Jeritan Hati Pedagang Thrift Shop Batam Terancam Gulung Tikar

Ilustrasi Jeritan Hati Pedagang Thrift Shop Batam Terancam Gulung Tikar. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Pedagang thrift shop di Batam mengeluh. Surga pakaian bekas di Indonesia ini terancam gulung tikar karena aturan yang menurut mereka nggak jelas.

***

Huru-hara thrift shop atau pasar baju bekas sempat ramai di awal tahun 2023. Pemerintah melarang thrift shop dengan alasan dapat menganggu kelancaran industri tekstil lokal. Salah satu yang kena imbas adalah pedagang thrift shop di Batam.

Ketika pulang kampung saat bulan puasa yang lalu, saya menyempatkan bertemu dengan para pedagang thrift shop yang sudah malang melintang di perkancahan thrifting selama puluhan tahun di Batam. Kota ini hanya 45 menit dari Singapura, berton-ton karung pakaian dan barang bekas datang ke Batam.

Pakaian bekas di tempat ini harganya mulai Rp5 ribu hingga jutaan rupiah. Konon pasar pakaian bekas inilah salah satunya yang membuat nama Batam terkenal. Bahkan menjadi destinasi wisata bagi orang-orang yang ingin mencari barang dengan harga miring. 

Namun, kejayaan itu terancam sirna karena kebijakan pemerintah yang melarang thrift shop dengan alasan menganggu industri fashion di tanah air. Pelarangan ini biasanya muncul di tahun-tahun politik, pekan kemarin, Jumat 21 Juli 2023, kondisinya masih sama. Pedagang masih belum mendapat kepastian akan status mereka yang menjual barang bekas.

Batam dan kejayaan thrift shop yang terancam redup

Penduduknya kurang dari 1,5 juta jiwa, tapi geliat penjualan pakaian bekas sudah ada seiring pertumbuhan industrinya dari tahun 1990-an. Begitulah yang saya dengar. Setidaknya ada tiga pasar pakaian bekas yang besar dan terkenal; Pasar Aviari Batu Aji, Pasar Jodoh, dan Taras. Ada juga pasar thrifting di Bengkong, Batu Besar, dan pasar-pasar kaget.

Mulanya saya berkunjung ke pasar seken (second) Taras. Pasar yang relatif baru dibanding pendahulunya. Kios-kios atau tenda-tenda putih dan biru serta ruko mulai menjajakan barang thrift yang kelihatan geliatnya di saat saya SMP, tahun 2015-an.

Awalnya saya mencoba mengitari seluruh Kawasan Taras menggunakan sepeda motor, ada ratusan lapak pakaian bekas. Saya mencoba mendekati salah satu pedagang thrift shop yang lapaknya tampak memanjang hingga hingga ujung, sayang dia menolak untuk saya wawancara.

Ia kemudian menyuruh saya mewawancarai pedagang lapak sebelah saja. Saya bertemu anak buah pemilik lapak, lalu ia menyuruh menghubungi pemilik langsung, saya hampiri dia yang berada di seberang jalan, tokonya yang lain. Namun, pemilik tampak keberatan tapi masih menerima wawancara saya asalkan dengan pagawainya yang semula saya temui tadi.

Belakangan saya tahu, mereka skeptis dengan media. Judul-judul yang muncul serasa memojokkan para pedagang pakaian bekas, katanya. Saya tersenyum dan menjelaskan bahwa saya justru ingin mendengar keluh kesah mereka.

“Media kadang menulis yang pro pemerintah dulu, begitu sudah viral, pro lagi ke kami,” kata Herman (43).

Pasar jodoh, salah satu pusat thrifting di Batam. MOJOK.CO
Pasar jodoh, salah satu pusat thrifting di Batam. (Ussy Sara Salim/Mojok.co)

Awal tahun sudah sulit dengan larangan pengiriman pakaian bekas dari Singapura. Ia pun bertahan dengan barang yang tersisa. Menurut Herman, banyak pedagang pakaian bekas sudah gulung tikar.

Puluhan tahun menggantungkan hidup dari industri thrifting

Ribuan orang Batam menggantungkan hidup puluhan tahun dengan berjualan thrifting. Herman sendiri punya 20-an karyawan.

Tahun 2002 menjadi awal langkah Herman menjadi pedagang thrifting. Dulu ia berjualan di Pasar Jodoh sebelum pindah ke Taras. Awalnya ia adalah pemburu barang thrift secara sembunyi-sembunyi karena masih malu. Maklum dulu belum booming dan jadi lifestyle.

“Aku hitungannya masih baru, kalau itok-itok (bapak-bapak) di Jodoh itu udah puluhan tahun jualan,” katanya dengan logat khas Sumatra.

Sekarang Herman punya 80 lapak dan 6 ruko di Pasar Taras. Saat bisnis ini masih lancar, ia bisa membongkar 50-100 karung setiap datang. Setiap karung berisi sekitar 100 barang yang berbeda. Seluruhnya dari Singapura.

Sitompul (54) mulai berjualan sejak tahun 1998. Ia berasal dari Medan, pernah bekerja di Jambi sebagai guru bahasa Inggris, lalu berlabuh di Batam untuk menjadi pedagang thrift.

“Saya mulai di Jodoh. Jalan hidup keluarga dari sini, saya punya dua anak,” katanya. Ia mengambil barang dari Singapura dengan sistem hand carry yang tiap satu tas berisi 20 kg.

