ADVERTISEMENT

Olahraga Airsoft Gun: Hobi Orang Have yang Sering Disalahpahami

airsoft gun

Masyarakat kerap salah kaprah dalam membedakan antara airsoft gun dengan air gun. Terlihat mirip namun kenyataannya berbeda.

***

Minggu, 06/09/2026, saya datang ke Jogja City Mall bukan untuk belanja. Saya mendapat undangan menghadiri Yogyakarta Airsoft Festival 2026, sebuah kegiatan yang salah satu penyelenggaranya adalah Gajahmada Airsoft Squad (GAS).

Di salah satu bagian acara, saya mengikuti talkshow tentang olahraga airsoft. Di atas panggung ada Yanu Ariyanto, Sekretaris Umum PORGASI DIY, dan Raditya “Orie” Winiandita, pengurus PORGASI DIY. Keduanya berbincang dengan Sitriani Lamada kerap dipanggil Ani, Ketua GAS.

Bagi orang awam seperti saya, airsoft mungkin masih mudah disamakan dengan airgun. Apalagi bentuknya dibuat menyerupai senjata api sungguhan. Namun, menurut Yanu, anggapan itu tidak tepat.

Airsoft gun yang asli menggunakan ball bullet plastik,” kata Yanu dalam sesi bincang tersebut.

Ia menjelaskan, airsoft gun berbeda dengan airgun yang memiliki aturan tersendiri. Airsoft juga bukan barang yang bisa dibawa dan digunakan sesuka hati.

Perpol Nomor 1 Tahun 2022 memasukkan airsoft gun sebagai salah satu peralatan keamanan yang digolongkan senjata api untuk kepentingan olahraga,” lanjutnya.

Regulasi tersebut menyebut airsoft gun digunakan untuk olahraga menembak reaksi dan penggunaannya berada di lokasi latihan maupun pertandingan. Jadi, persoalannya bukan sekadar “main tembak-tembakan”.

Bukan senjata api, bukan juga barang yang bisa dibawa sembarangan

Orie kemudian menjelaskan bahwa komunitas airsoft memiliki aturan yang harus dipatuhi anggotanya.

“Sekarang semuanya sudah ada regulasinya. Tidak boleh sembarangan membawa airsoft gun,” ujarnya.

Menurut penjelasan yang disampaikan dalam talkshow, ada beberapa kondisi ketika airsoft gun boleh dibawa, yakni ketika hendak digunakan untuk olahraga, dibawa ke teknisi untuk diperbaiki, atau digunakan dalam kegiatan komunitas seperti Yogyakarta Airsoft Festival.

Yanu menambahkan bahwa setiap unit airsoft gun juga harus melalui proses registrasi dan perizinan sesuai ketentuan yang berlaku. Aturan tersebut bukan tanpa alasan. Perpol Nomor 1 Tahun 2022 mengatur perizinan kepemilikan, penggunaan, pengangkutan hingga arena olahraga airsoft gun

“Izin kepemilikan dan penggunaan airsoft gun juga memiliki masa berlaku dan mekanisme perpanjangan. Kalau ada tindakan di luar ketentuan PORGASI DIY, kami serahkan kepada pihak berwajib,” kata Orie.

Penjelasan itu membuat pembicaraan tentang airsoft terasa sedikit berbeda dari bayangan awal saya. Di dalam komunitas, ada aturan yang justru mengharuskan pemiliknya berhati-hati terhadap benda yang mereka miliki. Masalahnya, di luar komunitas, airsoft masih kerap dianggap sama dengan senjata api.

Tujuh tahun Ani menjadi minoritas di komunitas airsoft gun

Setelah sesi bincang selesai, saya berbincang dengan Ani. Dirinya sudah sekitar tujuh tahun menekuni airsoft. Ia bergabung dengan GAS sejak beberapa tahun lalu dan baru belakangan dipercaya menjadi ketua komunitas.

Ada satu hal yang membuat posisi Ani cukup menarik: ia perempuan. Komunitas airsoft yang ia ikuti lebih banyak diisi laki-laki. Namun, Ani mengaku tidak pernah merasa diperlakukan berbeda.

“Risih ‘sih tidak, karena di sini kami tidak membeda-bedakan. Bahkan di sini aku malah dapat princess treatment,” katanya sambil tertawa.

Sitriani Lamada (tengah) ketua Gadjah mada Airsoft Squad (doc. Sitriani Lamada)

Menjadi satu dari sedikit perempuan di antara para pemain laki-laki tidak membuatnya merasa harus membuktikan diri secara berlebihan. Ia justru menemukan ruang yang membuatnya nyaman. Menurut Ani, bermain airsoft menuntut pemain untuk fokus, menyusun strategi, sekaligus mengambil keputusan dalam waktu singkat.

“Nah, bedanya di sini harus fokus. Nggak bisa kayak tiba-tiba tantrum gitu, kadang kan banyak ‘tuh cewek yang dikit-dikit tantrum, di sini tidak bisa. Selain itu, kita harus mikir strategi dan mengambil keputusan cepat, karena kondisi medan yang tidak bisa diprediksi,” ujarnya.

Bagi Ani, aktivitas itu justru membuat pikirannya lebih tenang. Di saat orang lain mencari ketenangan dengan berlibur ke pantai atau naik gunung, Ani malah merasa tenang ketika berolahraga airsoft tersebut. 

Kecintaannya terhadap airsoft bukan berarti tanpa penolakan. Pada awalnya, ibunya sempat tidak setuju dengan hobi yang dipilihnya. Ani memilih tetap melanjutkan.

“Dulu ibu saya yang paling keras menolak, sampai unit (airsoft) saya mau disita. Tapi ya aku sedikit ngeyel saja sih,” katanya ketika menceritakan bagaimana ia bertahan dengan hobinya.

Ia juga paham mengapa sebagian orang memandang aneh olahraga tersebut. Membawa benda berbentuk senjata api ke tempat umum memang bisa menimbulkan kesalahpahaman. Karena itu, ia selalu menyimpan airsoft gun miliknya menggunakan hard case. Lucunya, cara tersebut justru pernah membuat orang salah menebak barang yang dibawanya.

“Saya pernah malah disangka bawa-bawa keyboard organ tunggal,” kata Ani.

Airsoft gun itu hobi orang have?

Ada anggapan lain yang juga sulit dilepaskan dari airsoft: olahraga ini adalah hobi orang berduit. Anggapan itu tidak sepenuhnya muncul tanpa alasan. Harga satu unit airsoft gun bisa mencapai belasan juta rupiah. Ani sendiri memiliki sebuah unit yang dibelinya dalam kondisi second seharga sekitar Rp7 juta.

“Rp18 juta itu kalau orang lain dapat motor, kalau kami dapat satu unit airsoft gun,” katanya sambil tertawa.

Namun, menurut Ani, orang yang ingin mencoba airsoft tidak harus langsung membeli unit sendiri. Ada anggota yang lebih tertarik dengan gear dan perlengkapan. Sebagian lainnya datang karena penasaran.

“Kadang ada yang FOMO sama gear-nya. Kayak tentara-tentaraan. Bisa cosplay tentara Amerika,” ujarnya.

Bagi Ani, biaya bukan satu-satunya hal yang perlu dipikirkan seseorang sebelum masuk ke olahraga ini.

“Yang penting mental, fisik, sama dompet. Airsoft banyak dilakukan di alam terbuka. Pemain membutuhkan kesiapan fisik karena permainan bisa menguras tenaga. Mental juga diperlukan karena pemain harus mampu mengambil keputusan dalam situasi permainan yang menuntut konsentrasi. Dompet berada di urutan terakhir, tetapi tetap penting. Sebab, setelah membeli unit, masih ada perlengkapan lain yang perlu dipikirkan,” sambungnya.

sesi bincang dalam Yogyakarta Airsoft Festival 2026 (doc. Janu Wisnanto/Mojok.co)

Ternyata, menggunakan airsoft gun bukanlah perkara mudah

Setelah cukup lama mendengarkan cerita Ani, saya akhirnya mendapat kesempatan mencoba airsoft gun. Saya memilih model rifle. Begitu memegangnya, kesan pertama saya justru bukan soal kemiripannya dengan senjata api, melainkan bobotnya. Cukup berat.

Saya kemudian membayangkan Ani membawa benda ini untuk berolahraga, berpindah tempat, berkonsentrasi, sekaligus menjaga posisi.

“Kalau kamu sudah biasa, nggak kerasa,” kata Ani.

Bagi saya tentu belum. Di depan sasaran, saya mencoba membidik. Ternyata menembak menggunakan airsoft tidak sesederhana menarik pelatuk. Mata harus fokus. Posisi tubuh harus diperhatikan. Bidikan harus tepat. Ada waktu singkat untuk memastikan sasaran berada pada posisi yang benar.

Sekali saja konsentrasi buyar, arah tembakan ikut berubah. Di situlah saya mulai memahami alasan Ani mengatakan olahraga ini membuatnya lebih tenang. Ada pekerjaan yang harus dilakukan secara bersamaan: fokus pada sasaran, mengontrol tubuh, membaca situasi, dan mengambil keputusan.

Airsoft mungkin masih terlihat seperti permainan tentara-tentaraan bagi sebagian orang. Namun bagi orang yang menjalaninya, olahraga ini memiliki aturan, komunitas, latihan, strategi, dan tuntutan fisik yang tidak sesederhana penampilannya. Bahkan untuk sekadar membawanya keluar rumah, ada aturan yang harus dipatuhi.

Dan bagi Ani, perempuan yang sudah tujuh tahun bertahan di tengah komunitas yang didominasi laki-laki, airsoft bukan sekadar soal memegang replika senjata. Ia menemukan cara untuk berkonsentrasi, mengatur strategi, dan menenangkan kepala.

Soal harga yang bisa membuat orang mengernyitkan dahi, itu cerita lain. Toh, seperti kata Ani, untuk mulai bermain airsoft seseorang tidak harus langsung membeli unit seharga motor.

Penulis: Janu Wisnanto

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Jangan Jadikan Perkap Nomor 4 Tahun 2025 sebagai Legitimasi Polisi Menembak Demonstran atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 6 September 2026 oleh .

Janu Wisnanto

Mahasiswa Sastra Indonesia UNY. Tinggal di Sleman.

Exit mobile version