MOJOK.CO, KOTA YOGYAKARTA – Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta, menginisiasi Gerakan Bapak Asuh Trotoar. Melalui gerakan ini, trotoar tidak hanya disikapi sebagai pelengkap jalan, tetapi sebagai ruang harus mendapat perhatian.
Sabtu (10/10/2026), Kemantren Wirobrajan, Kota Yogyakarta meluncurkan gerakan yang dinamai Bapak Asuh Trotoar yang melibatkan 337 Bapak Asuh Trotoar dari tiga kelurahan di wilayah Kemantren Wirobrajan.
Mantri Pamong Praja Kemantren Wirobrajan, Rahmi Anggraini menjelaskan, gerakan ini berangkat dari kebutuhan menjaga trotoar sebagai fasilitas publik yang mendukung mobilitas masyarakat. Sebab, bagi Rahmi, trotoar yang bersih dan terawat akan memberikan kenyamanan bagi setiap masyarakat yang melintas.
“Trotoar bukan sekadar pelengkap jalan, melainkan ruang publik yang harus memberikan rasa aman, bersih, nyaman, tertib, dan aksesibel bagi seluruh lapisan masyarakat,” ujar Rahmi dalam acara peluncuran Gerakan Bapak Asuh Trotoar di Kantor Kemantren Wirobrajan.
Bapak Asuh Trotoar Wirobrajan: bersihkan trotoar setiap 15 menit
Rahmi menjelaskan, melalui gerakan ini, pemilik rumah, tempat usaha, tempat ibadah, dan institusi pendidikan yang berada di sepanjang jalan protokol di wilayah Wirobrajan diajak mengambil bagian dalam perawatan trotoar di depan bangunan masing-masing.
Setiap Bapak Asuh Trotoar diharapkan meluangkan waktu sekitar 15 menit secara rutin untuk mengambil sampah liar, mencabut rumput atau tanaman liar, serta memastikan trotoar tetap nyaman dilalui pejalan kaki.
Untuk itu, Rahmi mengaku pihaknya telah menyurati pemilik bangunan di sepanjang jalan protokol untuk mengajak mereka terlibat. Kata Rahmi, sebagian besar merespons positif dan menunjukkan dukungan.
“Peluncuran hari ini kami harapkan tidak hanya menjadi kegiatan seremonial, tetapi menjadi titik awal dari sebuah gerakan nyata, berkelanjutan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” ungkapnya.
Inovasi gotong royong yang patut ditiru kemantren lain di Yogyakarta
Inisiatif gerakan tersebut disambut penuh apresiasi oleh Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo. Hadir dalam peluncuran, Hasto mengingatkan bahwa kebersihan trotoar tidak bisa hanya mengandalkan petugas atau kerja bakti setiap Jumat. Namun, hasto menegaskan, warga, pemilik toko, sekolah, hingga pemilik rumah yang berada di sepanjang trotoar perlu ikut merawat ruang publik yang setiap hari digunakan pejalan kaki.
Oleh karena itu, Hasto berharap gerakan serupa (Bapak Asuh Trotoar sebagaimana di Kemantren Wirobrajan) juga ditiru dan diterapkan di seluruh kemantren di Kota Yogyakarta. “Kalau semua kemantren melakukan hal seperti ini, trotoar-trotoar bersih semua. Tidak hanya tiap Jumat, tetapi dirawat oleh masing-masing yang ada di belakang trotoar,” ujar Hasto.
Menurutnya, Gerakan Bapak Asuh Trotoar menjadi inovasi gotong royong karena setiap peserta mendapatkan surat keputusan (SK) yang memperjelas tanggung jawab pemeliharaan trotoar di depan bangunan masing-masing.
“Saya kira ide yang sangat cemerlang Bu Mantri Wirobrajan. Saya ingin mengekstrapolasi, artinya menyebarluaskan ide ini, dan kemudian saya berharap kemantren lain juga mengikuti,” ucapnya.

Bapak Asuh Trotoar Wirobrajan: kepedulian sederhana yang berdampak nyata
Lebih lanjut Hasto menyebut, persoalan kebersihan trotoar toh sebenarnya tidak selalu membutuhkan penanganan besar.
Kotoran di trotoar umumnya berupa sampah yang dibuang ke pot tanaman, rumput liar yang tumbuh di sela-sela trotoar, hingga lingkungan yang tidak terawat. Hal tersebut, bagi Hasto, bisa ditangani melalui kepedulian sederhana dari orang-orang yang beraktivitas di sekitarnya.
