Teror pocong keliling bukan sekadar orang iseng. Tapi ada lapis-lapis masalah sosial-digital di tengah masyarakat kita.
***
Ketika pagar dan pintu rumah sudah tertutup, tiba-tiba terdengar suara ketukan intens yang sangat mengganggu. Masalahnya yang datang adalah tamu tidak undang, dari balik tirai jendela terlihat sesosok pocong terpaku di depan pagar atau pintu rumah. Wajahnya gelap, tapi matanya seperti lampu sorot: Menatap tajam ke arah rumah.
Di jalanan kampung yang sepi, sosok hantu yang konon paling menyeramkan dalam khazanah setan di Indonesia itu juga masif menampakkan diri. Berdiam dengan gestur khas pocong yang bikin seluruh tubuh bergetar: Kepala mengangguk-angguk secara berulang.
Itu lah gambaran teror pocong keliling yang belakangan terjadi di sejumlah daerah. Terutama di Jawa Timur seperti Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, dan Malang. Saat artikel ini ditulis, kabarnya bahkan sudah menyebar hingga ke daerah-daerah lain di luar Jawa Timur.
Semula orang mengira penampakan tersebut benar adanya: Sosok mayat yang bangkit dari dalam kubur untuk kemudian gentayangan. Tak ayal jika banyak orang merasa resah, diselimuti keparnoan kalau-kalau pada suatu malam pintu rumahnya diketuk oleh sosok mayat hidup tersebut.
Belakangan, mulai muncul desas-desus bahwa ternyata ditemukan kasus bahwa teror pocong yang terjadi dilakukan oleh orang dengan beragam motif: Mulanya iseng, lalu menjadi modus baru tindak kriminal, kemudian jadi ajang untuk mengejar engagement media sosial alias sekadar ngonten.
Kendati begitu, ketakutan masih menyebar…
Teror pocong keliling bukan sekadar iseng, tapi ada yang sadar ini jadi alat efektif
Setelah mengamati teror pocong keliling yang terjadi, Sosiolog Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA), M. Febriyanto Firman Wijaya menilai bahwa kemunculan sosok pocong tersebut diduga bukan sekadar aksi iseng, melainkan dapat menjadi modus tindak kriminal untuk menebar ketakutan di masyarakat.
Menurutnya, kondisi panik dan turunnya kewaspadaan warga dapat dimanfaatkan oleh oknum tertentu untuk melakukan pencurian maupun tindak kejahatan lainnya.
“Fenomena ini menunjukkan bahwa ada pihak yang sadar betul bahwa ketakutan kolektif bisa menjadi alat yang sangat efektif. Satu video pocong di malam hari bahkan bisa melumpuhkan kewaspadaan masyarakat lebih cepat dibanding ancaman biasa,” ujar Riyan dalam keterangan tertulisnya, Senin (25/5/2026).
Oleh karena itu, lanjut Riyan, teror pocong keliling tidak bisa dipandang hanya sebagai candaan atau keisengan belaka. Dalam kacamata Riyan, ada proses instrumentalisasi ketakutan yang sengaja diproduksi dan disebarluaskan untuk menciptakan keresahan sosial.
“Ini bukan lagi sekadar iseng. Ketakutan masyarakat sedang dijadikan komoditas. Tanpa sadar, masyarakat menjadi pasar dari rasa takut yang terus diproduksi,” jelasnya.
Kerapuhan sosial di balik teror pocong keliling
Jika ditarik, teror pocong keliling ini bermula dari satu video penampakan pocong yang menyebar di media sosial. Video tersebut disertai dengan narasi menakut-nakuti.
Entah memang penampakan pocong (setan) betulan atau rekayasa (AI atau keisengan orang), tapi yang jelas video pertama tersebut telah memancing tidak hanya ketakutan massal, melainkan juga inspirasi bagi oknum tertentu untuk melakukan hal yang sama.
Di titik ini, Riyan melayangkan kritik terhadap peran media sosial yang dinilai kerap menjadi ruang penyebaran kepanikan. Menurutnya, konten yang memancing emosi dan rasa takut jauh lebih cepat viral dibandingkan informasi yang mendorong masyarakat berpikir kritis.
Dari sudut pandang sosiologi, Riyan melihat teror pocong ini sebagai gambaran rapuhnya ketahanan sosial masyarakat terhadap arus informasi digital. Di tengah banjir konten media sosial, masyarakat dinilai mudah terpengaruh oleh narasi mistis tanpa proses verifikasi yang memadai.
“Persoalannya bukan lagi soal pocong itu ada atau tidak. Yang lebih penting adalah bagaimana masyarakat mampu bersikap rasional dan tidak mudah terseret kepanikan massal yang sengaja diproduksi,” tekannya.
Lembaga pendidikan perlu ajarkan berpikir kritis, bukan untuk menghilangkan kepercayaan lokal
Pocong memang sudah menjadi kepercayaan lokal yang diamini oleh sebagian banyak masyarakat kita, terutama di Jawa.
Namun, di tengah situasi sekarang, bagi Riyan diskusinya bukan lagi tentang benar atau tidaknya. Tetapi bagaimana masyarakat perlu diajarkan untuk berpikir kritis.
Di sini, bagi Riyan, lembaga pendidikan khususnya pendidikan berbasis keagamaan memiliki tanggung jawab penting dalam membangun budaya literasi kritis di masyarakat. Pesantren, madrasah, majelis taklim, hingga perguruan tinggi dinilai perlu mulai mengajarkan kemampuan berpikir kritis terhadap informasi, termasuk konten yang dibungkus nuansa mistis maupun keagamaan.
Menurutnya, upaya tersebut bukan untuk menghilangkan tradisi atau budaya lokal, melainkan agar masyarakat tidak mudah dimanipulasi oleh pihak-pihak yang memanfaatkan ketakutan demi kepentingan tertentu.
“Kepercayaan masyarakat jangan sampai dijadikan bahan bakar untuk menciptakan kepanikan sosial. Di sinilah pentingnya pendidikan kritis dan literasi digital,” tegas Riyan.
Sumber: Universitas Muhammadiyah Surabaya (UMSURA)
BACA JUGA: Pocong Itu Cuma Hantu Kemarin Sore di Jagad Demit Indonesia, tapi Mengapa Ia Paling Menyeramkan? atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan
