Menemukan Hal Baru di Festival Dandangan Kudus 2026 setelah Ratusan Tahun, Tak Sekadar Kulineran dan Perayaan Sambut Ramadan

ilustrasi - Festival Dandangan Kudus 2026. (Ega Fansuri/Mojok.co)

Ada yang berbeda dari Festival Dandangan Kudus tahun ini. Setelah ratusan tahun berselang, tradisi jelang Ramadan itu tak hanya berkembang sebagai denyut perekonomian warga, tapi juga membawa misi kepedulian lingkungan.

***

Tradisi ini konon sudah ada sejak zaman Sunan Kudus. Sebagai bentuk syukur dalam gegap gempita menyambut Ramadan. 

Seiring waktu, Festival Dandangan berubah menjadi semacam festival kuliner. Ratusan stand berjejer di sepanjang kawasan Menara Kudus. Setidaknya terdapat 527 stand dan 450 pedagang kaki lima (PKL) yang ikut berkontribusi memeriahkan acara ini. Arus konsumsi pun mengalir deras. 

Yang tidak terhindarkan kemudian: jika tidak dikelola serius, maka Festival Dandangan bisa berubah menjadi penyumbang sampah berskala besar. Sementara pada dasarnya festival ini merupakan warisan luhur. 

Itulah kenapa, dalam gelaran 2026 ini, Festival Dandangan coba dikelola tidak hanya sebagai titik perputaran ekonomi dan hiburan masyarakat, tapi juga menawarkan solusi jangka panjang dalam pengendalian sampah di Kudus.

Berhari-hari mengawasi pengunjung yang buang sampah

Sudah 2 hari ini Rio (23) menjaga salah satu spot tempat sampah yang berada di area ramai Festival Dandangan Kudus 2026. Itu berarti tugasnya sebagai volunteer dari Sedulur Asik (anak-anak muda yang peduli dengan lingkungan) tersisa 9 hari lagi, di mana Festival Dandangan Kudus berlangsung pada Sabtu (8/2/2026) hingga Rabu (18/2/2026).

“Aku jaga tempat sampah di sini dari jam 14.00 WIB sampai 23.00 WIB,” ucap mahasiswa Universitas Muria Kudus (UMK) itu saat ditemui Mojok di sepanjang jalan festival yang digelar di Perempatan Jember hingga Alun-alun Kudus, Sabtu (8/2/2026). 

orang membuang sampah. MOJOK.CO
Seorang pengunjung Festival Dandangan membuang sampah. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Saya mengenali Rio dari rompinya yang bertuliskan “Sedulur Kudus Asik (Apik Resik)”. Saat itu dia sedang menjelaskan tiga jenis sampah utama berdasarkan sifat dan bahan bakunya ke salah satu pengunjung.

Dia juga menunjuk papan serta poster kampanye yang ditempel di sekitar area tempat sampah. Poster tersebut menjelaskan definisi sampah organik, anorganik, dan residu. 

Bahasa yang digunakan dalam poster juga sederhana, seperti “iso bosok” untuk organik, “ra iso bosok” untuk anorganik, dan “liyane” untuk residu. Dengan begitu, pengunjung Festival Dandangan tidak kebingungan.

Mahasiswa Jurusan Teknik Informatika ini menjelaskan sampah “iso bosok” berupa sisa makanan, kulit buah, tusuk sate, ampas kopi atau teh. Lalu sampah “ra iso bosok” misalnya botol plastik, cup atau gelas plastik, kaleng, kardus dan kertas. Sedangkan “liyane” berupa kemasan sachet, tisu, sampah anorganik yang terkontaminasi makanan.

Tempat sampah dekat lapak Sarminah pedagang ketan. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Sejauh ini, kata Rio, sudah banyak pengunjung yang sadar untuk membuang sampahnya di tempat yang tersedia. Kendati ada juga yang masih kebingungan dalam memilah sampah.

“Misalnya begini, ada pelanggan yang baru beli siomai bungkus plastik terus kan ada bumbunya tuh, nah mereka bingung mau buang sampahnya ke tempat anorganik atau residu,” kata Rio. “Yang betul ya ke residu, karena masih ada bumbunya (anorganik yang terkontaminasi),” lanjutnya.

Sedulur Asik bertugas mendata di hari penutupan Festival Dandangan

Rio hanyalah satu dari 20 volunteer Sedulur Asik dari kalangan mahasiswa UMK dan UIN Sunan Kudus yang menjaga titik-titik tempat sampah di Festival Dandangan 2026. Sebagai volunteer, dia juga bertugas menghitung jumlah pengunjung yang sudah punya kesadaran untuk membuang sampah pada tempatnya.

Shalihul Umam yang juga volunteer dari UIN Sunan Kudus berujar, dia turut menimbang satu tong sampah tiap dua jam sekali terutama saat sudah penuh. Kemudian, sampah yang sudah ada dalam trashbag akan diboyong oleh petugas kebersihan ke tempat pembuangan akhir.

