Mojok
KIRIM ARTIKEL
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Sekolahan
    • Sehari-hari
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Catatan
    • Urban
    • Bidikan
    • Jagat
    • Suara Bawah Tanah
    • Eksplor
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
Logo Mojok
Kirim Artikel
Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal
Beranda Liputan Kabar

Kelumpuhan Pendidikan di Tiga Provinsi, Sudah Saatnya Penetapan Bencana Nasional?

Ahmad Effendi oleh Ahmad Effendi
4 Desember 2025
A A
banjir sumatra.mojok.co

Ilustrasi - Kelumpuhan Pendidikan di Tiga Provinsi, Sudah Saatnya Penetapan Bencana Nasional?(Mojok.co/Ega Fansuri)

Bagikan ke WhatsAppBagikan ke TwitterBagikan ke Facebook

Sudah satu pekan sejak banjir besar melanda Sumatera Utara, Sumatera Barat, dan Aceh, tapi jejak kerusakan di sektor pendidikan masih terlihat di mana-mana. Di banyak kabupaten, bangunan sekolah berdiri seperti rangka kosong. Temboknya mengelupas, lantainya tertutup lumpur tebal, sementara sebagian lainnya bahkan tak lagi dapat ditemukan karena hanyut bersama arus. 

Di tengah kehancuran itu, ratusan ribu siswa dan guru masih terkatung-katung tanpa kepastian kapan dapat kembali belajar. 

Iklan

Jaringan Pemantau Pendidikan Indonesia (JPPI) menyebut situasi ini sebagai “kelumpuhan pendidikan” yang seharusnya memaksa pemerintah bergerak lebih cepat. Namun, hingga hari ketujuh pascabencana, Presiden Prabowo Subianto belum menetapkan status bencana nasional.

Keputusan yang tak kunjung datang ini, menurut JPPI, menjadi salah satu penyebab lambannya penanganan dan minimnya intervensi dari pusat untuk memulihkan layanan pendidikan.

“Kerusakan infrastruktur pendidikan sangat parah. APBD daerah jelas tidak akan mampu menanggungnya sendirian,” ujar Koordinator Nasional JPPI, Ubaid Matraji, dalam keterangannya kepada Mojok, Kamis (4/12/2025). 

Tanpa status bencana nasional atau setidaknya status darurat pendidikan dari pemerintah pusat, akses terhadap dana kontinjensi, anggaran mendesak, maupun dukungan logistik skala besar menjadi sangat terbatas. 

“Akibatnya, proses di lapangan jalan di tempat,” tambahnya.

Sekolah hancur, anak telantar, risiko “generasi hilang” di depan mata

Di sejumlah wilayah terdampak, sekolah-sekolah masih dibiarkan dalam kondisi memprihatinkan. Banyak bangunan belum tersentuh alat berat atau bantuan pembersihan yang memadai. 

Guru dan warga pun terpaksa bekerja manual mengeruk lumpur yang mengeras, mengumpulkan meja dan kursi yang rusak, atau mengeringkan buku-buku yang sudah melekat menjadi satu. 

“Sudah satu pekan, tapi pembersihan sekolah masih banyak dilakukan manual karena belum ada dukungan logistik yang cukup,” kata Ubaid.

Kesulitan lain muncul dari soal pendanaan. Dinas pendidikan di daerah mengaku tak memiliki anggaran memadai untuk rehabilitasi darurat. Bantuan dari Kemendikdasmen sebesar Rp13,3 miliar pun dinilai jauh dari cukup, terutama mengingat jumlah sekolah terdampak mencakup puluhan kabupaten/kota di tiga provinsi. 

“Biaya rehabilitasi satu sekolah yang rusak sedang hingga berat dapat mencapai miliaran rupiah. Jadi untuk wilayah yang luas seperti ini, Rp13,3 miliar hanya bersifat simbolis, bukan solusi,” ujar Ubaid.

Di tengah kerusakan infrastruktur tersebut, proses pembelajaran praktis terhenti. Banyak sekolah masih diliburkan karena tidak memiliki ruang belajar pengganti. Tenda darurat yang seharusnya disiapkan bagi siswa belum tersedia secara memadai, baik dari segi jumlah maupun kelayakan. 

Beberapa titik pengungsian memang memiliki tenda umum, tetapi tidak dirancang untuk aktivitas belajar. Tempatnya kurang cahaya, kurang ventilasi, dan minim sanitasi. 

