Festival Musik Jogja Makin Ramai: Nggak Ada Ukuran Biaya Keamanan, Konser Batal jadi Momok

Festival Musik Jogja Makin Ramai: Nggak Ada Ukuran Biaya Keamanan, Konser Batal jadi Momok MOJOK.CO

MOJOK.CO – Maraknya festival musik di Yogyakarta belum sepenuhnya ditopang sistem yang memudahkan penyelenggara. Nggak ada ukuran biaya keamanan dan banyaknya konser batal jadi momok tersendiri bagi event organizer maupun promotor musik 

Persoalan tersebut mengemuka dalam talkshow Sebat Dulu “Festival Musik Jogja Hari Ini” yang berlangsung pada hari pertama Festival Mojok (Fesmo) 2026 di Balcos Compound, Sleman, Jumat (28/8/2026).

Diskusi tersebut menghadirkan penggagas Cherrypop Arsita Pinandita, promotor Gervian Riandra (Saemen), serta Prakoso Mukti (Jawara). Obrolan dipandu Alit Jabangbayi dan Patub Letto.

Prakoso mengatakan biaya keamanan menjadi salah satu persoalan yang harus dihadapi penyelenggara festival musik. Biaya tersebut, menurutnya, cenderung meningkat dari tahun ke tahun. 

“Tidak ada ukuran pasti, berapa biaya keamanan, dan ada kecenderungan naik terus,” kata  Kesepakatannya semakin susah dan harganya selalu naik,” kata Prakoso atau akran dipanggil Kobok.

Tidak ada ukuran pasti biaya keamanan di konser musik

Hal senada diungkapkan oleh Gervian yang kadang tidak habis pikir dengan besarnya biaya jasa keamanan. Kadang mereka menghitung dari jumlah artis yang tampil. Semakin banyak artis yang tampil, biaya makin mahal.

“Kami mengakalinya dengan membuat intimate konser musisi, sehingga penonton nggak terlalu banyak dan bisa menekan biaya produksi,” kata Gervian. 

Namun, hal berbeda disampaikan oleh Dito, menurutnya selama ini persoalan keamanan tidak menjadi masalah bagi Cherypop. 

Kondisi tersebut disayangkan karena festival musik tidak hanya menguntungkan promotor atau penampil. Sebuah acara juga dapat menciptakan dampak berganda bagi warga dan pelaku usaha di sekitar lokasi, mulai dari pedagang makanan, pengelola penginapan, penyedia transportasi, hingga pekerja yang terlibat dalam produksi acara.

Pengalaman berbeda disampaikan Arsita Pinandita. Penggagas Cherrypop yang akrab disapa Dito itu mengaku tidak terlalu mengalami kesulitan dalam mengurus perizinan.

Tantangan yang lebih besar justru datang dari upaya membangun hubungan dengan warga di sekitar lokasi acara. Selain itu, penjualan tiket yang tidak selalu berjalan sesuai harapan menjadi persoalan lain yang harus dihadapi penyelenggara.

Cherrypop sendiri lahir dari keinginan Dito mempertemukan kembali teman-temannya setelah pandemi Covid-19. Jaringan pertemanan dan semangat kolektif kemudian menjadi modal utama dalam membangun festival tersebut.

“Berani karena temannya banyak. Cherrypop awalnya ingin mengumpulkan teman-teman setelah pandemi dan itu menjadi modal utamanya,” tutur Dito.

Konser batal membuat penonton semakin berhati-hati datang ke festival musik

Tantangan promotor semakin berat setelah rentetan pembatalan konser terjadi di Yogyakarta dan sejumlah kota lain. Di Yogyakarta, beberapa festival bahkan pernah dibatalkan hanya beberapa hari sebelum pelaksanaan. 

Menurut Gervian, rentetan pembatalan itu perlahan mengikis kepercayaan terhadap penyelenggara konser. Penonton menjadi lebih berhati-hati dan cenderung menunggu kepastian acara sebelum membeli tiket. 

Alih-alih memburu tiket pre-sale sejak jauh hari, sebagian calon penonton baru melakukan transaksi beberapa hari menjelang pertunjukan.

Rekam jejak promotor pun kini menjadi pertimbangan penting, selain daftar musisi yang akan tampil.

Namun, kebiasaan membeli tiket mendekati hari pelaksanaan menciptakan persoalan baru bagi penyelenggara. Promotor membutuhkan penjualan tiket prajual sebagai indikator minat penonton sekaligus sumber arus kas awal untuk memulai produksi. 

Dana tersebut diperlukan untuk membayar uang muka penampil, menyewa lokasi dan perangkat suara, mengurus perizinan, serta memenuhi berbagai kebutuhan teknis.

soal konser batal bahkan ada yang sengaja menjadikannya sebagai modus. Mereka berani keluar modal untuk membayar down payment penampil. Dari situ, kemudian mereka meminta penampil untuk mempromokan acara. 

“Mereka akan menjual tiket presale, setelah itu konser dibatalkan. Mereka itu tahu, paling hanya 30 persen penonton yang minta refund,” kata Gervian. 

Diskusi tersebut menjadi bagian dari Festival Mojok 2026 yang mengusung tema “Jogja Hari Ini”. Festival ini berlangsung pada 28–29 Agustus 2026 dengan menghadirkan diskusi publik, pertunjukan musik, booktalk, stand-up comedy, aktivitas olahraga, dan sejumlah kegiatan komunitas.

Festival Mojok 2026 didukung oleh BCA, Yamaha, Audiovisual.ID, 162 Production, drmostore, JBL Sewa Toilet & Tenda, Dagadu, Bibit, Cleo, Gramedia, Alfamart, dan Sirental Jogja.

Penulis: Al Afnan Mahatta
Editor: Aisyah Amira

BACA JUGA: Buku 32 Tahun Menjarah Alam: Kerusakan Ekologi sebagai Tumbal Pesugihan Orde Baru

Terakhir diperbarui pada 29 Agustus 2026 oleh

Al Afnan Mahatta

Kontributor aktif media opini dan satir.