Derita Mahasiswa Kuliah di Jogja yang Tak Disadari: Sulit untuk Lanjut Hidup di Jogja karena Properti yang Mahal, tapi Jika Lanjut, Harus Siap Bergesekan dengan Warga Lokal

Derita Mahasiswa Kuliah di Jogja yang Tak Disadari: Sulit untuk Lanjut Hidup di Jogja karena Properti yang Mahal, tapi Jika Lanjut, Harus Siap Bergesekan dengan Warga Lokal

Derita Mahasiswa Kuliah di Jogja yang Tak Disadari: Sulit untuk Lanjut Hidup di Jogja karena Properti yang Mahal, tapi Jika Lanjut, Harus Siap Bergesekan dengan Warga Lokal (Ega Fansuri/Mojok.co)

Hidup mahasiswa yang kuliah di Jogja itu berat. UKT kampus di Jogja tak bisa lagi dibilang terjangkau, belum masalah keamanan, harga properti yang benar-benar gila, lapangan kerja yang tidak menarik karena UMR yang kecil, ditambah kini mulai ada isu benturan antara mahasiswa vs warga lokal.

Benturan-benturan ini yang sebenarnya aneh, karena siapa pun tahu bahwa selama ini, warga lokal dan mahasiswa itu coexist. Hidup berdampingan, dan saling membutuhkan. Ketika mulai ada isu benturan ini, rasanya begitu aneh. Bagaimana dan kenapa benturan itu terjadi, jadi pertanyaan utamanya.

Tapi apa pun alasannya, itu tadi jadi salah satu dari banyak hal yang bikin kehidupan mahasiswa di Jogja, sebenarnya nggak indah-indah amat. Justru jadi tertekan malah. Akhirnya, masa depan mahasiswa yang kuliah di Jogja, terutama untuk yang ingin meneruskan hidupnya di Jogja, jadi begitu gelap.

Ardian, yang sempat kuliah di Jogja dan lulus pada 2021, mengalami hal yang sama. Perantauan dari Kudus ini ingin lanjut hidup di Jogja, tapi berakhir harus balik ke perantauan karena lapangan pekerjaan di sini upahnya tak cukup untuk hidup. Mau tak mau, Ardian balik saja ke Kudus karena bertahan juga tak mungkin.

“Faktor utama meninggalkan Jogja setelah kuliah, karena saya belum siap untuk tinggal di Jogja dengan pemasukan yang baru.”

Masalah mahasiswa yang kuliah di Jogja itu kelewat kompleks

Prabu Yudianto (32), anggota Serikat Buruh SEMESTA menyatakan bahwa masalah yang dialami mahasiswa yang kuliah di Jogja ini begitu kompleks. Satu masalah selesai, lanjut masalah lain. Harapan untuk hidup di Jogja terasa begitu sulit untuk diwujudkan karena masalah yang sudah ada sejak lama tak kunjung selesai, masih ditimpa masalah baru. Contoh, masalah dengan warlok.

Sebenarnya, mahasiswa Jogja ini terjebak kesenjangan sosial dan ekonomi yang sama parahnya dengan warlok, ungkap Prabu. Biaya kuliah tinggi, tapi tidak bisa mencukupi kebutuhan jika bermodal uang saku saja apalagi kerja di jogja.

“Namun, (mahasiswa) tetap mendapat stigma sebagai kelompok ekonomi atas yang membuat ‘Jogja jadi mahal’ karena kebutuhan pokok mengikuti kemampuan belanja mahasiswa.”

Banyaknya mahasiswa yang memutuskan untuk menetap di Jogja setelah lulus memperkuat stigma kelompok ekonomi atas tersebut. bahkan, banyak yang menganggap harga properti jadi melonjak drastis gara-gara mahasiswa pada menetap di Jogja. Itu memang bisa jadi salah satu faktor, tapi tentu saja bukan faktor utama.

Selain faktor ekonomi, ada faktor moral yang kerap disinggung oleh warga lokal di media sosial. Mahasiswa kerap dianggap sebagai perusak moral karena “kebebasan” yang mereka punya. Tak pelak, daerah macam Seturan dianggap jadi tempat yang dianggap punya noda yang begitu kelam.

Stigma dan asumsi ini secara tak disadari memupuk gesekan-gesekan yang tak perlu terjadi. Hal inilah yang bikin fakta kuliah di Jogja itu sebenarnya berat, karena pendatang tak lagi disambut tangan terbuka, tapi dengan kecurigaan yang makin hari makin berat.

Duit dari mahasiswa, yang kena ejek ya mahasiswa

Prabu menambahkan bahwa ini sebenarnya ironis, karena uang yang muncul di Jogja itu juga ada sumbangsih dari mahasiswa. Mahasiswa yang kuliah di Jogja menyumbang begitu banyak uang yang bikin banyak usaha bisa jalan.

Selama ini, menurut Prabu, orang-orang hanya terpaku pada narasi pariwisata lah yang jadi penggerak ekonomi utama. Padahal ada sektor pendidikan yang tak bisa dimungkiri lagi jadi salah satu penyumbang ekonomi besar di Jogja. Bahkan, klaim Prabu, bisa menggeser pariwisata. Sayangnya, warga lokal belum teredukasi. Padahal secara kasat mata, jelas sekali sumbangsih ekonomi dari keberadaan mahasiswa. Perkara itu dinikmati warga lokal atau tidak, beda soal.

Baca halaman selanjutnya

Sejak Orde Baru sudah terlihat

Prabu mengamati, bahwa diskriminasi ini sebenarnya tak muncul begitu saja. Sekarang yang terlihat mungkin gara-gara faktor ekonomi, tapi bibit keresahan ini sudah muncul sejak akhir Orde Baru. Mahasiswa dianggap mengganggu ketenteraman, karena alasan seperti demo dan banyak aksi mahasiswa besar berlangsung di DIY. Bibit konflik itu, tumbuh perlahan makin subur semenjak mahasiswa mulai memiliki properti di Jogja setelah lulus.

“Tren negatif ini makin terpelihara ketika sering terjadi konflik rasial yang melibatkan mahasiswa. Padahal jika mau jujur, jumlah kasus rusuh dan konflik akibat warlok jauh lebih banyak.”

Siap-siap mengubur mimpi

Ardian mengaku bahwa dia tak yakin bisa hidup di Jogja melihat biaya hidup yang ada tak sebanding dengan gaji. Meski begitu, dia masih memelihara angan-angan untuk hidup tua di Jogja. Harga properti mahal yang sudah dia ketahui selama masih kuliah di Jogja tak mengurungkan impian indahnya.

Untuk sekarang, jelas, dia tak yakin.

Tapi mungkin Ardian juga harus melihat fakta bahwa makin hari, warga lokal mulai tidak ramah pada pendatang, dan itu tak berarti mereka salah. Sebab, faktor begitu banyak, dan ini hanya reaksi yang muncul setelah kelewat banyak hal terjadi di Jogja antara warga dengan pendatang. Bahkan mereka yang hidup dari mahasiswa pun punya ketakutan yang sama.

“Saya sering menemui ketakutan ini lebih seperti mitos daripada didasarkan realitas. Tapi apa lacur, stigma sudah tersemat erat. Mahasiswa akan tetap dipandang penjahat.” Ungkap Prabu.

Reporter: Rizky Prasetya
Editor: Hammam Izzudin

BACA JUGA Ironi dan Fakta Kota Pelajar: Ketika Remaja Asli Jogja Justru Tidak Bisa Menikmati Bangku Kuliah

Ikuti berita dan artikel Mojok lainnya di Google News.

Exit mobile version