Keduanya tergabung dalam Asosiasi Pedagang Seken Batam (APSB). Organisasi ini menghimpuan ribuan pedagang thrift.

Barang di thrift shop Batam mulai Rp5 ribu 

Dari jalan raya menuju pintu masuk Taras, toko bernama Ramayono tampak berbeda dari lapak biasa. Dinding yang terbuat dari kaca membuat calon pembeli bisa melihat barang tampak baru itu dari luar. Harga yang ditawarkan mencapai jutaan.

Ramayana Store di Batam, salah satu pusat tempat jualan pakaian bekas. (Ussy Sara Salim/Mojok.co)

Sedangkan berjarak 30 meter dari sana, toko bernama Beib Store juga tampak berbeda karena berada di ruko dengan jajaran barang rapi. Barang dan pakaian bekas yang dikhususkan untuk perempuan. Ruko ini menjaul barang mulai dari celana, baju, seprai, tas, sepatu, aksesoris, dan boneka.

Susan (26), karyawan kepercayaan Herman menjelaskan harga per barang beragam. Mulai dari 15 ribuan rupiah sampai jutaan.

“Harga bervariasi, ada tingkatan, barang disortir juga. Empat pieces baju campur-campur ada yang 100 ribu, 3 baju 50 ribu, yang agak bagusnya udah pilihan mulai dari 40 ribu ke atas, masih boleh ditawar. Tapi yang bagus juga ada, tempatnya dikasih ac, itu branded banget. Semua ada,” terang Susan.

“Ramayono Store itu cowok, Beib Store itu cewek. Range harga di atas 100 ribu sampai jutaan. Ada sepatu 1,5 juta,” kata Susan.

Jadi destinasi wisata

Buat Herman thrifting Batam bukan sekadar jualan barang, tapi juga jadi destinasi wisata. Ia pernah kedatangan pembeli dari Jakarta yang khusus berburu harta karun di thrift shop, serta turis asing dari Kolombia dan Eropa.

Kalau di Pasar Jodoh lebih murah lagi. Pembeli bisa membawa pulang barang mulai dari harga Rp5 ribu, seprai Rp20 ribu, dan sepeda anak Rp100 ribu.

Saya pun menemukan barang-barang bagus bahkan seperi baru sepatu Nike yang dijual Rp270 ribu, lalu carrier bag dan sepatu mendaki The North Face yang saya perkirakan Rp150-an ribu. Beberapa waktu lalu saya sendiri berburu sepatu Converse yang masih sangat apik, harganya cuma Rp150 ribu saja.

Omzet rata-rata yang Sitompul dapatkan Rp9 juta rupiah tiap bulan. “Ya, pasang-surut lah. Semuanya offline tidak ada online,” ujarnya.

Korban di tahun politik?

Kira-kira begitulah suara hati para pedagang yang malang melintang dalam dunia thrifting puluhan tahun.

“Kami merasa seperti korban politik, kenapa barang ini diginikan sebelum lebaran atau tahun politik aja? Kenapa dulu nggak ditahan sebelum (menjelang) lebaran? Ini kami mau panen, mau pulang kampung,” kata Herman.

Pasar Taras, salah satu destinasi mencari pakaian bekas di Batam. (Ussy Sara Salim/Mojok.co)

Terkait legalisasi penjualan barang dan pakaian bekas di Batam memang masih dilematis. Di satu sisi, para pedagang sudah berjualan puluhan tahun tanpa masalah.

“Bukan barang haram yang kami perdagangkan. Tolong pemerintah beritahu apa yang harus kami penuhi tapi jangan sampai diberhentikan. Bagaimana nanti pendidikan anak kami? Apakah nanti pemerintah bisa sekolahkan anak kami?” kata Sitompul yang masih punya tanggungan anak sekolah.

Para pedagang juga melakukan mediasi dengan DPRD Kota Batam, Dinas perindustrian dan perdagangan (Disperindag), Cukai, dan Badan Pengusahaan (BP) Batam. 

“Mereka juga mengakui Batam identik thrifting, bukan jalan-jalan biasa,” kata Herman. “Untuk sekarang kami gabisa ngapa-ngapain, bertahan dengan barang kami yang tersisa. Ada mediasi dengan DPRD Kota Batam, meski masih di ambang ketidakjelasan,” sambung Susan.

Hingga tulisan ini dipublikasikan pada akhir Juli, Susan mengatakan belum ada perkembangan dari hasil audiensi pedagang thrift shop dengan pihak DPRD. Karena aturan yang belum jelas, pedagang kemudian ke Singapura untuk mengambil barang meski tidak banyak. Bagi mereka yang penting usaha mereka tidak gulung tikar.

Kedua pedagang ini mewakili suara pedagang pakaian bekas lainnya yang menjerit karena ancaman gulung tikar. Mereka ingin regulasi yang jelas dan siap membayar pajak.

Pedagang pun meminta pemegang kebijakan mempertimbangkan industri thrifting Batam, seraya melihat orang-orang yang menggantungkan hidup dari sana.

Reporter: Ussy Sara Salim
Editor: Agung Purwandono

BACA JUGA Tips Bisnis Mie Ayam dari Sederet Pemilik Warung Terenak di Jogja, Usaha Potensial Sejuta Umat

Cek berita dan artikel lainnya di Google News

Exit mobile version