“Biasanya yang paling banyak memang sampah jenis residu karena mereka habis minum es teh misalnya, kan botol plastiknya sudah terkontaminasi tuh, nah itu dibuang ke residu,” jelas Rio yang mengenakan sarung tangan karet berwarna hijau untuk mengambil trashbag yang sudah penuh. 

Festival Dandangan Kudus 2026 memuat unsur kemanusiaan

Koordinator acara Festival Dandangan 2026, Anjas. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Koordinator acara Festival Dandangan 2026, Anjas berujar data yang telah dikumpulkan oleh para volunteer berguna sebagai bahan evaluasi panitia Festival Dandangan di tahun berikutnya. Konon, selama ratusan tahun acara ini digelar, baru kali ini Festival Dandangan menambah fasilitas umum seperti toilet portabel dan tempat sampah.

“Kami ingin menunjukkan bahwa Dandangan Kudus sekarang sudah waktunya naik kelas, termasuk untuk kesadaran soal lingkungan. Alhamdulillah kami mendapatkan partner yang sangat suportif, salah satunya dari Bakti Lingkungan Djarum Foundation,” jelas Anjas kepada Mojok, Senin (9/2/2026).

Anjas juga mengapresiasi para volunteer yang sudah memudahkan tugas Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Kudus dan BLDF. Karena di hari terakhir rangkaian acara nanti, sampah yang sudah terpilah bakal diangkut ke tempat pembuangan akhir oleh DLH. 

Sementara, bahan baku pembuatan pupuk kompos dikirim ke Pusat Pengolahan Organik (PPO) yang berada di kawasan Djarum Oasis Kretek Factory, Kudus.

“Pupuk kompos ini bakal kami distribusikan secara gratis ke siapa pun yang membutuhkan dan bisa diminta ke para petani kabupaten,” kata Anjas.

relawan yang mengedukasi sampah. (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

Lewat gebrakan dan semangat peduli lingkungan tahun ini, dia berharap Festival Dandangan bukan sekadar acara yang dikomersialkan, tapi memuat unsur kemanusiaan.

“Apabila tumpukan sampah dari pengunjung yang meningkat tiap tahun ini tidak dikelola dengan baik, saya khawatir akan muncul dampak lingkungan yang lebih besar,” ucapnya.

Dari tahun ke tahun, kata Anjas, antusiasme masyarakat yang datang ke festival terus meningkat. Pada tahun 2024, jumlah kunjungannya mencapai 16.000 orang per hari. Di tahun 2025, lonjakan pengunjung terjadi sebanyak 2 kali lipat lebih, tepatnya 38.000 pengunjung. 

Kolaborasi mengatasi lonjakan sampah

Senada dengan Anjas, Mutiara Diah Asmara selaku Director Communication Djarum Foundation menegaskan, lonjakan jumlah pengunjung tiap tahun berpotensi meningkatkan volume sampah, utamanya dari sisa-sisa makanan dan minuman yang berserakan di sekitar lokasi.

Menurut data dari pemerintah daerah, Kabupaten kudus, berkontribusi sekitar 0,45 persen dari total timbulan sampah nasional di tahun 2024. 

Situasi ini, kata Mutiara mengkhawatirkan sehingga perlu sistem pengelolaan sampah yang lebih terintegrasi, adaptif, dan berkelanjutan. Khususnya pada kegiatan yang mengundang banyak pengunjung seperti Festival Dandangan.

Oleh karena itu, BLDF memberikan dukungan berupa penyediaan 60 unit tempat sampah dalam Festival Dandangan, sekaligus menjadi pihak pengelola sampah organik. 

Deputy Program Director BLDF, Fransisca Berty (baju putih) dan Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton (batik). (Aisyah Amira Wakang/Mojok.co)

“Ketika lingkungan terjaga kebersihannya, UMKM bisa beraktivitas dengan lebih nyaman, dan pengunjung pun betah menikmati suasana,” ujar Mutiara.

Oleh karena itu pula, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kudus memilih kerja sama dengan dinas-dinas terkait, pihak swasta, serta komunitas lokal. Dalam Festival Dandangan itu, Wakil Bupati Kudus Bellinda Putri Sabrina Birton tak henti-hentinya mengajak warga Kudus untuk menjaga keamanan dan kebersihan sekitar.

“Di sini saya juga mengajak seluruh pihak untuk bersama-sama menjaga ketertiban, keamanan, dan kondusivitas selama kegiatan berlangsung. Jagalah kebersihan lingkungan, mari kita bersama dalam memilah sampah dengan baik, membuang sampah pada tempat yang telah disediakan,” ujar Bellinda. 

Melalui sinergi lintas sektor ini, Djarum Foundation dan Pemerintah Kabupaten Kudus berharap Festival Dandangan tidak hanya menjadi perayaan budaya yang membanggakan, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran bersama dalam membangun kesadaran lingkungan secara berkelanjutan.

Penulis: Aisyah Amira Wakang

Editor: Muchammad Aly Reza

BACA JUGA: Tetes Kawruh dari Lereng Muria: Mata Air Tak Sekadar Lubang Basah tapi Jantung Bumi atau liputan Mojok lainnya di rubrik Liputan

Exit mobile version