Iklan

“Semakin lama anak tidak kembali belajar, semakin besar kerusakan psikologis dan ketertinggalan akademiknya,” tegas Ubaid.

Kebutuhan perlindungan anak juga nyaris luput dari perhatian. Walau evakuasi dan distribusi logistik dasar telah berjalan, langkah-langkah untuk mengembalikan anak pada lingkungan yang aman dan stabil belum terlihat. Banyak anak menghabiskan hari dengan menganggur di pengungsian, tanpa aktivitas yang terarah untuk memulihkan trauma atau menjaga ritme belajar. 

“Mereka butuh ruang aman, butuh rutinitas, butuh stimulasi belajar. Bukan hanya bertahan hidup,” kata Ubaid.

Di sisi lain, bayang-bayang putus sekolah makin nyata. Banyak keluarga kehilangan mata pencarian akibat banjir. Rumah rusak, sawah hilang, tabungan terkuras. 

Dalam kondisi seperti ini, biaya pendidikan menjadi beban yang tak lagi mampu ditanggung. Ubaid mengingatkan, tanpa skema perlindungan sosial khusus untuk mencegah putus sekolah, Indonesia berisiko menghadapi “generasi hilang”. Anak-anak bukan hanya terhenti sementara, tetapi bisa tidak kembali ke sekolah sama sekali karena pemulihan ekonomi keluarga memakan waktu lama. 

“Jika tidak ada intervensi cepat, kita akan menghadapi generasi yang hilang akibat banjir dan kelambanan negara,” ujarnya.

Tetapkan bencana nasional, hitung ulang kebutuhan dana pendidikan secara menyeluruh

Melihat skala kerusakan dan potensi krisis jangka panjang tersebut, JPPI mendesak pemerintah mengambil langkah strategis segera. Mereka meminta Presiden menetapkan status bencana nasional dan meminta Mendikdasmen mengeluarkan surat keputusan darurat pendidikan di wilayah terdampak. 

Status ini dianggap krusial untuk membuka akses pendanaan cepat, memobilisasi sumber daya manusia, serta memperkuat koordinasi lintas kementerian.

JPPI juga menekankan perlunya perhitungan ulang kebutuhan dana secara menyeluruh. Pemerintah pusat diminta mengalokasikan anggaran pemulihan pendidikan yang realistis, bukan sekadar bantuan simbolis. Mekanisme pencairan juga perlu dipermudah agar daerah tidak terhambat oleh prosedur yang berbelit di tengah situasi darurat.

Selain itu, percepatan pembangunan sekolah darurat menjadi tuntutan utama. JPPI menegaskan bahwa tenda atau bangunan sementara harus memenuhi standar keamanan dan kelayakan, lengkap dengan listrik, air bersih, MCK terpisah, dan fasilitas P3K. Tanpa itu, anak-anak akan terus berada dalam kondisi rapuh—baik secara fisik maupun mental.

JPPI terus menekankan bahwa pendidikan adalah hak dasar yang tidak boleh berhenti meskipun bencana melanda. Pemulihan sektor pendidikan, kata mereka, sama pentingnya dengan pemulihan infrastruktur lain. 

“Kami mendesak Presiden dan jajaran menterinya mengambil keputusan politik yang berani untuk menyelamatkan masa depan anak-anak di Sumut, Sumbar, dan Aceh,” ujar Ubaid. “Jangan biarkan mereka menjadi generasi yang hilang akibat bencana dan kelambanan respons.”

Penulis: Ahmad Effendi

Editor: Muchamad Aly Reza

BACA JUGA: Konsesi Milik Prabowo di Hulu Banjir, Jejak Presiden di Balik Bencana Sumatra atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Terakhir diperbarui pada 4 Desember 2025 oleh

Tags: banjirbanjir sumatrabencana nasionalbencana pendidikanjppipendidikan nasional
Ahmad Effendi

Ahmad Effendi

Jurnalis Mojok.co asal Yogyakarta. Pernah belajar di S1 Ilmu Sejarah Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Banyak menulis sejarah, sepak bola, isu urban, budaya pop, dan setiap yang menyangkut kepentingan publik. Kerap menepi di konser band metal, festival film, dan mengasuh anabul.

