badan Eksekutif Mahasiswa.
Rajih dan Rafiq merasa tak mendapat hal-hal produktif di tengah arogansi dan paradoks ormek yang mengatasnamakan “Islam” itu. Pada akhirnya mereka pun memilih keluar, yang itu artinya: “…adalah sebuah bentuk pengkhianatan!”
Dicap pengkhianat, dimusuhi hingga nyaris dihajar, tapi bersyukur
Rajih dan Rafiq terang-terangan menulis pesan panjang di grup WhatsApp rayon tempat mereka bernaung. Intinya satu: Mereka mundur karena merasa PMII sering kali berseberangan dengan nilai-nilai luhur yang kerap diceramahkan sedari masa kaderisasi hingga di meja-meja warung kopi.
Mereka kemudian keluar dari grup besar. Tak dinyana, keluarnya mereka diikuti oleh kader-kader lain yang selama ini hanya bisa pasif: Ikut gradak-gruduk agar kelihatan aktif, tapi sebenarnya sudah tidak tahu harus mencari apa di ormek tersebut.
Sementara para kader itu hanya bisa memendam keinginan keluar, karena terbentur jargon “Mundur satu langkah adalah sebuah bentuk pengkhianatan.”
Singkat cerita, setelah kejadian keluar massal itu, para senior ternyata menyisir para kader yang keluar. Beberapa ada yang masuk lagi usai diceramahai. Namun, Rajih dan Rafiq memilih tetap pada pilihannya: Sekali keluar ya keluar.
Itu berimplikasi buruk pada mereka. Apalagi, setelah keluar, Rajih dan Rafiq mengajak beberapa mahasiswa lain membuat kolektif sendiri dengan concern pada literasi dan media kritis. Dalam kolektif itu, melalui website yang mereka susun, mereka berani berisik mengkritik praktik-praktik kotor di kampus. PMII tentu saja jadi sasaran.
Alhasil, tidak hanya dilabeli “pengkhianat”, mereka juga nyaris dihajar oleh para kader loyal “partai biru-kuning”.
“Kalau kritikku tidak tepat, mari perang argumen. Tulisan balas tulisan. Lebih produktif. Bukan adu pukul,” tantang Rajih waktu itu, yang ternyata tidak diladeni oleh para kader yang tersinggung. Hanya saja setelahnya mereka jadi dimusuhi.
“Betapa tidak dewasanya. Ada beberapa teman kelas yang awalnya akrab, terus nggak mau berteman lagi denganku. Karena kami berkhianat. Apalagi aku sering iseng, kalau presentasi dikelas, aku kasih pertanyaan-pertanyaan yang sulit mereka jawab,” ungkap Rafiq.
Tapi Rajih dan Rafiq mengaku bersyukur “berkhianat” dari PMII. Sebab, mereka kemudian justru menjadi lebih produktif. Kuliah selesai dengan baik, lulus pun dapat pekerjaan layak tanpa harus menjadi “gelandangan politik” sebagaimana yang mereka dapati dari beberapa kader.
Penulis: Muchamad Aly Reza
Editor: Ahmad Effendi
BACA JUGA: Realitas Mahasiswa dan Mahasiswi UIN, Tampak Agamis di Kampus tapi di Luar Mengerikan atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
