Memaknai “LAKU” dalam Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026: Sejauh Mana Bermanfaat dalam Ekosistem Sastra

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 MOJOK.CO

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026. (Poster resmi)

MOJOK.CO, YOGYAKARTA – Mengusung tema “LAKU”, Festival Sastra Yogyakarta (FSY) 2026 menjadi representasi dari langkah-langkah yang bermakna dalam ekosistem sastra di Yogyakarta. 

Pemerintah Kota Yogyakarta melalui Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) kembali menggelar Festival Sastra Yogyakarta (FSY) pada 23–30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan, Yogyakarta.

Representasi “LAKU” sebagai langkah bermakna

Kepala Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) Kota Yogyakarta Yetti Martanti mengatakan, FSY merupakan agenda kebudayaan yang dirancang sebagai ruang apresiasi, pengembangan, dan pertemuan berbagai unsur ekosistem sastra, mulai dari penulis, sastrawan, akademisi, penerbit, komunitas, pelaku budaya hingga masyarakat pembaca.

Menurut Yetti, perjalanan FSY telah dimulai sejak 2021 melalui pertunjukan musikalisasi Hanacaraka pada masa pandemi. Setelah itu, FSY mengangkat tema “Mulih” pada 2022, “Sila” pada 2023, “Siyaga” pada 2024, “Rampak” pada 2025, dan “LAKU” dipilih menjadi tema FSY tahun ini.

“Ketika kita berbicara tentang laku, ini merepresentasikan sebuah proses di mana setiap langkah memiliki makna. Ada dinamika, adaptasi, dan berbagai elemen lainnya. Hal ini tidak berhenti begitu saja pada sebuah hasil, melainkan proses itu sendiri menjadi sebuah laku yang bermakna untuk melahirkan kebaikan bagi kebudayaan di Yogyakarta khususnya, dan Indonesia pada umumnya,” ujar Yetti.

Ia menambahkan, keberhasilan festival tidak semata-mata diukur dari jumlah pengunjung, tetapi juga dari sejauh mana manfaat festival dapat memperkuat keberlanjutan ekosistem sastra secara luas.

 

Festival Sastra Yogyakarta (FSY) sebagai ruang perjumpaan

Lebih lanjut, tema “LAKU” dimaknai sebagai perjalanan sekaligus praktik. Sastra tidak hanya dilihat sebagai karya yang sudah jadi, tetapi sebagai proses yang terus berlangsung. Menulis, membaca, mengkaji, mengkritik, mengajarkan, menerbitkan, dan mendistribusikan buku merupakan bagian dari laku sastra.

Konsep tersebut diterjemahkan oleh tiga kurator FSY 2026, yakni Paksi Raras Alit, Ramayda Akmal, dan Fairuzul Mumtaz, ke dalam berbagai program festival. Paksi Raras Alit, yang telah terlibat sejak awal pelaksanaan FSY pada 2021, mengatakan bahwa festival ini sejak awal memang dirancang sebagai ruang perjumpaan bersama.

“Sejak awal, kami sepakat bahwa ini adalah festival bersama, kami ingin memposisikannya sebagai ruang perjumpaan bersama. Dari sanalah ide untuk menggelar perjumpaan ini lahir, yang akhirnya berkembang menjadi festival,” kata Paksi.

Menurut dia, gagasan tersebut sejalan dengan tema “LAKU” yang menempatkan festival sebagai proses jangka panjang yang harus terus dihidupi dan dijalani. FSY juga dibiarkan berkembang secara organik tanpa bentuk yang kaku dan final.

Sementara itu, Kurator FSY 2026 Fairuzul Mumtaz menjelaskan, FSY memiliki fokus yang spesifik pada bidang sastra dan humaniora di tengah banyaknya kegiatan literasi yang berkembang di Yogyakarta.

“Fokus spesifik kami murni pada bidang sastra. Sementara acara lain mungkin membahas wacana yang lebih luas seperti politik, isu sosial, atau kebudayaan umum, orientasi inti kami tetap pada sastra dan humaniora,” kata Fairuzul.

Selama delapan hari festival, FSY menghadirkan sekitar 100 pembicara dan pengisi acara, 36 sesi acara, serta 12 komunitas yang berpartisipasi. Salah satu inisiatif baru tahun ini adalah pengenalan sastra koding sebagai bagian dari karya sastra bersama komunitas Suku Sastra.

Mempertemukan sastra Indonesia dan sastra Jawa

FSY 2026 juga memberikan ruang bagi sastra Indonesia dan sastra Jawa dalam satu festival. Keduanya tidak ditempatkan sebagai dua wilayah yang terpisah, melainkan sebagai bagian dari ekosistem sastra Yogyakarta yang dapat saling berinteraksi dan memperkaya.

Pasalnya, Yogyakarta memiliki posisi penting dalam perkembangan kedua tradisi tersebut. Sastra Indonesia tumbuh melalui perguruan tinggi, komunitas, penerbit, penulis, dan berbagai lembaga kebudayaan. Sementara itu, tradisi sastra Jawa juga terus hidup di tengah masyarakat.

Pendekatan tersebut menjadi bagian dari upaya menjaga keberlanjutan kebudayaan lokal sekaligus membuka ruang bagi perkembangan sastra Indonesia dan dinamika kebudayaan kontemporer.

Pasar buku hingga pertunjukan sastra

Salah satu program utama FSY 2026 adalah Pasar Buku Sastra yang kembali digelar melalui kolaborasi dengan IKAPI DIY. Pasar tersebut mempertemukan buku, penerbit, penulis, komunitas, dan pembaca.

Masyarakat dapat menemukan berbagai judul buku dari sejumlah penerbit dengan harga khusus selama festival. Pasar buku juga dilengkapi panggung diskusi mengenai sastra dan buku.

Program lain yang dihadirkan meliputi Gunungan Buku, Bedah Buku, Diskusi dan Workshop Penulisan, Pameran Apresiasi Karya Sastra, Kuratorial dan Artis Talk, Poetry Jam, Haul Sastrawan Jogja, Orasi Budaya, Open Stage Sastra “Bacalah”, dan Seminar Nasional.

Rangkaian tersebut dirancang untuk mempertemukan penulis, akademisi, komunitas, penerbit, dan pembaca dalam pembicaraan mengenai karya serta perkembangan ekosistem sastra.

Sayembara Puisi Nasional

FSY 2026 juga membuka ruang partisipasi bagi penulis dari berbagai daerah melalui Sayembara Puisi Nasional FSY 2026.

Hingga Rabu (19/8), sekitar 2.500 karya puisi telah diterima dari penulis di berbagai daerah di Indonesia. Karya-karya tersebut dinilai oleh An Ismanto, Redaktur Suku Sastra, serta penulis Hasta Indriyana dan Nur Wahida Idris. Karya-karya terbaik selanjutnya akan diterbitkan dalam buku antologi pilihan.

Sayembara tersebut mengangkat tema bebas dengan total hadiah Rp5 juta. Pengumpulan karya berlangsung pada 21 Juli–21 Agustus 2026.

Pembukaan dan penutupan

FSY 2026 akan dibuka pada Minggu, 23 Agustus 2026, pukul 19.30 WIB di Teras depan Grha Budaya, Taman Budaya Embung Giwangan.

Pembukaan menghadirkan Orasi Budaya bertema “Sastra sebagai Laku Akademik dan Laku Hidup” serta penampilan anak-anak pemenang Kompetisi Bahasa dan Sastra yang diselenggarakan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Sementara itu, rangkaian festival ditutup pada Sabtu, 29 Agustus 2026, pukul 19.30 WIB di Amphitheatre Taman Budaya Embung Giwangan.

Penutupan akan diisi Malam Anugerah Sayembara Puisi Nasional FSY 2026, pertunjukan peluncuran karya terbaru Dee Lestari, serta penampilan Kiai Kanjeng.

Kerja bersama ekosistem sastra

Penyelenggaraan FSY 2026 melibatkan berbagai pihak, antara lain IKAPI DIY, Suku Sastra, Jawacana, Balai Bahasa DIY, Prodi Sastra Jawa FIB UGM, Magister Sastra UGM, Dinkop UMKM DIY, Komunitas Aksara Jawa se-DIY/Jateng, serta berbagai komunitas sastra, sastrawan, budayawan, akademisi, penerbit, dan pelaku industri buku.

Yetti mengatakan, kolaborasi tersebut menunjukkan bahwa festival sastra tidak dapat hanya mengandalkan pemerintah. Pemerintah berperan menyediakan ruang, fasilitasi, dan dukungan kebijakan, sedangkan komunitas, sastrawan, akademisi, penerbit, media, dan masyarakat membawa pengetahuan, pengalaman, jaringan, serta kreativitas. Karena itu, FSY 2026 diarahkan sebagai kerja bersama, bukan sekadar program pemerintah.

Festival Sastra Yogyakarta juga dikembangkan dengan pendekatan berbasis komunitas. FSY ingin menghadirkan suasana yang terbuka, segar, dekat dengan perkembangan masyarakat, dan relevan dengan publik tanpa meninggalkan substansi sastra.

Melalui tema “LAKU”, FSY 2026 ingin menegaskan bahwa sastra merupakan bagian dari kehidupan kebudayaan kota. Sastra tidak hanya menjadi ruang bagi penulis dan akademisi, tetapi juga berkaitan dengan cara masyarakat membaca kehidupan, memahami perubahan zaman, menyimpan ingatan, dan membangun cara pandang terhadap lingkungan sosial.

Festival Sastra Yogyakarta 2026 berlangsung 23–30 Agustus 2026 di Taman Budaya Embung Giwangan Yogyakarta dan dapat diakses masyarakat secara gratis. Seluruh rangkaian FSY 2026 ini nantinya dapat diakses masyarakat secara gratis. Sejumlah program publik berlangsung setiap hari pada kisaran pukul 10.00–21.00 WIB.***(Adv)

BACA JUGA: Sisi Magis Jalanan Maliboro Jogja Era 1960-an Bisa Jadi Renungan bagi Komunitas Sastra Hari ini atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version