Artikel Terkait

Banyak Sekolah Menahan Ijazah Siswa, Masalah Sistemik yang Bisa Hancurkan Masa Depan Anak.MOJOK.CO
Kabar

Banyak Sekolah Menahan Ijazah Siswa, Masalah Sistemik yang Bisa Hancurkan Masa Depan Anak

3 Juli 2026
Guru PPPK Paruh Waktu, guru honorer, pendidikan.MOJOK.CO
Kabar

JPPI Kritik Aturan Baru SE Mendikdasmen Nomor 7 Tahun 2026: Nasib 2,3 Juta Guru Non-ASN Terancam di Ujung Tanduk

8 Mei 2026
Kekerasan di sekolah, Mahasiswa UNY Dibully Gara-Gara Pemilu BEM
Sekolahan

“Sekolah Bukan Ring Tinju”: Ortu Pukuli Guru Madrasah di Madura adalah Alarm Darurat Pendidikan Indonesia

9 Februari 2026
bencana.MOJOK.CO
Jagat

Mitos dan Pamali adalah Sains Tingkat Tinggi yang Dikemas dalam Kearifan Lokal, Bisa Menjadi Peringatan Dini Bencana

4 Februari 2026
Muat Lebih Banyak

Terpopuler Sepekan

Pemuda asal Garut sukses jadi konten kreator perjalanan dengan modal ijazah SD. MOJOK.CO

Nekat Keliling Indonesia Bermodal Ijazah SD, Mantan Pedagang Es Krim Asal Garut Ini Malah Sukses Jadi Konten Kreator Perjalanan

17 Juli 2026
Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri? MOJOK.CO

Beli Saham karena Finfluencer, Rugi Ditanggung Sendiri?

20 Juli 2026
Cerita alumnus Unika, side hustle untuk temukan kebermaknaan. MOJOK.CO

Kisah Alumnus Unika Pilih Side Hustle dengan Mengubah Sampah Plastik Jadi Kerajinan agar Waras dari Kerjaan Freelance

15 Juli 2026
orang kota slow living di desa, jakarta, norak.MOJOK.CO

Standard Ganda: Orang Kota Sok Lebih Berkelas, Padahal di Mata Orang Desa Sama Noraknya

21 Juli 2026
Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan MOJOK.CO

Ketika Menstruasi, Perempuan Harus Memilih Membeli Pembalut atau Makan

19 Juli 2026
Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menjadi tuan rumah “1st Asian Gym for Life Challenge 2026” 1. MOJOK.CO

Jogja Jadi Tuan Rumah Lomba Gym se-Asia usai Thailand Mundur, Semua Kalangan Bebas Ikut Tanpa Beban Menang-Kalah

20 Juli 2026

Video Terbaru

Di Balik Panggung "Sebat Dulu Live on Stage": Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

Di Balik Panggung “Sebat Dulu Live on Stage”: Kunto Aji, Hadroh, dan Spiritualitas Pembebasan

23 Juni 2026
Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

Mia Bustam dan Jejak Kelam 1965 dalam Dunia Seni Rupa

6 Juni 2026
Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

Minahasa yang Bukan Cuma Bunaken: Roman Remy Silado, Mestizo, dan Aroma Sabut Kelapa

31 Mei 2026


Google News
Ikuti mojok.co di Google News
WhatsApp
Ikuti WA Channel Mojok.co
WhatsApp
Ikuti Youtube Channel Mojokdotco
Instagram Twitter TikTok Facebook LinkedIn
Trust Worthy News Mojok  DMCA.com Protection Status

Tentang
Kru
Kirim Artikel
Kontak

Kerjasama
Pedoman Media Siber
Kebijakan Privasi
Laporan Transparansi

PT NARASI AKAL JENAKA
Perum Sukoharjo Indah A8,
Desa Sukoharjo, Ngaglik,
Sleman, D.I. Yogyakarta 55581

[email protected]
+62-851-6282-0147

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.

Tidak Ada Hasil
Lihat Semua Hasil
  • Esai
  • Liputan
    • Jogja Bawah Tanah
    • Kabar
    • Kampus
    • Sosok
    • Kuliner
    • Fragmen
    • Ragam
    • Catatan
  • Tajuk
  • Pojokan
  • Kilas
  • Cuan
  • Otomojok
  • Malam Jumat
  • Video
  • Terminal Mojok
  • Mau Kirim Artikel?

© 2026 PT Narasi Akal Jenaka. All Rights Reserved.