“Yang utamanya kotor. Sebetulnya kalau ada PKL, tetapi PKL-nya itu memang masih sedikit menggunakan jalan, asal bersih juga masih bisa ditoleransi. Tapi kalau kotor itu kan kadang-kadang pot itu isinya sampah,” ungkapnya.
Saat ini, kegiatan kerja bakti ASN Pemerintah Kota Yogyakarta yang dilaksanakan setiap Jumat memang tetap berjalan. Namun, Hasto menilai, perawatan trotoar melalui Gerakan Bapak Asuh Trotoar oleh warga Kemantren Wirobrajan memiliki pola berbeda karena diserahkan kepada warga atau pelaku usaha yang bertanggung jawab atas area di depan bangunannya.
“Kalau PNS seminggu sekali. Tapi kalau Bapak Asuh di trotoar ini kan terserah mereka, karena mereka ingin yang di depannya itu selalu bersih. Jadi mestinya mereka juga tidak seminggu sekali,” tuturnya.
Bagi Hasto, keberadaan Bapak Asuh menjadi faktor penting agar gerakan tersebut dapat berlangsung secara berkelanjutan. Pemerintah berperan mendorong dan memfasilitasi, sedangkan masyarakat menjadi pelaku utama dalam menjaga fasilitas publik.
Ia pun menekankan bahwa semangat gotong royong perlu diwujudkan dalam tindakan nyata, bukan sekadar ajakan. Karena itu, Hasto tidak luput mengapresiasi keterlibatan sekolah, toko, dan warga yang selama ini telah membersihkan trotoar secara mandiri.
Piket anak SD bersih-bersih trotoar
Salah satu sekolah yang telah menerapkan inisiatif menjaga kebersihan trotoar adalah SD Kanisius Wirobrajan. Kepala Sekolah SD Kanisius Wirobrajan, Ernawati, menyampaikan bahwa sekolah membiasakan siswa menjaga kebersihan trotoar melalui kegiatan rutin yang terintegrasi dengan aktivitas sekolah.
“Setiap hari setelah istirahat, ada jadwal anak-anak yang piket pada hari itu untuk membersihkan trotoar. Setiap hari Jumat kami juga pasti melakukan Jumat Bersih,” beber Ernawati.
“Untuk rumput-rumput, setiap Jumat itu dicabuti oleh anak-anak kelas atas, terutama kelas enam, di bawah pendampingan bapak ibu guru,” sambutnya.
Kebiasaan tersebut juga diperkuat melalui kegiatan kepramukaan. Siswa diajak membersihkan lingkungan di luar sekolah, termasuk memungut sampah di trotoar dan lingkungan masyarakat. Ketika ditemukan vandalisme, sekolah berupaya segera membersihkannya.
Upaya-upaya akar rumput
Upaya serupa juga telah dilakukan Toko Jolie di Jalan Kapten Pierre Tendean. Perwakilan toko, Wina Indah Nurtika, mengatakan kebersihan trotoar di depan toko menjadi perhatian rutin melalui petugas keamanan malam dan tim kebersihan.
“Kalau dari Jolie, kami ada petugas keamanan malam. Nanti petugas keamanan membersihkan rumput, dan ada tim kebersihan juga yang membersihkan setiap hari. Jadi trotoar di depan toko kami itu harus dan wajib bersih,” ungkap Wina.
Ia menambahkan, coretan vandalisme yang ditemukan pada malam hari juga langsung ditangani pada pagi berikutnya. Menurutnya, kebiasaan tersebut sejalan dengan tujuan Gerakan Bapak Asuh Trotoar untuk menjaga ruang publik tetap bersih dan nyaman.
Dukungan juga datang dari warga Jalan Bugisan, Herwulan. Ia mengaku merasakan langsung manfaat kegiatan kerja bakti ASN Pemkot Yogyakarta setiap Jumat, yang dinilainya benar-benar dilakukan di lapangan.
Selain itu, Herwulan juga menyambut baik adanya SK bagi Bapak Asuh Trotoar karena memperjelas tanggung jawab sekaligus memudahkan warga saling mengingatkan.
“Dengan adanya Bapak Asuh Trotoar ini, kami lebih tervalidasi karena ada SK-nya. Kami bisa mengingatkan tetangga-tetangga yang punya usaha, Ayo, 15 menit selesaikan,” tuturnya.
Sumber: Humas Pemkot Yogyakarta
BACA JUGA: Sumber Pungli di Jogja: Pelaku Aji Mumpung sama Ketidaktegasan Aparat dan Kerumitan Birokrasi Pemerintah atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan