Ingin Ikan Sungai Bervariasi dan Alasan Lain di Balik Pelepasan Ikan Invansif

Salah satu ikan invansif, aligator yang ditemukan di sungai di Jogja

Tidak semua makhluk hidup dikaruniai kemampuan travelling ke berbagai belahan dunia. Kalau ada ikan invansif dari benua lain kok tiba-tiba ada di sungai dekat rumahmu,  tentu berkat bantuan agen travel gratis, yakni manusia.

Bukan hanya ikan dari benua lain, hampala misalnya, ikan ini hidupnya di hilir Sungai Opak tapi menurut Stasiun Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu dan Keamaanan (SKIPM) Yogyakarta belakangan ini sering ada laporan pemancing yang menemukannya di hulu. “Mereka nyamannya di perairan hilir dan ekosistemnya bagus di sana, kalau dipindah ke hulu ya nanti ikan lain di sana lama-lama habis,” jelas Kepala SKIPM Hafit Rahman, didampingi Koordinator Pengawasan Pengendalian Informasi Haryanto.

Tak hanya jadi obrolan warga Jogja, Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti bahkan turut mengingatkan agar para penghobi binatang liar yang sudah tak mau mengurusi agar diberikan ke instansi yang berwenang. Hal itu disampaikan lewat akun Twitter @susipudjiastuti, merespon berita tentang penangkapan aligator di Jogja.

Dari sejumlah wawancara, saya menemui beberapa alasan mengapa orang melepasliarkan ikan di habitat yang bukan semestinya.

Ongkos Memelihara Ikan Predator itu Mahal

Ikan predator seperti aligator mempunyai porsi makan yang cukup banyak. Tentu makanan yang berprotein tinggi. Biasanya diberi makan jangkrik, ikan jenis lain, hingga daging ayam. Herdy Herlambang Saputra (22) mahasiswa Universitas Islam Indonesia (UII), enam bulan lalu membeli seekor aligator jenis spatula berukuran sekitar 10 cm seharga 15 ribu rupiah.

Kini ikan peliharan yang dulu diletakkan di akuarium harus dipindah ke kolam karena sudah tumbuh mencapai panjang 50 cm. Berbagai pakan ia berikan, mulai dari jangkrik, ikan kecil, hingga kini bangkai ayam. “Untung di dekat tempatku memelihara ada peternakan ayam, jadi bangkai ayam yang mati bisa dimanfaatkan secara gratis,” ungkapnya pada Sabtu (20/2). Ia mengaku dua pekan terakhir menghabiskan dua ekor ayam mati berukuran masing-masing dua kilogram untuk seekor aligator tersebut.

Bagi mereka yang tak seberuntung Herdy yang dekat dengan kandang ayam sepertinya perlu merogoh kocek lebih untuk memberi makan peliharannya. Hobi ikan predator itu tak cuma butuh cinta, tapi juga duit.

Ongkos Besar, Harga Jual Minim

“Itu channa yang besar berapa harganya Pak?” sambil menunjuk channa berukuran kisaran 40 cm , “Empat juta mas.” Jujur saya kaget mendengar harga jual channa yang sedang begitu tinggi. Namun hal yang sama tak berlaku bagi beberapa predator lain, seperti aligator. Menurut penjual ikan bernama Koko (29) tersebut, sedang tak ada yang menjual aligator di Pasty. Pasalnya harganya kini tergolong murah.

Dulu, orang tua Koko pernah menjual seekor aligator berukuran sekitar 50 cm dengan harga satu jutaan. “Dulu tahun 2005-an itu masih mahal, sekarang dengan ukuran yang sama, paling harganya 100-200 ribu Mas,” tambah Koko.

Saya lalu pindah ke deretan ruko penjual ikan di Muja Muju, Umbulharjo, Jogja dan akhirnya menemukan lapak yang menjual aligator. Di sana, untuk ukuran 40-an cm dibanderol dengan harga 200 ribu dan ukuran 15 cm 25 ribu. Saya yakin, itu masih bisa ditawar. Sebab dari beberapa penjual di komunitas pecinta ikan predator di Facebook saya melihat harga jual yang lebih miring. A1 (kode untuk harga 100 ribu) iseh susuk, banyak tertera di unggahan penjual aligator ukuran serupa.

Kepala SKIPM Hafit Rahman mengatakan contoh ikan invasif yang awalnya dalah ikan hias dengan harga mahal adalah ikan louhan. Kini ikan tersebut menjadi ikan sungai yang keberadaanya ditemukan juga di perairan tawar di sekitaran Jawa Tengah dan Jogja.

Tidak Sengaja Terlepas

Risiko ikan predator lepas ke perairan bebas seperti sungai kerap muncul dari pemancingan. Menurut SKIPM hal itu terjadi karena pemancingan sering tak memiliki saluran pembuangan yang baik.

Tak jarang memang pemancingan yang menyediakan ikan predator untuk memanjakan para pengunjungnya. Oleh karenanya salah satu fokus SKIPM adalah sosialisasi ke berbagai pemancingan agar memperketat standar-standarnya. “Ikan walau di pemacingan kan kadang beranak pinak Mas, jadi yang kecil-kecil itu bisa lepas lewat saluran-saluran itu,” jelas Hafit Rahman.

Menambah Keanekaragaman Ikan di Sungai

Untuk hal ini, petugas SKIPM sudah mewanti-wanti sejak lama. Tidak sembarang ikan dapat dimasukkan ke perairan tertentu dengan dalih menambah variasi ikan di sungai. Alih-alih ikannya tambah beragam, memasukkan sembarang ikan justru bisa mengancam populasi ikan asli wilayah itu.

Ada banyak pihak yang mungkin melakukan pelepasan ikan dengan dalih tersebut, mulai dari pemelihara yang sudah bosan, hingga pemancing yang sengaja ingin populasi jenis ikan tertentu bertambah di suatu lokasi.

“Kalau penghobi yang sudah pengalaman itu biasanya paham bahwa ikan invansif tak boleh dilepaskan ke sungai, tapi yang penghobi dadakan ini sering belum teredukasi. Kalau pemancing, mungkin ada yang ingin jenis tertentu terutama predator agar ada di spot memancing favoritnya, mancing predator kan ada sensasinya,” tambah Kepala SKIPM.

SKIPM dan beberapa instansi terkait lain masih berupaya melakukan berbagai langkah preventif maupun tindakan pengurangan ikan invansif di perairan Jogja. Kini mereka sedang fokus memperluas pemetaan eksistensi ikan invansif di beberapa lokasi selain Waduk Sermo. Juga berupaya berkolaborasi dengan masyarakat melalui program khusus.

Terakhir, bagi mereka yang sudah jenuh dengan ikan predator dan invansif peliharaan dan kesusahan dalam menjual, SKIPM menyatakan selalu terbuka bahkan siap menjemput ke rumah pemelihara ikan. “Nantinya, dengan persetujuan pemilik, ikan tersebut bisa dimanfaatkan untuk keperluan edukasi, saat ini stok seperti ikan aligator yang diawetkan masih kurang,” tutup Hafit.

Baca Juga Tulisan Susul : Teror Ikan Predator dan Invasif yang Mengancam Penghuni Sungai Jogja

 

[Sassy_Social_Share]

Exit mobile version